Khodam

Khodam
Membasmi Jenglot - Awal Mula Kedatangan Jenglot



Terdiam sambil menundukan kepalanya, itulah yang dilakukan Tiara dan Diki Sambil duduk di meja keluarga. Berbeda dengan Arzan, walaupun ia sama-sama duduk di meja keluarga, tatapannya tidak pernah terhenti tertuju pada sekeliling rumah tersebut.


"Kenapa jadi hening begini?" Bisik Diki bertanya pada Tiara.


"Coba kau bicara, sekalian mencairkan suasana canggung ini!" Bisik Tiara memerintah Diki.


Namun, Diki enggan melakukan apa yang Tiara suruh. Ia malah membalikan menyuruh Tiara untuk melakukannya dengan cara menyeggol pundaknya. Lagi-lagi Tiara tidak mau, kemudian ia membalas senggolan Diki. Hingga mereka saling senggol-senggolan.


"KENAPA KALIAN TIDAK MEMINUM TEH YANG TELAH AKU SEDIAKAN?!!!!" Teriak Sunojat sambil memukul meja makan.


Refleks, Diki dan Tiara terkejut dan langsung meminum teh panas sekaligus. Arzan yang sibuk dengan dunianya langsung menatap ke arah Ibu Sunojat.


"Kenapa orang itu terlihat sangat marah pada kita?" Bisik Diki bertanya pada Tiara.


"Apa kau pernah bertemu dengan wanita itu lalu membuatnya marah?"


"Bahkan aku baru bertemu dengannya hari ini," jelas Diki berbisik.


"Xixixixxi, suasana rumah menjadi semakin hangat dan semakin ramai bukan," ucap Usi tertawa namun ekpresi wajahnya terlihat datar.


"Matamu-_-!" Gumam Diki dan Tiara menatap Usi dengan wajah datarnya.


"Sebaiknya Ibu dan Usi istirahat saja, aku kasihan melihat mereka bertiga selalu terkejut dengan tingkah kalian berdua."


Pak Sujandi menyuruh anak dan istrinya untuk istirahat. Ia kasihan melihat Tiara, Diki dan Arzan yang selalu dibuat terkejut oleh sifat istri dan anaknya.


Kemudian mereka berdua pamit untuk istirahat.


"Kalian senang-senang dengan bapak ya, xixixixi," ucap Usi tertawa namun seperti biasa ekpresi wajahnya terlihat datar.


"JAGA DIRI KALIAN! JANGAN SAMPAI ORANG INI MENGAJAK NGOBROL KALIAN SAMPAI LARUT MALAM!!, BEGADANG ITU TIDAK BAIK UNTUK KESEHATAN TUBUH!!!" Teria ibu Sunojat yang terlihat marah menatap ke arah Diki, Tiara, Arzan dan pak Sujandi.


"Ia ia bawel beut dah punya istri."


"INI JUGA DEMI KEBAIKAN TUBUHMU!!! DASAR BOTAK!" Teriak ibu Sunojat tepat di telinga pak Sujandi. Setelah itu ia dan anaknya pergi dari gubuk tersebut.


Terlihat pak Sujandi mengelus-elus telingnya yang sakit akibat teriakan istrinya. Dirasa sakit di telinga sedikit berkurang, ia kemudian menyuruh Tiara, Diki dan Arzan untuk lebih dekat lagi dengan dirinya.


"Maaf anak dan istriku sebenarnya orang baik dan ramah."


"Ramah jidatmu-_-!" Gumam Diki dan Tiara dalam hati.


Ia kemudian bercerita terkait jenglot yang tiba-tiba muncul dan kenapa istrinya selalu terlihat marah dan ekpresi anaknya yang terlihat datar di wajahnya.


Ia berkata itu semua saling berkaitan, dan ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.


"Itu semua berawal dari anaku yang mendapatkan sebuah boneka berbi."


***


Terlihat Usi berlari mengelilingi ruang tengah dengan sangat gembira. Kedua tangannya dijulurkan ke atas sambil membawa sesuatu seperti boneka.


"Ibu-ibu, aku dapat bonek cantik," ucapnya sambil berlari menghampiri ibunya.


"Ah Boneka ini memang benar terlihat cantik," ucap ibu Sunojat memegang dan menatap boneka tersebut.


"Kamu dapat boneka ini dari mana, nak?"


"Ada orang yang Memberi boneka cantik ini."


"Oh pasti orang itu sangat baik sekali. Semoga orang yang memberi boneka cantik ini diberi kemudahan dalam segala urusannya. Aamiin," ucap ibu Sunojat sambil berdoa untuk kebaikan orang yang memberi anaknya boneka.


"Aamiin."


Beberapa hari berlalu setelah Usi mendapat sebuah boneka dari seseorang. Namun, keanehan mulai terjadi. Mulai dari rumah yang tiba-tiba berantakan saat pagi hari, terdengar suara desis seperti ular disetiap penjuru rumah dan keanehan-keaneh lainnya yang membuat hati mereka was-was.


Suara tersebut terdengar seperti orang menangis, tertawa, marah, kesal dan lain sebagainya.


Boneka yang sedang dipeluk Usi pun berubah menjadi hitam dan terlihat seperti jenglot.


Naas, jenglot itu lalu menggigit tubuh Usi dan Sunojat hingga ekspresi mereka berubah.


Usi yang terlihat datar dan ibu Sunojat yang selalu terlihat marah-marah.


Setelah menggigit tubuh Usi dan ibu Sunojat, Jenglot tersebut pergi berkeliaran di desa tersebut dan berkembang biak hingga membentuk sebuah aliansi.


Mereka, para Jenglot juga membuat onar di desa. Namun, anehnya yang terkena gigitan para Jenglot hanya wanita bahkan hewan ternak berjenis kelamin betina pun terkena gigitan Jenglot tersebut.


Hingga kini, seluruh wanita dan hewan ternak berjenis kelamin betina di desa tersebut memiliki satu ekpresi yang aneh.


***


"Lalu untuk kalian, aku harap bisa membasmi semua Jenglot yang meresahkan desa ini."


Pak Sujandi meminta agar Diki, Tiara dan Arzan membasmi semua Jenglot yang telah membuat wabah aneh di desa lembah tersebut.


Namun, yang membuat jadi pertanyaan Tiara, siapa yang tega melakukan hal tersebut sampai-sampai seluruh desa menerima dampaknya.


Pak Sujandi mengatakan bahwa pada awalnya kemungkinan orang tersebut ingin membuat keluarganya menderita. Namun, karena Jenglot yang tiba-tiba lepas malah membuat satu desa merasakan penderitaan keluarganya juga.


Lalu Tiara kembali bertanya, mengenai istri atau anaknya yang memiliki musuh di desa atau di luar desa. Atau bahkan pak Sujandi sendiri yang pernah bertikai dengan orang lain.


"Aku tidak pernah merasa memiliki musuh atau bertikai dengan orang lain," ucapnya sambil memikirkan apakah dirinya pernah memiliki masalah dengan orang.


"Ya sudah, prioritas kita untuk sekarang adalah membasmi semua Jenglot yang meneror desa," jelas Tiara terlihat serius.


"Dimana dan kapan mahluk itu akan memunculkan diri?" Tanya Tiara kembali.


"Sekarang, di tempat ini tepat jam 12 malam," ucap pak Sujadi terlihat serius mengatakan.


Benar saja, tiba-tiba suara aneh terdengar cukup kecil dan semakin membesar. Mulai dari tangisan, ketawa, marah dari berbagai sudut.


Tiara, Diki dan Arzan kemudian keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Benar saja. Terlihat ratusan jenglot melompat seperti lumba-lumba dari tanah dan kembali masuk ke dalam tanah sambil mengeluarkan suara.


"Kenapa mereka melompat ke arah kita?" Tanya Tiara bingung.


Namun, pak Sujandi berkata bahwa mereka sangat tertarik pada seorang wanita dan akan selalu mengejar sampai mereka benar-benar menggigit tubuhnya.


Kemudian pak Sujandi pergi ke ruang bawah tanah yang terdapat di halaman rumahnya sambil berkata.


"Aku percaya kalian bisa membasmi mereka."


.


To Be Continued


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI