
"Kita berhasil Tiara!" Ucap Kandita senang karena telah mengalahkan musuhnya.
Begitupun dengan Tiara, ia sangat senang karena berhasil menang melawan Jin Khodam yang memiliki partner, apalagi dirinya sangat jarang melawan Jin khodam yang memiliki partner, bahkan tidak pernah.
"Tapi, apa mereka baik-baik saja Kandita?" Tanya Tiara yang mulai mencemasi Ace dan Mariaban.
Kandita kemudian menghancurkan tanah kubus yang menimpa Ace dengan kekuatan telekenesisnya.
Setelah kubus tersebut hancur, terilihat Ace yang duduk sila dengan mata yang memerah, tatapan tajam mengarah ke arah mereka berdua dan mulut yang tersenyum sinis.
Hal itu membuat Kandita dan Tiara terkejut dan membuat posisi sigap, karena ditakutkan Ace akan kembali menyerang mereka dengan kekuatan yang belum mereka berdua ketahui.
Namun, belum sampai 2 menit, tubuh Ace tiba-tiba terjungkal ke belakang dan dirinya benar-benar dinyatakan pingsan setelah menerima serangan dari Kandita.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, dan apa yang harus kita lakukan pada pria ini?" Tanya Kandita pada Tiara.
Tiara hanya terdiam menatap wajah Ace begitu sangat serius. Dia terlihat sangat berpikir keras mengenai apa yang harus dilakukan pada pria tersebut.
Tidak lama kemudian Tiara mendapatkan sembuah ide apa yang harus ia lakukan terhadap pria di depannya. Ia berkata pada Kandita bahwa ia akan membawa pria tersebut sebagai sandra dan pergi menuju titik radar milik kak Leena.
Kemudian mereka pun pergi sambil membawa sandra menuju titik radar Leena.
Setelah sampai di titik radar milik Leena, Tiara tidak menemukan sesuatu yang sesuai dengan perkiraannya. Namun, ia hanya melihat radar pelacak milik Leena yang terjatuh begitu saja.
"Sial! Kita kembali kehilangan jejak!" Ucap Tiara kesal sambil membanting radar pelacak milik Leena.
***
Di sisi lain, arah selatan tempat dimana Diki dan Macan Putih berada.
"Maaf aku tidak ada urusan denganmu. Dan saat ini, aku sangat terburu-buru!"
Diki mengatakan pada Selena bahwa dirinya sangat terburu-buru dan tidak bisa meladeninya.
Ia pun pergi meninggalkan Selena dan terus berlari menuju arah Selatan tanpa berfikir panjang. Diikuti oleh Macan Putih yang terbang mengikuti partnernya sambil menyilangkan tangannya.
"Siapa wanita tadi?" Tanya Macan Putih pada Diki.
"Aku tidak tahu dan aku tidak peduli!" Ucapnya tegas.
"Kau kenapa? Kerasukan kah?" Tanya Macan Putih heran dengan sifat Diki yang tiba-tiba berubah tersebut.
"Tidak! Hanya saja kita tidak boleh membuang-buang waktu dalam mencari kak Erina yang hilang entah kemana."
Namun, saat mereka sedang mengobrol sambil berlari, tiba-tiba Diki menabrak batu yang sangat besar.
"Aw!!"
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Macan Putih khawatir.
"Sejak kapan batu besar ini berada di depan!"
Tangan Diki refleks mengusap-usap dahi karena sakit terbentur batu besar dihadapannya.
"Huahahaha, kau tidak akan bisa lari dari hadapanku. Apalagi kau adalah targetku, yang otomatis kau sudah menjadi incaranku!" Ucap Selena berdiri tepat di belakang Diki.
Refleks Macan Putih langsung meluncurkan cakarnya ke arah Selena. Dan Selena berhasil menghidar dengan cara menjongkokan tubuhnya.
Ia juga langsung melakukan gerakan koprol ke belakang untuk menghindari serangan Macan Putih lainnya.
"Bagaimana ini Diki?" Tanya Macan Putih yang terlihat geregetan ingin melawan wanita tersebut.
Ditandai dengan tangannya yang terus mengepal, yang artinya memang Macan Putih ingin sekali melawannya.
"Tenangkan pikiranmu Macan Putih. Ingat! Kita disini bukan untuk meladeni wanita tidak jelas itu! Kita berada di sini memiliki tujuan lain, yaitu mencari keberadaan kak Erina." Jelas Diki sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Eh? Kau Diki kah?"
"Ia aku Diki! Memangnya kenapa?"
"Aku yakin kau bukan Diki! Karena Diki yang ku kenal adalah manusia, lemah, cengeng, keras kepala, dan tidak bisa di atur!" Jelas Macan Putih.
"Aku hanya ingin mengikuti gaya Arzan."
"Kau tidak mungkin cocok menjadi manusia dewasa, apalagi menjadi kulkas dengan berjalan!"
"Sudahlah terima saja nasibmu!" Tambah Macan Putih.
Namun, saat mereka berdua sedang sibuk berdebat, tiba-tiba seluruh pohon yang mengelilingi Diki dan Macan Putih berubah menjadi besar dan menutup semua jalan keluar.
Hingga pohon tersebut saling berdempetan dan membentuk sebuah lingkaran dengan diameter kurang lebih 30 meter.
"Heh apa yang terjadi pada pohon-pohon ini?" Tanya Diki yang heran melihat batang pohon yang saling melebar hingga menutupi jalan keluar.
"Tidak usah panik begitu, aku sedang membuat tempat eksekusi untukmu anak muda!" Jelas Selena sombong.
Tiba-tiba tanah tempat berpijak Diki berubah menjadi besar. Karena terkejut, ia langsung melompat dari batu yang tiba-tiba besar tersebut.
Saat menapak, batu di tanah ia berpijak kembali membesar. Hal itu membuat Diki kembali menghindari area tersebut.
Saat kembali menapak, batu di tanah pijakannya kembali membesar, begitu seterusnya.
"Apa-apaan ini! Kenapa batu tempat ku berpijak berubah menjadi besar," tanya Diki yang fokus menatap ke arah bawah.
"Kau sedang melihat ke arah mana anak muda?!" Tanya Selena sambil melempar tiga butir batu kecil ke arah Diki.
Batu yang dilempar Selena berubah menjadi besar. Hal itu membuat Diki terkejut dan refleks berteriak ala film-film azab indosi*r.
Sebelum batu-batu yang tiba-tiba berubah menjadi besar mengenai Diki, Macan Putih telah terlebih dahulu menghancurkan batu-batu tersebut dengan pukulannya.
"Kau sangat lebay!" Ejek Macan Putih memperlihatkan wajah datarnya pada Diki.
Tiba-tiba, batu besar dari arah Selena kembali datang. Dan lagi-lagi Macan Putih menghancurkannya dengan santai.
"Kau Macan Yang sangat menyebalkan! Kalqu begitu bagaimana kalau ini!"
Selena kemudian meloncat keluar dari lingkaran pohonnya sambil melempar korek dengan nyala api kecil.
Hal itu membuat Diki dan Macan Putih bingung keheranan.
Namun beberapa saat kemudian, api tersebut berubah menjadi api yang sangat besar. Api tersebut dengah mudah membakar Pohon-pohon yang mengelilingi mereka berdua.
"Sekarang lebih baik kita kabur dulu!" Ucap Macan putih pada Diki.
Ia juga membawa tubuh Diki dan berencana untuk pergi meninggalkan area lingkaran pohon tersebut.
Namun, saat Macan Putih hendak melompat, tiba-tiba dari arah atas terlihat begitu banyak batu raksasa yang berjatuhan ke arah mereka berdua.
"Sialan! Apa kekuatan wanita itu sebenarnya! Merepotkan saja!" Jelas Macan Putih kesal.
Macan Putih kemudian menurunkan tubuh Diki dan fokus memukul batu-batuan yang berjatuhan ke arah mereka.
"Bagaimana ini Macan putih? Api semakin mendekat ke arah kita?" Tanya Diki panik.
.
To Be Continued
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI