Khodam

Khodam
Curahan Hati Ivan



Tatapan kosong ditandai dengan tubuh kaku bak patung the thinker dari Prancis, itulah Ivan saat ini.


Satu-satunya sahabat Diki yang paling pengertian kini terlihat sedih.


"Juat,"


Dari arah belakang, Agnia tiba-tiba mengagetkan keponakannya itu. Namun, respon Ivan biasa-biasa saja saat dirinya dikagetkan barusan.


"Apa sih, ganggu! Bikin gak mood," ucap Ivan menatap Agnia.


"Kau kenapa? Akhir-akhir ini kau sering melamun?" Tanya Agnia penasaran.


"Bukan urusanmu!"


"Ayolah cerita, ayo, ayo, ayo, ayo."


Agnia terus memaksa Ivan untuk menceritakan apa yang sedang menjadi beban pikiran keponakannya tersebut.


Namun, Ivan malah pergi dan berkata bahwa Agnia kembali menyebalkan seperti dulu.


"Apa maksudmu?!" Tanya Agnia cemberut menatap punggung Ivan yang berjalan keluar ruangan.


"Aku hanya khwatir saja padamu! Sudah hampir sebulan pola makanmu selalu tidak teratur, kerjamu berantakan, sampai ayah selalu bertanya padaku mengenai dirimu."


Memang banyak perubahan dari kedua orang yang sedang berbincang tersebut.


Mulai dari Ivan yang badannya sedikit lebih kurus karena jarang makan dan tidak merawat dirinya sehingga terlihat kucal.


Agnia, wanita yang berisi kini terlihat langsing idela dan lebih cantik dari sebelumnya. Sifat suka ngaturnya pun kini hilang dan sekarang lebih baik. Bukan tanpa alasan dirinya berubah. Ia melakukan hal tersebut karena mendapatkan info bahwa Arzan, lelaki idamannya menyukai wanita yang ideal, cantik dan baik hati.


Ivan membalikan badannya, kemudian ia menatap wajah Agnia dengan cukup serius. Perlahan ia berjalan menuju Agnia sampai wajah mereka saling bertatapan kurang lebih 30 centimeter.


"Stop Ivan! Hentikan. Kita ini saudara. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan terlarang ini!" Ucap Agnia namun dirinya seolah-olah menerima apa yang akan Ivan lakukan padanya.


"Apa maksudmu Agnia?" Tanya Ivan menjauhkan wajahnya tersebut.


Agnia malah salting sendiri. Ia malu karena hanya dirinya yang berfikir jorok saat wajah mereka saling berdekatan.


"Aku hanya teringat oleh masa lalumu


yang suram dan menyebalkan. Kini kau berubah dari atas sampai bawah. Jujur saja, saat ini kau terlihat sangat cantik. Andai kau buka keponakanku, kau sudah ku nodai sekarang juga."


"Apa maksudmu! Aku tidak berselera dengamu. Bahkan nafsu pun tidak!" Jelas Agnia judes.


"Ngomong-ngomong, jika kau tidak ingin bercerita tentang masalahmu juga tidak apa-apa. Aku juga tidak begitu peduli!"


Agnia pergi meninggalkan Ivan. Namun saat hendak pergi, pergelangan tangannya ditarik sehingga keseimbangan tubuhnya tidak stabil. Dan ia terjatuh tepat di dada Ivan.


Di waktu yang bersamaan, seseorang masuk ke dalam ruangan dan melihat kejadian tersebut secara langsung.


"Oh maaf, aku tidak tahu ada orang disini."


Orang tersebut kembali pergi dengan menundukan wajahnya. Ivan dan Agnia secara bersamaan menatap orang yang tiba-tiba masuk dan tiba-tiba keluar tersebut.


"Apaan sih kamu! Bikin salah paham saja!" Ucap Agnia.


Ia kembali berdiri dan menatap ke arah Ivan dengan kesal.


Ivan menjelaskan bahwa ia bukan bermaksud untuk mencelakainya. Justru ia ingin bercerita mengenai kecemasannya akhir-akhir ini.


"Ingin berceritapun banyak drama ya, hahaha."


Agnia tertawa, ia merasa bahwa ivan banyak drama saat akan mengutarakan kecemasannya. Namun Ivan membantah, pada awalnya ia tidak ingin menceritakan pada siapapun. Namun, suatu masalah jika dipendam akan semakin mengganjal dipikirannya saja. Itulah yang dirasakannya.


"Ya sudah. Sebaiknya kita ambil cuti hari ini dan pergi ke kedai terdekat."


Agnia memegang tangan Ivan lalu menariknya dan menggandengnya di sepanjang ruangan hingga tiba di parkiran.


Semua karyawan yang berada di lokasi dibuat terkejut terlebih lagi saat salah satu karyawan yang menceritakan bahwa dirinya melihat hubungan terlarang antara Ivan dan Agnia disuatu ruangan.


Sadar dengan seluruh karyawan yang selalu menatapnya membuat Ivan kebingungan.


Bahkan Agnia sampai menegur karyawan yang mengintip di balik tembok.


"Hoy apa maksud kalian,  dengan kata 'melakukannya diparkiran?' kalian yang dibalik tembok!" Tanya Agnia kesal.


Semua karyawan yang sembunyi dibalik tembok seketika kabur karena takut ketahuan wajahnya. Mereka kabur karena takut Agnia sang bos cadangan mereka memecatnya.


"Mereka kenapa?" Tanya Ivan pada Agnia sambil memberi dan memakaikannya helm.


"Merek semua karyawan gila. Dan ini semua karena ulahmu! Mau tidak mau di kedai nanti kamu yang bayar!"


"Sudahlah turuti saja. Ini juga karena salahmu!. Ayo berangkat."


Ivan dan Agnia pun pergi ke kedai terdekat dengan mengendarai motor.


***


Setelah tiba di kedai, mereka berdua memesan secangkir kopi panas yang telah tertata rapi di meja.


"Lalu apa beban pikiranmu itu?" Tanya Agnia to the point.


"Begini, kau tahu aku dan Diki adalah sahabat bahkan aku anggap dirinya sebagai saudaraku sendiri."


"Ehem," ucap Agnia menyimak curhatan Ivan sambil menganggukan kepalanya.


"Akhir-akhir ini aku selalu memikirkannya."


"APAAAAAAAAAAA?!" Teriak Agnia terkejut.


Pelanggan yang berada didekatnya pun menegur Agnia karena berisik.


"Eehhh, maaf ya pak."


"apaaaaaaaaaaa?" Agnia kembali mengulang perkataannya. Namun kini ia berbisik pada Ivan.


"Sejak kapan?" Tambahnya.


"Mungkin sejak bibinya meninggal."


"Seriusan kau menyukai Diki!" Agnia kembali berbisik pada Ivan.


"Hah? Ngawur kamu!" Ivan kesal dan langsung memukul Agnia dengan pelan.


Ivan menjelaskan bahwa ia tidak pernah bertemu dengannya lagi kurang lebih satu bulan. Bahkan pesan WhatsApp dirinya jarang dibalas.


Ia juga menjelaskan saat pergi berkunjung ke rumah Diki yang ia temui bukan dirinya. Yang ia temui malah Leena dan Erina juga anak kecil yang entah siapa.


"Eh ia, sepertinya aku juga merindukan seseorang. Bagaimana ya kabarnya?" Ucap Agnia.


Pikiranya langsung tertuju pada Arzan. Ivan yang sedang curhat pun ia cuekan.


"Apa kau lihat Arzan saat berkunjung ke rumah Diki?" Tanya Agnia penasaran.


"Tidak. Bahkan wanita yang selalu bersama mereka pun tidak ada."


"Aku hanya sedih. Aku takut Diki akan melupakanku jika terus begini," ucap Ivan sedih.


Agnia terdiam seperti yang sedang memikirkam sesuatu.


Ivan yang melihat keponakannya terdiam, langsung bertanya kenapa ia melamun.


"Kau baik-baik saja Agnia?" Tanya Ivan sedikit khawatir.


"Aku baik-baik saja. Hanya saja, kenapa mereka selalu tidak ada di rumah ya?"


"Apa kau sudah bertanya pada wanita yang bernama Leena itu?" Tanya Agnia.


"Tentu saja aku bertanya."


"Dan apa yang ia katakan?"


"Ia selalu mengatakan 'Hiahahahahaha, Diki tidak ada di rumah' lalu aku pulang dah."


Namun, tiba-tiba Agnia mendapatkan sebuah ide yang tidak terduga di kepalanya.


.


To Be Continued


.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI