Khodam

Khodam
Final Arc : Pertengkaran Dimana-mana



"Bagus Gray!"


Sbastain memuji Gray yang telah menghentikan langkah Leena yang hendak kabur tersebut.


Gray berkata, bahwa dirinya mendengar keributan yang berasal dari dalam gedung tersebut. Saat melihat bocah kecil yang tiba-tiba keluar dengan wajah yang terlihat panik, ia langsung melempar tubuh Arzan yang terkujur pingsan ke arah bocah tersebut.


Ia berhasil melakukannya dan kini Leena tertindih oleh badan Arzan yang terlihat lemas tersebut.


"ARZAN?!"


Leena kembali berteriak. Ia tidak menyangka Arzan akan tertangkap juga oleh organisasi tersebut.


"SBASTIAN! APA KAU TIDAK MERASA KASIHAN MELIHAT ORANG-ORANG TERDEKATMU MENDERITA?!"


Namun, Sbastain hanya tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Hmp!" Sbastain tertawa sombong.


"Orang terdekat?" Tambahnya berjalan santai mendekati Leena yang sedang dilindungi oleh Jerangkong.


Dari sisi lain, kakek Ben siap untuk memberikan serangan pade mereka, yang pada akhirnya Sbastain menyuruh orang tua itu untuk tidak meneruskan serangannya.


Sbastian memegang dagu Leena sambil menatap ke arahnya, namun Leena langsung memalingkan wajahnya agar Sbastain berhenti memegang dagu dan menatap wajahnya.


"Justru aku kasian pada kalian semua oh umat manusia. Kalian selalu tertindas di dunia ini. Aku tidak tega melihat kalian berusaha berjuang untuk kelangsungan hidup si dunia kotor ini," ucap Sbastain berjalan perlahan membelakangi Leena.


Ia juga menambahkan bahwa dirinya akan menghentikan penderitaan umat manusia dengan cepat.


Karena merasa terdapat peluang untuk kabur, dengan cepat Jerangkong membopong tubuh Leena dan Arzan keluar gedung.


Namun, saat di luar, puluhan batu besar tiba-tiba muncul hingga mengenai tubuh Jerangkong yang berusaha melindungi Leena juga Arzan.


Karena tidak kuat menahan banyaknya batu raksasa yang tiba-tiba muncul, Jerangkong menurunkan tubuh mereka berdua ke lantai.


"Maafkan aku Leena, aku tidak kuat lagi," jelas Jerangkong masuk ke dalam tubuh Leena.


Pada akhirnya Leena kembali terpojok. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi seperti sekarang.


Dari arah luar, seseorang masuk dengan wajah yang terlihat sombong. Ia juga berkacak pinggang seolah telah melakukan tindakan yang sangat luar bisa.


Orang tersebut adalah Selena. Ia berhasil kabur dari pertarungan saat menduplikatkan dirinya.


Sbastain, yang melihat Selena telah mengehentikan rencana kabur Leena, memberi pujian juga standing applaus pada wanita tersebut.


Hal tersebut membuat Leena semakin sombong dan berkata pada Gray bahwa dirinya adalah orang yang paling kuat dan berguna.


Namun, Gray menjawab kesombongan Selena dengan bertanya terkait buruan Selena.


"Mana buruanmu?! Jangan bilang kau tidak berhasil dan kalah darinya lalu kabur begitu saja?" Tanya Gray menatap tajam ke arah Selena.


Selena dibuat panik oleh perkataan Gray barusan. Ia bingung harus menjawab apa karena faktanya memang ia tidak mendatangkan hasil buruannya.


Ia kemudian mengeles bahwa buruannya mendapatkan bantuan langsung tiga orang. Dengan wajah yang terlihat marah, ia berkata bahwa dirinya tidak mungkin menang melawan mereka semua.


Dan jalan satu-satunya yang terpikir oleh Selena kabur dan tidak mau mengambil resiko.


"Alasan klasik!" Jelas Gray menggeleng-gelengkan kepala.


"Hmp!" Selena cemberut dan marah pada Gray.


Ia bertanya pada Gray hasil buruannya. Dan gray menjawab bahwa hasil buruannya terkapar pingsan di depan sana. Ia juga menunjuk ke arah buruannya dan berkata, bahwa buruannya adalah adik dari tubuh orang yang diinanginya.


Kesal mendengar Gray dan Selena bertengkar, Kakek Ben langsung menyuruh mereka untuk berhenti.


Namun, yang ada mereka berdua kembali memarahi kakek Ben dan berkata orang lemah tidak perlu menasehati mereka.


Namun, Sbastain yang juga sedikit risih dengan pertengkaran mereka, langsung menyuruhnya untuk berhenti bertengkar.


"Kalian berdua hentikan pertengkaran yang tidak berguna ini," jelas Sbastain santai sambil tersenyum pada Gray dan Selena. 


Seketika mereka berdua terdiam dan menatap Sbastain penuh Kagum.


"Ahh~ aku pasti akan menunggumu untuk menjadi pengantinmu, oh rajaku. Walaupun tidak menjadi pengantin kau boleh menggunakan tubunku sesukamu," gumam Selena yang memikirkan hal diluar nalar anak TK.


Lalu Sbastain menyuruh Gray dan Selena untuk membawa tubuh Leena dan Arzan ke mangkuk cawan raksasa seusai logo zodiak mereka.


Ia mengatakan bahwa Leena ditempatkan di cawan berlogo zodiak Scorpio dan Arzan ditempatkan di logo dengan zodiak Taurus.


Mereka berdua menuruti perintah Sbastain lalu mendekat membawa tubuh masing masing satu.


Gray yang membawa tubuh Arzan dan Selena yang membawa tubuh Leena.


"Kau mau apa?" Tanya selena kesal juga memberontak.


"Kau bisa diam bocah?!" Perintah Selena memelototi Leena.


Ia juga berkata pada Leena jika terus memberontak dirinya tidak akan segan menyakitinya.


"Ingat bocah, aku sudah melakukanmu dengan sangta baik. Namun, jika kau terus memberontak, aku tidak akan segan-segan memukulmu!"


"Aku juga tidak akan terlena dengan kepolosanmu!" Tambahnya.


Gray telah meletakkan Arzan ke dalam mangkuk cawam raksasa dan tiba-tiba logo yang berada dicawan tersebut menyala.


Melihat Selena yang kesusahan membawa tubuh bocah, Gray menghampirinya dan mengejek Selena.


"Apa segitu susahnya membawa bocah?" Tanya Gray mengejek Selena sambil tersenyum.


"Apa kau memang lemah Selena?" Gray kembali bertanya sambil mengejek.


"DIAM KAU!" Sentak Selena.


"Coba rasakan olehmu, tubuh bocah ini sangat kuat."


Namun, Gray mengelak dan pergi begitu saja. Ia juga sempat berkata bahwa membawa bocah tersebut bukanlah pekerjaannya.


"Tunggu!" Dari luar seseorang mengucapkan sesuatu.


Dia adalah Ace yang terlihat tengah menyandera Tiara.


Kakek Ben yang melihat anak didiknya berhasil membawa mangsa memberikan pujian sambil bertepuk tangan.


Ia juga membanding-bandingkannya dengan kinerja Selena yang sama sekali tidak menangkap satupun mangsa.


"Bahkan yang katanya paling kuat dan mampu menangkap semua mangsa, pulang-pulang hanya membawa omong kosong!" Sindir kakek Ben.


Merasa tersindir, Selena langsung marah-marah dan mengajak kakek Ben untuk berduel.


"Hei orang tua! Apa maksudmu mengatakan hal itu? Kau berani padaku hah?!"


Merasa tertantang, kakek Ben menerima ajakan duel dari Selena.


Selan langsung pergi ke arah kakek


ben dan melepaskan pegangannya dari Leena.


Kakek Ben yang melihat Selena tiba-tiba datang ke arahnya langsung membuat posisi siaga.


Namun, Sbastain tidak tinggal diam dan menengahi kerisuhan tersebut.


Dirasa lengah, Tiara langsung melepaskan dirinya dari genggaman Ace dan langsung mendekat ke arah Leena.


"Ah, sialan. Mangsaku terlepas dari genggamanku," ucap Ace berpura-pura kesal.


To Be Continued......


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI