
Perlahan berjalan mendekati Tiara yang sedang tertidur dan mengangkat pisau tajam dengan kedua tangannya, Risma arahkan ke dada Tiara sambil berteriak.
"MATI KAAAAUUUUU!!!"
Terlihat dari wajahnya yang serius dan penuh kebencian, Risma benar-benar berniat ingin membunuh Tiara sang adik bungsu.
Namun, yang terjadi adalah mementalnya tubuh Risma yang terjatuh ke lantai. Pisau tajam yang dipegangnya juga tertancap ke lantai dan hampir mengenai wajahnya.
Risma kaget bukan main, matanya langsung tertuju ke arah Tiara yang tiba-tiba berdiri.
Tatapan tajam dengan bola mata yang terlihat putih polos tanpa terlihat pupil mata, mengarah ke arah Risma. Dari gerak geriknya terlihat bukan Tiara. Karena Risma tahu, hal yang paling menonjol adalah postur tubuh Tiara yang bungkuk. Bukan yang sekarang berdiri dihadapannya dengan postur tubuh tegak lurus.
Risma juga menyadari tubuh Tiara yang terlihat berbeda, mulai dari tinggi badan dan jari-jari tangannya yang terlihat seperti jari tangan orang dewasa dengan kuku jari yang panjang.
Tangan kanannya perlahan menaik sampai sejajar dengan pundaknya. Tiba-tiba tubuh Risma tertarik ke arah tangan Tiara dan leher Risma kini tercekik oleh tangannya.
Hal itu membuat Risma terkejut dan panik. Ia berontak dengan maksud Tiara melepaskan kecikannya.
"To... Loooong, lee... Paskan, aaa...ku, Ti... Ara," ucap Risma meminta tolong supaya Tiara melepas cekikan dilehernya.
Dengan suara yang terdengar serak dan pelan, Risma masih memberontak dan sesekali memukul tangan Tiara dengan kedua tangannya.
Tatapan Tiara masih terlihat menyeramkan. Terus menatap Risma dengan tatap tajam penuh amarah, membuat Risma takut untuk menatapnya.
Pergerakan Risma semakin melemah akibat cekikan kuat Tiara. Karena masih membencinya, Tiara atau sesuatu yang mempengaruhi tubuh Tiara, melempar tubuh Risma ke arah jendela. Sehingga jendala kamar Tiara yang tertutup pun pecah. Bukan hanya itu, tubuh Risma pun terjatuh dari lantai dua kamar tersebut.
Mendengar sesuatu yang sangat nyaring dari dalam kamar Tiara, membuat Aan sang kak terkejut dan langsung membuka pintu kamar.
"Ada apa Risma?" Ucap Aan sambil membuka Pintu.
Aan terkejut saat melihat Tiara yang berdiri di atas kasur dengan wajah yang menyeramkan.
Ia langsung pergi untuk menemui kedua orang tuanya.
"MAMAAAAAAAAA, PAPAAAAAAAAA!" Teriak Aan yang panik.
Namun, ketika hendak turun tangga, dari arah depan terlihat Tiara yang sudah menjegat dan menghalangi jalan Aan.
Karena sangat terkejut melihat Tiara yang tiba-tiba berada di depannya, ia panik dan melompatkan dirinya ke bawah dari lantai dua.
'buk' suara benturan antara tubuh Aan dan lantai membuat dirinya tidak berdaya untuk berdiri. Namun, karena ia masih panik, Aan melanjutkan larinya dengan cara mengesot.
"Mama, papa," ucap Aan menangis saat melihat kedua orang tuanya berdiri di depan pintu kamar melihat aksi jatuh dirinya dari lantai dua dalam keadaan panik.
Sebelum kejadian Aan terjatuh, kedua orang tua Aan medengar suara teriakannya, membuat mereka berdua langsung menghampiri sumber suara.
Namun, saat membuka pintu kamar, mereka berdua melihat Aan yang terjatuh dari lantai dua. Sehingga membuat mereka syok bukan main.
Sang ayah langsung mendekati Aan. Namun, tiba-tiba lampu gantung ruangan tersebut dengan berat kurang lebih 100 kilo terjatuh tepat di atas badan ayah dan Aan. Seketika mereka berdua meninggal.
Sang ibu yang melihat kejadian tersebut secara langsung, kembali di buat syok kemudian menyenderkan punggungnya ke tembok rumah sambil menutup mulutnya dan menangis.
Perlahan tubuh sang ibu turun karena terkujur lemas dan tiba-tiba terlihat Tiara yang terbang turun perlahan tepat di depan sang ibu dengan penampilan Seperti orang lain.
"Kau siapa?" Tanya sang ibu lemas.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang perlu kau ketahui adalah sebentar lagi kau akan mati!" Jelasnya.
"Tolong aku mohon ampuni aku," ucap sang ibu meminta untuk memaafkannya.
Namun, perkataan sang ibu tidak di dengar sama sekali oleh Tiara atau yang mersukinya. Ia malah mengambil benda yang sangat berat dengan kekuatannya sehingga benda tersebut melayang.
Melayang menggerakkannya ke arah sang ibu, kemudian menjatuhkan benda tersebut dengan sangat cepat dan kuat, sehingga sang ibu dinyatakan meninggal di tempat.
Setelah itu tubuh Tiara kembali normal dan dirinya tergeletak di lantai dalam keadaan tertidur.
***
Tiba-tiba aura putih transparan terlihat mengelilingi seluruh tubuh Kandita. Matanya menyala-nyala sehingga membuat Iblis Es terkejut.
Tangan yang masih menempel di perut Kandita langsung ia tarik dan dirinya pergi menjauhinya.
"Ada apa ini?"
"Kau akan menyesalinya," ucap Kandita menatap tajam Iblis Es.
Tiba-tiba, dengan posisi tegap tubuh Kandita perlahan menaik. Dengan kedua tangan yang ikut di angkat sambil menutup matanya.
Dari sisi lain tubuh Tiara terangkat terbang mendekati Kandita. Atap gua pun perlahan hancur hingga gua tersebut rata.
Hal itu kembali membuat Iblis Es terkejut.
Bukan hanya itu. Es di sekitar perlahan mencair yang mengakibatkan Iblis Es kembali terkejut dibuatnya.
"Apa yang kau lakukan terhadap es-esku?" Tanya Iblis Es pada Kandita.
Namun, Kandita menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan Iblis Es.
Karena tidak ingin wilayah ciptaannya hancur, Iblis Es mengeluarkan kekuatanya untuk mempertahankan bentuk es ciptaannya.
Ia juga melakukan gerakan serupa dengan Kandita, sehingga mereka berdua saling bertarung antara melelehkan wilayah es dan mempertahankan wilayah es.
Namun, karena kekuatan Kandita yang meningkat drastis membuat Iblis Es kewalahan memepertahankan wilayah es ciptaannya.
Tidak menyerah sampai disitu, Iblis Es menciptakan sebuah bola es dan melemparkannya ke arah Kandita. Dan lagi-lagi serangannya gagal.
Kembali tidak menyerah, ia menciptakan es batu paling besar dan melemparnya ke arah Kandita yang sedang ritual. Namun, lagi-lagi kekuatan Iblis Es tidak mengenai Kandita dan malah memantul kembali ke arah Iblis Es. Namun, Ia dapat menghidari serangan bumerangnya.
"Kau tidak akan pernah bisa melawan kekeuatan telekenesisku," ucap Kandita.
Es semakin mencair dan kini telah menjadi air sepenuhnya. Karena kekuatan pendukung Kandita adalah air, dan air di wilayah tersebut sangat banyak, ia memanfaatkannya menjadi serangan yang sangat dahsyat.
Kandita meminta Tiara untuk merafalkan mantera yang dahsyat dan tanpa pikir panjang Tiara merafalkan mantera.
'AMUKAN TORNADO AIR'
Seketika, air tersebut berkumpul di satu titik dan menciptakan sebuah tornado yang terlihat sangat dahsyat. Kecepatannya pun sangat luar biasa, hingga sang Iblis Es yang pergi menjauhi torndo air tersebut tidak sempat menghidarinya. Tubuhnya tersedot dan ia terombang ambing ke mana-mana begitu lamanya.
Setelah beberapa menit, tornado tersebut kembali menjadi air dan Iblis Es dibuat tidak berdaya sama sekali. Hingga tubuh Iblis Es perlahan terurai dan jiwanya menghilang untuk selamanya.
.
To Be Continued.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI