
'prok-prok-prok-prok-prok' Erian bertepuk tangan.
"Apa ini yang disebut pelindung para Jin Khodam Zodiak?" Ucap Erina yang menatap Sbastian tajam.
"Sudahlah aku tidak percaya padamu lagi!" Tambahnya yang kemudian pergi meninggalkan Sbastian.
Saat pergi, dirinya sempat berpapasan dan salin tatap mata dengan Ayu.
Ayu sempat terkejut dan sedikit degdegan saat mata mereka saling bertatapan.
Melihat Erina yang pergi meninggalkannya, ekpresi Sbastian kembali normal.
Tetapi, tidak lama kemudian Leena mendekati Sbastian dengan tatapan tajam sambil tersenyum sinis.
"Hiahahahah, Kau tahu, jika waktu itu aku tidak pingsan, yang melatih mereka pasti aku. Dan kau pasti akan melakukan hal yang sama padaku bukan. Aku pun akan merasakan hal yang sama seperti Erina jika itu benar-benar aku," jelas Leena menatap Sbastian.
Sbastian hanya terdiam, dilihat dari ekspresi wajahnya ia terlihat baik-baik saja.
"Sebenarnya apa tujuanmu?!" Tanya Leena berbisik pada Sbastian dengan wajah yang serius.
"Hiahahahah, oke sebaiknya aku juga pergi dulu. Semoga harimu menyenangkan Sbastian," tambahnya tertawa sambil meninggalkan Sbastian sendiri di ruangannya.
Saat berjalan pergi meninggalkan Sbastian, Leena melihay Ayu yang sedang berdiri tepat dibalik tembok.
"Hiahahahahah, apa yang sedang kau lakukan di situ Ayu?. Oh ia untuk sebelumnya terima kasih telah menolongku. Aku sangat mencintai juniorku ini."
Leena memeluku tubuh Ayu dengan sangat kencang. Ia sangat berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan hidupnya.
Setelah itu, Leena berpamitan pada Ayu yang kemudian dirinya pergi meninggalkan Ayu sendirian.
Terdiam sesaat dengan apa yang barusan dirinya lihat dan dengar membuat ia tidak fokus terhadap sekitar. Hal itu membuat Sbastian menegurnya dan bertanya apa yang sedang dilakukan Ayu.
"Eh, kak Sbastian, maaf aku hanya sedang berlatih menjadi patung."
Ayu mengeles dan dirinya pergi meninggalkan Sbastian sambil melambaikan tangannya.
"Hmmm," ucap Sbastian sedikit tersenyum.
"Apa yang dipikirkan wanita itu, sampai-sampai peduli pada mereka bertiga. Padahal tinggal ikuti alurku saja. Aku yakin mereka bertiga akan baik-baik saja."
***
"Ah kesel kesel kesel."
Erina masih terlihat emosi. Dirinya langsung duduk di sofa ruang tamu sambil melempar tas miliknya ke sembarang arah.
Diikuti oleh Leena yang duduk di sofa samping Erina. Dirinya mengambil sebuah toples cemilan, kemudian membukanya dan menyodorkan cemilan tersebut pada Erina.
"Nih makan, lo rese kalo lagi lapar."
Erina kemudian mengambil cemilan yang Leena berikan dan langsung memakannya.
"Iiiihhhh enak banget, ini beli dimana?" Tanya Erina yang suasana hatinya berubah darastis.
"Gak tau, nih cemilan siapa sih memangnya?" Ucap Leena yang balik bertanya pada Erina.
"Ya mana saya tahu."
"Eh tapi sumpah deh, aku masih kesal padanya. Apa yang sedang ia rencanakan sebanarnya," ucap Erina yang kembali kesal.
Melihat Erina yang kembali kesal, membuat Leena memiliki ide untuk meredakan emosi temannya itu.
Leena mengajak Erina untuk pergi jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Erina pun mengiyakan ajakan Leena.
Leena melakukan hal tersebut karena tidak ingin melihat teman dekatnya itu sedih atau dalam suasana hati yang tidak baik.
Apalagi kasus ketiga anak remaja penghuni rumah yang tiba-tiba menghilang karena hadiah pemberian Sbastian.
Leena percaya bahwa Diki, Tiara dan Arzan baik-baik saja dan akan kembali yang tentunya dalam keadaan baik juga.
"Tunggu dulu ya Leena, aku mau ganti pakaian dulu," ucap Erina yang pergi untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa saat kemudian Erina kembali dan merekapun bersiap untuk pergi menuju pusat perbelanjaan.
***
"Kenapa kita memilih berjalan kaki, Leena?" Tanya Erina pada Leena.
"Kau tahu, aku sangat rindu dengan momen seperti ini. Dan aku sangat ingin pergi kemana saja berdua denganmu," jelas Leena menatap ke arah Erina.
"Ahhh, aku juga rindu dengan momen seperti ini. Aku jadi sedih," ucap Erina yang meneteskan air mata.
Leena mendekati Erina, dirinya kemudian menenangkan Erina yang sedih terharu.
"Cup-cup-cup-cup-cup, anak manis jangan menangis dong. Kau tahu, walaupun badanku kecil seperti anak SD, tapi aku telah menganggapmu sebagai adiku sendiri." Ucap Leena yang mengelus-elus punggung Erina.
Tidak kuat dengan apa yang barusan Leena katakan, membuat sedih Erina semakin menjadi-jadi.
"Aaaaaaaaah, kau memang benar-benar kakakku yang pengertian," ucap Erina yang semakin sedih terharu sambil memeluk tubuh Leena.
Suasana kembali normal, mereka berdua kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.
Tetapi, saat melewati taman desa, mereka berdua melihat ketiga anak yang sedang bermain di taman tersebut. Sehingga langkah kaki mereka terhenti dan langsung melihat ketiga bocah tersebut bermain.
"Ah enaknya menjadi anak kecil," ucap Erina.
Hiahahahah, pikiran meraka masih bersih dan polos. Mereka juga tidak terlalu memikirkan kehidupan yang berat ini," ucap Leena.
Namun, dua dari mereka tiba-tiba terlihat sedang beradu argumen.
"Aku benci, aku sangat membencinya," teriak bocah rambut keriting.
"Apa yang kau benci Gilang?" Tanya bocah rambut lurus berwajah putih.
"Adikmu!" Ucap bocah yang bernama Gilang.
Sang bocah atau adik si kulit putih terdiam melihat percekcokan antara kakaknya dengan teman kakaknya dengan wajah yang terlihat cemas.
"Memangnya kenapa dengan adikku?" Tanya bocah berkulit putih tersebut.
"Kau ya!, Sudah aku katakan beberapa kali, tapi tetap kau selalu tidak mengerti. Aku benci padamu Reza!" Ucap Gilang yang pergi meninggalkan Reza dengan adiknya dengan keadaan hati yang kesal.
"Tunggu Gilang, aku tidak ingin kita bertengkar seperti ini," ucap Reza yang kemudian mengejar Gilang dan meninggalkan adiknya sendirian.
Melihat dirinya yang ditinggal begitu saja, membuat bocah tersebut murung.
"Eh apa dia baik-baik saja?" Tanya Erina pada Leena yang melihat pertengkaran barusan.
Erina juga pergi menghampiri bocah tersebut yang disusul oleh Leena.
"Kau kenapa adik kecil?" Tanya Erina pada bocah tersebut.
Bocah tersebut kemudian menatap ke arah Erina dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Sesaat setelah itu, bocah tersebut menangis sejadi-jadinya.
Karena tidak kuat mendengar tangisan bocah tersebut, membuat Erina menangis dan langsung memeluk bocah tersebut.
"Aahhhh, aku tidak kuat melihat bocah menangis," ucapnya sambil menangis memeluk bocah tersebut.
"Cup-cup-cup-cup-cup, anak baik, kamu kuat," ucap Erina sambil mengelus-elus punggung bocah tersebut.
Beberapa saat kemudian bocah tersebut terlihat tenang dari tangisannya.
"Kau sudah merasa baikan?" Tanya Erina pada bocah tersebut.
Bocah tersebut menganggukan kepalanya dengan wajah yang masih terlihat sedih.
Setalah itu, Erina kembali bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Namun, mata bocah itu kembali berkaca-kaca dan bertanya pada Erina, apakah dirinya adalah manusia sial.
.
To Be Continued.
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI