
Diki, Tiara dan Arzan masing-masing mengendarai Jin khodam mereka di dimensi ghoib untuk pergi ke lokasi tujuan.
Tanpa membutuhkan waktu yang lama, mereka bertiga hampir sampai di Desa Lembah tepi lereng gunung.
Mereka juga telah ditunggu kedatangannya oleh satu orang bocah dan satu orang bapak-bapak.
"Mereka telah sampai pak," ucap bocah perempuan dengan ekspresinya yang datar menyambut mereka bertiga sambil melambaikan tangannya.
Namun, terlihat aneh kelakuan bapak-bapak disebelahnya yang melirikan pandangannya ke sana ke mari dengan wajah bingung.
"Kenapa dengan orang itu?" Tanya Diki heran pada Tiara.
"Oh maaf, bapak saya orang biasa. Itu artinya ia tidak bisa melihat kalian di dimensi ghoib," jelas bocah perempuan dengan ekspresi wajahnya yang datar.
"Hahaha hahaha hahaha." Entah kenapa bocah tersebut tertawa.
Namun, anehnya saat tertawa ekpresi wajahnya tidak menunjukkan ia tertawa. Wajahnya hanya terdiam datar, namun suaranya yang di hasilkannya malah tertawa.
Hal itu membuat mereka bertiga bingung terutama Tiara dan Diki.
'HILANG,' Tiara merafalkan mantera untuk keluar dari dimensi ghoib.
Bapak-bapak yang bersama gadis bocah tersebut langsung terkejut saat melihat Diki, Tiara dan Arzan yang tiba-tiba ada dihadapannya.
"Astaghfirullah, kaget aing," ucapnya terjungkal ke tanah.
"Ka-kalian yang ditugaskan untuk membasmi para jenglot bukan?" Tanya pria yang terjungal dengan eskpresi wajah yang masih terlihat terkejut.
"Be-be-benar," ucap Tiara tersenyum ragu.
"Ta-tapi kalian lu-luar biasa, bisa menghilang dan tiba-tiba muncul begitu saja," ucap pria tersebut seketika kagum dengan Tiara,Diki dan Arzan.
"Hahaha," gadis bocah kecil menghamiri Diki dan menepuk-nepuk pundaknya. Walau terdengar tertawa, Diki tidak melihat wajah bocah gadis tersebut tertawa.
Hal itu membuat Diki terkejut dan langsung melompat menghampiri Tiara.
"Pada awalnya aku pengen ketawa lihat tingkahnya yang aneh itu. Namun, lama-lama jadi ngeri ya," ucap Diki berbisik pada Tiara.
"Diam kamu, aku juga begitu soalnya." Tiara membalas bisikan Diki.
"Kakak-kakak, kita belum kenalan. Sebelumya perkenalkan namaku Usi, panjangnya Usiiiiiiiii. Xixixixixi," ucap gadis kecil bernama Usi yang tertawa namun ekpresi wajahnya datar.
Usi juga memperkenalkan pria yang bersamanya itu.
"Dan ini bapak kandungku, namanya Sujandi. Nama panjangnya Suka Janda Iiiiiiih. Xixixixixix," ucap Usi yang kembali tertawa namun ekpresi wajahnya datar.
"Ha-hai salam kenal," ucap Tiara melambaikan tangannya.
"Aku Tiara," tambahnya.
"Dia Diki dan satunya lagi Arzan."
Tiara memperkenal diri dan kedua temannya.
"Neng bawa mereka ke rumah saja, tidak enak ngobrol di sini," perintah pak Sujandi pada anaknya yaitu Usi.
"Ia tau dongo! Xixixixixx," ucap Usi kembali tertawa namun lagi-lagi terlihat ekspresi wajahnya yang datar.
Mendengar kata-kata kasar yang terlontar dari Usi si anak kecil, membuat Tiara dan Diki terkejut. Apa lagi gadis kecil tersebut mengatakannya kepada orang tuanya sendiri.
"Kamu lagi becanda ya neng?" Tanya pak Sujandi santai pada anaknya.
"Ia bapak, xixixixix," ucap Usi tertawa namun ekpresi wajahnya datar.
"Ayo kalian semua ikuti aku. Sebaiknya kita mengobrol di istana pagoda saja, xixixixix." Tambahnya.
Mereka kemudian pergi menuju rumah pak Sujandi dengan berjalan kaki.
"Apakah kita akan baik-baik saja menghadapi bocah itu?" Tanya Diki pada Tiara dengan wajah yang terlihat cemas.
Disepanjang perjalanan Usi terus mengoceh membicarakan sesuatu yang terpikir dan terlihat oleh dirinya.
"Kalian beruntung menjadi klienku. Apa jadinya jika kalian menjadi klien rakyat jelata penghuni rumah-rumah ini. Sulit dibayangkan," ucap Usi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menunjuk-nujuk rumah yang terlihat sepanjang perjalanan dengan ekspresi wajah yang datar.
"Oh ia maaf, kalian pasti jenuh melihat pemandangan sekitar hanya terlihat hamparan Sawah saja bukan? Maklum orang miskin cuma punya sawah. Padahal aku sudah usul pada bapak untuk menyuruh rakyat jelata menjual sawahnya. Apalagi ada yang menawarnya dengan harga yang cukup fantastis. Kan bisa buat beli mobil supaya tidak disebut orang miskin." Usi terus mengoceh sepanjang jalan.
Namun, walaupun ia marah, sedih, tertawa, kesal, dan lain sebagainya, ekspresi wajah dirinya tetap sama yaitu datar.
"Memang sekaya apa sih bapaknya, sampai-sampai sebut orang lain rakyat jelata?" Bisik Diki pada Tiara
"Tidak tahu, tapi tadi kata dia rumahnya itu istana pagoda." Tiara kembali membalas bisikan Diki.
"Kau pernah lihat istana pagoda?" Bisik Diki bertanya pada Tiara.
"Belum, hanya pernah mendengar dari cerita orang-orang saja. Makanya aku mau lihat rumahnya yang mirip istana pagoda itu."
Namun, di sisi lain terlihat Arzan sibuk dengan dunianya dan menghiraukan obrolan tidak penting mereka.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di kediaman Usi dan pak Sujandi.
"Selamat datang di rumah, kak Tiara, kak Diki dan kak Arzan," ucap Usi.
Melihat gerbang rumah yang berdiri tinggi, membuat Tiara dan Diki melongo dan takjub dibuatnya.
"Tiara, inikah yang dinamakan gerbang istana pagoda?" Ucap Diki girang saat melihat gerbang yang begitu tinggi. Pupil matanya juga terlihat membesar dan seluruh tubuhnya gemetaran karena saking takjubnya.
"Sepertinya ini memang gerbang istana pagoda, Diki. Akhirnya salah satu cita-citaku terkabul," ucap Tiara yang terharu dan tubuhnya juga terlihat gemetaran.
Usi kembali mengajak mereka untuk masuk lebih dalam. Terlihat ekspresi wajah Diki dan Tiara penuh harap karena tidak sabar untuk melihat rumah yang disebut istana pagoda tersebut.
Berjalan terus menerus sambil mebayangkan istana pagoda, itulah yang dipikirkan Tiara dan Diki. Namun, setelah berjalan kurang lebih 500 meter, mereka hanya melihat sebuah gubuk dengan luas sekitar 10 meter persegi. Dari gubuk tersebut juga terlihat seorang wania yang melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka.
Namun, anehnya wajah wanita yang melambaikan tangannya tersebut terlihat sangat marah.
"Tiara, apa kita akan baik-baik saja?" Tanya Diki ketakutan saat melihat wajah wanita tersebut.
"Semoga saja, kita berdoa saja pada tuhan yang maha esa," ucap Tiara pasrah.
"Inilah dia istana pagoda kita, xixixixixi," ucap Usi tertawa namun ekpresi wajahnya tetap datar.
"Ini istana pagoda, Tiara?" Tanya Diki yang terlihat kecewa.
"Entahlah, seperti aku terlalu berekspektasi lebih. Jadinya kepalaku terasa pusing."
"Oh ia, ini ibuku. Namanya Sunojat, nama panjangnya suka nolak jatah, xixixixix."
Usi memperkenalkan ibunya yang berdiri di atas gubuk. Dan lagi-lagi ia tertawa namun ekpresi wajahnya datar.
"HALO KALIAN SEMUA, SALAM KENAL!!!!" Terak wanita yang bernama Sunojat terlihat marah menatap Tiara, Diki dan Arzan.
Melihat ibu Sunojat Marah, membuat Mereka terkejut dan terdiam karena pikirnya mereka telah melakukan sesuatu sehingga membuat ibu Sunojat marah.
.
To Be Continued.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI