
Arzan terkejut. Dirinya sangat syok saat melihat lubang yang terdapat tubuh kakaknya telah rata oleh semen.
Ia terdiam berdiri menatap lubang yang telah dicor oleh semen tersebut.
"Tidak, tidaaak,"ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"KAKAAAAAAAAAK!!" Air mata pun kembali mengalir membasahi wajahnya.
Ia berlari menuju tempat kakaknya yang dikubur oleh coran semen. Dan mencakar-cakar coran semen tersebut bermaksud untuk mengeluarkan kakaknya dari lubang yang telah ditutup coran semen tersebut.
"Kakak bertahanlah. Aku pasti mengeluarkanmu!" Ucapnya terus mencakar coran semen yang masih basah tersebut.
Ia terus mecakar coran semen dengan kedua tangannya. Air mata yang sedari tadi bercucuran, terjatuh tepat di atas coran semen tersebut.
"Kakak..... Kakak... Bertahanlah!"
Dirinya terus mengatakan hal tersebut secara berulang-ulang.
Namun, pria yang barusan membawa dirinya, Kembali untuk menangkap dan membawa Arzan. Pria tersebut kembali membawanya menjauhi tempat sang kakak di kubur.
Usut punya usut ternyata kakaknya tersebut memang sudah menjadi target tumbal proyek bangunan tersebut. Bahkan sebelum perancangan pembuatan bangunannya.
Terus merengek saat dibawa oleh seorang pria, dirinya sedih karena harus berpisah dengan sang kakak untuk selamanya.
"Lepaskan aku!! Setidaknya bawa aku bersama kakak!! Walaupun aku juga harus mati. Aku mohon, bawa aku bersama kakak. Aku mohon..... Aku mohon." Arzan menangis sambil memukul-mukul tangan pria yang membawanya.
Pria tersebut membawa Arzan menuju ruangan sempit sekitar 1x1 meter. Ia dilempar hingga tubuhnya membentur dinding tembok ruangan tersebut.
"Uhuk."
Punggung Arzan terasa sakit setelah terbentur tembok, kemudian ia terbaring tidur di lantai ruangan tersebut.
"Kau diam di situ!!! Aku juga akan menumbalkanmu diproyek selanjutnya!!" Ucap pria yang membawa Arzan sambil menunjuk ke arahnya.
Pria tersebut juga mengunci pintu ruang kecil yang mirip jeruji besi dengan maksud supaya Arzan tidak melarikan diri.
Seteleh pria tersebut pergi keluar untuk melanjutkan pekerjaan proyek pembangunannya, tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan orang yang terdengar cukup keras.
Suara tersebut seperti orang-orang yang sedang berlari dari marabahaya.
Tidak hanya itu, terkadang terdengar suara suatu benda yang menabrak dindin luar bangunan.
Kurang lebih sekitar 30 menit, suara teriakan orang-orang dari luar sudah tidak terdengar. Sehingga membuat area sekitar cukup hening.
Kini hanya satu suara yang mendominasi area tersebut. Yaitu suara rintihan tangisan Arzan seorang.
Ia terus merintih tanpa adanya bantuan dari siapapun. Ia juga tidak tahu harus bagaimana lagi dan tidak tahu harus kemana lagi. Satu-satunya rumah dan satu-satunya keluarga telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Hari-hari pun berlalu. Tanpa ada makanan, tanpa ada minuman dan tidak ada satu orang pun yang menjenguk bocah yang dikurung dalam ruangan sempit membuat tubuhnya semakin kurus. Hingga tidak ada daging dalam tubuhnya membuat tulang-tulangnya terlihat cukup jelas oleh mata telanjang.
Bocah tersebut juga hanya melamun memandang ke arah depan dengan tatapan kosong sambil terduduk menyender ke tembok dinding ruangan.
Yang ia rasa juga hanya hati yang kosong dan kehidupan yang hampa. Ia juga pasrah dengan kehidupan dan hanya menunggu satu kepastian. Yaitu menunggu ajalnya tiba dalam ruangan sempit tersebut.
Memang kondisi tubuhnya semakin melemah, kesadaran pun semakin lama semakin buyar.
Hingga pada akhirnya Arzan tidak kuat lagi untuk bernafas. Ia pun terbaring dan menutupkan kedua matanya di ruangan sempit tersebut.
Tetapi, tiba-tiba tubuhnya bergerak cukup kencang seperti orang yang kejang-kejang. Perlahan tubuhnya juga terbang hingga setengah ruangan dan cahaya berwarna coklat pun keluar dari dalam tubuhnya dengan cepat mengarah ke langit.
Atap ruangan yang di tempati Arzan pun roboh oleh cahaya tersebut walaupun berlapis-lapis.
Atas keluarnya cahaya dari dalam tubuh Arzan yang mengarah ke langit, membuat seseorang datang menghampiri dirinya.
Pria tersebut adalah Sbastian. Sangat kebetulan sekali ia sedang bertugas di daerah tersebut karena misi yang mendadak. Yaitu misi untuk mencari tahu penyebab karyawan-karyawan proyek pembangunan yang tiba-tiba mati secara masal dengan tidak wajar.
Sebastian pun langsung mendobrak pintu yang mirip jeruji besi penjara tersebut dengan kekuatan dalamnya.
"Di sisi lain, bocah ini sangat beruntung. Berkat adanya jin khodam dalam tubuhnya. Ia masih bisa beraktivitas di dunia ini untuk kedepannya."
Kemudian ia langsung menangkap tubuh Arzan yang melayang dan membawanya pergi ke markasnya.
Setelah Sbatsian membawanya, ia kemudian merawat Arzan dan melatih dasar-dasar melakukan terknik spiritual.
Dan setelah kejadian tersebut juga Arzan menjadi pria yang memiliki sebutan kulkas dengan 10 pintu oleh orang-orang.
Kejadian tersebut juga menjadi titik awal dirinya tidak ingin berbaur dengan orang-orang dan lebih memilih membuat dunianya sendiri.
Namun, karena desakan dari Sebastian, ia kini bergabung dengan kelompok Tiara dan Diki yang dipandu oleh Leena dan Erina.
Kilas balik Arzan pun selesai
********
"Heeh jadi begitu kejadiannya. Pantas saja, saat proses masuk ke dalam tubuh manusia ini, aku mendengar suara tangisan anak kecil dari atas tanah. Rupanya itu kau."
Grey tiba-tiba muncul dan mengatakan fakta yang mengejutkan.
Ia juga mengatakan bahwa para manusia yang telah mengubur tubuh incarannya saat dirinya melakukan proses penyatuan jiwa, sangat tidak sopan. Sehingga ia membantai orang-orang yang terlihat oleh kedua matanya tanpa pandang bulu setelah ia keluar dari kuburan corannya.
"Namun, aku tidak tahu tubuh yang ku gunakan sekarang memiliki adik yang dilindungi oleh jin khodam. Terlebih jin khodam tersebut bertipe Zodiak. Hmmmp sungguh menarik," ucap Grey menatap ke arah Arzan.
"Aaahh aku tidak tahu jalan pikiran pria itu. Apalagi membiarkan para manusia yang memiliki Jin khodam Zodiak keluyuran."
Tiba-tiba Grey mengeluh mengenai jalan pikiran seseorang.
"Jadi benarkan dugaanku. Tubuh itu memang tubuh kakak. Aku mohon padamu untuk tidak menggunakan tubuhnya. Aku ingin kau mengembalikannya sekarang juga!!"
Raut wajah Arzan terlihat marah setelah tahu bahwa memang tubuh tersebut adalah tubuh kakaknya.
Ia juga mengancam mahluk yang bersemayam di dalam tubuh kakaknya untuk segera pergi atau Arzan akan membuatnya menderita.
Namun, Grey yang mendengar kata-kata Arzan dibuat geli apalagi mengancam akan membuat dirinya menderita.
"Apa? Apa kau tidak salah mendengar kata-kata itu dari mulutmu?" Tanya Grey sambil tertawa merendahkan kata-kata Arzan.
"Coba saja kalau bisa!" Tambahnya yang tiba-tiba raut wajahnya berubah tajam menatap Arzan.
.
To Be Continued
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI