Khodam

Khodam
Final Arc : Berpencar



Pagi pun tiba, mereka berempat telah siap untuk melakukan pencarian Erina yang tiba-tiba menghilang di tengah-tengah hutan.


"Hiahahaha, kalian siap untuk kembali beraksi?" Tanya Leena mengepal dan mengangkat kepalan tangannya.


"Kami siap!"


Diikuti oleh Diki dan Tiara yang juga mengangkat tangannya sambil mengepal.


"Yosh, ayo kita pergi mencari Erina!"


Namun, saat mereka hendak pergi, Diki bertanya pada Leena kenapa dirinya tidak meminta bantuan pada Sbastian.


Leena terdiam sesaat. Ia menatap wajah Diki dengan tatap sedih.


"Entahlah, aku rasa semua masalah tidak harus diselesaikan dengan bantuan orang lain. Apalagi aku tidak ingin meminta bantuan padanya," jelas Leena yang masih terlihat sedih.


Mereka kemudian membuka portal ghoib dan pergi menuju lokasi ditemukannya radar pelacakan Erina yang terjatuh di hutan.


Mereka pergi dibawa oleh jin khodam masing-masing.


Karena lokasinya sedikit lebih jauh, mereka sampai dengan menempuh waktu kurang lebih 10 menit.


"Disinilah tempat radar pelacak milik Erina terjatuh. Dan aku tidak tahu selanjutnya ia pergi entah kemana," Ucap Leena memberi tahu lokasi ditemukannya radar pelacak milik Erina.


"Apakah kak Erina benar-benar tertangkap?" Tanya Diki.


"Bisa saja ia masih mengikuti orang yang membawa tubuh Riza. Namun, radar pelacak miliknya tidak sadar terjatuh," tambahnya.


"Aku juga berharap begitu, namun kemungkinan terburuk pun harus kita pikirkan supaya kita tidak terlalu syok mengetahui kebenaran tersebut."


"Kau salah kak. Apakah kak Leena pernah mendengar bahwa ucapan adalah doa atau sugesti adalah kebenaran?"


Tiara menyanggah pemikiran Leena tentang kebenaran yang belum diketahui. Ia mengatakan bahwa kak Leena harus berfikir positif tentang kak Erina. Karena bisa jadi ucapan yang kita utarakan itu adalah sebuah doa yang kemungkinan bisa menjadi kenyataan.


Dan sugesti pikiran negatif bisa saja sedang terjadi sesuai apa yang hati kita rasakan.


"Jadi stop kak. Lebih baik pikirkan bahwa kak Erina baik-baik saja. Dan dirinya sekarang sedang melakukan apa yang Diki tebak."


Leena pun terdiam. Ia melamun setelah mendengar kata-kata dari Tiara.


"Kau tahu, sebenarnya yang aku inginkan juga begitu! Aku harap Erina sedang mengikuti kemana perginya pria tua yang membawa Riza, aku juga terkadang berfikir seperti itu!"


"Aku juga ingin berfikir positif bahwa Erina baik-baik saja. Tapi hati ini, hati ini selalu menolaknya!"


Leena mengeluarkan semua emosinya. Air matanya pun perlahan mengalir sambil terus mengoceh tentang Erina.


"Aku juga yang salah, membiarkan ia pergi sendiri mengikuti orang tua yang membawa Riza pergi... Aku memang bodoh, bodoh, bodoh!"


Leena terus menangis. Ia. Juga memukul kepalanya karena merasa bersalah atas kehilangan Erina.


Namun, tidak tega melihat seniornya menangis, Tiara berusaha menenangkan Leena.


"Kau tidak salah kak, memang ini sudah menjadi takdir," ucap Tiara yang berusaha menenangkan Leena.


Tiara juga memeluk tubuh mungil Leena.


Diki yang melihat Leena menangis, dibuat sedih oleh momen tersebut. Matanya berkaca-kaca sambil menggigit bajunya. Ia juga berusaha memeluk Arzan karena terbawa suasana. Arzan berusaha menghindar dari pelukan Diki.


Karena merasa direndahkan oleh Arzan yang menghindar, Diki mengejar Arzan dan berusaha memeluknya. Sehingga terjadilah saling kerjar mengejar antara Diki dan Arzan.


"Kenapa kau tidak ingin aku peluk hah?!" Tanya Diki menatap tajam Arzan kesal.


"Aku masih normal!" Jawabnya simpel.


"Memangnya aku tidak normal hah?!"


"Buktipun terlihat sangat jelas!" Jawabnya santai.


"DASAR KAU PRIA KAKU! TIDAK PEKA! ANTI SOSIAL! WIBU!"


Di sisi lain, Leena perlahan tenang dari emosinya yang tidak stabil. Ia mengusap air matanya dan mengucapkan terima kasih pada Tiara yang berusaha menenangkan hatinya.


"Eemm," Tiara menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan kehangatan bagi siapa saja yang meresa kedinginan atas masalah yang dihadapinya."


"Walaupun aku bukan orang yang diharapkan untuk menghangatkan hati seseorang. Setidaknya aku telah berusaha memberikan kehangatan walaupun tidak dianggap sedikitpun," tambah Tiara menatap ke atas langit.


"Kenapa kau berbicara seolah-olah aku tidak peduli? Kau juga juniorku yang sangat berarti bagi hidupku, Tiara!" Jelas Leena memegang pundak Tiara.


"Bukan itu maksudku kak. Aku hanya ingin mengutarakan sebuah kata-kata indah yang ada dibenaku."


"Apa yang sedang kalian lakukan berlari mengelilingi kami! Kalian berdua memang tidak bisa diajak serius!!" Tiara memarahi Diki dan Arzan yang berlari mengelilingi mereka sehingga mereka terhenti.


Setelah dirasa perasaan Leena membaik, ia mengajak ketiga anak remaja yang ikut dengannya untuk melanjutkan perjalanan mencari Erina.


Namun, Diki sempat bertanya terkait tujuan yang akan mereka tuju.


Leena terdiam mendengar pertanyaan dari Diki. Ia juga sebenarnya tidak tahu tujuan mereka.


Melihat Leena yang terdiam melamun karena tidak tahu kemana tujuan mereka mencari Erina, Tiara mengusulkan untuk berpencar dalam mencari Erina.


Hal itu disetujui oleh Leena langsung.


"Boleh juga apa kata Tiara. Baiklah aku yang akan mengaturnya. Arzan, kau pergi ke arah Utara, Diki dan Tiara ke arah Selatan dan aku akan pergi ke Barat."


"Kenapa aku harus dengan dia?! Lebih baik aku denganmu kak Leena," Tiara protes dengan pengarahan Leena.


Tira ingin sekali pergi bersama Leena karena ia khawatir dengan kondisi mentalnya saat ini. Namun, protes Tiara tidak didengar oleh Leena.


"Apa kau tidak percaya aku?  Apa kau meremehkan kemampuanku?!" Tanya Leena menatap tajam Tiara.


"Bukan itu yang aku maksud."


"Ya sudah turuti saja dengan apa yang telah aku pilih!" Kemudian Leena pergi ke arah Barat sesuai dengan yang telah ia tentukan.


Begitupun dengan Arzan, ia langsung pergi ke arah Utara sesuai dengan apa yang telah Leena tentukan.


"Aduh bagaimana ini?!!"


Tiara terlihat panik saat Leena dan Arzan pergi ke arah yang telah ditentukan. Namun, berbanding terbalik dengan Diki yang menganggap biasa dan malah menyalahkan Tiara yang terlalu berlebih-lebihan menanggapinya.


"Ya sudah kita juga harus pergi mencari kak Erina. Kenapa kau jadi panik dan bingung begitu?!" Tanya Diki datar.


"Kau memang tidak punya hati dan perasaan ya! Aku khawatir dengan kak Leena. Emosinya belum stabil aku takut dia Kenapa-kenapa!"


"Ya sudah kenapa kau tidak mengikutinya saja!" Ucap Diki sambi mengupil.


"Benar juga apa yang kau katakan. Ya sudah aku akan mengikutinya dari belakang. Dan aku serahkan area selatan padamu Diki."


Tiara kemudian pergi ke arah Barat untuk mengikuti Leena dari arah belakang. Begitupun dengan Diki, ia langsung pergi ke arah selatan untuk mencari keberadaan Erina.


.


To Be Continued


.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI