
"Heh! apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Gilang mendorong badan Riza kesal.
Yang pada awalnya Riza ceria karena berencana membeli permen kapas, namun keceriaannya beruba saat Gilang yang tiba-tiba muncul sambil mendorong badannya. Hal itu membuat dirinya terkejut dan seketika ekpresi wajahnya menjadi murung.
Erina dan Leena yang melihat kejadian tersebut kembali dibuat cemas oleh mereka berdua. Terutama Erina, dirinya sangat mengkhawatirkan Riza yang kembali terlihat murung.
"Bagaimana ini Leena," tanya Erina cemas.
"Biarkanlah dulu. Kita lihat apa yang akan terjadi."
***
"Kenapa kau diam saja hah?!"
Gilang bertanya pada Riza dengan intonasi yang sedikit tinggi, dirinya juga terlihat kesal sambil menyilangkan kedua tangannya.
Riza hanya terdiam, dirinya hanya menundukan kepalanya dengan wajah yang terlihat murung.
"Kenapa kau diam saja?, Aku bertanya loh!"
Gilang kembali marah karena Riza yang tidak menjawab pertanyaannya.
"A-aku hanya ingin bermain dengan kalian," jelas Riza terbata-bata dengan kepala yang masih menunduk.
Intonasi suara yang dihasilkan Riza juga terdengar rendah.
"Hah?, Kalau ngomong yang jelas bisa?!" Perintah Gilang kesal.
Riza hanya menganggukan kepalanya dan kembali menunduk dengan wajah yang masih terlihat murung.
"Sudahlah. Intinya jangan sampai kakakmu mengetahui kau ada di pusat perbelanjaan ini. Jika kakakmu sampai tahu, kau akan menerima konsekuensinya!"
Gilang memberikan ancaman pada Riza bahwa Reza tidak boleh mengetahui dirinya ada di pusat perbelanjaan. Jika Riza melanggar, akan ada konsekuensi yang diberikan Gilang.
"Ingat kata-kataku ini!"
Gilang pergi meninggalkan Riza sendiri. kemudian ia menyusul Reza pergi ke toilet.
Setelah Riza ditinggal oleh Gilang, Erina pergi mendekati Riza dan mencoba menghiburnya dengan membuat ekpresi yang konyol.
Berbagai ekspresi telah ia buat, namun tetap saja Riza masih terlihat murung.
"Senyum dong ganteng," ucap Erina sambil memegang kedua ujung bibir Riza dan membuat Riza tersenyum manual dengan kedua tangan Erina.
Tiba-tiba Riza menatap mata Erina dan dirinya tersenyum lebar.
"Nah gitu dong, kan kelihatan ganteng jadinya."
Setelah Riza benar-benar terlihat kembali ceria, Erian mengajaknya untuk berkeliling pusat perbelanjaan.
Berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan sambil sesekali menghampiri tempat jajan dan tempat bermain membuat mereka senang. Terutama Riza yabg terlihat sangat menikmatinya.
Dengan tangan kanan memegang permen kapas dan tangan kiri yang memegang sosis panggang, dirinya terlihat ceria dan tersenyum ke arah Erina.
Hal itu membuat Erina kembali menangis terharu.
Sekian lama mereka mengelilingi pusat perbelanjaan sampai-sampai mereka lupa waktu dan sore hari pun kembali menyambut di hari itu.
"Tidak terasa ya waktu sudah mulai sore saja," ucap Erina menatap senja sambil duduk di kursi taman kota.
Diikuti oleh Riza dan Leena yang juga menatap senja sambil menikmatinya.
Pemandangan senja yang indah membuat mereka tidak sadar akan sekeliling.
Mereka juga tidak menyadari dua orang yang tiba-tiba datang menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri Riza.
"Riza?, Sedang apa kamu di sini?" Tanya seseorang pada Riza yaitu Reza.
Mendengar suara yang tidak asing membuat Riza tersadar dan langsung menatap ke arah sumber suara.
Erina dan Leena yang berada di pinggrinya juga terkejut oleh kedatangan mereka berdua.
Tidak tahu apa yang harus dilakukan, Erina dan Leena terdiam melihat apa yang akan terjadi terhadap Riza.
"Padahal pusat perbelanjaan sangat jauh dengan rumah kita, kenapa kamu bisa sampai sini?" Tanya Reza pada adiknya.
"Ya sudah, ayo ikut kakak."
Reza mengaja Riza adiknya untuk ikut bersamanya. Namun Gilang yang berada di belakang tubuh Reza memelototi Riza dan terlihat dirinya juga sangat kesal.
Karena takut deng Gilang yang terus menatap ke arahnya, membuat Riza menolak ajakan kakaknya tersebut.
"Loh kenapa?, Terus kamu pulang sendiri?, Aku sebagai kakak tidak tega membiarkan hal itu," ucap Reza lembut.
"Biarlah aku pulang sendiri kak," ucap Riza tersenyum lebar pada kakaknya itu.
"Kakak tahu kamu ingin mandiri, tapi selagi ada kakak, kenapa tidak pulang sama-sama. Dan kakak sama kak Gilang masih mau main, ayo ikut," ajak Reza pada adiknya.
Riza hanga menggeleng-gelengkan kepalanya sambil kembali murung.
"Tidak kak, aku sedang ingin bermain sendiri l. Nikmati saja waktu kakak bermain bersama kak Gilang."
"Tidak, memang apa enaknya bermain sendiri, ayo kita main bareng sama kak Gilang juga," ajak Reza yang terus memaksa adinya ikut.
Namun, lagi-lagi Riza menolak ajakan kakaknya tersebut. Melihat Reza yang terus mengajak adiknya membuat Gilang geram dan emosinya memuncak.
"Kau dengar tidak sih, Dia tidak mau jalan sama kita, kau terus saja mengajaknya!" Ucap Gilang kesal sambil menunjuk ke arah Riza.
"Tapi, dia adikku. Aku sebagai kakaknya harus bertanggung jawab penuh terhadapnya," jelas Reza yang terlihat cemas.
"Ya sudah, kau memilih aku atau adikmu?! Dan aku muak berlama-lama di tempat ini."
Gilang pergi meninggalkan mereka dengan keadaan kesal campur marah.
"Tunggu Gilang," perintah Reza cemas.
Ia kemudian menatap mata adiknya. Dilihat dari raut wajah Reza terlihat bingung.
"Tinggalkan saja aku sendiri di sini kak, kejar kak Gilang dan minta maaflah. aku bisa pulang sendiri kok," perintah Riza pada kakaknya sambil tersenyum lebar.
Dan tidak pikir panjang, Reza pergi meninggalkan adikmya untuk mencari Gilang.
Sesaat kakaknya pergi meninggalkannya, air mata Riza terjatuh kemudian ia mengis.
Erina dan Leena memang sudah menyadarinya bahwa Riza akan menangis. Dilihat dari wajahnya Riza selalu menahan emosinya supaya tidak menangis di depan kakaknya.
Dan lagi-lagi Erina ikut mengis karena sedih melihat Riza.
"Sini kakak peluk, kau hebat, kau kuat," ucap Erina menangis sambil memeluk Riza.
"Kalian tunggu di sini, ada yang harus aku pastikan."
Leena pergi meninggalkan Erina dan Riza.
Di sisi lain, Reza berkeliling di pusat perbelanjaan untuk mencari sahabatnya yaitu Gilang. Berbagai tempat telah ia jajal, namun hasilnya nihil. Ia tidak menemukam Gilang dimanapun.
"Kemana kamu Gilang, aku sangat mengkhawatirkanmu," Gumam Reza cemas sambil terus menatap ke berbagai arah.
Di sisi lain juga terlihat Gilang yang sedang menangis sambil menendang-nendang dinding.
"Aku benci, aku sangat benci padanya! Kenapa anak itu harus hadir di kehidupan Reza, kenapa?!"
"Sudah aku duga kau pasti sedang menangis, kau terlihat seperti anak tk rupanya," ucap Leena yang tiba-tiba muncul di hadapan Gilang yang sedang menangis.
.
To Be Continued
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI