
"Aku sangat bersyukur ada yang mau menjalin kontrak dengan mahluk astral sepertiku. Mahluk kaku yang tidak bisa apa-apa, bahkan untuk bertarung pun aku tidak bisa. Namun, saat aku bertemu dengan steven, dia mau menerimaku apa adanya," jelas jelangkung sambil melayang.
Tetapi, orang-orang menghiraukan cerita jelangkung. Mereka malah tertuju pada Riza yang sedang berbaring di kasur dengan wajah yang terlihat cemas.
Melihat orang-orang yang menghiraukan ceritanya, membuat Jelangkung marah tak karuan.
"Kalian mendengar cerita sedihku apa tidak sih?!!" Teriak Jelangkung cempreng sambil marah-marah.
"Kapan kau bercerita?" Tanya Tiara pada Jelangkung.
"Barusan!" Jawab Jelangkun dengan intonasi tingginya.
"Aku kira kau sedang kumur-kumur," Ucap Tiara datar.
Mendengar ucapan Tiara, membuat Jelangkung semakin sedih.
"Sudahlah memang dari awal tidak ada yang mempedulikanku," ucap Jelangkung yang terbang menghindari keramaian terlihat sedih.
"Tapi aku mendengar ceritamu dan peduli padamu, jelangkung," gumam Steven dalam hati yang terdengar oleh Jelangkung.
Dengan wajah yang tersenyum lebar menatap Jelangkung, Steven mengangkat jempolnya pada Jelangkung.
Sebenarnya Jelangkung kesal karen hanya Steven saja yang mendengar keluh kesahnya. Namun apa boleh buat, Karena Steven ia tidak merasa kesepian lagi.
Beberapa saat kemudian, kedua mata Riza terbuka, ia langsung terbangun dari tidurnya dan menatap ke seluruh orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Saat matanya tertuju pada Erina, mata Riza berkaca-kaca. Hal itu membuat Erina tidak tahan melihat wajahnya dan ingin sekali menangis dan memeluknya.
Tetapi, Riza tiba-tiba menangis kencang sejadi-jadinya. Hingga membuat sekitar terkejut dan merasa khawatir.
Erina yang berada di depannya langsung memeluk Riza dan air mata pun tidak bisa ia tahan lagi.
Melihat tangisan Riza dan Erina membuat orang sekitar merasa iba dan tidak berani untuk mengganggu pelukan dan tangisan mereka.
Hingga Erina mengusap punggung Riza dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kau kuat, kau pintar, Kau luar biasa Riza," ucap Erina pada Riza.
Namun, tangisan Riza semakin mengencang sehingga membuat orang-orang sekitar semakin khawatir terutama Erina.
"Kau kenapa Riza?" tanya Erina yang semakin dibuat sedih oleh tangisan Riza.
"Kakak, kakak, kakak, kakak."
Dalam tangisannya, Riza selalu mengucapkan kata kakak. Saat Erina tanya, Riza hanya mengatakan kata-kata tersebut saja.
"Bagaimana ini Leena?" tanya Erina yang tidak tahu lagi harus bagaimana.
"Tunggu saja sampai ia bener-benar tenang."
Benar saja apa yang dikatakan Leena, tangisan Riza semakin lama semakin mengecil dan lama kelamaan tangisannya benar-benar berhenti.
Dirinya juga tertidur dipangkuan Erina. Namun Erina masih khwatir padanya apalagi seluruh tubuhnya yang terlihat lebam.
Riza terus mengatakan kata-kata kakak sambil tertidur. Erina menatap Riza sambil memangkunya. Yang ada dalam pikiran Erina, Riza kembali bermasalah dengan teman kakaknya tersebut yaitu Gilang.
Namun, Noni Belanda tidak sependapat dengannya.
Ia berkata, jika Riza berkelahi dengan teman kakaknya, pasti ia tidak akan menyebutkan nama kakaknya tersebut. Kemungkinan ada masalah yang lebih serius lagi.
Mendengar Penjelasan Noni Belanda, membuat Erina kembali khwatir dibuatnya. Erina juga sempat memikirkan nasib kakak dan paman Riza. Dalam hati kecilnya juga ia memikirkan kondisi Gilang, teman kakaknya Riza tersebut.
"Apa yang harus kita lakukan Leena," tanya Erina yang terlihat sangat khawatir.
Namun, ditengah-tengah rasa khwatir tersebut, Jelangkung terbang ke tengah-tengah kerumunan dan berkata bahwa ia bisa melihat kejadian yang dialami Riza.
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi!" Teriak Leena yang kesal pada Jelangkung sehinggal membuat Jelangkun ketakutan.
Namun, Jelangkun mengatakan bahwa dari tadi Steven sudah mengangkat tangannya untuk mengatakan hal ini. Tetapi, kalian semua tidak menyadarinya.
"Apa yang bisa kau harapkan dari dia, bahkan berbicara pun butuh perjuangan."
"Ya bagaimana caranya kau mengetahui apa yang dialami Riza?" Tanya Erina yang tidak sabar melihat kejadian yang dialami Riza sehingga membuatnya lebam.
Kemudian Jelangkun menjelaskan bahwa kepalanya atau batok kepalanya, ia pakai ke kepala Riza. Dan ia akan tahu ingatan Riza sehari yang lalu.
***
Pagi hari yang cerah di sebuah rumah, terlihat pria dengan perut buncit sedang menyiapkan makanan di meja makan.
Terlihat juga dua orang bocah yang telah duduk menanti pamannya datang membawa makanan.
Bocah tersebut adalah Reza dan Riza.
Terlihat dari raut wajah mereka sangat ceria dibalut suasana yang penuh kehangatan.
" Kalian, makan yang lahap ya," ucap pria buncit pada kedua bocah yang sedang duduk di meja makan.
Dari balik jendela, terlihat seorang bocah yang mengintip di kehangatan keluarga tersebut. Dari raut wajahnya bocah tersebut terlihat sedih.
Bocah yang sedang mengintip tiba-tiba ketahuan oleh paman buncit tersebut. Paman tersebut kemudian keluar rumah dan langsung menghampirinya.
Reza juga sempat melihat bocah yang mengintip di jendela tersebut, kemudian ia mengikuti pamannya keluar rumah.
Tidak ketinggalan Riza, yang juga mengikuti mereka.
"Kau jangan mengintip rumah orang sembarangan, itu tidak sopan, pulang sana!" Perintah paman mengusir bocah yang ternyata sahabat Reza.
Terkejut dengan ucapan paman sahabatnya, bocah tersebut lebih tepatnya Gilang, langsung pergi dan sesekali menatap Reza yang terlihat polos sambil dadah-dadah pada Gilang.
"Paman kenapa tidak mengajaknya masuk?" Tanya Riza yang merasa kasihan pada Teman kakaknya.
"Bukannya paman mengusir dia, paman bingung, makanan kita sehari-hari pas-pasan." jelas paman menatap Riza.
Tidak ingin terus membahasnya, Paman tersebut mengalihkan topik dan langsung menyuruh mereka berdua untuk kembali makan.
Saat makan, paman buncit tersebut mengajak Reza dan Riza untuk bermain dengannya ke taman, terlihat mereka sangat se---.
***
"Cerita tidak penting, bisa langsung ke kejadian anak ini babak belur?" Tanya Leena yang menepuk Jelangkung karena pikirnya ceritanya terlalu bertele-tele.
"Bisa saja, tapi aku tidak tahu kapan kejadian itu terjadi," jelas Jelangkung.
Leena langsung menyimpulkan bahwa kejadiannya pasti tengah malam yaitu pukul 00.00.
Setelah itu, Jelangkung kembali memakaikan Riza batok kepala lagi dan ia mulai bercerita kejadian pada saat pukul 00.00 malam.
***
Terasa dingin dan tidak terlihat apa-apa. Hanya anak kecil yang sedang tertidur di teras rumah dengan wajah lebam di kesunyian malam.
Terus tertidur tidak ada hal aneh yang terlihat di sekit--.
***
Cerita Jelangkung kembali dipotong oleh Leena.
"Berarti tengah malam anak ini sudah ada di teras luar. Lalu kejadiannya kapan?" Tanya Leena bingung.
Tiba-tiba Noni Belanda keluar dari tubuh Erina bermaksud menganalisis kapan kejadian mengerikan yang menimpan Riza yang membuat tubuh dan wajahnya lebam.
.
To Be Continued.
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI