Khodam

Khodam
Membasmi Jenglot - Interogasi



"Siapa dalang dari semua ini?!" Tanya Tiara kesal pada Jenglot yang sedang ia genggam.


"Kenapa kau tidak percaya padaku?" Ucap Jenglot yang kesakitan karena genggaman Tiara yang kuat.


"Apa kau tidak melihat asap transfaran milikku yang menyambung ke kamar Madam L?" Tanya Jenglot kesal.


Tidak lama, pintu kamar Madam L terbuka. Dan keluarlah seseorang dari kamar tersebut.


"Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut, ahaha," tanya seorang gadis cantik jelita dan rupawan tersenyum manis.


Diki terpesona oleh kecantikan gadis yang baru keluar dari kamar tersebut. Tidak lupa juga Arzan yang tersipu malu melihat kecantikan yang dipancarkan olehnya.


"Eh mama, selamat pagi. Bagaimana kabarmu ma?" Tanya pak Sujandi pada wanita cantik rupawan tersebut.


Sontak, Tiara, Diki dan Arzan dibuat kaget mendengar fakta bahwa gadis tersebut adalah mertua pak Sujandi atau yang sering disebut Madam L.


"Eh mama sudah bangun?, Perkenalkan mereka adalah tamu-tamunya kakak," jelas Sutejat yang muncul membawa camilan dan minuman sambil menangis.


Tiba-tiba Madam L yang cantik rupawan langsung melotot ke arah Jenglot yang sedang disandera Tiara. Ia langsung mengeluarkan kuda-kuda dan langsung menyandera anaknya sendiri yaitu Sutejat dengan pisau yang tiba-tiba muncul.


"Siapa kalian sebenernya?!" Tanya Madam L menatap tajam ke arah Tiara, Diki dan Arzan.


"Mama apa yang kau lakukan?" Tanya Sutejat menangis.


Sekeliling nampak panik saat melihat Sutejat disandera Madam L.


"Apa maksud dari semua ini Sujandi?" Tanya Madam L menatap tajam ke arah menantunya.


"Mama tenang dulu. Aku hanya meminta mereka untuk membasmi para Jenglot yang telah meneror desa ini," jelas Sujandi terlihat panik.


"Dan sepertinya mereka telah berhasil menangkap Jenglot tersebut," tambahnya.


Madam L kemudian menatap tajam ke arah Tiara yang sedang memegang Jenglot dengan erat.


"Lalu apa maumu sekarang?"


"Aku hanya ingin bertanya beberapa hal padamu. Salah satunya yaitu apakah kau dalang di balik kekacauan desa ini?" Tanya Tiara.


"Kenapa kau menuduhku? Siapa yang memberitahumu?" Tanya Madam L masih menyandera anaknya.


"Tentu saja aku!" Ucap Jenglot yang keceplosan kemudian menutup kedua mulutnya.


"Memang kau tidak berguna, aku sangat menyesal menjalin kontrak denganmu!" Ucap Madam L.


Kemudian ia kembali mengancam dengan menyodorkan pisaunya ke arah depan.


Perlahan berjalan mundur menuju kamarnya dengan membawa sanderaan. Madam L lakukan dengan maksud rencana kaburnya berjalan mulus tanpa ada perlawanan dari Tiara, Diki ataupun Arzan.


Namun, Madam L tiba-tiba tersandung batu yang mengakibatkan dirinya terjatuh bersama Sutejat.


Ternyata pelaku dari terjatuhnya Madam L adalah Arzan yang secara diam-diam merafalkan mantera untuk membuat benjolan di lantai tempat berpijaknya Madam L.


Hal itu menjadi kesempatan bagi Diki untuk menangkap tubuh Madam L.


"Aku harap Joni adik kecilku tidak bangun," Gumam Diki.


"Aku tidak boleh tertipu oleh wanita ini," tambahannya.


"Ayo cepat ikat dia Diki!!" Teriak Tiara gregetan.


"Kau terlihat menikmatinya Diki" ucap Arzan.


"DIAM KAU!!" Teriak Diki memarahi Arzan.


"Ada apa ini? Kenapa kau mengikat mamaku?" Tanya Sutejat sambil menangis.


Diki kemudian menjelaskan bahwa dalang dibalik dari penderitaan desa adalah mamanya. Diki mengikat Madam L karena ia harus bertanya kebenaran dari perbuatannya.


***


Kini Madam L terikat oleh tali. Namun, ia terus memberontak dan meminta agar dirinya dibebaskan.


Akan tetapi, mereka tidak akan membebaskan Madam L sebelum mendapatkan semua informasi tentang virus Jenglot pembawa malapetaka desa tersebut.


"Aku tidak akan segan-segan memecutmu jika kau tidak menjawab pertanyaanku atau berbohong," ucap Tiara menatap tajam Madam L.


Tiara memberikan Jenglot yang ada di genggamannya pada Diki.


Ia kemudian mengambil pecut yang selalu ia simpan dipinggangnya.


'Ctak,' terdengar sangat nyaring suara pecut yang Tiara mainkan.


Sepertinya memang benar ia tidak segan-segan untuk melakukan pecutannya pada Madam L.


"Ahh, kenapa kakak tega sekali melakukan hal itu pada diriku yang lugu ini."


Tiba-tiba aura imut Madam L terpancar. Mulai dari suaranya yang manja seperti orang yang lemah gemulai. Sehingga Diki yang melihat ke imutannya merasa iba dibuatnya.


"Kenapa kau menggunakan pecut untuk menginterogasinya?! Kasian, nanti kulitnya lecet!" Ucap Diki membela Madam L.


Arzan yang juga tidak kuat melihat keimutan Madam L meminta izin untuk pergi keluar.


"SADAR, WANITA INI SUDAH TUA!!" Teriak Tiara yang kesal pada Diki.


'Ctak,'


Tiara memecut punggung Madam L. Ternyata ia benar-benar melakukannya tanpa pandang bulu.


"HEI SIALAN, SAKIT TAHU! APA KAU TIDAK KASIHAN MELIHAT WANITA IMUT INI TERLUKA?!" Teriak Madam L kesal.


"Aku tidak peduli mau kau terluka atau tidak. Yang terpenting aku harus menjalankan tugas dan menginterogasimu!"


"Sekali lagi aku tanya padamu, kenapa kau melakukan hal ini?" Tanya Tiara memainkan pecutnya.


Madam L terdiam. Dan ia kembali menerima pecutan dari Tiara tepat di punggungnya.


"SUDAH AKU BILANG JANGAN MEMECUT SEENAKNYA! SAKIT TAHU!"


Madam L kembali berteriak dan memarahi Tiara yang memecut dirinya.


"Sudah aku bilang jawab pertanyaanku atau kau akan terkena pecut ini," ucap Tiara kembali memainkan pecutnya.


Pak Sujandi terlihat tidak tega mama mertuanya dipecut oleh Tiara. Mendengar menantunya membela Madam L, ia memohon agar membantunya melepaskan ikat tali di tubuh Madam L.


"Kau jangan ikut campur pak Sujandi. Ingat dia yang telah membuat anak dan istrimu menderita. Bukan hanya itu. Ia juga yang telah membuat wanita dan hewan betina di desa ini menderita," jelas Tiara pada pak Sujandi.


"Ta-tapi."


"Tidak ada tapi! Duduk dan lihat saja interogasi ini!" Tiara kesal dan menyuruh Pak Sujandi untuk diam.


Tiara kembali memainkan pecutnya dan kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti sebulumnya.


Kini, Madam L mengaku akan perbuatannya dan menjelaskan bahwa ia melakukannya karena ingin terlihat awet muda dan cantik. Sehingga menjadi incara para lelaki dari muda sampai tua dan dari miskin hingga sugar daddy.


"Pantas saja, di usiamu yang pasti sudah tua dan punya cucu tapi penampilannya terlihat seperti gadis berumur 18 tahun."


"Berapa umurmu sekarang?" Tanya Tiara kembali memainkan pecutnya.


"De- de- lapan puluh tahun."


"What the?" Diki terkejut saat mendengar usia Madam L yang sebenarnya.


Tiara kembali bertanya. Kini ia bertanya terkait bagaimana cara mengembalikan penderita para warga desa. Namun, Madam L enggan untuk memberitahunya alias ia tidak mengetahui cara mengembalikan ekspresi para warga kembali seperti semula.


.


To Be Continued


.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI