Khodam

Khodam
Dimensi Lain



"Dan apa yang akan kau lakukan sekarang, Erina?" Tanya Noni Belanda.


"Aku harus menemui Sbastian, dan menanyai apa yang sebenarnya terjadi," jelas Erina kesal dengan tatapan tajamnya.


***


"Aaaaaaaaaaa," teriak Diki sesaat sebelum membuka matanya.


"Dimana ini?" Gumam Diki yang melikiran matanya ke berbagai arah.


Tidak lupa sang Macan Putih yang berada di sisi Diki juga merasa kebingungan saat melihat sekitar mereka yang tiba-tiba berubah tempat.


"Tempat apa ini Macan Putih?" Tanya Diki pada macan putih.


Macan Putih juga tidak tahu mereka berdua ada dimana. Yang pasti, sekeliling mereka terdapat lava yang mengalir begitu sangat lambat.


"Sangat panas disini," ucap Diki yang mengeluarkan keringat begitu banyak.


Tidak disangka-sangka dari arah depan, muncul sosok yang begitu asing.


"Hallo," ucapnya dengan tatapan tajam dan suara yang begitu berat.


Badan yang memiliki kemiripan seperti manusia dengan kulit yang berwarna merah pekat, kepala botak plontos dengan aksesoris dua tanduknya yang sedikit panjang, memiliki dua sayap di belakang punggung dan ekor di belakang pantatnya. Bukan hanya itu, terlihat matanya juga hanya memiliki kelopak mata yang menutupi seluruh matanya, sehingga terlihat mata yang berwarna hitam pekat. Itulah iblis yang menguasai tempat tersebut.


"Kau terlihat cukup lemah manusia bodoh," ucap iblis tersebut pada Diki.


Melihat sosoknya yang mengerikan membuat Diki terkejut dan ketakutan.


"Siapa dia Macan Putih?" Tanya Diki yang ketakutan saat melihat sosoknya.


Sosok tersebut tersenyum sinis dan berkata bahwa dirinya adalah iblis.


"Apa kau benar-benar manusia pemilik jin khodam?!, Melihat penampilanku yang mencolok ini saja kau tidak tahu?!" Ucapnya sinis.


"Aku yakin dia adalah iblis," jelas Macan Putih meyakini apa yang dirinya lihat itu.


"Huahahahahahah, aku memang iblis. Dan aku sangat kecewa pada partnermu wahai jin khodam," ucap iblis kecewa.


"Apa kau tidak malu memiliki partner sepertinya?, Apa jangan-jangan kau lemah hei jin khodam. Karena partnermu itu terlihat sangat lemah dan tidak bisa diandalkan," tebak iblis yang terbang di ata lava.


"Sangat menyedihkan orang itu memberi mangsa yang lemah padaku," tambah iblis sambil menatap tajam ke arah Diki dengan tatapan tajamnya.


"Apa maksudmu!" Ucap Macan Putih sedikit marah.


"Huh-huh-huh-huh, sudah lupakan. Karena memang aku ingin segera bebas dan keluar dari tempat sempit ini, jadi aku harus segera membunuh partnermu," ucap iblis yang langsung terbang berputar mengelilingi Diki dan Macan Putih.


Kemudian, iblis tersebut terhenti dari putarannya, lalu mengendus-endus hidungnya dan seketika tatapannya begitu tajam kembali melihat ke arah Diki.


"Darahmu begitu sangat segar dan tidak asing. Apa kau keturunan orang brengseng itu?"


Iblis tersebut tiba-tiba merasa kesal, dan terbang menghampiri Diki dengan cepat.


***


Sementara itu, Tiara juga berteriak sesaat sebelum membuka matanya.


"Dimana ini?" Ucap Tiara yang kebingungan saat melirikan matanya keberbagai arah.


Kandita yang menemaninya pun dibuat bingung karena perubahan lokasi yang secara tiba-tiba tersebut.


"Disini sangat Dingin," ucap Tiara yang memeluk dirinya sendiri karena kedinginan.


Perlahan ia berjalan diatas permukaan es yang licin dan tiba-tiba 'buk'.


"Awwww."


Tiara terjatuh karena permukaan es yang begitu sangat licin.


"Hati-hati Tiara," ucap Kandita yang memopang tubuh Tiara untuk kembali bangun.


"Entahlah aku sedikit kesal saat kau mengucapkan kata hati-hati padaku," ucap Tiara sedikit kesal.


"Ya, karena kau mengatakannya setelah aku terjatuh."


***


"Kau terlihat sangat cengeng, manusia lemah," ucap seseorang yang tiba-tiba terlihat berdiri di atas langit.


Mendengar suara asing, Tiara dan Kandita langsung melirikan matanya ke sumber suara yang berada di atas langit.


Perlahan sosok yang terlihat di atas langit turun mendekati Tiara dan Kandita.


Sosoknya yang seperti manusia dengan warna kulit putih awan, dan aksesoris kepala seperti rambut yang begitu panjang sampai bawah lutut dan satu tanduk yang berdiri tegak di tengah dahi. Sosok tersebut juga memilik saya seperti burung dan ekor yang panjang seperti tali tambang. Mata yang terlihat putih tanpa ada kelopak mata, membuat penampilannya semakin menakutkan bagi siapa saja yang melihat sosoknya.


Begitupun dengan Tiara, melihat sosoknya yang berada tepat didepannya membuat dirinya katakutan.


"Iblis?" Ucap Tiara yang menatap ke arah sosok di depannya dengan tatapannya yang seperti orang ketakutan.


"Lancang sekali kau!. Aku adalah malaikat!, Apa kau tidak melihat sayap indahku ini?!," Ucap Sosok tersebut sedikit marah pada Tiara.


"Tiara, kau tetap di belakangku!" Perintah Kandita yang segera membelakangi Tiara dengan tubuhnya.


Kandita langsung menatap tajam ke arah sosok yang mengaku sebagai malaikat tersebut. Kandita juga berusaha sebisa mungkin untuk melindungi Tiara darinya.


"Jin khodamu terlihat sangat kuat. Tetapi, melihatmu aku sangat kecewa, kau terlihat cengeng dan sangat tidak cocok menjadi partnernya," ucap sosok tersebut kecewa.


"Dan untuk kau, sang jin khodam, bisa-bisanya kau mau menjadi partner manusia cengeng tersebut," ucap sosok tersebut sambil menunjuk ke arah Kandita.


***


Di sisi lain, apa yang dialami Diki dan Tiara juga dialami oleh Arzan.


Dirinya dibuat kaget saat melihat sekitar yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


Matanya terus melirik keberbagai arah dengan posisi tubuh yang terlihat waspada. Tidak lupa jin khodam yaitu Genderuwo yang membelakangi tubuh Arzan, sehingga mereka berdua terlihat saling membelakangi dengan posisi tubuh yang terlihat waspada.


"Dimana ini, Genderuwo?" Tanya Arzan yang melirikan matanya ke kiri dan ke kanan dengan tajam.


"Aku juga tidak tahu," ucap Genderuwo sambil melirikan matanya ke berbagai arah.


"Tempat apa ini sebenarnya?, Tanahnya pun sangat keras seperti besi," ucap Arzan yang beberapa kali menghentakan kakinya ke tanah.


"Fu-fu-fu-fu-fu, kau sangat benar. Tempat ini adalah tempat yang berbeda dari duniamu, manusia hina!"


Terdengar suara misterius dari atas langit, sehingga tatapan Arzan dan Genderuwo tertuju padanya.


"Tempat yang dipenuhi oleh logam ini, sangat indah bukan?" Ucapnya.


Sosok yang terlihat seperti manusia dengan rambut panjang bergelombang, dan aksesoris satu tanduk yang berada di pinggir kepalanya dengan warna tubuh terlihat hitam pekat. Sosok tersebut juga memiliki sayap seperti kelalawar dan ekor yang panjang, bak ekor iblis pada umumnya. Seluruh matanya terlihat merah pekat.


"Sepertinya kau tidak takut melihat sosokku seperti ini, manusia hina," ucap iblis tersebut yang tiba-tiba menghilang dari tatapan Arzan dan Genderuwo.


"Dan kau terlihat tampan," ucap iblis tersebut yang tiba-tiba berada di depan Arzan sambil memegang dagu Arzan.


Melihat sosok iblis yang tiba-tiba berada di hadapannya, membuat Arzan terkejut. Hal itu membuat Genderuwo dengan sigap manangkap tubuh Arzan dan membawanya pergi menjauhi iblis tersebut.


.


To Be Continued


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI