Khodam

Khodam
Rencana Licik



Pagi hari yang cerah terlihat penghuni rumah Diki sedang bermain di halaman belakang. Terlihat wajah penuh bahagian terutama Riza yang semangat saat bermain bersama.


Di sisi lain atas pohon, terlihat dua orang yang sedang memantau para penghuni tersebut.


"Menurutmu bagaimana, orang tua?" Tanya Ace yang berdiri si atas batang pohon.


"Kita lihat dulu, memang benar alamat rumahnya sama seperti yang pria sombong itu berikan," jelas Kakek Ben.


"Apa sebaiknya aku langsung eksekusi saja dan membawa anak tersebut?" Tanya Ace yang tiba-tiba terlihat semangat.


"Tunggu dulu. Apa kau tidak tahu? Para penghuni rumah ini adalah orang yang memiliki Jin Khodam Zodiak. Jadi kita tidak boleh gegabah. Dan mereka semua adalah targen tangkapan kita," jelas kakek Ben menahan hasrat Ace yang ingin segera menangkap Riza.


"Heeeh, ternyata kita tidak harus susah-susah mencari mereka. Ternyata mereka sudah terkumpul sendiri," ucap Ace.


Dirinya langsung menghitung sambil menunjuk ke arah mereka satu persatu.


"Satu..... Dua....tigaa.... Empat.... Lima.... Enam."


Terlihat raut wajah Ace yang senang kegirangan saat melihat pemilik Jin khodam Zodiak berkumpul. Ia juga berencana untuk mengadu skil dengan mereka dan berharap salah satu dari mereka ada yang bisa menghiburnya.


"Ingat jangan gegabah Ace. Sebaikya kita atur startegi, bagaimana cara supaya mereka berpencar satu-satu agar kita bisa menangkapnya dengan mudah.


Tiba-tiba, kakek Ben teringat sesuatu. Ia kemudian mengajak Ace untuk ikut bersamanya ke suatu tempat.


***


Kakek Ben dan Ace tiba disuatu tempat yang terlihat tidak asing terutama bagi Ace.


"Bukannya ini rumah si bocah Gemini itu?" Tanya Ace pada Kakek Ben.


"Memang benar."


"Lalu apa yang akan kau lakukan disini?" Tanya Ace kembali.


"Tunggu saja kau juga akan mengetahuinya."


Tiba-tiba datang seseorang yang terlihat tidak asing, yaitu Gilang. Ia berlari ke arah Kakak Ben saat matanya melihat kakak tersebut.


"Kakek, bagaimana? Apa kau menemukan sahabatku?" Tanya Gilang yang terlihat cemas.


"Maafkan kakek, Gilang. Sahabatmu tertangkap oleh orang yang sangat membenci adiknya," jelas Kakek Ben sambil berpura-pura sedih.


"Dan apakah ini benar foto sahabatmu?" Tanya Kakek Ben sambil menunjuk sebuah foto yang terlihat tubuh Reza terikat oleh sebuah tali disekujur tubuhnya.


Melihat foto sahabatnya membuat Gilang terkejut. Sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata pun mengalir.


"Reza, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kakek, kenapa kau tidak menolong sahabatku, kenapa?"


Gilang, menggoyang-goyangkan badan Kakek Ben. Ia sedih kenapa kakek Ben hanya memoto sahabatnya tersebut bukan menolongnya.


Namun, kakek Ben membantah tuduhan Gilang. Ia juga ingin sekali menolong Reza. Namun apa boleh buat, orang yang menangkapnya memiliki tubuh tinggi dan kekar, sehingga kakek Ben tidak bisa menolongnya begitu saja.


"Namun, jika sahabatmu benar-benar ingin selamat, ia harus digantikan oleh tubuh adiknya. Apalagi ia memiliki demdam pada adiknya itu," jelas Kakek Ben.


"Memang anak itu selalu membawa masalah. Sejak ia lahir aku sudah membencinya."


Sambil menghapus air mata, tatapan Gilang terlihat tajam sambil memikirkan Riza yang dirinya benci. Ia juga berkata lebih baik Riza yang tertangkap dari pada Reza.


"Aku harus menemukan anak itu, dan menggantikan posisi kakaknya," ucap Gilang terlihat kesal.


Melihat Gilang yang berambisi ingin memcari Riza, membuat Kakek Ben tersenyum puas karena telah mengibulinya.


"Kau jangan repot-repot mencari anak itu. Karena aku sudah tahu lokasi keberadaannya."


Kakek Ben memberikan sebuah kertas dengan tulisan alamat rumah keberadaan Riza. Tidak lama kemudian Gilang pamit pergi untuk mencari alamat rumah tersebut.


"Kau sungguh licik, orang tua," ucap Ace pada kakek Ben.


Namun, kakek Ben hanya tersenyum merespon kata-kata Ace.


Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut, untuk melanjutkan pencarian pemilik Jin Khodam Zodiak.


***


"Ahaha, ahaha, ahaha." Diki tertawa saat bermain dengan Riza.


Namun saat mereka sedang bermain, terdengar kerusuhan  di depan gerbang rumah.


Sehingga membuat Diki dan Riza pergi menghampirinya.


"Lepaskan aku. Aku hanya ingin melihat Riza!" Teriak Gilang yang kedua tangannya di pegang oleh Erina.


"Mau apa kau mencarinya?" Tanya Erina menahan kedua tangan Gilang.


"Aku hanya ingin melihatnya karena aku merindukannya," jelas Gilang terlihat kesal.


"Kak Gilang?"


"Riza, akhirnya kau baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkanmu," ucap Gilang yang kedua tangannya masih dipegang oleh Erina.


Riza kemudia mendekat ke arah Gilang yang sedang ditahan oleh Erina dan berkata bahwa  dirinya sangat senang saat Gilang menghawatirkannya.


"Jelas aku sangat mengkhawatirkanmu. Saat aku pergi ke rumah pamanmu, aku melihat ia sudah tergeletak di lantai tanpa kepala. Aku sangat syok dam mencari kalian berdua, namun tidak ada jejak kalian," jelas Gilang.


"Namun, akhirnya aku bisa menemukanmu dan melihatmu baik-baik saja."


Gilang meneteskan air mata. Air matanya terlihat sangat terbaca bahwa ia benar-benar sedih. Makanya dari itu Erina langsung melepaskannya.


Tetapi, dalam pikiran Gilang ia bukan sedih karena Riza yang baik-baik saja. Ia sedih memikirkan sahabatnya yang terikat oleh tali diseluruh tubuhnya.


Gilang kemudian mendekati Riza dan memegang kedua pundaknya.


"Riza, maukah kau tinggal bersamaku?" Tanya Gilang pada Riza.


Mendengar hal itu membuat Erina tidak menerimanya. Ia khawatir bahwa Gilang akan berbuat sesuatu pada Riza.


"Kenapa kau tidak percaya padaku? Bahkan aku adalah orang yang paling menngenalnya dibanding kau!" ucap Gilang menatap Erina.


"Hai, lama tak jumpa, hiahahahahaa."


Leena datang menuju kerumunan, sambil melambaikan tangan ia tersenyum menatap Gilang.


"Kau, bocah waktu itu."


Gilang terkejut saat melihat Leena yang tiba-tiba datang. Ia kemudian bertanya apakah Leena memberi tahu sifat aslinya pada Erina.


Reflek, Leena mengangguk sambil tersenyum. Ia juga berkata bahwa tidak akan membiarkan Gilang membawa Riza.


Namun, karena Riza orangnya polos dan mudah memaafkan, ia langsung membela Gilang.


"Kak Leena, kak Erina, Kakak Gilang orangnya baik. Buktinya ia sangat mengkhawatirkanku."


Riza membela Gilang. Ia juga menerima tawaran untuk tinggal bersamanya.


Riza pun pamit pergi. Ia juga sempat berterima kasih karena telah di terima di rumah Diki dan telah merawatnya dengan penuh kasih.


"Tapi, ka-kau yakin akan meninggalkan rumah ini?" Tanya Erina yang jelas terlihat raut wajahnya tidak menerima Riza pergi.


"Aku yakin, selamat tinggal semuanya, selamat tinggal kak Erina."


Riza dan Gilang pergi. Hal itu membuat Erina merasakan kehilangan.


.


To Be Continued


.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI