Khodam

Khodam
Pusat Perbelanjaan



Di setiap perjalanan menuju pusat perbelanjaan, setiap orang yang berpapasan dengan mereka bertiga, selalu menatap pandangannya dengan tatapan sinis. Salah satunya adalah ibu-ibu.


Terkadang mereka berpapasan dengan ibu-ibu, ekpresi ibu-ibu seketika berubah dan selalu berbisik pada ibu-ibu lainnya.


Hal itu membuat mereka terutama Erina merasa bingung dan merasa tidak nyaman.


"Apa kau merasa ada yang aneh Leena?" Tanya Erina merasa tidak nyaman.


"Tidak, aku merasa biasa-biasa saja," jawab Leena.


"Memangnya kenapa dan ada apa?" Tanya Leena.


"Tidak, aku hanya merasa orang-orang yang berpapasan dengan kita selalu menatap kita sinis," jelas Erina.


Namun, tiba-tiba salah satu ibu-ibu datang menghampiri Erina.


"Waduh buk, suaminya kemana?, Kasian ya masih mudah udah di tinggal suami. Mana masih muda lagi. Yang kuat ya nak," ucap salah satu ibu-ibu yang pergi begitu saja.


Mendengar ucapan ibu-ibu barusa membuat Erina terdiam bingung dan berusaha mencerna kata-katanya.


"Hiahahahah."


Leena tertawa karena tau apa yang ibu-ibu tadi katakan. Hal itu membuar Erina semakin bingung.


"Kau kenapa tertawa?" Tanya Erina bingung.


"Hiahahaha. Tidak, hanya lucu saja  ibu-ibu barusan memikirkan dan menyimpulkan kehidupanmu sampai sejauh itu. Padahal mereka baru pertama kali bertemu denganmu. Disebut bertemu juga tidak, mereka hanya kebetulan berpapasan dengan kita," ucap Leena.


"Memang gaje sih ibu-ibu tadi. Mana ada wanita secantik dan semuda ini sudah memiliki suami," ucap Erina.


Kau masih belum paham dengan ucapan ibu barusan?" Tanya Leena.


"Memangnya kenapa?" Tanya Erina bingung.


"Nanti juga kau akan mengetahuinya," ucap Leena.


Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.


Saat di perjalanan, seorang bapak-bapak datang menghampiri mereka bertiga.


"Apa kau seorang single parents?, Kalau ia boleh aku menikahimu?" Ucap seorang pria pada Erina.


"Sembarangan kau!, Aku belum pernah menikah dengan siapapun!, Kenapa kau menyimpulkan kehidupanku begitu saja," ucap Erina kesal.


"Maafkan aku, aku kira kau seorang single parents karena dua anak ini yang di asuh olehmu seorang diri," pria tersebut meminta maaf dan pergi begitu saja.


"Hiahahahah, kenapa kau tolak, padahal pria tadi mengajakmu menikah," ucap Leena menggoda Erina.


"Oh jadi ini maksudnya!, Pantas saja mereka melihatku dengan wajah yang terkadang sinis. Satu-satu alasannya adalah kau Leena. Kenapa tubuhmu kecil begini, sehingga orang-orang menyangka aku adalah janda dua anak T_T," ucap Erina sedih.


***


Setelah menempur perjalanan yang cukup panjang dan jauh, mereka bertiga kemudian tiba dipusat perbelanjaan.


"Akhirnya kita sampai juga," ucap Erina yang kemudian membungkukan badannya karena cape.


"Mau kemana dulu kita?" tanya Leena pada Erina.


Mata Erina kemudian terjutu pada Riza. Ia melihat Riza yang terlihat sangat senang melihat ke arah depan.


Saat Erian melihat apa yang Riza lihat. Ia memutuskan untuk pergi ke tempat tersebut.


Tempat tersebut adala time zone atau tempat banyak permainan-permainan yang di sukai semua kalangan untuk merilekskan pikiran terutama anak-anak.


"Ayo kita ke sana," ajak Erina pada Riza.


Mendengr Erina mengajaknya pergi ke tempat bermain, membuat Riza sangat senang. Dan saking senangnya, ia tidak sabar lalu berlari menuju tempat bermain sampai meninggalkan Erina dan Leena.


"Hei, Riza tunggu jangan lari, hati-hati," perintah Erina yang tidak di dengar Riza.


"Hiahahah, anggap saja ini simulasi memiliki anak aktif," ucap Leena.


"Benar sekali, ternyata memiliki anak sungguh berat apa lagi anak tersebut aktif. Tapi di sisi lain juga sangat menyenangkan."


Kemudian, Leena dan Erina pergi menyusul Riza. Namun saat menyusulnya masuk ke dalam tempat bermain, Erina dan Leena melihat Riza yang terdiam membatu.


Melihat Riza yang tediam, membuat Erina bingung dan berencana menghampirinya.


Namun, langkah Erina dihalang oleh Leena yang menahan tangannya.


"Lihat," perintah Leena pada Erina untuk melihat ke arah depan.


Erina melihat dua bocah yang meninggalkan Riza di taman bermain.


"Bukannya mereka bocah yang meninggalkan Riza di taman bermain?" Ucap Erian terkejut melihatnya.


"Lihat tatapan bocah teman kakaknya Riza. Ia menyadari Riza dan terus menatap ke arahnya dengan tatapan sinis," jelas Leena.


"Apa yang harus kita lakukan Leena," tanya Erina cemas.


"Lihat saja dulu, apa yang akan Riza lakukan dan apa tindakan teman kakaknya Riza tersebut.


Tidak lama kemudian, teman kakaknya Riza yaitu Gilang, pergi menjauhinya Riza yang tentunya mengajak kakaknya Riza juga.


"Yap sepertinya memang benar, bocah yang bernama Gilang tersebut sangat membenci Riza. Dan lihat dirinya sampai ahli mengalihkan pandangan kakaknya Riza saat pergi meninggalkannya," jelas Leena.


Setelah Gilang dan kakaknya Riza pergi, Erina datang menghampiri Riza.


"Kenapa kau kembali cemberut, bukannya kau ingin ke tempat ini, Riza?" Tanya Erina.


Riza hanya mengangguk, dirinya seperti orang tidak semangat dalam menjalankan kehidupan.


Seketika Erina menatap Leena dalam keadaan mata yang berkaca-kaca.


"Karena sudah sampai sini, ayo kita bermain salah satu permainan di tempat ini," Ajak Leena yang mendekati Riza.


Mereka kemudian bermain berbagai permainan di tempat tersebut dan bersenang-senang.


Namun, lagi-lagi wajah Riza terlihat murung. Hingga Erina mendekatinya dan bertanya pada Riza.


Namun, Riza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Karena merasa tidak ada perubahan suasa hati Riza, Erina memutuskan untuk pergi keluar tempat bermain dan mengajak Leena juga Riza membeli jajana pinggir jalan.


"Bagaimana kalau kita membeli permen kapas?," Ajak Erina pada Leena dan Riza.


Mereka pun pergi menuju penjual permen kapas.


***


Terlihat Ekpresi senang dan bahagia dari Gilang dan Reza. Seperti tidak ada beban dipikiran mereka.


Tepat berdiri di gerobak penjual Permen kapas, mereka berdua memesan dua permen kapas.


Namun, Gilang melihat Riza yang sedang datang mendekati mereka berdua.


"Itu kenapa bocah bisa datang ke sini sih, ganggu!" Gumam Gilang kesal melihat Riza.


"Eeee, kamu tidak ada rencana pergi ke toilet Reza?" Tanya Gilang pada Reza.


"Tidak, memangnya kenapa?" Tanya Reza pada Gilang bingung.


"Ta-tapi sebaiknya kau pergi saja ke toilet, sana cepetan pergi."


Gilang mendorong badan Reza untuk pergi ke toilet. Karena tidak tahu apa yang Gilang maksud, Reza pergi ke toilet dalam keadaan bingung.


Setelah itu Gilang datang menghampiri Riza dengan wajah yang kesal.


"Kenapa kau bisa datang ke sini?!" Tanya Gilang kesal sambil menyilangkan kedua tangannya.


.


To Be Continued


.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI