Khodam

Khodam
Pertarungan Menggunakan Otak



"NONI BELANDAAAAAAAA, HENTIKAAAAAAAAA!"


Erina berteriak saat melihat Noni Belanda terus melakukan serangan payung berpisaunya itu. Padahal sudah jelas-jelas ia melihat tubuh Riza yang dijadikan pelindung oleh kakek tua prik tersebut.


"Mana mungkin dia akan melancarkan kembali serangan ke arahku apa lagi ke arah bocah ini," ucap Kakek Ben.


"Kau memang benar-benar pelindungku, bocah Gemini," tambahnya sambil menatap ke arah wajah Riza yang sedang tertidur itu.


Namun, karena serangan payung Noni Belanda terus mengarah ke arahnya dan terlihat tatapan tajam juga serius Noni Belanda, membuat kakek Ben langsung menghindari serangan yang menghampirinya.


Sekitar kurang lebih 3 jengkal orang dewas serangan Noni Belanda akan mengenai tubuh Riza.


"Apa kau sudah gila?! Bukannya kau datang untuk menyelamatkan bocah ini?! Ucap kakek Ben kesal.


"Heeeeh~ kenapa kau kesal?!" Tanya Noni Belanda tersenyum sinis


"Rencana kita berhasil Noni Belanda," ucap Erina dari kejauhan.


Memang sebelumnya mereka berdua sudah memikirkan rencana ini dalam batin mereka.


Dan benar saja, mereka mendapatkan fakta dan informasi baru bahwa kakek tua prik tersebut mana mungkin membiarkan tubuh Riza terluka.


"Apa sebanarnya rencanamu?!" Tany Erina pada Kakek Ben dari kajauhan.


"Hmmmp, kau tidak perlu tahu!" Jelas kakek Ben.


Ia juga meletakan tubuh Riza yang pingsan tersebut di atas tanah begitu saja.


"Kau telah membuatku jengkel! Dan sekarang, aku akan benar-benar serius meladenimu!"


Terlihat tatapan tajam kakek Ben menatap Ke arah Noni Belanda.


Kedua tangannya juga berubah menjadi sebuah pedang yang sangat tajam.


Tubuhnya terlihat siaga membungkuk dengan pose kedua tangannya yang siap ia kerahkan untuk melawan Noni Belanda.


Seketika ia berlari dengan cepat ke arah Noni Belanda. Pedang tangan miliknya juga ia arahkan ke Noni Belanda.


Namun, dengan sigap Noni Belanda menahan serangan kakek tua prik dengan payung pisaunya tersebut.


Dan kini terlihat kakek tua prik sedang bertarung dengan payung Noni belanda.


Walaupun kakek tua prik menghindar karena berniat ingin melawan pengendali payungnya langsung, tapi payung tersebut tetap mengejarnya.


Karena kesal payung tersebut terus menghalanginya, kakek tua prik mengeluarkan jurusnya.


'PERPUTARAN TORNADO,' ucap kakek Ben.


Kemudian tubuh kakek Ben berputar dengan sagat cepat dan mengarahkannya ke arah payung Noni Belanda.


Tidak ingin kalah, Noni Belanda menambah kecepatan payungnya tersebut. Sehingga tubuh tornado kakek Ben dan payung Noni Belanda saling bertabrakan. 


Pertarungan tersebut dimenangkan oleh kakek Ben dengan PERPUTARAN TORNDONYA tersebut. Hal itu membuat payong Noni Belanda bolong dan rusak.


Melihat payungnya rusak oleh kakek tua prik, Amarah Noni Belanda memuncak dan ia juga terlihat kesal.


"APA YANG TELAH KAU LAKUKAM PADA PAYUNGKU?!" Teriak Noni Belanda marah karena tidak terima payungnya rusak.


Saking kesalnya, ia kemudian menjinjitkan rok panjang dengan kedua tangannya dan langsung terbang ke arah kakek tua prik dengan cepat. Dalam waktu bersamaan, payung rusak miliknya juga menghilang.


Setelah dekat dengan kakek tua prik, kaki kanan Noni Belanda siap untuk menendang wajah kakek Ben. Namun dengan sigap, kakek Ben menahan serangan Noni Belanda tersebut.


Bukan hanya kaki kanan, kaki kiri Noni Belanda pun berperan dan langsung menendang wajah Kakek tua prik.


Kakek tua prik kembali menahan serangan kaki Noni Belanda. Namun, lagi lagi Noni Belanda menendang wajah kakek tua prik dengan kaki kanan. Dan kejadian tersebut dilakukan berluang-ulang.


"Sebagai wanita, kau cukup tangguh ternyata," ucap kaken Ben sambil menahan tendangan Noni Belanda.


"Hmp, memangnya hanya lelaki yang boleh tangguh?!" Jawab Noni Belanda memalingkan wajahnya.


Lagi dan lagi, Noni Belanda memberikan serangan pada kakek Ben. Kakek Ben juga lagi-lagi menahan tendangan Noni Belanda tersebut. Hingga Noni Belanda mundur karena kelelahan.


Noni Belanda kelelahan saat menyerang Kakek Tua Prik yang hanya menahan serangannya.


Kemudian ia menyuruh Erina merafalkan mantera untuk melawan kakek Ben.


'METEOR.' Erina merafalkan mantera.


Tiba-tiba dari bawah, tanah-tanah dan batu-batuan terbang dan ke atas langit dan berkumpul di satu titik.


Begitu banyak batu dan tanah terkumpul hingga menghalangi sinar matahari di area tersebut.


"Kau tidak akan bisa menghindar dari serangan batu-batu ini!" Ucap Noni Belanda menatap tajam ke arah kakek tua prik tersebut.


Dan seketika, batu dan tanah yang telah terkumpul, berjatuhan dengan sangat cepat ke arah kakek Ben.


Pada awal kakek Ben bisa menghindari serangan tersebut dengan mudah. Namun, karena jengkel dengan kakek tua prik yang bisa menghidari serangannya, Noni Belanda menambah kecepatan jatuhnya batu dan tanah tersebut.


'Buk' suara kakek Ben terkena serangan.


Pada awalnya ia menaggap enteng serangan pertama yang mengenainya. Namun, lama kelamaan serangan Noni Belanda selalu mengenainya, hingga ia merasakan kesakitan dan tersungkur ke tanah.


"Tooooo,,,looong, heeeeenn.... Tiiiiokan." Kakek Ben yang tersungkur di tanah meminta Noni Belanda untuk menghentikan serangannya.


Namun, karena sudah terlanjur kesal. Ia berencana mengakhiri serangannya dengan satu kali serangan. Apalagi batu dan tanah yang mereka kumpulkan masih tersisa banyak.


Sekejap Noni Belanda menjatuhkan batu dan tanah terakhir ke arah Kakek tua prik tersebut hingga mengenai tubuhnya.


Otomatis, kakek tua prik tersebut terlihat pingsan dan tidak berdaya.


"Aku lelah. Apa energi masih tersisa banyak?" Tanya Noni Belanda pada Erina.


Erina mendekat dan berkata bahwa energinya terkuras cukup banyak dan dirinya juga kelelahan.


"Lalu mau kita apakan orang ini?" Tanya Erina pada Noni Belanda sambil menyentuh-nyentuh tubuh kakek Ben.


"Kau telpon saja Sbastian, biar dia yang urus mahluk itu," jawab Noni Belanda.


Namun, kakek Ben tiba-tiba terbangun dang langsung membekuk tubuh Erina.


"NONI BELA-," Ucap Erina yang kata-katanya terpotong.


Noni Belanda langsung sigap menendang kepala Kakek Ben dan dirinya langsung terjungkal ke belakang.


"Kau pikir aku bodoh apa?" Ucap Noni Belanda sombong.


"Aku tahu kau berpura-pura pingsan, untuk melakukam kesepakatan seperti ini. Namun, gerakan dan rencana sudah terbaca olehmu. Jadi percuma saja kau melakukan hal licik padaku" jelas Noni Belanda sombong.


"Kau memang sangat merepotkan!, Aku harus segera menangkapmu juga atau semuanya akan kacau!"


"Dan aku terpaksa harus menggunakan kekerasan saat melawan wanita sepertimu. Padahal aku ingin sekali menjaga kehormatanku sebagai lelaki sejati," jelas kakek Ben.


Ia kemudian membuka bajunya dan seketika otot-otot diseluruh tubuhnya membesar hingga celana katun miliknya juga terlihat sangat ketat.


.


To Be Continued


.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI