Khodam

Khodam
Mengobati Gilang



'Bruk!' Suara pintu rumah Diki yang terdengar cukup nyaring berbenturan dengan tembok.


Leena adalah pelakunya. Ia melakukan hal tersebut karena sedang terburu-buru ingin membaringkan tubuh Gilang yang terluka cukup parah.


Para penghuni rumah yang sedang makan di dapur dibuat kaget dan bergegas menghampiri mereka berdua.


Tiara dan Diki dibuat terkejut oleh perut Gilang yang terlihat bekas darah. Dan Arzan hanya terdiam datar menatap ke arah Gilang.


"Cepat telpon Sbastian dan suruh Ayu datang ke sini!" Perintah Leena yang terlihat panik.


Namun, ketiga bocah tersebut hanya terdiam karena masih terkejut.


"CEPAT!!!"  Teriak Leena yang kesalh karena tidak ada yang merespon perintahnya.


Tiara dan Diki langsung Panik dan. Mondar-mandir mencari hp mereka.


"Si-siap... Dimana hpku dimana, aku lupa," ucap Diki yang mondar-mandir ke sana kemari mencari hp milinya.


Begitupun yang dilakukan Tiara. Ia mondar-mandir mencari hp miliknya juga.


"Entah kenapa seketika aku lupa dimana aku meletakkan hpku," ucap Tiara kebingungan.


Namun, karena pusing melihat kelakukan Tiara dan Diki, Arzan memberikan hp miliknya ke Diki untuk menelpon Sbastian.


"Nih," ucap datar Arzan.


"Ah, kenapa tidak dari tadi kau memberikannya," ucap Diki yang langsung menelpon Sbastian.


***


Setelah Diki menelpon Sbastian, ia kemudian bertanya terkait bocah yang di bawa Leena.


"Bukannya itu bocah tadi pagi yang membawa Riza?" Ucap Diki.


Ia langsung teringam denga Riza dan langsung menanyakan apa yang terjadi dengan Riza.


"Sebenarnya anak ini ditipu oleh kakek-kakek yang sekarang membawa Riza," ucap Leena termenung.


Diki terkejut mendengar Riza yang dibawa oleh orang lain, ia kemudian menyuruh Tiara dan Arzan untuk mengejar dan menangkap orang tersebut.


Namun, Leena memberi tahu bahwa ada Erina yang sedang mengejar mereka.


"Tak usah khawatir dengannya. Ada Erina yang sedang mengejar mereka."


Tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu depan sehingga mata semua penghuni rumah tertuju padanya. Hal itu membuat ia malu dan bersembunyi di balik pintu.


"Steven? Kemana Ayu?" Tanya Leena bingung yang datang malah asisten Ayu.


"Ayu masih belum kembali setelah Sbastian memberinya misi rahasia. Katanya," ucap Jelangkung yang tiba-tiba keluar dari tubuh Steven dan memberitahu pesan yang ingin di utarakan Steven.


"Ya sudah yang paling utama untuk saat ini adalah menolong nyawa anak ini," ucap Leena yang kemudian menyuruh Steven untuk mengurusnya.


Steven berjalan menuju Gilang yang sedang berbaring di sofa ruang tamu. Ia membuka perban sementara yang dibuat Leena dan melihat seberapa dalam luka yang diterima oleh Gilang.


Terlihat cukup parah dan darah kembali mengalir keluar dari dalam perut.


Steven langsung menjulurkan kedua tangan dan mengeluarkan kekuatanya untuk menghentikan pendarahan Gilang.


"Siapa saja tolong ambil ember dan isi air, katanya," ucap Jelangkung menyampaikan pesan dari isi hati Steven.


Refleka Tiara dan Diki langsung bergegas ke kamar mandi untuk melakukan apa yang dipinta Steven.


"Biar aku saja yang melakukannya, Tiara," ucap Diki tersenyum manis ke arah Tiara.


"Tidak. Biar aku saja yang melakukannya!" Ucap Tiara membalas senyuman manis Diki.


Mereka berdua juga masuk ke dalam kamar mandi secara bersamaan. Namun karena pintu masuk kamar mandi yang kecil, mereka saling berebut masuk.


Masuk menuju kamar mandi dimenangkan oleh Diki. Dan ia juga yang mendapat ember. Namun, tidak terima Diki yang mendapat ember tersebut, Tiara langsung merebut ember  Yang sedang dipegang Diki. Tidak terima Tiara nyerobot merebut ember yang telah ia dapat, membuat Diki kembali merebut ember tersebut. Hingga mereka berdua saling berebut ember di dalam kamar mandi.


"Sudah aku bilang, aku saja yang melakukannya!" Ucap Tiara tersenyum kesal ke arah Diki.


"Tidak, tidak, tidak, aku yang pertama mendapat ember ini. Jadi sebaiknya aku saja yang melakukannya," ucap Diki membalas senyuman Tiara.


Mereka berdua saling merebut ember, sambil berjalan menuju keran air mereka berdua masih terlihat saling merebut ember.


Terlihat ember penuh dengan air, mereka berdua berjalan menuju ruang tengah untuk memberikan air tersebut dan masih terlihat saling merebut ember dan masih beradu argumen tentang siapa yang pantas membawa ember tersebut.


"Hei, ini kenapa kalian berdua ribut hah?!" Tanya Leena yang muak melihat kelakuan Diki dan Tiara.


"Airnya sudah diambil oleh Arzan, dan Sekarang sedang digunakan oleh Steven. Karena kalian sangat lama hanya karena mengambil air saja!" Tambah Leena.


"Jelas-jelas salah kamu!" Ucap Tiara yang tidak terima dirinya disalahkan.


Tiba-tiba telepon Tiara, Diki dan ArzN berbunyi cukup keras.


____________________________


Isi pesan.


Dari : Sbastian


Kepada : Tiara, Arzan dan Diki


------------------------------


Misi : Membasmi semua Jenglot hingga akar-akarnya.


Tipe Mahluk: Tanah


Rank : C


Lokasi : Desa Lembah, Tepi Lereng Gunung.


Reward : Rp.300.000


____________________________


"Kita bertiga mendapatkan sebuah misi dari Sbastian. Jadi sebelum minta maaf tidak bisa menemani proses pemulihan anak ini," ucap Tiara meminta maaf pada Leena.


Namun, Leena memaklumi dan menyuruh Tiara, Diki dan Arzan untuk tidak khwatir dengan Gilang dan Riza. Ia juga menyuruh mereka bertiga untuk fokus menjalankan misi.


Tidak lama, mereka bertiga pergi untuk menjalankan misi.


Proses operasi pada tubuh Gilang sudah selesai. Yang dibutuh dirinya sekarang adalag istirahat total.


Kemudian, Leena menghampiri Steven terkait dirinya yang datang bukan Ayu.


Namun, Steven hanya terdiam menunduk dan sesekali menatap ke arah Leena.


"Ngomong dong! Kek orang gagu saja!" Ucap Leena kesal dengan kelakuan Steven.


"Maaf, katanya," ucap Jelangkung mengatakan isi pikiran Steven.


"Sejak misi yang diberika Sbastian terakhir, Ayu belum pernah kembali ke markas. Katanya," ucap Jelangkung menyampaikan pesan pikiran Steven.


"Lalu kau sudah bertanya pada Sbastian?" Tanya Leena penasaran.


Steven hanya mengaggukan kepalanya, yang artinya ia pernah bertanya pada Sbastian mengenai Ayu yanh belum kunjung kembali.


"Pernah, katanya" ucap Jelangkung menyampaikan isi pikiran Stevan.


"BRISIK! Aku sudah tahu dengan anggukan kepala Steven," Leena berteriak kesal pada Jelangkung. Ia juga menyuruh Jelangkung untuk diam.


"Lalu apa kata Sbastian?" Tanya Leena kembali.


Steven terdiam. Begitu pula dengan Jelangkung.


"Kenapa kau tidak menerjemahkan isi pikiran Steven, mahluk bodo*h!!!" Leena kembali berteriak dan kesal pada Jelangkung.


Jelangkung hanya bisa memelas dengan tingkha laku Leena padanya. Ia kemudian mengatakan bahwa Ayu masih menjalankan misi rahasia.


"Itu yang aku dapat dari kata-kata Sbastian, katanya," ucap Jelangkung menyampaikan isi pikiran Steven.


Leena mengelus dadanya dan memikirkannya junior kesayangan yang tidak ada kabar kurang lebih seminggu ini.


.


To Be Continued


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI