
Kini Tiara berada di samping Leena dan menatap ke arah musuh dalam posisi siaga.
Ace yang melepaskan Tiara dengan sengaja, kini kembali bergabung dengan kakek Ben juga yang lainnya.
"Kenapa kau melepaskan mangsa kita?!"
"Tanganku kurang kuat memegangnya. Maafkan aku orang tua."
Ace meminta maaf pada kakek Ben soal mangsa yang ia pegang kabur begitu saja. Namun, kakek Ben memaklumi dan menganggap hal tersebut bisa saja terjadi.
Tetapi, saat Ace lengah, kakek Ben langsung menangkapnya dan berkata tepat di telinga Ace.
"Kau mau mencoba mengibuliku Ace?!" Ucap kakek Ben memegang kedua tangan Ace dengan kencang.
"Memangnya aku sebodoh itu kau kibuli. Sekarang kau harus menerima akibatnya."
Kakek Ben mengangkat tubuh Ace setinggi-tingginya. Lalu ia melempar ke arah mangkuk cawan raksasa yang berlogo zodiak Aries dengan sangat kencang.
"Bruk!" Suara benturan tubuh Ace dengan mangkuk cawam raksasa.
Hal itu membuat Ace pingsan seketika dan logo aries di cawan tersebut seketika menyala.
"Aku tidak peduli kau telah bekerjasama dengan mereka. Yang pasti, fakta kau wadah khodam zodiak adalah benar adanya." Kakek Ben menepuk-nepuk kedua tangannya seraya membersihkannya.
Tiara yang melihat kejadian tersebut dibuat terkejut.
"ACE!" Teriak Tiara menatap Ace dengan mulut yang setengah terbuka.
Kini tatapan tajam kakek Ben mengarah ke arah Tiara. Badan yang terlihat setengah tegak tersebut langsung melompat ke arahnya.
Tidak tinggal diam Kandita, selaku jin khodam Tiara langsung keluar dan menyerang orang tua yang sedang melompat ke arah partnernya tersebut.
"TIDAK AKAN KU BIARKAN!"
Kandita berteriak sambil meluncurkan serangan pukulannya pada kakek Ben. Namun dengan sigap orang tua tersebut menghindarinya.
"PANAH ANGIN!" Tiara merafalkan mantera yang seketika Kandita memegang angin berbentuk panah, lalu menargetkannya ke arah kakek Ben.
Setiap Kandita meluncurkan anak panahnya, kakek Ben selalu menghindar dan tidak ada satu anak panah pun yang mengenai tubuhnya.
Orang tua tersebut tersenyum sinis ke arah Kandita seolah-olah mengejek bahwa khodam aquarius tersebut tidak ahli dalam memanah.
"SIALAN KAU ORANG TUA!"
Baru pertama kali ini Kandita dibuat emosi. Ia berinteraksi dalam hati pada Tiara untuk meningkatan serangannya.
Tanpa basa-basi, Tiara kembali merafalkan mantera.
"100 PANAH ANGIN!"
Tiba-tiba anak panah bermunculan di sekeliling Kandita hingga 100 banyaknya.
Dengan tatap tajam mengarah ke arah kakek Ben, Kandita telah siaga meluncurkan serangan kapanpun itu. Ia pun telah menaikkan tangan kanannya sebagai komando untuk penyerangan.
Tidak lama kemudian, tangan kanan yang telah berdiri tegap tersebut, ia turunkan seraya berkata serang dengan raut wajah yang terlihat marah.
Seketika 100 anak panah yang mengelilingi tubuhnya, meluncur dengan sangat cepat ke arah orang tua di depannya.
Dirasa tidak bisa menghindar, kakek Ben mengeluarkan kekuatannya berupa merubah dirinya menjadi lebih besar penuh dengan otot.
Panah- panah yang meluncur ke arahnya, ia tangkis dengan mudah tanpa harus menusuk ke dalam tubuh, karena permukaan kulitnya berubah keras.
"Kau bercanda wanita aquarius! Bahkan ini terasa seperti bukan serangan," ucap kakek Ben meremehkan lawan.
Hal itu membuat Kandita kembali emosi dan meminta Tiara untuk meningkatan kekuatan serangannya.
"Kandita, tolong."
Tiba-tiba Tiara meminta tolong pada Kandita, karena ia terpojok oleh Selena dan Gray yang siap menangkap dirinya.
"Kalian tidak akan aku biarakan memegang Tiara secuil pun!"
Wajahnya terlihat sangat marah menatap ke arah Gray dan Selena. Kandita memperingati mereka berdua untuk tidak mendekati partnernya.
"Bagaimana ini Kandita?"
Tiara sangat bingung, karena mereka terkepung dari berbagai sudut. Apalagi kakek Ben yang kembali datang membuat mereka sangat terpojok.
Kandita, selaku jin Khodam pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"TIARA!"
Tiba-tiba dari luar seseorang memanggilnya. Dia adalah Diki, orang yang sedang bersama Agung, Rani dan Mbah Jaka tersebut memanggil Tiara.
Tanpa pikir panjang, Tiara dan Kandita saling menyingkronkan suara hati dan mereka siap melakukan rencana.
Kandita tiba-tiba memegang tubuh Tiara dan Leena, kemudian memutarnya berulang kali.
Setelah itu ia lempar tubuh Tiara dan Leena ke arah Diki yang sedang menaiki helikopter.
Macan putih, selaku jin khodam Diki siap menangkap tubuh mereka berdua.
Hanya saja, tiba-tiba kakek Ben memblokir jalur mereka.
"Aku tidak akan membiarkan kalian lolos begitu saja," ucap kakek Ben.
Terkejut, karena jalurnya diblokir oleh orang tua tersebut, Tiara berusaha melempar tubuh Leena ke arah lain.
"DIKI!! TANGKAP TUBUH KAK LEEEEEENAAAAAAAAAA!"
Tiara berteriak sambil melempar tubuh Leena yang terkujur lemas ke arah lain yang tidak di blokir.
Namun, Lagi-lagi pihak musuh kembali memblokir jalur tersebut. Hingga membuat Tiara kembali merasa buntu tidak tahu lagi apa yang harus dirinya lakukan.
Namun, Ahol tiba-tiba datang, dan menyerang Selena yang memblokir jalur. Sehingga terjadi pertarungan antara Ahol dan Selena.
Di sisi lain, Jik Khodam milik Rani yaitu Dewi Lanjar berusaha menyerang Kakek Ben. Namun, Gray tidak tinggal diam. Ia langsung menyerang Dewi Lanjar yang hendak menyerang kakek Ben. Sehingga terjadi pertarungan antara Dewi Lanjar dan Gray.
Leena pun lolos dari pemblokiran musuh. Dan Macan Putih berhasil menangkap tubuh. Hanya saja, Tiara tertangkap oleh kakek Ben dan langsung ia lempar ke arah mangkuk cawan raksasa.
"TIARAAAA!" Diki berteriak melihat Tiara yang dilempar dengan sangat keras.
Logo zodiak Aquarius yang berada di cawang tersebut seketika menyala, setelah tubuh Tiara masuk ke dalam mangkuk cawan raksasa tersebut.
Namun tidak lama kemudian, mangkuk cawan raksasa dengan logo zodiak Aquarius dan Gemini terbang beberapa senti dan mengeluarkan cahaya yang begitu terang. Cahaya tersebut terkumpul di satu titik dan terbang mengarah ke salah satu, 4 patung ksatria.
Hal itu membuat mereka yang menyaksikan kejadian tersebut tercengang dan merasa heran.
Sbastian, yang tahu segalanya pun dibuat herang dengan cahaya yang tiba-tiba muncul tersebut.
Cahaya tersebut masuk ke dalam patung salah satu 4 ksatria dan menghilang begitu saja.
"Apa yang terjadi barusan?" Gumam Sbastain menganalisis cahaya yang masuk ke dalam patung 4 ksatria tersebut.
Namun,tidak lama kemudian, terjadi retakan dari patung tersebut hingga membuat tatapan semua orang kembali tertuju pada patung tersebut.
Dari patung tersebut, tiba-tiba keluar seseorang dengan cara melompat.
"Aihahahahahahahaha."
To Be Continued.....
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI