
"Oh sial, batu raksasa ini menjadi sangat lambat!" Jelas Noni Belanda melihat batu raksasanya yang berjalan dengan lambat.
"Erina, tanyakan pada wanita Aquarius apakah dirinya masih memiliki energi, cepat!" Perintah Noni Belanda pada Erina.
Kemudian Erina langsung bertanya pada Tiara mengenai energi yang masih tersimpan oleh Kandita.
Kandita mengatakan bahwa dirinya masih menyimpan cukup energi dan ia akan mencoba mengeluarkan kekuatan angin asalkan Tiara membantu merafalkannya.
Tidak perlu basa-basi, Tiara langsung merafalkan mantera dan Kandita langsung mengarahkan angin miliknya ke arah Noni Belanda.
Karena ikatan batin, Erina bisa mendengar apa yang harus dilakukannya.
Karena yang dipikirkan Noni Belanda adalah memanfaatkan kekuatan angin milik Kandita, dan karena kekuatan pendukung Noni Belanda adalah angin, juga karena kekuatan pendukung harus bada media, dari situ Erina langsung merafalkan mantera dan batu raksasa kembali melaju dengan cepat mengejar ke arah Iblis Banyu.
Melihat batu besar yang kembali melaju cepat ke arahnya, membuat Iblis Banyu kembali terbang menghindari kejaran batu tersebut.
Sekitar 3 menitan, Kandita memberikan kekuatan angin pada Noni Belanda, yang hingga akhirnya ia tidak kuat lagi dalam memberikan kekuatan anginnya itu.
Tubuh Kandita sedikit lelah, dirinya terkujur lemas yang pada akhirnya kembali masuk ke dalam tubuh Tiara.
"Maafkan aku Tiara. Aku tidak bisa membantu lebih dari ini," ucap Kandita yang merasa bersalah.
"Kenapa kau meminta maaf, kau sudah cukup membantu kami. Dan terlebih lagi aku sangat bangga padamu," jelas Tiara yang tersenyum lebar.
Di sisi lain atas langit. Noni Belanda kembali dibuat terkejut oleh batu raksasa miliknya yang kembali melambat.
Dirinya kemudian menatap ke bawah.
"Kemana wanita Aquarius itu?" Tanya Noni Belanda sedikit kesal.
Erina menjelaskan bahwa Kandita sudah tidak memiliki energi lagi.
Batu raksasa yang perlahan melambat membuat Iblis Banyu terdiam sesaat. Dirinya pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
Ia terbang dengan sangat cepat ke arah batu raksasa dan seketika batu raksasa tersebut hancuk berkeping-keping dan jatuh ke bawah seperti hujan meteor.
Melihat batu yang hancur ditabrak oleh Iblis Banyu, membuat semua orang terkejut.
"Hihi, hihi, hihi, hihi," Iblis Banyu tertawa puas karena berhasil menghancurkan batu raksasa buatan Noni Belanda.
Dirinya kemudian berputar-putar di atas langit.
Berputar dan terus berputar hingga terlihat setitik air di tengah-tengah putaran Iblis Banyu.
Perlahan semakin luas putarannya semakin besar air yang tercipta di tengah putarannya.
"Apa itu?" Tanya Erina melihat ke atas langit.
"Aku merasa akan terjadi hal buruk," tebak Ayu.
"Noni Belanda!" Teriak Erina.
Noni Belanda pun langsung menyerang ke arah Iblis Banyu yang sedang berputar dengan payungnya.
Namun, sebelum payung Noni Belanda mengenai tubuhnya, Iblis Banyu langsung menyerang payung Noni Belanda dengan serangan air dari tangannya.
Mencoba terus menerus melakukan perlawanan, namun serangan Noni Belanda selalu digagalkan oleh kekuatanya itu.
Semakin luas area putarannya, air yang dihasilkannya pun semakin banyak dan besar.
Entah apa yang akan dilakukan Iblis Banyu, yang pasti pergerakannya membuat semua yang ada di lokasi kejadian merasa ketakutan.
Tetapi, saat berputar-putar, tubuh Iblis Banyu langsung tersungkur ke bawah dan tergeletak di tanah.
Seketika itu juga, Iblis Banyu berdiri dan langsung membuat posisi sigap sambil melirikan matanya ke berbagai arah.
Dirinya juga perlahan kembali ke genangan air yang berbentuk seperti bola dunia buatannya.
"Apa yang sedang kau buat, Iblis jelek?"
Orang tersebut adalah Sbastian, yang menaiki piringan apinya.
Dengan badan yang tegap dan kaki yang lurus merapat serta kedua tangan yang berada di saku celana, bak super model.
"Sbastian, kenapa kau berada disini?" Tanya Erina tekejut melihat kehadiran Sbastian yang tiba-tiba.
"Aku hanya khawatir pada kalian," ucap Sbastian dengan mata yang melirik ke arah Erina dengan badan yang masih berdiri tegap.
Melihat musuh yang menyerangnya hingga tersungkur ke tanah membuat Iblis Banyu marah Besar. Bola air yang telah dirinya kumpulkan langsung ia semburkan ke arah Sbastian.
Semburan yang begitu dahsyat membuat siapa saja yang tekena akan langsung meninggal di tempat.
Tetapi berbeda dengan Sbastian, dirinya hanya terdiam berdiri di atas piringan api dengan santai.
Semburan air yang semakin mendekat membuat sbastian menjentikan jarinya yang tiba-tiba keluar semburan lava dari arahnya.
Hingga terjadilah semburan dari dua arah antara air dan lava.
Dari semburan kedua elemen tersebut terbentuklah lahar dingin yang berjatuhan.
Sehingga orang-orang yang melihat pertarungan Iblis Banyu dengan Sbastian lari menjauh menghidari dari terkenanya lahar dingin tersebut.
"Aku tidak tahu dampak dari terkena lahar tersebut. Sebaiknya kita menyelamatkan diri terlebih dahulu," ucap Erina yang menghampiri Diki, Arzan dan Tiara.
Dirinya juga memangku Leena yang terkujur pingsan dan membawanya pergi menjauhi area pertempuran.
"Seberapa besar kekuatan Sbastian, sebenarnya?" Tanya Diki sambil melihat pertarungan di atas langit.
"Saat jin khodamnya datang ke rumah kemarin juga, tidak terlihat transparan," tambahnya.
"Oh ia, kenapa aku tidak menyadari hal tersebut. Padahal aku juga sudah lama ikut bersamanya," ucap Tiara yang baru menyadari kekuatan Sbastian.
Mendengar pembicaraan Diki dan Tiara membuat Erina menghampirinya sambil melihat ke arah Sbastian.
"Dulu, saat kita masih kecil, Sbastian tidak sekeren ini," ucap Erina yang masih menatap Sbastian.
"Bahkan, bisa dibilang dirinya adalah orang yang paling cengeng di kelas. Karena sangat gampang menangis, teman sekelasnya selalu menjahilinya. Dulu, akulah yang selalu membela dan melawan balik orang yang menjahilinya, hahaha" tambah Erina tertawa karena mengingat masa lalu.
"Dan saat kelulusan SD dulu, kami berdua tidak pernah bertemu lagi. Karena dia bersekolah di SMP luar kota karena pekerjaan orang tuanya."
"Kurang lebih 10 tahun kami benar-benar tidak pernah bertemu. Dan saat itu juga aku bener-benar merindukanya," ucap Erina merenung mengingat kejadian dulu.
"Dan entah kenapa, saat aku membutuhkan dan memikirkannya, Sbastian tiba-tiba datang seperti pangeran yang menaiki kuda sembrani dan membawaku ke tempat yang aku tempati sekarang ini."
"Pada awalnya aku sempat tidak menyangka bahwa dirinya adalah Sbastian. Karena Sbastian yang aku kenal adalah Sbastian yang cengeng, tetapi saat ia membawaku, auranya begitu berwibawa dan berkharisma," pungkas Erina.
"Heeh~ aku bener-benar tidak bisa membayangkan Sbastian dulu," ucap Tiara yang tidak menyangka kepada perubahan Sbastian.
Saat sedang asik mengobrol, semburan air milik Iblis Banyu mendekat ke arah mereka. Hingga hal itu membuat mereka terkejut dengan jantung yang berdegup kencang.
.
.
To Be Continued
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI