
Seharian penuh mereka berurusan dengan Iblis Banyu, hingga pada akhirnya Sbastian dapat mengalahkannya walaupun Iblis Banyu tersebut meledakan dirinya.
Semua orang yang berada di lokasi menyaksikan pertarungan kini berada di rumah Diki untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Berbeda dengan Sbastian, dirinya pergi ke markas untuk melakukan sesuatu yang sangat penting menurutnya.
Dua orang yang terkujur pingsan, kini terbaring di tempat tidur.
Leena yang tertidur di tempat tidurnya dan Erina yang tertidur di kasur lantai kamar Leena.
"Kenapa kak Erina bisa pingsan juga?" Tanya Ayu menyilangkan kedua tangannya dengan mata tertutup.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ayu membuat Diki juga penasaran dengan jawabannya.
"Lah ia, apa kau tahu sesuatu Tiara? " Tanya Diki penasaran.
"Aku tidak tahu."
"Bukannya saat pingsan kau bersamanya?" Tanya Diki semakin penasaran dengan jawaban Tiara.
Tiara yang mengetahui penyebab pingsanya Erina tidak mungkin menjawab jujur. Apalagi dihadapan Ayu yang statusnya juga mencintai Sbastian.
"Kenapa kau terdiam?" Tanya Diki melihat Tiara yang tiba-tiba melamun.
"DIIIAAAAAM KAU!" Teriak Erina melotot ke arah Diki sambil menujuk-nunjuk.
"Kenapa kau yang penasaran!, Padahal kak Ayu saja tidak secerewet ini dan dia juga tidak peduli lagi dengan pertanyaannya!" Tambah Tiara yang kesal pada Diki.
"Aku penasaran, dan aku juga menunggu jawaban darimu!" Ucap Ayu datar yang masih menyilangkan kedua tangannya.
Tiara terdiam, saat mendengar ucapan dari Ayu dengan ekspresi datarnya. Tiara sedikit terkejut dengan perubahan sikap Ayu yang anggun pertama kali ia melihatnya. Namun saat ini dan detik ini sikapnya menjadi orang yang keras kepala, egosi, dan sombong.
Namun, tidak lama kemudian, hp milik Ayu berbunyi. Saat dirinya angkat ternyata telpon dari Sbastian yang menyuruhnya untuk kembali ke markas.
"Sepertinya aku harus kembali ke markas," ucap Ayu menyimpan hpnya di saku celana.
"Oh ya, sebenarnya aku sangat membenci Erina, apalagi saat dirinya bersama Sbastian."
Ayu pergi untuk kembali ke markas.
Sementara itu, di pojok ruangan hanya Arzan yang tidak nimbrung dan malah asik dengan kegiatannya sendiri.
Mendengar Ayu yang membenci Erina membuat Tiara semakik terkejut. Bahkan, Diki yang tidak peka dengan masalahnya pun dibuat terkejut dengan pernyataan Ayu.
"Eh?, Kenapa kak Ayu bisa membenci kak Erina?" Tanya Diki yang penasaran.
Sambil menatap ke arah Tiara, Diki terus bertanya-tanya.
"Cari tahu saja sendiri!" Ucap Tiara kesal.
Dirinya juga langsung pergi meninggalka Diki.
"Hmp, wanita memang sangat sulit dimengerti," ucap Diki.
***
Keesokan harinya, tepat pada pukul 08.00 pagi, Tiara berjalan menuju pintu rumah depan. Sambil sesekali tangan kanannya yang memegang pundak ia membuak pintu.
"Tubuhku pegal-pegal," keluh Tiara yang berdiri di teras rumah.
Tidak lama kemudian, pintu kamar Leena terbuka dan keluarlah seseorang dari kamar tersebut.
"Ah tidurku sangat nyenyak sekali," ucap Erina sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.
Dengan mata yang melirik ke luar rumah, ia melihat Tiara yang terdiam berdiri dan langsung menghampirinya.
"Hei, kau sedang apa di luar?" Tanya Erina yang memegang pundak Tiara dari arah belakang.
Refleks Tiara menengok saat pundaknya dipegang.
"Eh kak Erina, sudah bangun?, Bagaimana badanmu?, Apa baik-baik saja?" Tanya Tiara khawatir.
"Aku baik-baik saja," jawabnya.
"Oh ia, dimana Ayu?, Aku tidak melihatnya," tanya Erina penasaran.
"Sbastian menyuruhnya untuk kembali ke markas kemarin," jelas Tiara sedikit termenung.
"Apakah dirinya baik-baik saja?, Tanya Erina kembali.
Tiara pun menjawab bahwa Ayu baik-baik saja.
Mendengar bahwa Ayu baik-baik saja membuat hati Erina lega mendengarnya.
Tetapi, Tiara masih termenung saat mengingat kembali sifat Ayu yang berubah 180°.
"Kau kenapa melamun?" Tanya Erina yang tiba-tiba tersenyum.
"Tenang saja, dia memang membenciku,"
"Eh?, Kak Erina tahu bahwa kam Ayu membencimu?" Tanya Tiara.
"Walaupun dirinya tidak pernah mengatakannya padaku, ataupun memperlihatkan sifat aslinya padaku," jelas Erina yang menundukan kepalanya.
Erina juga menjelaskan bahwa dirinya tidak mengetahui penyebab Ayu yang membencinya. Erina juga merasa tidak pernah berbuat salah atau mengganggunya namun Ayu tiba-tiba membenciku.
Tiara yang mengetahui penyebab Benci Ayu pada Erina hanya terdiam mendengar ceritanya.
Dirinya juga takut salah dalam berbicara yang kemungkinan akan menjadi masalah baru.
"Tolooooong!"
Saat asik Mereka mengobrol, tiba-tiba dari dalam rumah terdengar seseorang meminta tolong. Sontak hal tersebut membuat Tiara dan Erina refleks masuk ke dalam rumah.
"Ada apa ini?" Tanya Tiara yang menatap Diki terbaring di sofa tempat tidurnya.
"Toloooong!" Ucap Diki yang melikiran bola mata hitamnya ke arah Tiara.
"Kau kenapa?" Tanya Tiara bingung.
"Aku tidak bisa menggerakkan badanku!, Tolong!" Ucap Diki yang terkujur kaku di sofa.
Arzan yang tidur sofa sebelah terbangun mendengar keributan. Dirinya hanya melihat situasi dan kembali tertidur yang kepalanya ia tutup dengan selimut.
Erina yang melihat Diki terkujur kaku di sofa merasa kasihan dan langsung mendekati Diki.
"Apa kau kena guna-guna?" Tanya Erina yang memegang badan Diki.
Namun, saat Erina memegangnya, Diki langsung berteriak keskitan.
"Aaaaaaaaawww!" Teriak Diki kesakitan.
Mendengar Diki yang berteriak, membuat Erina kaget.
"Aku tidak yakin dirinya terkena guna-guna, karena dari dalam tubuhnya aku tidak merasakn adanya benda aneh atau aura yang tidak dikenal." Jelas Macan Putih dari dalam perut Diki.
"Hmp, lelaki lebay, dia hanya pegal-pegal," ucap Noni Belanda yang keluar dari tubuh Erina.
"Hah pegal-pegal?" Ucap Tiara yang tekejut mendengarnya.
"Sebentar-sebentar, kemarin kau hanya terdiam membatu bisa sampai pegal-pegal?!, Apa lagi sampai tidak bisa bergerak?!" Ucap Tiara yang tiba-tiba kesal.
"Memangnya salah aku pegal-pegal?" Tanya Diki yang sedikit emosi.
"Bukan begitu, tapi. Akh sudahlah."
Tiara pergi menuju kamarnya.
"Hei kau mau pergi kemana?" Tanya Diki pada Tiara.
"Kamar!" Ucapnya judes.
"Lalu bagaimana denganku?!" Tanya Diki terbarinh di sofa.
"Buka urusanku!" Ucap Tiara pergi.
"Sepertinya aku ada urusan lain, maaf ya hahaha," ucap Erina yang mengeles sambil pergi meninggalkan Diki.
"Hei kenapa kalian pergi meninggalkanku?, Tolong aku hanya ingin buang air besar, tolong aku, aku sudah tidak tahan."
"Arzan, Arzan, bangun, tolong aku," ucap Diki yang berusaha membangun Arzan.
Namun Arzan tidak bergerak sedikitpun. Dirinya tertidur dengan selimut menutup seluruh tubuhnya.
"Tolong, aku hanya ingin buang air besar saja T_T,"
.
.
To Be Continued
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI