
mendengar penjelasan wine, dengan wajah yang sangat yakin, raden wahna pun percaya,
Memang rencananya raden wahna ingin membawa mereka untuk bertemu sang ayah handanya yang sedang terbaring sakit,
" baik lah wine, mari kita melihat ayahku, seklaian aku akan memperkenalkan kamu dan ibu mu pada ayahku, ujarnya,
Pantas saja ayu yang tersenyum sedari tadi ternyata raden wahna mengajak nya untuk bertemu calon mertunya,
ta lama, raden wahna pun mengelurakan sesuatu dari cincin penyimapanya, yaitu sebuah gaun dan baju untuk di kenakan wine dan sang ibunda, pakayan itu terlihat sangat lah indah, hingga membuat ayu tersenyum gembira di raut wajah putihnya,
" baik lah, kalian bersiap lah dulu, aku akan menunggu di sini, " ujar raden wahna sambil meminum kopi yang telah di sediakan ayu
" apakah ini tidak berlebihan, " ujar ayu menanggapi raden wahna
" tidak, sudah lah gaun itu pasti akan terlihat cocok untuk mu, dan akan terlihat cantik jika kamu yang mengenakanya, ujar raden wahna yang memegang gelas kopi sambil merayu ayu
mendengar percakapan mereka terlihat wine seperti merasa malu hingga menutupi kepalanya dengan baju yang di bawakan raden wahna,
" kenapa wine, " ujar raden wahna yang melihat wine menutup kepala dan wajahnya
" hehe tidak paman, di sini terlalu sialau hingga aku harus menutup mukaku ini " balas wine sambil tersenyum malu
ta lama ayu pun pergi, dengan membawa sebuah gaun yang di bawakan raden wahna,
Setelah beberapa saat ayu pun keluar .
terlihat ayu yang mengenakan gaun yang di berikan raden wahna, bagaikan mawar yang bersinar terang, bidadari yang turun dari langit, bagaikan malaikat, ayu yang mengenakan gaun itu, tampak cantik seperti melihat malaikat di surga,
Kecantikan ayu memang tiada duanya, perpaduan gaun berwarna merah muda, di hiasi corak berwarna emas, sangat cocok denganya,
Kecantikan ayu membuat raden wahna melotot, hingga ta percaya, bahwa wanita cantik yang ada di depanya akan menjadi istrinya nanti,
" hmm, ini lah yang membuat ku ta bisa melupakan mu ayu, aku berjaji tidak akan membuat mu mengeluarkan air mata lagi terkecuali air mata kebahagiaan, semua penderitaan mu akan aku akhiri, " gumam raden wahna dengan ekspresi kagung dengn kecatikan ayu,
" apakah tampak aneh, sehingga kau melihatku bgitu, " ujar ayu yang melihat ekspresi arman,
" e-tidak, kau sangat cantik dengan gaun itu " ujar raden wahna menanggapi pertanyaan ayu.
" ayo kita berangkat paman, aduh, apakah ini tidak berlebihan, " ujar wine yang baru keluar dari pintu rumahnya, dengan mengenakan setelan putih di hiasi emas yang terpasang di bahu dan dadanya,dengan tubuh yang kekar tampak tampan bagai kan seorang pangeran kerajaan
Melihat wajah wine terpancar sangat tampan membuat,raden wahna dan ayu merasa kagung dengan ketampananya,
" tidak mungkin ada perempuan yang menolakmu wine, " ujar raden wahna
" ahh, paman berlebihan "ujar balas wine membalas perkataan raden wahna,
sedangkan ayu terdiam dan terpaku melihat wine , ia teringat akan darma, mendiang suaminya, hingga ta sadar air mata mulai turun di wajahnya,
" pasti kamu, mengingatnya ya, seorang pria gagah perkasa, yang membuat mu jatuh cinta hingga sulit untuk kau lupakan, " ujar raden wahna sambil memegang bahu ayu yang sedang terpaku akan lamunan masa lalu,
Melihat sang ibu yang meneteskan air mata, serontak wine pun menghampiri ayu,
Melihat kondisi yang ta terduga , ayu pun mengusap air matanya, " tidak apa apa, sepertinya tadi ada seuatu yang masuk ke mata ibu" ujar ayu sambil mengusap air mata di wajhanya,
wine dan raden wahna pun tidak mempertanyakanya lagi, karena melihat ayu yang mengelak menandakan dirinya tidak ingin di tanyai akan apa kah itu.
Di sisi lain , di sebuah kamar, terdapat tiga orang dengan pakaian yang layaknya seorang petinggi suku dengan mengenakan ikat kepala bercorak batik, terlihat mereka sangat lah kuat, dengan perawakan besar kekae, dan aura yang keluar cukupkuat , sedang berdiri mengelilingi tempat tidur, seorang pria tua, yang terbaring ta sadarkan diri,di tempat tidurnya.
" seandaynya aku tetap di desa pada saat itu, mungkin ini tdak terjadi tuan," ujar pria yang bertubuh besar kekar
" sudah lah, ini semua sudah takdir yang maha kuasa, jadi kita, tidak boleh menyalahkan diri sendiri, " ujar pria kurus dengan janggut putih sambil menyilangkan tanganya,
" benar sekali, " ujar pria tua yang berada di sampingnya.
setelah usai melihat tetua suku, petinggi suku pun berajak pergi dari kamar tidur, menuju ruangan tempat biasa kelima tetua suku berkumpul,
" tidak salah lagi, tetua suku pasti di jebak, hingga seperti itu, dari bekas lukanya, ada lebih dari satu enrgi kanuragan, hmmm, " ujar petinggi yang sedang duduk
" ,hmm, sebenarnya siapa arman, " ujar petinggi suku lainya,
" , lebih baik kita tunggu raden wahna, dan menanyainya, apa yang terjadi, " bals tetua suku yang lainya .
ta lama pintu kediaman tetua suku pun terbuka, terlihat wine dengan pakaian dengan stelan putih dengan corak emas yang ada di bagian dadanya yang membuat dirinya tempan dan perkasa ,sedangkan ayu tampak anggun layaknya seorang bangsawan di tambah lg wajah cantik yang membuat semua pelayan yang ada di sana terpesona dengan ke cantikan ayu,
" hm hei, siapa mereka sangat tampan, " ujar salah satu pelayan yang sedang memegang sapu
" suut itu raden wahna, dan mungkin calon istrinya, " ujar pelayan yang sedang mengelap meja,
" iya aku tau itu raden wahna, tapi itu siapa pria tampan yang ada di sebelahnya , tampan sekali " ujar pelayan yang sedang melihat wine dan kagum atas ketampana wine
" suut, jangan berisik, " pelayan yang sedang mengelap meja menegur temanya,
" sedang apa kalian, sudah lanjut bekerja " ujar ketua pelayan yang menegur mereka berdua.
" baik " serontak menjawab ketua pelayan
Ketua pelayan pun langsung menghampiri raden wahna dan memberi, salam,
" raden, ada yang bisa saya bantu " ujar pelayan dengan sopan menanyai raden wahna,sambil sesekali senyum kepada ayu dan wine
" bii tolong siapkan makanan ya , untuk tamu ku yang sepesyal ini, kami akan menjenguk ayah terpebih dahulu" ujar raden wahna dengan halus meminta kepada tetua pelayan.
" baik raden, akan saya sediakan, mari saya antar " ujar tetua pelayang yang ingin mengantar raden wahna beserta calon keluarganya.
Raden wahna beserta ayu dan wine pun berajak pergi untuk menuju kamar tetua suku dalam rumah raden wahna , telihat lukisan beserta barang barang antik menjulang tertempel di tembok, berbagai senjata senjata terpajang rapi, ruangan luas mlintang suara langkah kaki terdengar, bagaikan istana kerajaan
, " ternyata ada juga rumah yang seperti ini di dunia ini " gumam wine sambil melirik kana dan kiri
Ta lama mereka pun sampai di sebuah kamar dengan pintu besar menjulang tinggi, dengan di hiasi ukiran kayu antik, suara reket pintu pun terdengar yang terbuka dengan di dorong seorang bibi yang menyapa mereka tadi saat pertama datang ke rumah ini, ta lama pintu pun terbuka.