
"ROAAAAAAAAAR!!"
Jenglot yang mundur karena tidak bisa menangkap tubuh Diki tersebut berteriak karena kesal.
Tiara, Diki, Macan Putih dan Kandita yang berada dilingkaran Genderuwo bergerak dengan lambat. Mulai dari ucapan, nafas sampai geraknya pun terlihat lambat. Hal itu membuat mereka merasa risih.
"Arzan apa kau bisa melakukan sesuatu dengan lingkaran ini?" Tanya Tiara lambat pada Arzan.
Beberapa saat setelah Tiara bertanya bagaimana cara bergerak secara normal di dalam lingkaran kepada Arzan, mereka langsung bisa beraktivitas secara normal.
Hal itu membuat mereka lega dan rasa greget dari mereka hilang karena lambatnya gerakan mereka terutaman Tiara.
Terlihat Macan Putih masih enggan mengikuti rencana dadakan Tiara karena tidak mau dipeluk Genderuwo.
Namun, Genderuwo mengusulkan bagaimana kalau Macan Putih menunggangi punggungnya saja.
Walaupun sejenak berfikir, Macan Putih menyetujui usulan Genderuwo.
Tanpa pikir lama, mereka langsung melakukan rencana Tiara tersebut.
"Oke aku sudah menaiki punggung Genderuwo," ucap Macan Putih duduk di punggung Genderuwo.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Genderuwo pada Tiara.
"Kalian sangat lemot T_T! Aku kira kalian mengerti rencanaku," ucap Tiara sedih. Saking sedihnya ia sampai menggigit bajunya.
"Dengarkan aku baik-baik. GENDERUWO, kau terbang ke arah Jenglot tapi dengan syarat lingkaran memperlambat waktumu itu harus tetap ada. Otomatis gerakan musuh akan melambat. Setelah musuh masuk ke dalam lingkaran perlambat waktu, Macan Putih langsung segera memukulnya dengan kemampuan unikmu tentunya. Setelah terkena pukulan dan duuuuaaaar, selesai kita bisa langsung pulang dan beristirahat tidur," Jelas Tiara yang cepat-cepat ingin segera selesai.
Mereka lalu menuruti kata-kata Tiara dan langsung memulai operasi rencaranya.
Genderuwo sudah memulai terbang ke arah Jenglot Raksasa. Namun, saat terbang ke arahnya, Jenglot Raksasa tersebut menghindar dan malah mengincar Diki.
Karena kecepatannya yang luar biasa, Jenglot tersebut hampir mendapatkan tubuh Diki yang kemudian dihalang oleh Kandita dengan kekuatan anginnya hingga Jenglot tersebut terhempas oleh angin milik Kandita dengan cukup kencang.
"Kandita aku serahkan penjagaan Diki padamu! Kau harus bertanggung jawab dengan keselamatan partnerku juga!" Perintah Macan Putih pada Kandita.
"Bukannya kau bisa telekenesis?" Tanya Macan Putih.
"Aku bisa, hanya saja telekenesisku bekerja pada benda mati saja!" Jelas Kandita.
Namun, beberapa saat Kandita mengucapkan kata-katanya, seluruh tubuh Diki diselimuti oleh tanah dan menyisakan bagian wajahnya saja yang terlihat.
"Eh apa ini."
Diki terkejut saat dirinya tiba-tiba dibalut oleh tanah hingga membentuk kepompong.
"Tenang saja Diki, itu aku yang melakukannya. Coba Kandita sekarang gerakan Diki," ucap Arzan memerintah Kandita.
Kemudian Kandita menggunakan kekuatan telekenesisnya untuk menggerakkan tanah yang menyelimuti Diki.
Bener saja, ia bisa menggerakkan tanah yang menyelimuti Diki. Dan kini Kandita bisa menggerakkan tubuh Diki jika Jenglot tersebut kembali datang mengincar Diki.
"Parterku memang sangat jenius," ucap Genderuwo sombong.
"Eleh!!" Tiara sedikit kesal saat mendengar ucapan Genderuwo yang memuji partnernya.
Saat Kandita menggerak-gerakkan tanah kepompong yang menyelimuti tubuh Diki ke kanan dan ke kiri, penglihatan Jenglot raksasa tersebut selalu mengikutinya kemanapun tubuh Diki gerak. Yang otomatis memang benar Jenglot tersebut tidak lagi mengincar Tiara, tapi justru mengincar Diki.
Di sisi lain, Genderuwo kembali mengejar Jenglot Raksasa, dan di sisi lain, Jenglot Raksasa kembali mengejar tubuh Diki. Di sisi lain juga Kandita menggerakan tanah yang menyelimuti Diki ke berbagai arah demi menjauhi dari tangkapan Jenglot tersebut. Hingga terlihat mereka saling kejar mengejar.
Karena tidak ada habisnya mereka saling mengejar, dan lingkaran transfaran Genderuwo juga semakin lama semakin mengecil, Kandita memutar otak supaya aksi kejar-kejaran terhenti.
Namun, yang mendapat ide justru Tiara. Karena pikiran mereka saling terhubung, Kandita tahu rencana yang dipikirkan Tiara.
"Arzan, aku mohon buat dinding beberapa lapis di depan sebelah utara!" Ucap Tiara memerintah Arzan.
Terlihat dinding yang dibuat Arzan dengan cara merafalkan mantera pun jadi. Berdiri tinggi dan kokoh berbaris bak pasukan paskibra.
Kandita yang memiliki kendali atas tubuh Diki karena tanah kepompong, langsung mengarahkannya ke arah dinding buatan Arzan.
Dengan kekuatan telekenesisnya, Kandita membuat lubang di tengah-tengah dinding dengan diameter kurang lebih 60 centimeter supaya tubuh Diki mudah melewatinya.
Diki pun masuk ke lubang tersebut dengan bantuan telekenesisnya Kandita, yang diikuti oleh Jenglot Raksasa.
Namun, Jenglot Raksasa tersebut menabrak dinding tersebut hingga membuatnya hancur. Tidak tahu terdapat dinding lagi, Jenglot tersebut kembali menabraknya hingga hancur.
Terus menerus menabrak dinding, kecepatan Genderuwo menjadi melambat. Hal itu menjadikan kesempatan bagi Genderuwo dan Macan Putih untuk menghajar Jenglot raksasa tersebut.
Genderuwo berhasil mendekati Jenglot dan berhasil membuat masuk ke dalam lingkaran memperlambat waktunya.
Kecepatannya Jenglot Raksasa pun menjadi melambat sekitar 0,2 x dari sebelumnya.
Dan hal itu menjadi kesempatan bagi Macan Putih untuk melakukan serangannya.
"DIKIII!" Teriak Macan Putih.
'KEMAMPUAN UNIK KEKUATAN 20 X LIPAT!' Diki marafal mantera.
Macan Putih telah bersiap memukul ke arah Jenglot Raksasa. Apalagi setelah Diki merafal mantera, tangannya terlihat semakin tebal dan berotot. Urat-uratnya pun terlihat panjang dan tebal.
"ROOOOOOOOAAAAAAAAAR!"
Pukula Macan Putih tepat mengenai perut Jenglot Raksasa. Hal itu membuat tubuh Jenglot tersebut bolong. Para Jenglot kembali terpisah dan berhamburan kemana-mana dalam keadaan diam lalu menghilang masuk ke dalam tanah.
"Kita berhasil!!" Teriak Tiara bahagia sambil melompat-lompat.
Kandita juga menurunkan Diki dengan kekuatan telekenesisnya. Dan Arzan membatalkan mantera tanah kepompong yang menyelimuti tubuh Diki hingga tanah tersebut hancur.
Namun, ada satu Jenglot yang terdiam dan tidak tenggelam ke dalam tanah. Jenglot itu langsung Diki ambil.
Ia terus menatap Jenglot tersebut dengan tatapan tajamnya.
"Nih masih bergunakah?" Tanya Diki yang masih menatap ke arah Jenglot yang dipegangnya.
"Buang saja kali ya?" Tanya Diki kembali.
"Eh bagaimana kalau dibakar saja? Macan Putih tolong bakar mahluk sial ini!" Diki meminta Macan Putih untuk membakar jasad Jenglot.
Macan Putih pun langsung menyalakan api yang ada di tangannya. Ia kemudian mendekati Diki lalu bersiap untuk mambakar Jenglot yang tidak berdaya tersebut.
Saat hendak dibakar, Jenglot tesebut bergerak. Namun, tangan Diki refleks memegang erat tubuhnya supaya tidak kabur.
"Tolong jangan bakar aku, aku masih ingin hidup, tolong, aku mohon tolong!"
Jenglot tersebut berbicara dan langsung memohon untuk tidak menbakarnya.
.
To Be Continued
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI