
Berjalan bergandengan tangan menelusuri gang perumahan itulah yang sedang lakukan Gilang dan Riza.
Walaupun terlihat Gilang memegang erat pergelangan tangan Riza hingga terasa sakit, namun dirinya tetap tersenyum dan terlihat senang.
Hal itu membuat Gilang semakin kesal pada Riza. Ia juga semakin mengencangkan genggamannya.
Riza menyadari genggaman Gilang yang semakin kencang. Walaupun ia merasakan kesakitan, dirinya tetap berusaha untuk tidak terlihat sakit.
"Mau kemana kita kak?" Tanya Riza penasaran.
"Sudah ikuti saja!" ucap Gilang.
Tidak hanya menggenggam tangan Riza dengan erat, laju langkah kaki Gilang juga sengaja ia cepatkan.
Setelah menempuh perjalanan agak jauh, mereka berdua sampai di tempat tujuan. Langkah kaki Riza terdiam saat melihat gerbang utama rumah tersebut.
Ia teringat kembali kejadian-kejadian mengerikan yang terjadi di rumah tersebut.
Kepalanya tiba-tiba pusing, dan sudut pandang matanya perlahan kabur. Tiba-tiba Riza tergeletak ke tanah begitu saja.
Pada awalnya Gilang kaget karena Riza yang tiba-tiba pingsan tersebut. Namun karena ia masih membencinya, Gilang tidak mempedulikan dan malah menyeret tubuh Riza hingga di teras rumah.
Ia kemudian duduk di teras sambil melamun ke arah depan gerbang . Sesekali ia tersenyum karena pikirnya ia bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan sahabatnya.
Menunggu dan terus menuggu, hingga tiba-tiba seseorang yang ia tunggu datang.
"Kau sangat bisa diandalkan anak kecil. Sekarang juga serahkan anak itu!" Ucap kakek Ben yang tiba-tiba datang dengan wajah yang tersenyum menyeramkan.
Hal itu membuat Gilang ketakutan.
"Bu-bukannya kau berjanji akan menggantiknnya dengan Reza?" Tanya Gilang terlihat ketakutan. Sekujur tubuhnya juga terlihat gemetaran.
"Hmp, kau sangat yakin sekali dengan ucapanku. Padahal aku hanya memanfaatkanmu saja," ucap Kakek Ben.
Perlahan Kakek Ben mendekati Gilang sambil merubah tangannya menjadi pedang yang sangat tajam.
Gilang terkejut dan terkujur lemas melihat tangan kakek Ben yang bisa berubah bentuk. Entah kenapa hati nuraninya berkata bahwa ia harus melindungi tubuh Riza dari kakek jadi-jadian tersebut.
"A-pa ya-ng a-kan kau lakukan pada Riza?!" Tanya Gilang terbata-bata.
"Heeh~, bukannya kau membencinya?" Tanya Kakek Ben tersenyum namun wajahnya menyeramkan.
"Walau bagaimanapun aku tidak 100% membencinya. Aku menganggap Reza sebagai saudara kandungku sendiri. Yang otomatis Riza juga adalah adiku. Dan sebagai kakak, aku harus melindunginya dari hal yang membahayakan nyawanya."
Walaupun seluruh tubuh Gilang gemetaran, ia tetap melindungi Riza dari depan.
"Kau ingin mati?" Tanya Kakek Ben sambil menjilat tangan pedangnya tersebut.
"Jangan mendekat!" Perintah Gilang yang masih terlihat gemetar.
Namun, kakek Ben masih berjalan dengan perlahan ke arah Gilang.
"AKU BILANG, JANGAN MENDEKAT!!" Teriak Gilang.
"Berisik kau!"
Tanpa segan, kakek Ben langsung menusuk perut Gilang dengan pedang tangannya tersebut. Sehingga hal itu membuat tubuh Gilang tersungkur ke tanah. Darah yang keluar dari dalam perutnya pun begitu banyak dan menyebar atas tanah sekitar tubuhnya.
Di sisi lain, Erina dan Leena yang sedang memantau dari atas pohon dibuat terkejut. Terutama Erina, karena sudah tidak tahan dan ingin menghajar kakek tua jadi-jadian tersebut.
Namun, Karena Leena memiliki rencana lain, Ia menyuruh Erina untuk menahan emosinya terlebih dahulu.
Kemudian, Kakek Ben pergi membawa tubuh Riza dan membiarkan Gilang tergeletak begitu saja.
"Aku memiliki rencana. Kau ikuti kakek tua itu pergi dan aku akan membawa tubuh bocah itu pergi menemui tenaga medis asli."
Tanpa basa-basi lagi, Erina langsung pergi membuntuti Kakek tua prik tersebut. Dan Leena pergi ke arah Gilang dan memberhentikan pendarahannya terlebih dahulu. Supaya tidak begitu banyak darah yang terbuang begitu saja.
"Sebaiknya kau tidak usah banyak bicara terlebih dahulu. Dan juga jangan banyak bergerak. Biarkan aku membantumu menyembuhkan luka ini. Aku akan membawamu ke dokter spesialis."
Leena kemudian menggotong tubuh Gilang dan membaringkannya di atas tubuh Jerangkong yang berbentuk kasur.
Mereka pun pergi dan meninggalkan rumah kosong tersebut.
***
Di sisi lain, Erina sedang membuntuti kakek tua prik yang membawa tubuh Riza. Dirinya naik ke payung terbalik milik Noni Belanda dengan wajah yang terlihat serius menatap ke arahnya.
Saat sedang membuntuti kakek tua prik, tiba-tiba dari arah atas seorang menyerang Erina. Namun dengan sigap Noni Belanda menahan serangan pria misterius tersebut.
"Heeh~ apa kau sedang membuntutiku?" Tanya Pria misterius yang berhasil menghindari dari pertahanan payung Noni Belanda yang berbahaya.
"Eh, kenapa bisa? Bukannya kau ada di depan?" Tanya Erina terkejut.
Pria misterius tersebut adalah kakek Ben. Ia menggunakannya kekuatannya untuk menipu mata dan pikiran Erina juga Noni Belanda.
Kakek tua yang Erina ikuti sebenarnya adalah kekuatannya yaitu hologram. Sehingga pikiran dan mata Erina juga Noni Belanda termanipulasi.
Benar saja, hologram ciptaan Kaken Ben yang sedang Erina dan Noni Belanda kejar menghilang dari hadapannya.
"Erina sebaiknya kau menjauh," perintah Noni Belanda.
Erina menuruti kata-kata Noni Belanda. Namun, ia berpesan supaya Noni Belanda tidak gegabah dalam melawan kakek tua prik dihadapannya itu.
"Aku tahu, aku satik akan menahan diri melawan manusia itu."
Kemudian, payung milik Noni Belanda ia lempar ke arah kakek tua prik, namun, dengan sigap kakek tersebut bisa menghindari serangan payung Noni Belanda.
Payung tersebut masih terlihat berputar di satu titik. Dengan semua sisi payung yang tiba-tiba mengeluarkan pisau yang sangat tajam. Sehingga,apapun yang mengenainya akan langsung terpotong dengan sangat mudah.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Noni Belanda kembali mengarahkan payungnya ke arah kakek tua. Dan lagi-lagi kakek tua tersebut menghindari serangan payung Noni Belanda. Lalu, dengan cepat Noni Belanda kembali mengarahkan payungnya ker arah kakek tua prik yang menghindar. Karena tidak sempat untuk mengindar, dengan cepat kakek Ben memeganh tubuh Riza dengan kedua tangannya dan mengarahkan tubuh tersebut ke arah depan sebagi pelindung serangan dari payung berbahaya tersebut.
Hal itu membuat Noni Belanda refleks memindahkan arah serangan payungnya ke sembarang arah. Pisau tajam yang terdapat di payung Noni Belanda membuat pohon besar yang berada disekitar terpotong dan tumbang.
"Noni Belanda!" Teriak Erina kaget.
"Dasar iblis licik!"
Terlihat wajah kesal bercampur marah Noni Belanda terhadap kakek tua prik tersebut.
"Noni Belanda, aku mohon kau jangan terpancing emosi. Aku takut kau akan melukai tubuh Riza.
Noni Belanda semakin marah. Bahkan amarahnya tersebut tidak bisa Erina hentikan.
Payung dengan pisa tajam masih terlihat berputar di satu titik. Kemudian ia kendalukan dan ia arahkan ke arah tubuh kakek Tua prik tersebut.
Namun, lagi-lagi kakek tersebut menggunakan tubuh Riza sebagai pertahanan untuk dirinya.
Karena marah dan tidak bisa di kendalikan, ia tidak segan-segan melanjutkan serangannya walaupun tubuh Riza yang menjadi korbannya.
"NONI BELANDAAAA, HENTIKAAAAAAN!" Teriak Erina.
.
To Be Continued
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI