Khodam

Khodam
Macan Putih : Unlock New Skill



"Aku tidak peduli siapa itu yang pasti aku memiliki dendam pada seseorang dengan bau darah sepertimu," jelas Iblis Lava terbang mendekat Diki. Namun, lagi dan lagi Macan Putih menghalangi dan menahan serangan Iblis Lava.


"Serangannya sangat luar biasa, sampai tanganku merasakan kesakitan," Guman Macan Putih dengan maksud Diki tidak mengetahuinya.


Namun apa boleh buat, karena pikiran mereka saling terhubung, Diki mengetahui apa yang dipikirkan Macan Putih.


"Apakah sesakit itu?" Tanya Diki pada Macan Putih.


Macan Putih kecolongan atas pikirannya, ia terdiam dan langsung mengalihkan pembicaraannya.


"Apa kau bisa marafalkan mantera untukku Diki?" Tanya Macan putih.


"Apa yang harus aku rafal?" Tanya Diki bingung dan terlihat ragu.


"Apapun yang menurutmu bisa mengalahkan Iblis Lava tersebut," ucap Macan Putih.


Mendengar Macan Putih menyuruhnya untuk mengeluarkan mantera, Diki memilki ide yang sangat jitu untuk mengalah Iblis Lava secara telak.


Dengan wajah yang terlihat meyakinkan, ia menatap tajam ke arah Iblis Lava dengan penuh percaya diri dan sombong.


"Sebentar lagi kau akan menemui ajalmu, Iblis sialan," ucapnya.


Iblis Lava yang melihat semangat Diki yang membara, langsung serius mendengarkan kata-kata yang dikeluarkannya. Ia juga langsung mengganti pose tubuh yang sebelumnya terlihat santai.


Ia teringat kembali oleh kejadian beberapa tahun silam saat dirinya bertarung dengan manusia dengan bau darah mirip darah anak muda di depannya.


Anak muda di hadapannya memiliki pose dan tekad yang sama sebelum ia tersegel di dalam batu.


"Apa kejadian dulu akan terulang kembali?" Gumam Iblis Lava.


Dengan pose siaga penuh kewaspadaan, Iblis Lava terus menatap ke arah Diki dan Macan Putih. Ia takut serangan akan datang dari kedua arah.


Perlahan, Diki melakukan gerakan yang menurutnya harus ia lakukan. Ia terinspirasi dari film-film kartun yang ia tonton sejak kecil.


Hal itu membuat Iblis Lava semakin cemas dan semakin siaga.


'TSUNAMI 100 METER' Diki melafalkan mantera.


Mendengar lafalan mantera Diki barusan, membuat Macan Putih tercengan karena elemen utama Macan Putih bukanlah air.


Masih percaya diri dengan perapalan manteranya ia tertawa kencang menatap Iblis Lava.


"Huahahahaha, kau akan binasa!" Ucapnya sambil tertawa.


Iblis Lava semakin cemas ditambah Diki yang tertawa puas, sampai-sampai ia telah berniat mengeluarkan kekuatan pertahanannya walaupun Iblis Lava tersebut tidak mengetahui efektif tidaknya kekuatan tersebut.


Namun, tsunami yang Diki rapalkan tidak muncul-muncul. Hal itu membuat Diki dan Iblis Lava merasa kebingungan.


"Eh mana tsunami 100 meternya, Macan Putih?" Tanya Diki bingung.


"Yang benar saja kau merafalkan mantera. Kau kan sudah tahu, elemen utamaku bukanlah air. Jadi mana bisa aku mengeluarkan air apalagi tsunami 100 meter." Jelas Macan Putih terlihat datar sedikit kecewa.


"Hehe."


Diki hanya tertawa, ide cemerlangnya kini hanyalah halusinasinya belaka. Ia menatap ke arah Macan Putih dengan wajah yang terlihat polos dan bingung.


"Kau pasti tidak tahu apa yang harus kau rapalkan bukan? Itu semua terlihat jelas dari raut wajahmu dan terdengar dari pikiranmu," ucap Macan Putih.


"Ingat rafalkan apa saja yang berkaitan dengan elemen utamaku yaitu api," tambah Macan Putih.


Melihat Macan Putih dan Diki yang saling mengobrol membuat Iblis Lava tidak tahan ingin membunuh Diki. Ia kemudian terbang mendekat Diki.


Namun, tanpa pikir panjang Diki langsung merafalkan mantera yang luar biasa.


'API MATAHARI!' Diki merafalkan mantera dengan keadaan yang panik karena Iblis Lava terlihat semakin mendekatinya.


Tanpa hitungan menit, Munculah api kecil di hadapan Macan Putih. Walaupun kecil, tetapi panas yang tercipta dari api tersebut sangatlah panas. Hal itu membuat suhu sekitar menjadi semakin panas, sampai membuat Diki selalu mengeluarkan keringat dari dalam tubuhnya.


Tenggorokannya juga perlahan terasa kering nafasnya sedikit sesak.


Pada awalnya Iblis Lava terlihat panik dan takut terjadi apa-apa padanya. Namun karena yakin dengan prinsip Iblis terkuat di dunia, ia mengebalkan tubuhnya dan menahan serangan bola api terpanas tersebut.


Benar saja, Iblis Lava berhasil bertahan dari serangan api panas tersebut. Walaupun tubuhnya merasakan panas dan sakit yang luar biasa.


"Kekuatan macam apa itu?!" Ucap Iblis Lava sambil menganalisi serangan barusan.


Karena Diki langsung merafalkan mantera yang luar biasa menguras energinya, ia langsung terkujur lemas. Hal sama di alami oleh Macan putih. Ia merasakan tubuhnya lemas, walaupun ia masih bisa berjalan dan melayang sesuka hatinya.


"Kau sangat nekad Diki, energi kita berdua sangat banyak terkuras," ucap Macan Putih.


"Dan lihat, Iblis Lava terlihat baik-baik saja, aku sudah tidak tahu lagi dengan nasib kita," tambah Macan Putih.


Melihat Diki dan Macan Putih yang kelelahan, membuat Iblis Lava terlihat senang. Ia kemudian mendekati mereka berdua.


"Apa hanya itu kemampuan kalian berdua?" Tanya Iblis Lava sombong.


"Sepertinya aku harus bersenang-senang terlebih dahulu, huahahahahah," teriak Iblis Lava tertawa bahagia.


Ia kemudian mendekati tubuh Diki, dan menyiksanya dengan cara menendang di seluruh bagian tubuhnya.


Melihat parternya yang mendapat siksaan dari Iblis Lava, membuat Macan Putih mendekati mereka walaupun jalanya lambat karena energinya yang sangat terbatas.


"Hentikan! Iblis Sialan, HENTIKAN!" Teriak Macan Putih kesal.


Namun, iblis tersebut menghiraukan perkataan Macan Putih dan terus melanjutkan siksaannya pada tubuh Diki.


"Tenang saja, kau juga akan mendapatkan jatahmu," jelas Iblis Lava tersenyum sombong menatap Macan Putih.


Tidak tega melihat partnernya yang terus mendapatkan siksaan, Macan Putih geram dan sangat marah. Tiba-tiba aura berwarna merah keluar dari dalam tubuhnya dan terlihat matanya yang menyala-nyala. Kini ikatan antara Diki dan Macan Putih pun semakin terhubung.


Otot-otot tubuh Macan Putih pun terlihat membesar. Sehingga ia terlihat seperti binaraga yang selalu olahraga tiap hari.


Tatapannya selalu mengarah ke arah Iblis Lava dengan tatapan benci.


Namun, di sisi lain Iblis Lava terlihat tenang karena pikirnya ia bisa menahan kekuatan sebesar apapun.


Semakin geram dengan Iblis Lava yang terus menyiksa Diki membuat Macan Putih terbang mendekati Iblis Lava dan langsung memberikan pukulan tepat di perut iblis tersebut. Sehingga hal tersebut membuat tubuh Iblis Lava terpental sangat jauh.


Iblis Lava terkejut dengan serangan yang dilancarkan Macan Putih. Ia merasakan seranga Macan Putih sangat menyakitkan hingga membuat perutnya masih terasa sakit.


Macan Putih kembali terbang mengarah ke arah Iblis Lava dengan tangan yang siap memukul.


Melihat Macan Putih yang mendekatinya, Iblis Lava siap meladeni serangan Macan Putih. Ia juga terbang mengarah ke arah Macan Putih dengan tangan yang siap memukul juga.


Sehingga mereka saling memukul hingga membuat area tersebut terbelah dua. Mereka juga terpenta sangat jauh karana saling memukul.


Mereka berdua saling memukul di area wajah. Macan putih yang terlihat bonyok dibagian pipi kanan. Dan Iblis Lava menerima serangan yang dahsyat sehingga membuat kepalanya hancur.


Hal itu juga menjadi akhir dari hidup Iblis Lava.


"Kekuatanku kembali," ucap Macan Putih yang kemudian pingsan dan langsung masuk ke tubuh Diki.


.


To Be Continued.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI