Khodam

Khodam
Final Arc : Lagi-Lagi 1vs1



Berlari dan terus berlari menelusuri hutan belantara, itulah yang dilakukan Diki saat ini.


Ia tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan dalam mencari Erina, sang senior sekaligus salah satu guru spiritualnya.


"Apa yang akan kau lakukan saat ini?" Tanya Macan Putih yang tiba-tiba muncul sambil melayang mengikuti partnernya.


"Aku tidak tahu apa harus aku lakukan. Hanya saja saat ini yang aku pikirkan hanya terus berlari ke arah depan."


"Aku tidak tahu bagaimana caraku mendeskripsikanmu. Karena kau itu bodoh tetapi terkadang kau juga pintar."


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?!!!" Tanya Diki yang terhenti dari larinya.


"Aku pun tidak tahu. Tidak ada petunjuk yang kuat dalam mencari seniormu kecuali radar pelacakanya yang terjatuh. Itupun bisa dibilang sebagai petunjuk yang lemah."


Namun, saat Diki dan Macan Putih berdiskusi, ia terdiam karena merasakan hawa keberadaan seseorang yang semakin kuat.


"Awas Diki!!" Ucap Macan Putih yang langsung melindungi parternya dari serangan yang tiba-tiba muncul.


"Heeh~, hebat juga instingmu," ucap seorang wanita yang berdiri di atas batang pohon besar.


Wanita itu adalah Selena. Sambil melipat kedua tangannya, ia tersenyum menatap kearah Macan Putih.


"Oh, seekor Macan Putih!, Aku tebak kau adalah Jin Khodam Zodiak Leo, Bukan?!"


Selena menebak Macan Putih adalah salah satu Jin Khodam Zodiak Leo.


Mendengar hal itu, Macan Putih langsung menatap tajam ke arah wanita yang bertengger di atas batang pohon.


"Jika benar apa yang akan kau lakukan hah?!"


"Tentu saja aku akan menangkapmu bersama dengan inangmu itu!" Ucap Selena sambil menunjuk ke arah Diki.


"Aku tidak akan membiarkanmu menangkap kami! Apalagi sampai melukai partnerku!"


"Heeh~ sangat percaya diri sekali kau!"


*****


Di sisi lain hutan belantara, terlihat Tiara yang sedang mengikuti Leena sang senior dari jarak kurang lebih 20 meter.


Ia berlarian mengikutinya sambil sesekali bersembunyi di balik batang pohon besar.


"Apa kau yakin dia tidak akan menyadari keberadaan kita yang mengikutinya?" Tanya Kandita yang terbang mengikuti Tiara berlari.


"Entahlah. Yang terpenting kita bisa memantau keadaan kak Leena. Toh dirinya juga terus menatap ke arah depan."


Tiara terusan berlari mengikuti Leena. Namun, hingga akhirnya ia terhenti dan langsung bersembunyi di balik pohon besar karena Leena yang terhenti secara tiba-tiba.


"Eh apa kita ketahuan Kandita?" Tanya Leena yang was was dirinya ketahuan.


"Entahlah, namun ia seperti sedang mencari seseorang. Apalagi tatapannya begitu serius," jelas Kandita mengintip di balik batang pohon besar.


"Aku takut kena marah dirinya lagi. Apalagi saat ia pergi suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dan itu semua karena salahku."


"KELUAR KAU!!! AKU TIDAK SUKA YAH KAU TERUS BERSEMBUNYI!!" Teriak Leena yang terdengar oleh telinga Tiara.


Keringat dingin bercucuran dari tubuh Tiara. Ia was was saat Leena sang senior berteriak dengan nada yang terdengar kesal dan marah.


"Ba... bagaimana ini Kandita?" Tanya Tiara yang panik harus bagaimana.


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya lebih baik kau keluar saja dan mengaku mengikutnya."


"Baiklah aku akan mengaku pada kak Leena bahwa aku mengikutinya karena khawatir."


Tiara pun keluar dari persembunyiannya. Namun, saat ia hendak keluar, seseorang terlebih dahulu muncul dihadapan Leena sehingga membuat dirinya kembali bersembunyi di balik batang pohon sambil mengintip.


"Instingmu sangat kuat bocah!" Ucap Kakek Ben yang tiba-tiba turun dari batang pohon.


"KAU!!!" Leena nampak marah dan kesal pada kakek Ben.


"Kau bawa kemana tubuh Riza dengan Erina?!" Tanya Leena menatap tajam kakek Ben.


"Oh rupanya anak kecil dan wanita itu temanmu? Tenang saja, mereka aman bersama kami. Dan kau juga akan menyusul mereka," ucap kakek Ben terlihat percaya Diri. Apalagi yang ia hadapi adalah seorang anak kecil yang imut.


"Apa maksudmu?!"


"Kau begitu polos anak kecil," ucap kakek Ben


"Oke begini saja. Aku memberikan dua pilihan padamu. Yaitu menyerah dan membawamu tanpa luka sedikitpun atau jika kau menyerang, aku tidak akan segan-segan melukaimu sampai aku bisa mendapatkan tubuhmu."


Kakek Ben memberikan dua pilihan pada Leena. Namun, ia memilih pilihan kedua yaitu  pilihan melawan kakek Ben.


"Oh sangat disayangkan nak. Tapi itu pilihan yang sangat menyakitkan. Apalagi anak kecil sepertimu."


Kakek Ben kemudian langsung mendekati Leena untuk menyerang titik pitalnya. Ia melakukan hal itu karena ingin segera menangkap mangsanya itu.


Namun, Leena langsung menghindari serangan kakek Ben dengan sangat lincah.


"Heeeh~ kau cukup lincah juga ternyata."


"Tapi aku tidak heran, karena kau adalah salah satu Pemilik Jin Khodam Zodiak juga," tambah kakek Ben.


Leena terkejut saat mendengar kakek Ben mengetahui dirinya adalah pemilik Jin Khodam Zodiak.


Ia kemudian memerintah Jerangkong untuk menyerang kakek Ben. Namun, selang beberapa menit Jerangkong keluar dari tubuh Leena dan hendak menyerang kakek Ben, Leena terkapar dan pingsan karena lengah dengan gerakan kakek Ben yang tiba-tiba berada di belakang tubuhnya.


Tiara yang berada di balik batang pohon pun terkejut dan langsung menghampiri Seniornya yang pingsan akibat serangan kakek Ben. Ia bermaksud menyelamatkan Kak Leena dari kakek tua yang membawa tubuhnya pergi.


Namun, saat Kandita menyerang kakek tau itu dengan panah anginnya, seseorang memblokirnya tanpa terlihat oleh mata Tiara dan Kandita.


Hal itu membuat Kandita dan Tiara terkejut.


"Apa yang telah terjadi? Kenapa panah anginmu tiba-tiba menghilang Kandita?" Tanya Tiara yang terlihat bingung.


"Aku juga tidak tahu. Tapi aku merasakan kehadiran seseorang selain orang tua itu," ucap Kandita.


Karena khawatir dengan Kak Leena yang dibawa oleh kakek tua, Tiara langsung berlari mengejarnya. Namun, di tengah perjalanan, ia terjatuh dan tersungkur ke tanah.


"Kau baik-baik saja Tiara?"


"Aku baik-baik. Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang menghalangi langkahku," ucap Tiara sambil melihat sekeliling benda apa yang membuat dirinya terjatuh dan tersungkur ke tanah.


Namun, ia tidak melihat benda besar yang menghalangi larinya. Anehnya kenapa ia bisa terjatuh sampai tersungkur.


"Kau sedang mencari sesuatu yang membuat tubuhmu terjatuh? Huahahahaha," tanya Ace yang tiba-tiba muncul dihadapan Tiara sambil tertawa lepas.


"Si... Siapa kau?" Tanya Tiara terkejut melihat Ace yang tiba-tiba menertawainya.


"Bukan siapa-siapa. Hanya saja kau tidak perlu mengejar orang tua itu. Karena lawanmu adalah aku!" Jelas Ace menatap tajam Tiara sambil menjilat tangan kananya. Ia juga terlihat senang saat melihat Tiara.


.


To Be Continued.


.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI