
Sang kakak sangat terkejut saat dirinya memuntahkan darah dari mulutnya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi supaya tubuhnya kuat dan sehat. Apalagi dirinya memiliki adik yang harus dinafkahi.
"Kakak, kakak."
Terdengar suara Arzan yang semakin jelas di telinga memanggil dirinya. Dengan cepat sang kakak menyembunyikan muntahan darah dari mulutnya ke sebuah lubang di toilet yang sudah lama kering.
"Kakak, lama sekali di kamar mandi. Apa yang sedang kakak lakukan? Bukannya kakak sudah tahu bahwa tidak ada air di kamar mandi!" Ucap Arzan datang menghampiri kakaknya sambil membawa boneka miliknya.
Sang kakak kemudian membuat alasan bahwa dirinya sedang mencari sesuatu di kamar mandi.
"Hmmp, mulut kakak bau!" Ucap Arzan menutup hidungnya sambil mengkerutkan dahinya.
"Makanya dari itu kakak sedang mencari pasta gigi untuk sikat gigi." tiba-tiba sang kakak mendapatkan alasan yang pas saat Arzan mengatakan bahwa mulut kakaknya bau.
Ia mencari keseluruhan tempat namun tidak ditemukan pasta gigi tersebut.
"Haha, sepertinya pasta gigi kita habis ya. Ya sudah lebih baik kita pergi dari sini saja," ajak sang kakak untuk segera pergi dari kamar mandi.
Saat berjalan meninggalkan kamar mandi, jalan sang kakak terlihat kleyengan, ia juga hampir terjatuh namun segera bangkit supaya sang adik tidak mengkhawatirkannya.
Memang sudah beberapa hari ini wajah sang kakak terlihat pucat. Matanya sayu dan tubuhnya lemas. terkadang ia juga terdengar batuk-batuk.
Arzan kemudian menghampiri kakaknya dan bertanya terkait kondis tubuhnya.
Namun, sang kakak tidak ingin membuat adiknya khwatir lalu ia menjawab bahwa dirinya baik-baik saja.
Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu rumah mereka.
Hal itu membuat Arzan terkejut panik. Namun, sang kakak berusaha menenangkan adiknya tersebut, lalu ia membuka pintu rumahnya.
Terlihat seorang pria kisaran umur 40 tahun berdiri di depan pintu rumah mereka.
Pria tersebut membuat senyum dominasi, yaitu senyuman palsu dengan satu bibir terangakat ke atas.
"A...apa yang kau inginkah?!" Tanya sang Kakak terlihat gugup saat berhadapan dengan pria di depannya.
"Tenang, kau jangan terkejut begitu. Aku hanya ingin menyampaikan kabar gembira untukmu."
"Apa kau ingin mendapatkan uang?" Tanya pria tersebut.
Sang kakak mengangguk bahwa memang dirinya sangat ingin mendapatkan uang.
"Kalau begitu, bagaimana jika kau ikut aku kerja proyek?"
Pria tersebut menawarkan pekerjaan pada sang kakak. Yaitu sebuah proyek bangunan di suatu tempat.
Tanpa pikir panjang, sang kakak menerima tawaran pria tersebut. Dan bertanya Kapan ia bisa langsung bekerja.
Pria tersebut menjawabnya bahwa sang kakak bisa mulai bekerja besok pagi. Ia juga memberi tahu tempat kerja yang harus sang kakak datangi.
Sebelum pria tersebut pergi, Arzan meminta padanya untuk ikut serta dalam pekerjaan proyek bangunan tersebut. Namun, sang kakak langsung menolak mentah-mentah bahwa Arzan tidak boleh mengikuti pekerjaan tersebut. Apalagi dirinya masih berusia 6 tahun.
"Ta...tapi aku tidak ingin membebani kakak terus," ucapnya murung.
"Kamu tidak membebani kakak sama sekali Arzan. Ingat, tugasmu hanyala menjaga rumah. Bukannya seorang pahlawan itu bertugas menjaga keamanan, apalagi keamanan rumah ini," jelas sang kakaka sambil mengelus kepala adiknya.
Setelah dirasa tidak ada lagi keperluan, pria tersebut pamit pergi.
*****
Hari sang kakak untuk bekerja pun tiba. Ia pamit pada sang adik untuk pergi ke tempat kerjanya. Wajah pucat dan mata lesu masih tergambar di wajahnya. Namun, ia tetap memaksakan dirinya untuk pergi bekerja.
"Ingat, jangan buka pintu sembarangan. Dan jangan menerima makanan apapun dari siapapun."
Sang kakak memberi pesan pada Arzan untuk tidak membuka pintu dam tidak menerima makanan apapun. Setelah itu ia pamit pergi kerja.
Langkah kakinya terlihat sempoyongan. Apalagi dirinya belum mengisi perutnya dengan makanan apapun.
Arzan yang menyadari kakaknya semakin lesu dibuat khawatir oleh sang kakak yang terus memaksa untuk pergi kerja.
Sebenernya Arzan selalu mengingatkan kakaknya untuk tidak memaksakan diri dalam bekerja. Namun, ia terus memaksa apalagi mendapatkan pekerjaan begitu susah.
Sang kakak pun pamit pergi untuk bekerja. Namun, Arzan khawatir oleh kondisi kakakya. Ia pergi membuntuti kakaknya sampai ke tempat kerja kakaknya.
Ia sembunyi disuatu bangunan dan mengintip kakaknya yang sedang bekerja sambil membawa boneka kesayangannya.
Pada awalnya semua terlihat biasa-biasa saja. Namun, beberapa saat kemudian sang kakak terjatuh pingsan di tempat pekerjaan.
Melihat kakaknya pingsan, Arzan terkejut dan langsung segera berlari menghampiri kakaknya tersebut.
"KAKAAAAAK," teriak Arzan berlari menghampiri kakaknya.
Namun, tiba-tiba ada yang menangkap tubuh Arzan saat hendak berlari menuju kakaknya yang terkujur pingsan.
Ia adalah pria yang beberapa hari lalu berkunjung ke rumah untuk menawarkan kakaknya pekerjaan.
"Heeh, bukannya kau adik dari anak itu?" Tanya Pria tersebut sambil tersenyum dominasi yaitu senyum palsu atau senyum merendahkan seseorang dengan ciri khas satu sisi bibir ke atas.
"Lepaskan aku!! Lepskan aku!! Aku ingin bertemu kakak!!"
Arzan terus memberontak supaya pria yang menangkap dirinya melepaskannya.
Namun, pria tersebut malah membawa pergi Arzan menjahi kakaknya.
Di sisi lain, sang kakak yang terbaring pingsan di tempat kerja dibawa oleh beberapa pekerja lain lalu dimasukan ke suatu lubah yang telah mereka gali.
Arzan yang melihatnya dari jauh dibuat syok oleh kejadian tersebut.
"KAKAAAAAAAK!! Tolong paman apa yang mereka lakukan pada kakak?" Arzan bertanya pada pria yang membawanya terkait sang kakak yang di jebloskan ke dalam galian tanah.
Namun, pris tersebut hanya terdiam berjalan berjalan terus menjauhkan sang adik dengan kakaknya.
"Paman jawab aku! Apa yang mereka lakukan pada kakak?" Arzan kembali bertanya pada pria yang menggedongnya. Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban darinya.
"Paman aku mohon tolong kakak! Kenapa mereka memasukan kakak ke dalam lubang itu?" Tanya Arzan yang mencemasi kakaknya.
Namun, lagi-lagi pria yang membawa Arzam menghiraukan ucapannya dan malah pergi Semakin menjauhi tempat kakaknya.
"Setidaknya lepaskan aku jika paman tidak bisa menjawabnya apalagi menolong kakak!" Arzan meminta pada pria yang membawanya untuk menurunkannya. Supaya ia bisa menolong kakaknya yang tiba-tiba di jebloskan ke dalam lubang galian.
Ia memberontak dan terus memberontak, namun tidak ada hasil yang didapat. Karena genggaman pria tersebut sangat kuat.
Tidak kehilangan akal, Arzan menggigit keras tangan pria yang membawanya. Hasilnya ia terbebas darinya dan langsung berlari menuju tempat kakaknya.
Namun, ia terkejut sangat terkejut. Lubang tempat kakaknya berada kini rata dengan tanah.
.
To Be Continued
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI