Khodam

Khodam
Final Arc : Akhir Bagi Selena



"RAAAAAASAAAAAKAAAAAN INI!" Rani berteriak sambil berlari.


Ia juga merafalkan mantera untuk melawan Selena.


"100 BOLA AIR."


Tiba-tiba Dewi lanjar mengeluarkan bola air dari tangannya. Ia melempar bola-bola air tersebut tepat ke arah Selena.


Tidak hanya dirinya. Diki juga berlari sambil merafalkan mantera.


"100 BOLA API."


Tangan Macan Putih juga mengeluarkan bola-bola api. Ia juga melempar bola tersebut ke arah Selena.


Sehingga terlihat begitu banyak bola air dan api mengarah ke arah Selena dengan cepat.


Namun, dengan sigap selena melempar begitu banyak batu kerikil ke arah bola api dan bola air itu datang, dan membuat batu kerikil berubah ukuran menjadi jumbo.


Hal itu dirinya lakukan bermaksud untuk melindungi dari serangan musuh. Ia juga meloncat mundur sejauh mungkin.


"Tch! Sangat merepotkan!" Gumam Selana kesal.


Ia kemudian merafalkan mantera dan seketika menghilang dari pandangan Diki dan Rani. Ia juga menghilang dari pandangan para jin khodam yaitu Macan Putih dan Dewi Lanjar.


"Kemana ia pergi?" Tanya Rani sambil melirikan pandangannya ke berbagai arah.


"Apa kau melihatnya Macan Putih?" Tanya Diki pada Jin Khodamnya. Karena ia berfikir mungkin dengan pandangan jin Selena bisa dilihat.


Namun, Macan Putih mengatakan bahwa dirinya juga tidak melihat kemana perginya Selana.


Kemudian mbah Jaka berkata pada Agung untuk menurunkan dirinya dari helikopter.


Ia berencana untuk membantu pertarungan Diki dan Rani untuk melawan Selena yang tiba-tiba hilang.


Ia berjalan menggunakan kursi roda mwnuju arah Diki dan Rani berdiri.


"Biarku bantu. Aku tahu dan ingat dengan kemampuan ini yang bisa menghilangkan hawa keberadaan sesorang," jelas mbah Jaka.


Ia kemudian menutup kelopak matanya dan terdiam. Suasana sekitar seketika hening, karena Rani dan Diki juga ikut terdiam saat melihat Mbah Jaka memejamkan mata.


"Aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada wanita itu. Namun kini di depan sana merasakan hawa keberadaan seseorang lebih dari satu. Bahkan aku merasa ada tiga orang," jelas Mbah Jaka, menunjuk ke arah depan.


Ia juga berkata bahwa satu dari tiga orang tersebut memiliki hawa keberadaan yang sangat lemah.


Namun, tanpa pikir panjang Rani langsung merafalkan mantera dan seketika pikirannya langsung tersinkronisasi pada Dewi Lanjar.


"SPESIAL SKILL- KREATIFF! PENGGABUNGAN DUA ELEMEN AIR DAN UDARA! JARUM ES BATU!"


Dari tangan Dewi Lanjar seketika keluar jarum es batu yang berukuran cukup besar. Dewi Lanjar langsung melempar jarum tersebut ke arah depan sesuai arahan yang diberikan mbah Jaka.


Benar saja, Jarum es batu tersebut tepat sararan mengenai tubuh orang yang memiliki hawa keberadaan tipis.


Di sisi lain Selena terkejut. Ia menyembunyikan diri karena ia sedang menduplikatkan dirinya. Hanya saja saat proses menduplikatkan diri yang ketiga, sesuatu mengenai duplikatan tersebut hingga konsentrasinya pecah.


"Sialan!" Selena dan satu duplikasinya melompat mundur. Satu duplikatan yang terkena serangan Rani ia tinggalkan karena belum sempurna sepenuhnya. Ia baru menduplikatkan bagian kaki sampai perutnya.


Ia berencana untuk melakukan duplikasi tubuhnya lagi. Hanya saja saat ia hendak melakukan ritualnya, lagi dan lagi jarum es batu milik Dewi Lanjar kembali menyerang. Hal itu membuat proses ritualnya terganggu.


Karena sudah muak dengan serangan yang selalu mengganggu ritualnya, ia tidak melanjutkan duplikasi tubuhnya lagi.


Ia mulai melakukan rencana penyerang dengan satu duplikasinya. Mereka berdua berlari ke arah Dewi Lanjar dan Macan Putih yang tidak diketahui oleh mereka keberadaannya. Namun, dengan sigap Mbah Jaka memberi tahu bahwa Selena dan duplikasinya sedang berlari ke arah mereka berdua.


"Terlihat musuh sedang berlari ke arah jin khodam kalian masing-masing. Hati-hati, karena mereka akan meluncurkan serangan," jelas Mbah Jaka.


"Aku akan memberi aba-aba kepada jin khodam kalian, kapan harus melancarkan serangan," tambahnya.


Namun, mbah Jaka langsung memberi instruksi pada mereka berdua untuk segera meluncurkan serangan.


"SEKARANG!"


"SPESIAL SKILL (skil unik) - TAMBAH KUAT BISKU**AT GO GO GO MACAN PUTIH!"


"SPESIAL SKILL - KREATIF! TINJU ES!"


Kekuatan Macan Putih bertambah 10 kali lipat dari sebelumnya. Dan kekuatan tersebut terkumpul di tangan kanannya.


Begitupun dengan Dewi Lanjar, tangan kanannya dibalut oleh sarung tinju yang terbuat dari es batu.


Seketika mereka berdua meluncurkan tinjunya ke arah depan. Serangan mereka berdua tepat mengenai kepala Selena dan duplikat dirinya. Sehingga tubuhnya tergeletak begitu saja dan seketika semua orang kembali bisa melihat tubuhnya.


"Apa aku berlebihan?" Tanya Diki khawatir melihat jasad Selana tergeletak di tanah.


"Kau sangat berlebihan hingga membuatku malu!" Jelas Macan Putih menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Kenapa harus malu?" Tanya Diki bingung.


"Kau mengucapkan skillnya terlalu berlebihan. Itu membuatku malu!"


"Harusnya kau termotivasi dengan semangatku!"


"Cukup! Wibawaku sebagai Macan Putih hancur seketika," protes Macan Putih sedih.


"Ah sudah-sudah, yang terpenting kita berhasil mengalahkan mahluk tersebut," ucap Rani yang langsung merangkul tubuh Diki.


"Entah kenapa, aku merasa bernostalgia dengan pertarungan kalian barusan," jelas mbah Jakabmeneteskan air mata karena terharu.


Agung berjalan menghampiri mereka bertiga dan mengajak mereka untuk segera naik ke dalam helikopternya.


"Ayo naik, kita tidak punya waktu untuk mengobrol di sini," jelasnya sambil melambaikan tangan.


Namun sebelum itu, Diki mengeluarkan smartphonenya untuk melihat titik koordinat dari teman-temannya.


Melihat Diki mengeluarkan smartphone, Agung juga mengeluarkan benda yang sama dan titik koordinat dari hpnya pun sama persis dengan di hp Diki.


"Ke... kenapa bisa sama? A.. apa kau meretas sistem Kak Leena?" Tanya Diki cemas setelah melihat smartphone Agung.


"Haha, tidak. Justru anak itu yang memberikan data ini padaku. Aku tidak tahu tapi yang pasti, anak itu memiliki hubungan dengan mbah Jaka," jelas Agung tersenyum.


Namun anehnya, saat melihat titik koordinat dari teman-temannya, semua berjalan mengarah ke arah barat.


"Ini aneh bukan?" Tanya Agung pada Diki.


"Makanya dari itu, tujuan kita menuju arah barat," tambahnya berjalan menuju helikopter yang tengah terparkir. Diikuti oleh Mbah Jaka yang terduduk di kursi roda didorong oleh Rani.


"Ayo, kenapa kau diam saja?!"


Rani mengajak Diki untuk ikut menakiki helikopter milik Agung. Diki pun berlari sambil tersenyum ke arah mereka.


Setalah dirasa telah menaikkan helikopter, Agung siap mengoperasikan dan pergi ke arah barat untuk melakukan penyelidikan.


To Be Continued......


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI