Khodam

Khodam
Membasmi Jenglot - Keliling Desa



Pak Sujandi menjelaskan bahwa lelaki juga bisa menjadi incaran para Jenglot tersebut.


Berbeda dengan wanita yang langsung diincar oleh Jenglot, lelaki ada sebab akibat yang membuat para Jenglot mengincarnya.


Satu-satunya hal yang dapat membuat Jenglot mengincar lelaki yaitu dengan senggolan si pria pada Jenglot. Mau dengan cara apapun itu, seperti ditendang, dipukul atau yang lainnya, mau disengaja atau tidak, pasti Jenglot tersebut akan memiliki dendam pada pria yang melakukan kekerasan padanya. Ia akan terus menyerang orang tersebut hingga benar-benar tidak terdeteksi lagi bau darah dari pria yang menyakitinya. Atau lebih kasarnya sampai pria tersebut mati atau gila.


"Kenapa harus sampai gila? Bukannya bau darahnya masih sama?" Tanya Diki bingung.


Pak Sujandi kembali menjelaskan bahwa, darah orang gila konon katanya akan berubah warna dan baunya. Makanya para Jenglot tidak akan menyerang orang yang sudah menjadi gila.


"Lalu bagaimana cara memusnahkan para Jenglot tersebut?" Tiara bertanya cara memusnahkan para Jenglot tersebut. Karena dirinya sudah geram dengan tingkah dan kebisingan saat melawannya. Apalagi sampai meresahkan desa.


Namun sayangnya, pak Sujandi tidak mengetahui bagaimana cara memusnahkan para Jenglot tersebut. Apalagi yang jumlahnya sampai ribuan tersebut.


Kecewa, itulah yang tergambar dari wajah Tiara saat ini. Karena mendengar jawabannya pak Sujandi yang tidak tahu cara memusnahkan Jenglot.


"Xixixix, kak Tiara jangan kecewa begitu. Bagaimana kalau kita keliling desa saja?" Ajak Usi pada Tiara.


"Bisa jadi suasana kak Tiara juga kembali membaik," tambahnya.


"Ide bagus itu, siapa tahu kita bisa menemukan informasi terkait Jenglot yang sedang kita hadapi ini," ucap Diki.


Terlihat wajah kecewa Tiara berubah menjadi wajah penuh semangat. Ia juga langsung menggandeng tangan Usi untuk segera pergi berkeliling desa.


***


Berjalan, menelusuri jalan setapak itulah yang dilakukan Tiara, Diki dan Arzan yang didampingi Usi.


Terlihat pemandangan yang begitu memanjangkan mata bagi mereka bertiga. Terlihat hamparan sawah yang luas, pohon-pohon yang berdiri tegap dan rindang, air sungai yang mengalir cukup berirama dan terlihat jernih. Hingga kerbang yang sedang membajak sawah menambah lengkapnya suasana desa.


"Mooooohahuahahahahahahaha."


Pada awalnya mereka bertiga menghiraukan suara tersebut. Hingga beberapa detik kemudian mereka terdiam dengan mata melotot karena terkejut.


"Apa ini nyata?" Tanya Tiara yang masih terlihat melotot dan kaget.


"Sepertinya memang nyata," jawab Diki.


Bahkan Arzan yang terkenal pria terkeren dan terkalem pun dibuat terkejut oleh suara tersebut.


"Mooooohahuahahahahahahaha."


Kembali terdengar suara tersebut. Suara tersebut adalah Kerbau yang sedang membajak sawah. Terlihat ekspresi wajahnya juga seperti yang sedang ketawa walaupun dia terdiam.


"Xixixi, kerbaunya lucu bukan?" Ucap Usi tertawa namun ekspresi wajahnya datar.


"Pok pok petok, pok pok petok,"


Terdengar juga suara ayam yang sedang mencari makan.


Dari suara yang dihasilkan ayam tersebut berbeda dari ayam biasanya. Saat sedang bersuara, diakhir suaranya selalu ada penekanan. Sepertinya yang sedang kesal.


Benar saja, saat mereka menatap ke arah ayam tersebut, ekspresi wajahnya memang terlihat seperti ayam kesal. Sambil menggaruk-garuk tanah menggunakan cakarnya dan mematuk-matuk tanah dengan patuknya, ayam tersebut sesekali bersuara seperti orang kesal.


"Aku ingin segera mengakhiri misi di desa ini," ucap Tiara bete.


Tidak lama berjalan menelusuri jalan setapak, mereka akhirnya singgah di rumah Sutejat.


"Eh nak Usi, ada perlu apa datang ke sini?" Tanya Sutejat menangis.


"Xixixixi, Hanya mengantar kakak-kakak ini keliling desa saja,"


"Ngomong-ngomong nenek kemana?" Tanya Usi.


"Seperti biasa, ia mengurung diri di kamarnya."


Kemudian, Usi pamit untuk melanjutkan perjalanannya lagi keliling desa bersama Tiara, Diki dan Arzan.


Tiba di jembatan dengan air jernih mengalir, mereka terdiam utama melihat sejenak pemandangan air tersebut.


Mereka semua terlihat berada di sisi kiri jembatan. Namun, Diki mengganti posisinya, ia berjalan ke arah sisi jembatan lainnya. Saat menatap ke bawah jembatan, ia dibuat kaget dengan sesuatu yang muncul kepermukaan.


Ternyata sesuatu yang nampak ke permukaan adalah seekor ikan dengan ekspresi ketawa menatap Diki. Hal itu yang membuat Diki terkejut. Melihat ikan yang tidak biasa.


"Aku kira kau kenapa, ternyata dikagetkan oleh ikan ngakak ini," ucap Tiara memukul pelan badan Diki.


Beberapa jam telah mereka lalui untuk berkeliling desa, membuat mereka kelelahan.


"Ah sudahlah mari kita kembali ke gubuk. Bukannya otak fress, tap Malah semakin pusing berkeliling di desa," tambahnya.


***


Setibanya di gubuk, mereka disambut oleh pak Sujandi dan ibu Sunojat. Mereka juga telah menyiapkan makan siang.


"Cepatnya kalian keliling desa," ucap pak Sujandi.


"Xixixi, kak Tiara ingin segera kembali ke rumah pak," jelas Usi.


"Lah bukannya dia yang paling semangat untuk kelilinh desa?"


"SUDAHLAH PAK, JIKA MAUNYA MEREKA CEPAT KE SINI YA TIDAK APA-APA! GITU AJA KOK DIBUAT REPOT!" Teria Sunojat ke pak Sujandi.


Pak Sujandi hanya terdiam mendengar teriakan istrinya tersebut.


Setelah mereka makan, Tiara, Diki dan Arzan berunding. Mereka berkumpul untuk membuat sebuah rencana melawan Jenglot nanti malam.


Singkat Cerita, malam hari tepatnya tengah malama yaitu pukul 00.00 pak Sujandi beserta keluarga telah bersembunyi di ruang bawah tanah.


Dan ketiga anak remaja suruhan Sbastian untuk menyelesaikan misi telah siap untuk melawan para Jenglot yang meresahkan warga desa.


Namun, di tengah heningnya malah, hanya terlihat Tiara yang berdiri sendiri mengenakan pakaian dan wig layaknya pria.


"Aku tidak yakin rencana ini akan berhasil," ucapnya berdiri tegap sambil berkacak pinggang.


"Namun, Diki terus memaksaku untuk mencoba rencananya ini_-. Menyebalkan memang," tambahnya.


Sementara itu di sisi lain, Diki dan Arzan bersembunyi di semak-semak yang terlihat rimbun demi tidak ketahuan oleh para Jenglot saat datang.


"Apa kau berfikir rencanamu akan berhasil?" Tanya Arzan datar.


"Tentu saja pasti berhasil. Dan apa-apaan dengan ekspresi wajah datarmu itu!" Ucap Diki berbangga diri.


"Eh apa jangan-jangan kau sebenarnya wanita, dan kau terkena virus Jenglot?!" Tambahnya heboh di semak-semak.


"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus membuktikan kebenarnya!"


Diki langsung nyerobot ke celan Arzan dan memaksanya untuk membuka celana. Namun Arzan langsung memeganh tangan Diki dan menyentuhnya ke dada miliknya.


"Puas?" Tanya Arzan datar.


"Dadamu bukanlah alasan bahwa kau seorang lelaki. Karena cewe dada datar juga banyak! Aku harus memastikan dengan yang ada di dalam celanamu itu!"


Diki terus memojokan Arzan dan terus memegang celan Arzan supaya terbuka. Namun, tidak lama kemudian terdengar suara ribut tak karuan yang semakin jelas terdengar sehingga membuat Diki tidak meneruskan aksinya tersebut.


Ratusan Jenglot kembali datang seperti lumba-lumba yang melompat dari dalam tanah kembali ke dalam tanah. Mereka para Jenglot langsung mengincar Tiara yang sedang berdiri di tengah luasnya tanah tersebut.


.


To Be Continued


.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI