Khodam

Khodam
Latihan Meditasi



"Ciak-ciak-ciak-ciak." itulah suara anak ayam yang terpisah dari ibunya.


Ke sana ke mari mencari ke beradaan ibu dan rombongannya membuat anak ayam tersebut terus bersuara.


Hal itu juga membuat Diki kehilangan konsentrasi saat dirinya sedang bermeditasu di halaman belakang rumahnya.


"Aaaaaaaaarkh," teriak Diki yang kehilangan konsentrasi sambil mengacak-acak rambutnya.


"Lu anak mane hah?!" Ucap Diki kesal sambil menunjuk dan menatap anak ayam.


"Ciak."


Anak ayam tersebut hanya bersuara, dan kembali mencari keberadaan ibunya itu.


"Aaaaaaaarrkhhhhh."


Diki kembali berteriak hingga membuat Tiara dan Arzan juga kehilangan konsentrasi.


Tidak hanya mereka, Erina sebagai pengajar pun dibuat penasaran oleh teriaknya Diki.


"Kau kenapa?" Tanya Erina.


"Aku tidak bisa konsentrasi gara-gara anak ayam ini!!" Teriak Diki yang kembali menunjuk anak ayam sambil memelototinya.


Melihat Diki yang gagal dalam meditasi, membuat Erina menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hadeuh, bagaimana kau bisa mengendalikan kekuatanmu, jika konsentrasimu saja mudah terganggu oleh suara anak ayam itu," jelas Erina.


"Tiara dan Arzan pun sama. Aku kira kalian berdua sudah lebih unggul dari Diki, ternyata tidak ada bedanya," tambah Erina sedikit kecewa.


Mereka terdiam, saat Erina menceramahinya.


"Oke sekali lagi, kaliah harus konsentrasi dan benar-benar fokus. Dan sudah aku katakan tadi, latiha semedi atau meditasi ini bertujuan untuk melatih ketajaman pikiran kita. Hal ini berguna untuk mempercepat dan memperkuat proses energi yang kita dan jin khodam keluarkan," jelas Erina.


Erina memerintahkan Diki, Tiara dan Arzan untuk melakukan meditasi sekali lagi, dirinya tidak memberikan batasan waktu, tetapi Erina akan memberhentikan meditasi bagi siapa saja yang berhasil memunculkan aura elemen utama pada tubuhnya.


"Nah sekarang konsentrasilah dan pikirkan elemen apa yang menjadi kekuatan utama jin khodam kalian."


Dan mereka bertiga mulai meditasi. Seketika halaman belakang rumah tersebut terasa hening bak kuburan orang soleh.


Meditasi terus berjalan dan terlihat ketiga bocah tersebut sangat serius konsentrasi.


Lima menit kemudian, Arzan mengeluarkan aura transparan dari tubuhnya.


"Hmmm, baru lima menit berjalan namun auranya sudah keluar. Konsentrasi anak ini cukup tinggi."


Erina terus mengamati Arzan yang auranya telah keluar dari tubuhnya. Aura putih transparan menandakan auranya belum sepenuhnya terlihat. Dan sekitar dua menit kemudian warna dari aura Arzan berubah menjadi warna coklat.


Erina pun menyimpulkan bahwa elemen dari jin khodam Arzan adalah tanah/bumi. Dirinya juga langsung menepuk pundak Arzan yang seketika Arzan membuka matanya.


"Kau berhasil, sekarang juga kau boleh beristirahat," ucap Erina pada Arzan.


Tanpa basa basi, Arzan langsung meninggalkan halaman rumah belakang dan kembali ke dalam rumah.


Mendengar Erina berkata pada Arzan yang berhasil memunculkan aura elemen utamanya itu, membuat konsentrasi Diki dan Tiara buyar. Mereka berdua membuka matanya dan menatap ke arah Arzan yang berjalan pergi menjauhi mereka.


"Hei, kenapa kalian berdua sudah membuka mata hah?!" Ucap Erina marah.


Meraka berdua hanya terdiam dan saling menatap satu sama lain dalam keadaan bingung.


"Kenapa kau membuka mata!" Bisik Tiara bertanya pada Diki.


"Lah kau juga kenapa membuka mata?" Bisik Diki bertanya balik pada Tiara.


"Siapa suruh kalian berdua ngobrol?!" Tanya Erina marah sambil berkacak pinggang.


Dirinya juga memukul kepala Diki dan Tiara sebagai hukuman karena gagal dalam latihan.


"Sudah aku putuskan!. Mulai saat ini bagi siapa saja yang gagal, akan mendapatkan hukuman. Mengerti?!" Tanya Erina.


Namun Diki dan Erina terdiam yang membuat Erina bertanya kembali.


"MENGERTIIII?!" Tanya Erina berteriak kesal.


"Siap mengerti."


Mereka berdua pun kembali melakukan meditasi. Dan seketika tempat tersebut kembali hening bak kuburan orang soleh.


"Ciak-ciak-ciak-ciak."


Anak ayam kembali datang, dirinya masih mondar mandir ke sana ke mari mencari ibunya.


"Ciak-ciak-ciak-ciak."


Diki merasa terganggu oleh suara anak ayam tersebut, dirinya memaksa berkonsentrasi sampai mengkerutkan kedua alisnya.


Tetapi, karena anak ayam tersebut bersuara di depannya, konsentrasi dirinya buyar dan dirinya berteriak.


"Aaaaaaaarkh, anak dakjal!" Teriak Diki memegang anak ayam sambil memelototinya.


Karena gagal dalam berkonsentrasi, Diki mendapat hukuman dari Erina yaitu sebuah pukulan di kepalanya.


"Tuk."


Diki merasa sedikit kesakitan, dirinya memegang kepalanya dan mengusap-usapnya.


"Sudah aku bilang, hiraukan saja gangguan seperti itu dan tetap fokus dalam meditasimu!" Teriak Erina yang memarahi Diki.


Namun di sisi lain, Tiara juga mendapat pukulan dari Erina.


"Aw. Kenapa kau memukul kepalaku juga?" Tanya Tiara memelas sambil memegang kepala dan mengelus-elusnya.


"Memangnya aku tidak tahu apa hah?! Walaupun aku tidak melihatmu, tapi aku akan tahu jika kau tidak berkonsentrasi dalam meditasimu!" Ucap Erina yang memarahi Tiara.


"Aku bisa tahu karena Noni Belanda memberitahuku!"


"Tolonglah kalian berdua serius. Ini juga demi kebaikan kalian," tambah Erina kesal.


"Kenapa sifatnya jadi sangat ganas?" Bisik Diki pada Tiara.


"Tuk."


Diki kembali mendapat pukulan tepat di kepalanya.


"Aku mendengarmu!" Ucap Erina menatap Diki.


***


Di sisi lain, halaman depan rumah terlihat Arzan sedang duduk santai sambil ngemil.


"Kau cukup hebat, aku sebagai partnermu merasa bangga Mendengarnya," ucap Genderuwo yang bangga pada Arzan.


Namun Arzan menghiraukan pujian Genderuwo, dirinya malah fokus ke depan menatap induk ayam yang mondar-mandir melihat anaknya.


"Pok pok petoook, pok pok petooook!"


Tiba-tiba Induk ayam tersebut bersuara dengan keras dan entah kenapa dirinya berlari memutari anaknya.


Arzan tetap fokus melihat induk ayam tersebut. Sampai Genderuwo dibuat heran olehnya.


"Bukannya di belakang halaman rumah ini ada anak ayam juga?" Tanya Genderuwo pada Arzan.


"Apa mungkin indunya panik gara-gara anaknya hilang satu?"


Arzan pun berdiri, dirinya kemudian menghampiri sendal miliknya.


"Wah sepertinya dia akan membantu induk ayam itu menemukan anaknya," ucap Genderuwo bangga.


Arzan mengambil sendal miliknya dan melemparnya tepat mengenai induk ayam.


Sontak hal itu membuat induk ayam dan anak-anaknya kaget dan berlarian ke sana ke mari.


Lempara yang tepat mengenai target membuat Arzan sedikit berbangga dirinya dan menggesekkan kedua telapan tangannya sambil berjalan masuk ke rumah.


Melihat Arzan yang melempar induk ayam dengan sendal membuat Genderuwo terkejut. Apalagi pemikirannya tidak sesuai ekspetasinya.


"Tidak habis pikir aeng, punya partner sulit ditebak memang sesuatu banget," ucap Genderuwo yang menyusul Arzan masuk ke dalam rumah.


.


.


To Be Continued


.


.


.


...---Info---...



terimakasih atas dukungan kalian, tanpa kalian Novel khodam ini bukan apa-apa


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI