Khodam

Khodam
Emosinya Erina



Berjalan dengan cepat ke rumah Diki, itulah yang dilakukan Erina karena tergesa-gesa untuk mengambil sesuatu di kamar Tiara.


"Erina?, Ada apa denganmu?, Kau terlihat cemas dan terburu-buru," tanya Leena yang sedang menonton tv sambil ngemil.


Melihat Leena yang duduk santai, membuat Erina terkejut dan langsung mendekatinya.


"Leena?, Kau baik-baik saja?" Tanya Erina mendekat yang kemudian meraba seluruh tubuh Leena untuk memastikan dirinya baik-baik saja.


"Apa yang sedang kau lakukan Erina?! Sebaiknya kau tenang dan cobalah makan ini sambil menonton tv bersamaku."


Leena menyodorkan cemilannya ke mulut Erina,  Erina yang terus mengoceh karena mengkhawatirkan Leena seketika terdiam dan langsung mengucah cemilan yang ada di dalam mulutnya.


"Hmmm enak juga," ucap Erina yang menikmati cemilan sambil menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Kemudian, entah kenapa mereka berdua saling bercerita sambil menyantap cemilan milik Leena.


"Ahhh, aku pikir kau tidak akan pernah membuka matamu lagi Leena."


"Sembarangan kau." Leena memukul punggung Erina sambil tertawa kecil.


"Tapi, apakah kau sudah benar-benar pulih?, Aku dengar tulang tubuhmu ada yang patah bahkan remuk," tanya Erina meraba-raba punggung Leena.


"Apa sih Erina, jangan pegang area itu, geli!" Ucap Leena sambil tertawa karena Erina yang terus meraba-raba tubuh Leena.


Aku tidak tahu, tapi yang pasti tubuhku terlihat  dan terasa baik-baik saja," tambahnya.


Mereka berdua terus mengobrol dan saling melempar cerita yang terpikir di otak mereka masing-masing.


Begitu lama mereka mengobrol, tiba-tiba Leena menanyakan keberadaan Diki, Tiara dan Arzan.


Erina terkejut bukan main, ia langsung berdiri saat mendengar kata yang terlontar dari mulut Leena.


"Ah benar juga, aku harus mengambil tas di kamar Tiara dan pergi menemui Sbastian."


Erina pergi meninggalkan Leena dengan wajah yang kesal menuju kamar Tiara.


Melihat Erina yang tiba-tiba kesal, membuat Leena kebingungan dan dirinya langsung mengikuti Erina menuju kamar Tiara.


"Kenapa denganmu Erina?, Dan kemana ketiga anak remaja penghuni rumah ini?" Tanya Leena.


Dirinya juga terlihat cemas apalagi Erina yang belum menjawab pertanyaannya.


"Sebenarnya aku juga tidak yakin dengan opiniku ini, tapi Noni Belanda membuat kesimpulan bahwa semua ini adalah perbuatan Sbastian," jelas Erina menatap ke arah Leena.


Mendengar penjelasan Erina, membuat Leena semakin bingung.


"Hah?, Apa yang kau maksud Erina? Aku bingung dengan jawabanmu itu," Tanya Leena bingung.


"Kau tahu, kau tertidur cukup lama, bahkan ada satu minggu."


"Eh benarkah?"


Leena kemudian melihat kalender dan dirinya menanyakan tanggal hari ini pada Erina.


Erina kemudian menjawab bahwa hari ini adalah hari sabtu tanggal 17.


Mendengar bahwa sekarang adalah tanggal 17, Leena kembali melihat kalender dan melihat tanggal sebelum ia pingsan.


Dan benar saja, tanggal 11 adalah tanggal dimana  ada insiden tidak terduga yang membuat dirinya kewalahan sampai pingsan.


"Namun, masalahnya bukan itu sekarang. Saat kau pingsan, aku di suruh Sbastian menggantikanmu melatih ketiga anak remaja penghuni rumah ini," jelas Erina.


"Pada awalnya semua berjalan lancar. Tetapi, saat pelatihan kedua, aku disuruh Sbastian untuk memberikan sebuah hadiah pada mereka bertiga. Dan saat mereka membuka hadiahnya, mereka menghilang tepat di depan mataku," tambah Erina.


Erina juga menambahkan bahwa jika bukan Noni Belanda yang memberitahunya, mungkin dirinya masih mencari ketiga anak remaja tersebut di lapangan sepak bola.


"Dan sekarang kau akan pergi menemui Sbastain?" Tanya Leena pada Erina dengan kedua tangan yang memegang pundak Erina.


Erina mengangguk, dirinya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi melalui mulut Sbastian langsung.


Karena merasa bertanggung juga, Leena meminta Erina untuk ikut dengannya juga.


Dan tanpa basa-basi, Erina dengan Leena pergi ke tempat Sbastian berada.


***


Terlihat Ayu yang sedang berjalan berlawanan arah. Saat mata mereka saling berhadapan, Ayu terkejut bukan main.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?, Bukannya kau sedang melatih ketiga anak remaja pemilik jin khodam Zodiak?" Tanya Ayu yang terlihat bingung.


"Eeeh, sejak kapan kau tidak menggunakan kata 'kakak' lagi pada Erina, Ayu?" Tanya Leena menggoda Ayu.


"Eeeh, maksudku kak Erina," ucap Ayu malu.


Ayu baru sadar bahwa Leena terlihat baik-baik saja, dirinya juga merasa bersyukur melihat Leena yang terlihat ceria.


"Mana Sbastian?" Tanya Erina yang terlihat serius.


"Ada apa sebenarny-," tanya Ayu yang perkataan tiba-tiba dipotong Erina.


"Mana Sbastian?!" Sentak Erina pada Aya.


"A-ada di ruanganya," jelas Ayu terbata-bata.


Erina kemudian, pergi meninggalkan Ayu. Langkah kakinya pun terlihat cepat dan terburu-buru.


"Dadah Ayu," ucap Leena yang yang pergi mengikuti Erina dari belakang.


"Gila, ada apa ini. Aku sampai kaget, kek dilabrak pelakor."


Ayu mengelus dadanya. Dirinya penasaran pada gerak gerik Erina yang tidak biasa tersebut.


Ia kemudian mengikuti Erina dari belakang secara diam-diam.


***


Tepat didepan pintu ruangan Sbastian, Erina terdiam dan menghela napas dalam-dalam. Kemudian ia langsung membuka pintu ruangan Sbastian dengan kencang.


Dari arah dalam ruangan, Sbastian terkejut saat pintu ruangannya terbuka cukup keras. Apa lagi benturan antara pintu dengan tembok, membuat Sbastian tambah terkejut karena suaranya.


"Erina?" Ucap Sbastian terkejut.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sbastian bingung.


Tatapan Sbastian juga tertuju pada Leena yang terdiam di belakang Erina dengan tatapan tersenyum tajam menatap Sbastian.


Dengan tangan yang disilangkan dan badan yang menyender tembok, membuat Sbastian semakin bingung.


"Sbastian, coba jelaskan padaku maksud kau memberikan hadiah batu pada mereka bertiga?" Sentak Erina sedikit emosi.


"Hah apa maksudmu?" Tanya Sbastian yang masih terlihat kebingungan.


"Kau jangan pura-pura bodoh, kau menyuruhku memberika mereka hadiah darimu kan?"


"Oh memang benar aku menyuruhmu memberikan mereka hadiah," ucap Sbastian yang terpancing emosinya.


"Apa maksudmu memberi mereka hadiah itu?" Tanya Erina emosi sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sbastian.


"Aku hanya memberi mereka hadiah, sebagai pencapaian kerja keras mereka. Aku juga Berfikir bahwa dengan memberi mereka hadiah, meraka akan semakin semangat untuk belajar melatih kekuatannya," jelas Sbastian.


"Dan 'BAM' mereka menghilang setelah membuka hadiah darimu," ucap Erina sambil memeragakan sebuah ledakan bom dengan kedua tanganya.


"Aku tidak tahu apa rencanaklmu pada mereka. Tetapi selamat, semua rencana ini berjalan dengan sangat mulus dan rapi," tambah Erina yang masih emosi pada Sbastian.


.


To Be Continued


.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI