Khodam

Khodam
perjalanan mencari teratai merah



Terlihat seorang pria tua sedang tebaring lemas di sebuah ranjang tempat tidur yang terbuat dari kayu, kamar yang luas di penuhi barang barang antik terpajang rapih di lemari yang ada di sekitarnya,


"ayah kami datang, aku membawa calon istriku ayah " ujar raden wahna dengan raut wajah sedih melihat tetua suku


ayu pun berjalan mendekat raden wahna yang sedang memegang tangan raden armada ketua suku api, ayu pun memegang pundak raden wahna


" ayah ini ayu, calon raden ayah, ayah bangun lah sebntar untuk memberi restu pada kami ayah " lirih raden wahna ta kuasa menahan kesedihan,


Di sisi lain wine melihat ada yang aneh dengan tetua suku raden armada, ia memperhatikan keadaan tetua suku raden armada yang ta seperti terkena bisa ular pada umumnya,


selain bisa ular, wine melihat seperti ada racun yang masuk kedalam tubuh raden armada yang membuat raden armada ta sadarkan diri,


karna penasaran wine pun menghampiri raden armada yang sedang terbaring, di sebelah radem wahna yang sedang memegang tangan raden armada.


" maaf kan aku paman, apakah boleh aku memeriksa sesuatu " tanya wine yang meminta ijin pada raden wahna yang sedang memegang tangan raden armada.


Raden wahna pun meletakan lengan raden armada , dan mempersilahkan wine untuk memerikasanya.wine pun memegang tangan raden armada,


" ternyata benar pirasat ku, mereka melawan bisa dengan racun, " gumam wine sambil memperhatikan keadaan tetua suku raden armada.


" ada apa wine, apa kau tau sesuatu " tanya raden wahna dengan penuh harapan.


" hmm, apakah raden tau dukun yang merawat tetua suku siapa?"


" sudah banyak dukun di kota ini yang merawat ayahku wine, " jawab raden wahn


"hmm, pasti ada salah satu yang ingin mencelakai tetua." gumam wine


" ada apa wine " tanya raden wahna yang tampak penasaran denga expresi wine


Wine pun menjelaskan bahwa raden armada sakit parah bukan di karnakan bisa ular , raden armada terkena racun yang mematikan, wine menjelaskan bahwa sanya bisa yang ada pada tubuh raden armada tidak lah seserius itu, akan tetapi mungkin ada orang yang berniat meracuni raden armada sebelum tragedi itu terjadi,


Mendengar perkataan wine , raden wahna sedikit ragu , akan tetapi, perkataan wine sangat lah masuk akal, jika ayahnya terkena bias ular yang mematikan mungkin ia tidak akan bertahan lama sapai sekarang, akan tetapi ini berbeda, ayahnya bertahan dengan sangat menderita, ia lebih seperti mayat hidup,


Serontak raden wahna pun meminta salah satu pelayanya untuk memanggil seorang dukun kepercayaanya dan memintanya untuk memeriksa keadaan ayahnya,


ta berselang lama seorang pria dengan mengenakan sebuah kain di kepalanya, yang membawa sebuah kotak kayu datang , dia lah dukun yang telah ia panggil,


Dukun itu pun membuka kotak yang berisi peralatan yang ta asing bagi wine, terdapat bermacam tanaman herbal, sebuah jarum, benang, dan peralatan tradisyonal lainya, memang peralatan ini sedikit berbeda dengan alat tradisyonal yang ada di dunia wine dulu,


raden wahna yang sedang berdiri melihat ke arah dukun yang sedang mempersiapkan pemeriksaan, mempersilahkanya untuk memeriksa,


ta lama dukun itu pun mulai memeriksa dengan metodenya ia memeriksa dengan cara melihat mata raden armada, dan mulut, dan yang paling asing bagi wine, dukun itu mengabil satu tetes darah dan di masukan kedalam sebuah mangkuk kecil, terlihat dua asap kecil yang berwana hijau dan hitam keluar dari dalam darah itu.


dukun itu pun tampak ke heranan, " ini adalah racun yang sangat berbahaya, dan kenapa raden armada masih bertahan, " gumam dukun dengan mata kebingungan melihat kondisi raden armad.


" bagai mana keadaan, ayah saya bah, " tanya raden wahna


" ada racun dan bisa, yang bersemayan di dalam tubuh tetua, raden " ujar membalas perkataan raden wahna.


" bagai mana, apakah ada obat untuk ayah ku bah " tanya raden wahna dengan rasa cemas


" apakah tidak ada obat untuk ayah ku " tanya raden wahna


Dukun itu menggelengkan kepala dan memunduk sambil berkata " tidak ada, raden "


mendengar perkataan dukun raden wahna pun tertunduk lemas, ia di penuhi rasa ke khawatiran, cemas, dan pasrah lantaran ta bisa berbuat apa apa pada ayahnya,


Akan tetapi satu suara terpancar jernih menggema di telinga semua orang di sana,


Di sisi lain wine merasa di hantui dengan suara perempuan yang menggema, suara lembut perempun yang menggema kemarin pada saat ia sedang memeprbaiki pagar rumah itu, kembalin menggema di telinga wine,


" teratai merah berada di portal terlarang temui aku," temui aku, "


Hingga berulang, yang membuat wine merasa tergangu dan sampai menutup telinganya.


ta sadar ia berkata " teratai merah" dengan kecang yang mambuat semua orang yang ada di sana merasa terkejut,


Wine pun tersadar, dan melihat semua orang sedang menatap dirinya, ia ingat teratai merah yang ia sebutkan secara tidak sengaja terdengar oleh semua orang,


" hmm, apa yang aku lakukan, hgh apakah ini sudah takdir, apakah aku harus ke sana, baik lah aku akan ke sana " gumam wine


" yaa, ada, bukanya teratai merah bisa menyembuhkan tetua suku, " tanya wine


Dukun itu pun bereaksi dan menjawab " tentu, hanya teratai merah yang bisa menghilangkan racun sekaligus bisa secara bersamaan, akan tetapi teratai merah itu sudah langka dan mungkin tidak ada lagi, " ujar dukun itu


" aku tau di mana teratai merah itu berada " jawab wine


perkataan wine membuat semua orang terkejut dan ta percaya, dengan perkataanya.


" berapa lama lagi racun itu akan menjalar ke seluruh tubuh " tanya wine kepada dukun


Sedang kan raden wahna melihat wine dengan sedikit harapana,


" apa kah kamu serius wine, di mana tanaman itu berada , tanya raden wahna


" aku tidak bisa menjelaskan di mana ia berada, hanya aku sendiri yang bisa ke sana, " ujar wine dengan tatapan ke yakinan


" raden armada, ia hanya bisa bertahan selama sepuluh hari " jawab dukun yang sedang memegang tangan dan menyentuh urat nadi raden armada.


" hmm, baik lah, aku pasti akan berusaha "


ta lama wine pun menghampiri yang ibu yang berada di samping raden wahana yang menenangkan raden wahna,


"ibunda aku pamit ya, untuk mencari tanaman itu, " ujar wine sambil memegang tangan raden wahna


" ijin kan kami ikut, " ucap tetua suku yang baru saja datang


Mereka tidak sengaja mendengarkan apa yang di bisarakan di dalam kamar.