
Keadaan yang terlihat tenang dan damai seketika berubah menjadi tegang. Kandita pikir mereka telah aman dari kejaran Iblis Es. Walaupun ketahuan, pikirnya mungkin membutuhkan waktu yang lama. Karena dirinya membutuhkan waktu istirahat untuk memulihkan energinya.
Namun, rencananya gagal karena Iblis Es yang sangat cepat menemukan keberadaan mereka, sehingga terlihat wajah terkejut campur cemas dari Tiara dan Kandita.
"Huahahahahaha, ada apa dengan raut wajah kalian?" Tanya Iblis Es tersenyum sinis.
"Ke-kenapa kau bisa menemukan tempat ini?" Tanya Kandita sedikit terbata-bata.
"Kau lupa kah?, Tempat ini adalah tempat ciptaanku, dan gua ini juga adalah ciptaanku. Jadi aku tahu semua tempat persembunyian wilayah ciptaanku, walaupun aku sedikit lupa dengan tempat ini sebenarnya," jelas Iblis Es.
"Huahahahahahah. Sebaiknya siapa yang harus aku bunuh terlebih dahulu ya," ucap Iblis Es sambil menatap ke arah Kandita dan Tiara.
Setelah memutuskan siapa yang akan dirinya bunuh pertama kali, Iblis Es terus menatap ke arah Tiara. Hal itu membuat Kandita curiga.
"Apa yang akan kau lakukan pada Tiara?" Tanya Kandita terlihat kesal menatap ke arah Iblis Es.
"Kau menyadarinya ternyata. Aku akan membunuh manusia hina itu terlebih dahulu," ucapnya sambil terbang mendekat Tiara.
Namun, dengan refleks Kandita langsung menghalangi Iblis Es yang akan menyerang Tiara dengan tubuhnya.
Seketika, serangan Iblis Es mengenai perut Kandita, sehingga membuat perutnya terkoyak dan bolong.
Darah pun mengalir dari perut tersebut dan Terdengar suara batuk dengan diiringi darah yang keluar dari mulut Kandita.
"KAAAAAAAAANNDIIIITAAAAAAAAAA."
Terdengar suara teriakan Tiara yang melihat partnernya tertusuk oleh Tangan tajam Iblis Es.
"Uhuk, Maafkan aku Tiara, uhuk kata-kataku yang sebelumnya memang benar apa adanya. Uhuk aku ingin bebas tanpa harus terikat kontrak dengan manusia manapun. Uhuk aku ingin hidup damai. Uhuk terkadang aku iri melihat manusia hidup tanpa harus adanya pertikaian seperti dunia ini. Uhuk tapi apa boleh buat ini memang sudah menjadi jalan dan takdirku. Uhuk dan kematian ini pasti sudah menjadi takdirku. Selamat tinggal Tiara, jaga dirimu baik-baik," ucap Kandita terdengar intonasi suara yang kecil dan pengucapan kata perkatanya yang melambat.
***
Terlihat kedua bocah yang sedang berlari ke sana kemari di ruangan yang sedikit luas. Dengan di dampingi kedua orang tuanya sambil duduk menonton tv.
Tiba-tiba salah satu anak tersebut terjatuh karena lantainya yang licin.
'Gedubrag' suara bocah yang terjatuh.
Tidak lama kemudian, bocah tersebut menangis sejadi-jadinya. Mengakibatkan, kedua orang tuanya yang sedang menonton tv menghampiri bocah tersebut lalu menggedongnya.
"Kau kenapa Risma?" Tanya Ibunya yang terlihat khwatir.
Tangisan Risma semakin mengeras dan sang kakak Aan memberitahu penyebab adiknya itu terjatuh.
"Mama tahu sendiri kan lantai rumah ini basah, Risma terjatu gara-gara hal itu. Dan yang jadi tersangka kejadian ini adalah Tiara, kenapa dia harus ngepel sekarang. Sudah tahu kita akan bermain," jelas Aan pada ibu dan ayahnya.
Mendengar penjelasan Aan, membuat kedua orang tua tersebut geram dan lansung mencari keberadaan Tiara.
Tiara yang sedang asik ngepel di bagian dapur terkejut oleh tendangan sang ayah pada ember yang berisi air. Hal itu membuat semua air di dalam ember tumpah dan membuat ember rusak seketika.
"Kenapa kau ngepel hah?" Teriak ayah terlihat kesal pada Tiara.
Melihat ibu dan ayah menghampirinya dengan wajah yang terlihat marah, membuat Tiara bingung.
"Me-memangnya kenapa?" Tanya Tiara terlihat terbata-bata sambil menundukan kepalanya.
"Kau ya, malah malik bertanya!" Ucap ibu terlihat kesal.
"Lihat gara-gara kamu ngepel, Risma teejatuh dan kakinya berdarah," jelas ibu masih terlihat kesal.
"Terus kita harus diam aja gitu di rumah? Kan kita juga ingin main," ucap Risma yang membuat situasi semakin panas.
Mendengar Tiara yang tidak ingin disalahkan membuat kedua orang tua tersebut semakin kesal dan marah.
Sang ayah kemudian mendekati Tiara dan langsung menjambak rambutnya. Sehingga hal itu membuat Tiara merasakan kesakitan.
"Aaaaaw," teriak Tiara.
"Kalau mau melakukan apa-apa di rumah ini, kau harus melihat situasi juga. Pokoknya kau harus tahu kapan rumah ini harus di bersihkan. Tapi ingat jika rumah ini terlihat kotor, saya akan memberikan konsekuensi yang lebih berat dari ini, mengerti?!"
Sang ayah melepas jambakannya sambil mendorong kepala Tiara. Kemudian ia pergi meninggalkannya yang masih terlihat marah.
Tidak lupa sang ibu mendekati Tiara dan mendaratkan tamparannya tepat di pipi sebelah kanan.
"Aku tidak akan memafkanmu jika terjadi apa-apa pada Risma!" Ucap ibu menatap Tiara dengan tatapan tajam bercampur benci.
Sang ibu juga pergi meninggalkan Tiara sambil menggendong Risma. Risma yang melihat kejadian tersebut, meledek Tiara dengan menjulurkan lidahnya.
Tiara hanya bisa diam. Ia terlihat kaget walaupun hal tersebut sudah menjadi makanannya sehari-hari.
Tiara memang berusaha untuk tidak membuat kesalahan saat di rumahnya tersebut. Tetapi, karena kedua kakaknya terlihat senang membuat Tiara menderita, walaupun sudah terlihat hati-hati, jika kedua kakaknya berada bersamanya, pasti selalu saja ada masalah dan yang jadi target amarah kedua orang tuanya adalah Tiara.
Tiara tidak tahu apa yang membuat mereka membencinya. Namun yang pasti, Tiara pernah mendengar saat kelahiran dirinya banyak terjadi masalah yang mengakibatkan dirinya dibenci satu keluarga.
Karena geram melihat cucu terakhirnya tidak terawat, sang nenek mengambil paksa Tiara dari kedua orang tuanya.
Sekitar satu minggu hidup dengan sang nenek dan mendapatkan perawatan yang terjamin, sang nenek pun meninggalkan dunia.
Hal itu membuat keluarga Tiara semakin menyalahkan kematian sang nenek. Ia juga sempat disebut si anak pembawa sial.
Otomatis, kedua orang tuanya kembali mengambil Tiara dan menjadikannya sebagai pembantu rumah.
Hari-hari ia jalani kembali dengan penuh perjuangan membela diri dari kakak-kakaknya walaupun tidak membuahkan hasil.
Kedua kakaknya juga selalu menjahilinya dimanapun dan kapanmu tanpa mengenal waktu dan tempat.
Hingga suatu saat, Risma dan Aan memeiliki sebuah rencana pada Tiara. Rencana tersebut adalah Risma mengurungkan dirinya di kamar Tiara yang sedang berbaring tidur di kamarnya dan sang kakak Aan menjaga pintu luar untuk memantau situasi.
Sambil berjalan perlahan supaya tidak menimbulkan suara, Risma mengendap-endap sambil menyembunyikan sesuatu dibelakang bajunya.
Sesampainya di depan kasur, terlihat Tiara yang sedang tertidur pulas.
"Kau terlihat lugu dan menyedihkan, namun sayangnya kau harus mati sekarang juga."
Risma mengangkat pisau yang dipegangnya dan mengarahkannya tepat di dada Tiara.
.
To Be Continued.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI