Khodam

Khodam
24



Tatapan mata yang begitu tajam fokus ke arah Iblis Banyu, dengan perasaan kesal melihat wajahnya, itulah Erina.


Entah kenapa Erina sangat membenci Iblis Banyu tersebut, walaupun dirinya baru pertama kali bertemu.


Dari arah belakang, Ayu berjalan perlahan mendekat.


"Biarkan aku membantumu kak."


Ayu datang siap membatu Erina untuk melawan Iblis Banyu. Tidak lupa, Hantu Bengkek yang siap bertarung digaris depan bersama Noni Belanda.


"Hmp!"


Noni Belanda memalingkan wajah saat Hantu Bengkek mendekatinya.


Melihat bala bantuan musuh datang, membuat Iblis Banyu terdiam sesaat. Tidak lama kemudian dirinya tertawa lambat dengan perut yang terlihat kembang kempis dan tangan yang menunjuk ke arah Hantu Bengkek.


Dengan kecepatan penuh, Iblis Banyu langsung terbang ke arah Hantu Bengkek. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Iblis Banyu sudah berada di depan Hantu Bengkek.


Sambil tersenyum sangat lebar, dirinya langsung mencekik leher Hantu Bengkek dan membawanya terbang berputar-putar di langit.


Karena lehernya yang tercekik, membuat Hantu Bengkek, berontak dengan maksud supaya Iblis Banyu melepaskan cekikannya. Namun apa daya, karena cekikannya yang begitu kuat, membuat Hantu Bengkek tidak bisa melepaskan diri.


Ayu, Erina dan Noni Belanda yang melihatnya di buat terkejut.


Setelah di bawa berputar selama 20 kali, Iblis Banyu langsung melempar Hantu Bengkek ke tanah dengan sangat cepat.


"Buk!" suara benturan punggung Hantu Bengkek dengan tanah.


Melihat Hantu Bengkek yang telah dirinya lempar, Iblis Banyu tertawa sambil memengang perutnya.


"Hah, hah, hah, hah."


"Hantu Bengkek!" Teriak Ayu.


Namun Hantu Bengkek kembali bangkit dan langsung kembali ke barisan depan dengan posisi siap siaga dan waspada.


"Hmp, Kau lengah Hantu Bengkek," ucap Noni Belanda memainkan payungnya.


Hantu Bengkek langsung terbang ke arah Iblis Banyu dan melancarkan serangannya dengan cakar panjang dan tajamnya.


Cakaran demi cakaran ia arahkan ke arah Iblis Banyu, namun tidak ada satupun cakaran yang mengenai tubuh Iblis Banyu tersebut.


Dari arah belakang, Noni Belanda membantu Hantu Bengkek melawan Iblis Banyu dan pertempuran dua versus satu pun terjadi di atas langit.


Serangan demi serangan Hantu Bengkek dan Noni Belanda luncurkan namun Iblis Banyu masih tetap bisa menghindar walapun ada satu dua serangan yang mengenainya.


Hantu Bengkek dan Noni Belanda terus menyerang, membuat Iblis Banyu tidak diberi kesempatan untuk balik menyerang. Dirinya juga kewalahan saat menghidari dua serangan sekaligus.


Tidak hanya itu, Noni Belanda juga melemprakan payungnya, sehingga pertarungan terlihat menjadi tiga versus satu.


Karena serangan yang datang dari berbagai arah membuat Iblis Banyu  menerima serangan bertubi-tubi, sehingga lama kelamaan dirinya merasa kesal dan amarahnya memuncak.


Karena sudah muak dengan serangan yang selalu mengenainya ia mengamuk dan mengeluarkan aura yang dahsyat dari tubuhnya yang membuat Hantu Bengkek, Noni Belanda dan payungnya terpental ke belakang.


"Roaaaaaaaaaaaaar!"


Teriak Iblis Banyu marah. Pancaran auranya pun terasa sampai siapa saja yang berada di dekatnya dengan jarak kurang lebih 15 meter.


"Kengerian apa lagi ini?!" Tanya Erina menatap ke arah Iblis Banyu dengan tatapan tajamnya.


"Hati-hati Ayu, hati-hati juga dengan jin Khodammu."


Erina memperingati Ayu untuk berhati-hati terhadap serangan Iblis Banyu.


Iblis Banyu melirik Ke arah Noni Belanda dan Hantu Bengkek dengan cepat. Setelah itu melirikan matanya ke arah Ayu dan Erina.


Kemudian ia juga menatap ke arah Diki, Tiara, Arzan dan Leena.


Tatapannya yang tajam membuat orang-orang sekitar sedikit merasa khawatir dan takut.


'SEMBURAN KERIKIL' Erina merafalkan mantera.


Seketika Noni Belanda membuka payungnya, dan keluarlah ribuan kerikil yang menuju arah Iblis Banyu.


Tidak tinggal diam, Iblis Banyu membalas serangan Noni Belanda dengan semburan air yang begitu banyak.


Tetapi dengan cepat Noni Belanda menahan serangan air Iblis Banyu dengan payungnya.


Tidak kuat menahan serangan Iblis Banyu, Noni Belanda terpental ke belakang.


"Tidak sopan!, Kau membasahi gaun indahku!" Ucap Noni Belanda Kesal Sambil menunjuk ke arah Iblis Banyu.


Noni Belanda juga memerintahkan Erina untuk membalas Iblis Banyu duak kali lipat.


"Yosh baiklah, mari kita bantai Iblis sialan itu!"


'METEOR BATU RAKSASA' Erina merafalkan mantera dan kerikil dan batu-batu yang berada di permukaan tanah, naik ke atas dan berkumpul di salah satu media yang menyatu menjadi sebuah gumpalan bola yang sangat besar.


Noni Belanda menutup matanya, dan merasakan hembusan angin yang berada di sekitarnya.


Hembusan angin memang cukup tinggi, hal itu juga dimanfaatkan oleh Noni Belanda dan menyuruh Erina untuk merafalkan mantera yang harus di ucapkannya.


'Nos angin' Erina merafalkan Mantera.


Dan bola batu yang sangat besar langsung melaju dengan cepat mengejar Iblis Banyu.


Tidak ingin terkena batu raksasa, sebisa mungkin Iblis Banyu terbang menghindar.


Terbang tak beraturan, itulah yang dilakukan Iblis Banyu. Ia melakukan hal tersebut agar batu raksasa tersebut terkecoh oleh gerakannya.


Semakin cepat, dan semakin dekat jarak antara batu raksasa dengan Iblis Banyu. Hal itu membuat Iblis banyu sedikit pasrah menerima serangan dari batu raksasa tersebut.


Namun karena angin sepoy yang berhembus kencang kembali mengecil, kecepatan batu raksasa tersebut pun melambat. Sehingga hal tersebut membuat jarak antara batu raksasa dengan Iblis Banyu kembali menjauh.


"Oh tidak, hembusan anginya kembali mengecil" ucap Noni Belanda.


Diki, Arzan dan Tiara yang melihatnya di bawah, dibuat tegang oleh aksi kejar-kejaran Batu besar dengan Iblis Banyu.


"Kenapa pergerakan batu raksasa tersebut melambat?, Apa yang terjadi?" Tanya Tiara bingung.


"Kau merasakannya juga kan, Tiara?" Ucap Arzan pada Tiara.


"Hembusan angin sekitar sini semakin mengecil. Aku yakin kekuatan pendukung milik Noni Belanda adalah angin" tambah Arzan.


"Oh benar sekali. Jadi kekuatan angin miliknya menjadi kecil. Karena kekuatan pendukung adalah kekuatan dimana harus ada media supaya bisa melakukannya. Semakin besar media, semakin besar kekuatan yang dihasilkan.


Tiara menambah penjelasan, dirinya kemudian kembali melihat ke arah Iblis Banyu.


"Sebenarnya aku juga ingin membatu melawan, tetapi mau bagaimana lagi, kondisi Kandita sedang tidak baik-baik ssja.


Merasakan apa yang Tiara pikirkan, membuat Kandita bersedih, dirinya juga meminta pada Tiara bahwa dirinya sangat lemah.


Mendengar Kandita yang meminta maaf, membuat Tiara merasa bersalah telah memikirkan hal yang aneh-aneh.


"Aku tau kau sangat hebat, jadi aku mohon kau jangan merasa bersedih.


.


.


.


To Be Continued


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI