
Madam L terdiam setelah ditanya oleh Tiara cara mengembalikan ekspresi warga desa yang terkena virus Jenglot. Sontak hal itu membuat Tiara kembali meluncurkan pecutnya.
'ctak,'
"SUDAK KU BILANG SAKIT!!!"
Madam L kembali berteriak. Ia kembali memarahi Tiara yang langsung meluncurkan pecutnya tepat di punggungnya.
"Sudah aku bilang jawab pertanyaanku!" Ucap Tiara kesal.
Tiara sangat tidak sabar ingin mengetahui cara mengembalikan ekpresi warga desa kembali seperti semula. Karena ia sudah lelah berurusan dengan misi yang ia kerjakan sekarang.
"Sekali lagi aku bertanya. Jika kau kembali tidak menjawab atau kau berbohong, pecut ini tidak segan-segan kembali mencium punggungmu yang kencang itu," jelas Tiara memelototi Madam L.
"Aku tidak tahu," ucap Madam L simpel.
"Itu mudah saja," ucap Jenglot yang langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.
Ternyata Jenglot tersebut keceplosan bahwa ia mengetahui cara mengembalikan ekpresi warga desa dan hewan ternak betina.
Tiara yang mendengar dengan jelas langsung memelototi Jenglot dan sesekali meremas tubuh Jenglot walaupun tidak sampai kencang.
"Heeh, seseorang mengetahui cara mengembalikan ekspresi wajah warga desa. Sepertinya dia harus segera memberitahu informasi yang sangat penting itu," ucap Tiara mengancam, memelototi dan meremas tubuh Jenglot.
"Akh, aku mohon jangan meremas tubuhku."
Jenglot meminta Tiara untuk tidak meremasnya. Namun, Tiara akan berjanji tidak meremas kembali tubuhnya dengan syarat. Bahwa Jenglot tersebut harus memberi tahu cara mengembalikan ekspresi wajah warga desa.
"A-aku ti-tidak bi-bi-sa," ucap Jenglot terlihat panik.
"Kenapa tidal bisa? Atau kau ingin bertemu dengan seseorang?" Tanya Tiara menatap tajam Jenglot digenggamannya.
"Siapa itu?"
"Ajalmu!"
Tiara memerintah Macan Putih yang bersemayam di tubuh Diki untuk menyiapkan api yang akan digunakan untuk membakar Jenglot secara hidup-hidup.
Namun, belum juga keluar dari dalam tubuh Diki, Jenglot tersebut berkata bahwa dirinya sangat takut.
"Kenapa kau harus takut? Apa Madam L akan mengancamu? Ancaman apa yang dikatakan Madam L padamu?" Tanya Tiara.
Jenglot menjelaskan bahwa Madam L tidak mengancamnya. Namun, yang ditakutkannya yaitu jika ia memberi tahu bagaimana cara mengembalikan ekspresi wajah warga desa, ia akan kembali kesepian.
Tidak mengerti kesepian seperti apa yang dimaksud Jenglot tersebut membuat Tiara kembali bertanya.
"Sudah cukup dengan ocehanmu bocah prik!, Jenglot itu tidak mau memberitahukannya padamu! Jangan paksa dia!" Teriak Madam L yang terlihat kesal.
"DIAM KAU!!"
'Ctak,'
Tiara kembali meluncurkan pecutannya hingga membuat Madam L kembali merasakan rasa sakit. Namun kini pecutan Tiara mendarat di pipinya.
Pipi Madam L terlihat membengkak sebelah. Ingin rasanya ia pegang, namun kedua tangannya terikat oleh tali.
Tiara kembali bertanya pada Jenglot tentang rasa sepi yang dirinya ucapkan.
***
-POV Jenglot-
Dahulu kala, ada seorang petapa yang mempraktekan ilmu hitam yaitu tentang keabadian. Karena dirinya arogan dan sangat sombong, tubuhnya mengecil dan menciut seperti yang bisa kalian lihat pada diriku.
Dengar-dengar ruhnya tidak diterima oleh yang maha kuasa. Dan kembali ke dalam tubuhnya.
Seperti apa yang telah aku katakan, sekitar dua tahun sekali kloningnya akan bertambah 1.
Seiring berjalannya waktu, kloningnya bertambah banyak, sehingga membuat dirinya bingung karena kloning tersebut terus mengikutinya.
Hingga pada akhirnya ia melepas semua kloningnya untuk hidup mandiri.
Terlihat jelas perbedaan setelah kloning tersebut dibebaskan oleh tubuh utamanya.
Ia terlihat hidup dan langsung pergi mencari jati dirinya.
Dan aku berhasil membuat banyak sekali kloning hingga memenuhi desa ini.
Namun, semua telah berakhir saat kalian menghabisi semua kloningku.
-POV Jenglot End-
***
"Aku tidak mau kesepian lagi. Karena untuk membentuk kloning baru, membutuhkan waktu yang tidak singkat. Aku tidak kuat menjalani kesendirian dalam waktu dua tahun kedepan," jelas Jenglot menundukkan kepalanya.
Namun, tanpa basa-basi Diki mengajak Jenglot tersebut untuk tinggal di rumahnya. Sampai ia bener-benar mendapatkan kloningnya. Sehingga Jenglot tersebut tidak akan merasakan kesepian lagi.
Jenglot itu senang mendengar ajakan Diki. Terlihat dari raut wajahnya yang berubah dan dari kedua matanya terlihat meneteskan air mata haru. Ia juga langsung mengatakan cara mengembalikan ekspresi wajah para warga desa.
"Cara supaya warga desa kembali seperti semula yaitu. Aku dan Madam L harus memutus kontrak," jelas Jenglot tersebut.
"Ya sudah putus kontrak sekarang juga," perintah Tiara.
Namun, Jenglot kembali menjelaskan bahwa tidak mudah dirinya untuk melepas kontrak, karena yang bisa melepas kontrak hanyalah dari pihak manusia itu sendiri. Itu juga banyak konsekuensinya.
Di sisi lain, Sutejat terheran-heran dengan Tiara yang selalu berbicara pada tangannya sendiri. Terlihat mulut yang menganga, matanya sangat fokus menatap Tiara sambil menangis.
"Kak, wanita itu baik-baik saja kah?" Tanya Sutejat pada Sujandi sambil menangis.
"Memangnya kenapa?"
"Dia terlihat berbicara dengan tangannya. Aku harap ia tidak gila."
Sutejat terus bertanya pada kakak iparnya tersebut. Namun, pak Sujandi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sehingga mereka harus berbicara seperti orang gila.
"Kau tidak memiliki kelebihan dibatin. Jadi tidak mungkin bisa melihat dan merasakan apa yang mereka lihat," jelas Sujandi.
Sujandi juga mengatakan bahwa dirinya tidak tega melihat Madam L diinterogasi oleh Tiara apalagi menggunakan kekerasan. Lalu ia mengajak Sutejat selaku adik iparnya untuk keluar dari rumah.
Di sisi lain tiba-tiba Tiara mendekati Madam L. Lalu ia menyuruh Madam L untuk melepas kontrak dengan Jenglot. Namun, Madam L menolak apa yang diperintah Tiara.
Tidak tinggal diam, Tiara langsung mendekat ke arah Madam L dan langsung menjambak rambutnya sekencang-kencangnya.
"Kau?!, Lepas kontrak dengan Jenglot atau mati disini?"
Tiara mengancam Madam L yang tidak ingin melepas kontrak dengan Jenglot.
"Haha, mati? Memangnya kau mampu membunuhku?" Tanya Madam L yang menganggap enteng ancaman Tiara.
"Sangat mampu, bahkan aku tidak segan segan untuk menguliti tubuh mulusmu ini!" Ucap Tiara mengambil pisau Madam L yang tergeletak di lantai lalu menggoreskannya di leher Madam L. Sehingga keluarlah darah dari bekas goresan tersebut.
"Apa kau sungguh-sungguh akan melakukannya padaku?" Tanya Madam L. Raut wajahnya juga seketika berubah.
"Bagaimana jika anak-anaku dan menantuku tidak terima kalau aku mati? Mereka bisa menuntutmu!" Tambah Madam L
"Kau sangat yakin sekali bahwa anak-anakmu dan menantumu akan membelamu."
"Sangat yakin! Apalagi anaku, mereka tidak mungkin menjadi anak durhaka dan pasti akan membelaku!" Madam L kembali percaya bahwa ia akan bebas dan tidak harus melepas kontrak dengan Jenglot.
"Oke, Kita buktikan sekarang juga siapa yang akan merea bela!, Dirimu atau diriku!" Ucap Tiara terlihat percaya diri
.
To Be Continued
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI