
Terlihat Jelas raut wajah Jenglot yang bingung dan cemas setelah mengatakan siapa pelaku yang menyuruh dirinya untuk rusuh di desa tersebut.
Tanpa basa-basi, Diki mengajak Tiara dan Arzan untuk mencari Madam L yang dimaksud Jenglot tersebut.
Namun, dari ruang bawah tanah keluar pak Sujandi beserta istri dan anaknya yaitu ibu Sunojat dan Usi.
"Xixixixi, kalian nampak ter-AAAAAAAAAAKKKHHHHHHHHHHH."
Usi berteriak saat melihat Jenglot yang berada digenggaman Tiara. Seperti biasa raut wajahnya terlihat biasa-biasa saja walaupun sebenarnya ia panik.
"JAUHKAN MAHLUK MENJIJIKAN ITU DARI HADAPANKU!"
Usi mendekat ke arah Tiara dan merampas Jenglot yang berada digenggamannya. Ia melempar Jenglot tersebut sekencang-kencangnya ke tanah.
Pada awalnya mereka terdiam termasuk Jenglot itu sendiri, namun sepersekian detik mereka sadar bahwa Jenglot telah lepas sehingga membuat mereka panik dan berteriak tak karuan.
Namun, Jenglot tersebut terdiam keheranan melihat teriakan sekitar terutama teriakan Tiara yang sangat kencang.
"Jenglotnya lepas, ayo tangkap dia Diki! Aku takut dia kabur!" Perintah Tiara pada Diki untuk segera menangkap Jenglot.
"Hah kabur? Aku?"
Pada awalnya Jenglot tersebut kebingungan dengan ucapan gadis yang mengatakan bahwa dirinya lepas.
"Oh ia aku bebas. Aku harus segera kabur!"
Saat tangan Diki hendak menangkap Jenglot, mahluk tersebut langsung berlari menjauh.
Tidak tinggal diam, Diki langsung mengejar Jenglot tersebut diikuti oleh Tiara yang juga mengejar Jenglot yang kabur tersebut dibelakang Diki.
"Kejar Diki, ayo tangkap! Dia adalah sumber informasi dari kekacauan desa!"
Tiara terus memerintah Diki untuk segara menangkap mahluk mungil ngeselin jijik tersebut.
"Kau tidak lihat aku sedang berusaha mengejar dan menangkapnya!" Jelas Diki kesal terus mengejar Jenglot.
Tetapi, langkah Jenglot tersebut terlihat semakin melambat.
"Sudahlah aku menyerah saja, energiku tidak kuat untuk kabur dari kalian," ucap Jenglot yang tiba-tiba berhenti sambil menjulurkan lidahnya karena lelah.
Seketika, Diki langsung menangkap dan kembali membawa Jenglot tersebut.
Namun, lagi-lagi Usi berteriak untuk membuang Jenglot yang ia sebut mahluk menjijikan tersebut sejauh mungkin.
"KYAAAAAAAAA, KENAPA KAU KEMBALI MENANGKAP MAHLUK MENJIJIKAN INI!!! BUANG JAUH-JAUH DARI HADAPANKU!! ATAU MUSNAHKAN SAJA DARI MUKA BUMI INI!"
Lagi-lagi Usi memperlihatkan ekspresi datarnya saat terlihat panik.
Pak Sujandi selaku ayah Usi menyuruh istrinya untuk membawa anaknya pergi ke dalam gubuk. Karena jika dibiarkan berada di lokasi, ia akan mengacau kerjaan para pengusir Jenglot saja.
Sang istri langsung menuruti perintah suaminya dan langsung mengajak anaknya untuk pergi ke gubuk.
"Ya sudah, sekarang aku tanya padamu hei mahluk hina! Dimana lokasi atau rumah Madam L yang kau maksud itu?" Tanya Tiara menatap Jenglot dengan aura mengintimidasi.
Terlihat wajah pucat Jenglot sambil melirik matanya ke berbagai arah karena takut bertatapan langsung dengan mata Tiara.
Namun, pak Sujandi langsung terkejut saat Tiara mengatakan nama Madam L.
"Hah? Madam L? Dia pelakunya?" Tanya pak Sujandi kaget.
"Ia pak. Apa pak Sujandi mengenal wanita itu?" Tanya Tiara.
"Dia- dia adalah mertuaku alias ibu dari istriku dan nenek dari anaku dan anak dari ibunya," jelas pak Sujandi terlihat gemetaran karena masih syok dengan fakta tersebut.
"Ta-tapi tidak mungkin ia yang melakukannya. Apalagi sampai mencelakai anak dan cucunya," ucap pak Sujandi yang masih tidak percaya mertuanya sebagai pelaku.
Namun, untuk meyakinkan bahwa Madam L pelaku atau bukan, pak Sujandi mengajak Tiara, Arzan dan Diki untuk menemuinya secara langsung.
Saat diperjalanan menuju rumah Madam L, mereka disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa menenangkan hati, dan luar biasa menjatuhkan suasana hati mereka juga.
Setalah berjalan dengan kejadian-kejadian aneh mereka sampai di rumah Madam L yang langsung disambut oleh Sunojat yang sedang menyapu halaman.
"Eh, kalian sedang apa di sini?" Tanya Sunojat yang langsung menghampiri Tiara, Diki, Arzan dan pak Sujandi sambil menangis dengan membawa sapu yang sedang ia gunakan.
"Rasanya aku sedang melihat anak yang dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan rumah oleh ibu tirinya," ucap Tiara datar.
"Sutejat, mamamu ada?" Tanya Sujandi pada Sutejat.
"Ada kak, hanya saja tidak ada yang boleh mengganggunya saat di pagi hari," jelas Sutejat sambil menangis.
"Memangnya kenapa?" Tanya Tiara curiga.
"Aku tidak tahu, yang pasti mama berpesan untuk tidak mengganggunya saat ia di dalam kamar dan saat di pagi hari."
"Sudah jelas, memang ada yang aneh. Kenapa coba tidak boleh mengganggunya saat pagi hari atau di dalam kamar!" Ucap Tiara yang menyimpulkan bahwa Madam L adalah pelakunya.
"Ini ada apa curiga-curigaan?" Tanya Sutejat bingung sambil menangis.
"Pikiranmu terlalu negatif thinking Tiara. Mungkin saja ia sedang tidur dan tidak mau ada yang mengganggu saat tidurnya," ucap Diki berusaha berfikir positif.
"Aku bukan berburuk sangka pada Madam L. Tapi ini adalah kenyataan bahwa memang ia pelakunya! Kau saja yang terlalu bodoh!" Ucap Tiara membela argumennya.
"Bagaimana menurutmu Arzan?" Tanya Tiara pada Arzan.
"Sudah jelaskan. Aku sungguh tidak peduli!" Ucap Arzan simpel.
Hal itu membuat Tiara kembali kesal dan mengatakan bahwa lelaki itu makhluk bodoh dan tidak punya perasaan.
"Sudah-sudah. Sebaiknya kita tunggu saja mamaku sampai keluar," ucap Sutejat menenangkan Tiara dan Diki yang sedang cekcok sambil menangis.
"Bagaimana kalau kalian duduk dulu di ruang tamu. Kak Sujandi ajak mereka ke dalam. Aku harus menyelesaikan dulu menyapu halaman," tambahnya sambil menangis.
Pak Sujandi mengajak Tiara, Diki dan Arzan untuk masuk ke dalam rumah. Saat di dalam rumah ada satu hal yang mengganjal pikiran Tiara.
Ia kemudian langsung bertanya kepada pak Sujandi.
"Kenapa mertua pak Sujandi disebut Madam L?" Tanya Tiara penasaran.
Pak Sujandi lalu menjelaskan bahwa Madam L memiliki nama asli Lastri. Namun, saking hebatnya dengan kekuatan miliknya dan selalu menolong warga desa dengan kekuatan ghoibnya, lambat laun ia di juluki Madam L.
Makanya pak Sujandi sangat syok saat Madam L adalah dalang dari kekacauan desa.
Namun, pikir Tiara menjadi ragu. Ia mencabut tuduhan bahwa Madam L adalah pelakunya.
"Kau benar Diki. Sepertinya Madam L bukan pelakunya. Mana mungkin orang baik sepertinya adalah pelaku dari kekacauan desa ini," jelas Tiara merasa bersalah.
Tiara langsung menatap Jenglot yang berada di tangan Diki dan langsung merampasnya.
"Kau mau menipuku ya?! Dasar Jenglot tidak tahu diri! Aku tanya sekali lagi siapa dalam dari semua ini?," Tanya Tiara Kesal.
.
To Be Continued
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI