Khodam

Khodam
Membasmi Jenglot - Santai



Tengah malam yang hening seketika bising oleh ratusan suara jenglot yang semakin mendekat ke arah mereka bertiga, terutama ke arah Tiara.


"Hati-hati kalian, terutama kau Tiara. Karena mereka pasti akan selalu mengincar dirimu," ucap pak Sujandi memperingati mereka bertiga.


"Walaupun aku tidak bisa melihat mereka, tapi aku merasakan kehadiran mereka yang mendekat kesini," tambahnya.


"Oh ya, aku serahkan mereka pada kalian bertiga. Kalian pasti tahukan aku tidak memiliki kekuatan seperti kalian. Dadah, semoga tuhan melindungi kalian."


Pak Sujandi langsung menutup pintu ruang bawah tanah.


"Sialan manusia itu! Kenapa tidak memberitahunya dari awal supaya aku bisa bersiap-siap menghadapi para mahluk itu."


Tiara kesal pada pak Sujandi yang bersembunyi di bawah tanah karena telat memberi tahu informasi yang sangat berharga bagi dirinya.


'Splash,' Suara serangan dari Macan Putih dan Genderuwo yang tiba-tiba keluar dari tubuh Diki dan Arzan.


"Fokuslah kalian." Genderuwo memperingati Arzan, Tiara dan Diki supaya tidak melamun.


"Walaupun mereka terlihat cukup lemah, tapi kecepatan tidak boleh di ragukan," ucap Macan Putih sambil menyerang jenglot yang terus berdatangan.


"Benar apa yang dikatakan pria tua itu, Jenglot-jenglot ini hanya mengincar padamu, Tiara," ucap Kandita sambil menyerang para Jenglot yang mendekat ke arah Tiara.


"Tetaplah disampingku!" Tambahnya.


Arzan melambai-lambaikan tangannya pada Tiara. Maksudnya adalah untuk menyuruh Tiara mendekatinya.


'TANAH PELINDUNG!' Arzan merafalkan mantera.


Dan keluarlah tanah yang perlahan mengurung Tiara, Arzan dan Diki untuk berlindung dari serangan para Jenglot.


"Aku serahkan pada kalian untuk membasmi kutu-kutu menjijikkan itu!" Ucap Tiara pada Jin khodam. Dan seketika tanah pelindung tersebut tertutup rapat.


Tanpa henti, para Jin Khodam membasmi seluruh Jenglot yang mengincar dan mendekat ke arah Pelindung tanah tersebut.


"Mereka tidak ada habisnya!" Keluh Macan Putih sambil menyerang Jenglot yang mendekat.


Beberapa jam berlalu  para Jin khodam terlihat masih membasmi para Jenglot yang tidak ada habis-habisnya tersebut.


Hingga matahari mulai memunculkan dirinya. Anehnya, gerakan tubuh para Jenglot terlihat berbeda dari sebelumnya. Kecepatannya pun terlihat melambat.


Benar saja, mereka memutar balik haluan. Yang tadinya mengincar Tiara yang berada di dalam Pelindung tanah, kini mereka pergi meninggalkan lahan luas milik pak Sujandi.


"Ada apa dengan mereka?"


Macan Putih terlihat heran setelah melihat para Jenglot yang kabur begitu saja.


"Pasti ada sebab dibalik mereka pergi," tebak Genderuwo.


Tiba-tiba pak Sujandi keluar dari persembunyiannya yang diikuti oleh anak dan istrinya.


Begitupun dengan Tiara, Diki dan Arzan  bebas dari perlindungan tanah yang tiba-tiba hancur begitu saja.


Mata mereka bertiga sangat terlihat loyo seperti oranh yang mengantuk. Tubuh mereka juga bungkuk seperti orang kelelahan.


"Matahari sudah terlihat. Itu artinya keadaan di luar sudah dijamin aman," ucap pak Sujandi membantu istrinya keluar dari ruangan bawah tanah.


"Memangnya apa hubungan matahari dengan para Jenglot?" Tanya Tiara terdengar lesu.


Pak Sujandi menjelaskan bahwa hubungan Matahari dengan para Jenglot adalah mereka sangat membenci siang hari lebih tepatnya sinar matahari.


"Tubuh mereka akan kaku jika lama terkena sinar matahari. Itulah salah satu sebab desa ini sangat hening saat malam hari karena berlindung di bawah tanah," jelas pak Sujandi.


"Hoaaaaaaam, oh begitu."


Tiara, Diki dan Arzan pun tersungkur karena tidak kuat menahan rasa ngantuknya tersebut.


"KALIAN JANGAN TIDUR DI SINI!" Teriak Sunojat marah yang sebenarnya kasihan.


Refleks Tiara dan Diki langsung terbangun dan berdiri tegap. Berbeda dengah Arzan yang membangunkan dirinya secara perlahan.


"LEBIH BAIK KALIAN TIDUR DI GUBUK SAJA, LEBIH NYAMAN DIBANDINGKAN DISINI!" Teriak Sunojat.


***


Beberapa jam pun berlalu. Mereka terbangun dari tidurnya.


"KALIAN SUDAH BANGUN?!" Teriak Sunojat terlihat marah.


Baru juga membuka mata Diki, Tiara dan Arzan sudah disambut dengan suara toa mulut Sunojat.


"SEBAIKNYA KALIAN MAKAN DULU!"


Seperti biasa Sunojat terlihat marah-marah sambil menyuruh Diki, Tiara dan Arzan makan dengan makanan yang telah ia hidangkan.


"Kalian sangat pulas sekali. Padahal aku ingin cepat makan, tapi bapak menyuruhku untuk menunggu kalian bangun. Sangat menyebalkan!"


Usi kesal. Walaupun kesal tapi ekspresi wajahnya terlihat datar.


Mereka semua langsung mengambil hidangan yang terlihat lezat tersebut.


Saat mereka makan, tiba-tiba seseorang datang dalam keadaan menangis. Tentu sajz hal itu membuat Tiara, Diki dan Arzan terkejut dan langsung bertanya terkait dirinya menangis.


"Siapa yang menangis?" Tanya wanita yang terlihat menangis kebingungan.


"Eh, kau kan sedang menangis, masih bertanya siapa yang menangis lagi," ucap Tiara  bingung.


Namun, pak Sujandi langsung menghampiri Tiara dan memberitahunya kenapa ia bisa menangis.


"Kan sudahku katakan, semua wanita di desa ini telah terkena virusa Jenglot. Jadi jangan heran jika kalian bertemu dengan wanita yang menangis, marah, sedih, kesal, ataupun tertawa," jelas pak Sujandi.


"Oh ia, perkenalkan dia Sutejat. Adik dari istriku," tambah pak Sujandi.


"Pasti panjangnya Suka terima jatah, kan?!" Tebak Tiara dengan ekspresi datarnya.


"Xixixix, kak Tiara benar," ucap Usi yang tertawa sambil menutup mulutnya. Namun lagi-lagi ia tertawa dengan ekspresi datarnya.


"Ini kak Sujandi, ibu menyuruhku untuk memberikan buah ini. Katanya ada tamu terhormat di rumah kakak," ucap Sutejat yang mengobrol sambil menangis.


"Oh ia makasih."


"Ya sudah aku pulang dulu kak," ucap Sutejat masih menangis.


"Oh ia makasih Sutejat. Sampaikan salamku pada ibu," perintah Sujandi.


Pak Sujandi juga menyuruh Tiara, Diki dan Arzan untuk kembali makan, setelah makan mereka membuka dan memakan semangka pemberian Sutejat.


Ada satu pertanyaan yang selalu mengganjal pikiran Diki. Yaitu kenapa semua warga saat malah harus bersembunyi di bawah tanah. Padahal mereka semua telah terkena virus Jenglot.


Lalu pak Sujandi menjelaskan bahwa setiap malah para Jenglot masih suka berkeliaran untuk mencari darah segar wanita yang belok tekena virus mereka atau mencari wanita yang sedang haid. Itu berlaku bagi wanita yang telah terkena virus juga.


"Lalu kenapa para pria juga harus ikut bersembunyi?" Tanya Diki yang masih penasaran.


"Kalian tahu bagaimana bersisiknya suara Jenglot-jenglot tersebut. Ya kami sangat terganggu dengan suara tersebut saat tidur. Mereka juga akan mengincar ke arah pria jika pria tersebut menyenggolnya. Bahkan mereka akan terus mengejar hingga pria tersebut gila atau meninggal," jelas pak Sujandi.


Mendengar hat tersebut membuat Diki puas.


.


To Be Continued.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI