
Menangis sambil meluapkan seluruh emosinya pada tembok itu lah yang dilakukan Gilang.
Terus menerus menendang dinding tembok bangunan, dengan maksud meredakan kekesalannya. Namun, hal itu tidak membuatnya tenang, malah ia semakin kesal dan semakin emosi.
Tangisan air mata yang keluar semakin banyak, Gilang merasa dirinya adalah orang yang paling tersakiti di dunia ini.
Tiba-tiba datanglah Leena dengan tatapan datar melihat ke arah Gilang yang sedang menangis.
"Kau terlihat seperti anak TK," ucap Leena yang berjalan mendekati Gilang.
Melihat bocah yang menghampirinya, membuat tangisan Gilang terhenti dan menatap Leena dengan tatapan tajam.
"Siapa kau?"
"Hiahahahah, aku Leena salam kenal," ucap Leena tertawa.
"Apa kau sedang mengejeku?" Tanya Gilang yang masih menatap tajam Leena.
"Hiahahah, menurutmu bagaimana?" Tanya Leena tertawa.
Gilang terdiam dan hanya menatap Leena dengan tajam.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Leena menatap Gilang.
"Bukan urusanmu, dan lagi kenapa kau ingin tahu urusanku?, Dasar bocah SD tidak tahu tatakrama."
Gilang kesal dengan Leena yang ingin tahu urusannya. Ia juga menyuruh Leena untuk pergi dari hadapannya.
"Apa kau tidak mengenalku? Coba kau ingat, mungkin pernah melihatku disuatu tempat?" Tanya Leena.
"Aku tidak mengenalmu sama sekali bocah SD. Sebaiknya kau pergi atau aku akan melukaimu!" Ucap Gilang yang terlihat emosi.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau menceritakan semuanya."
"Apa yang kau maksud bocah SD," tanya Gilang yang berlari mendekati Leena dengan wajah yang terlihat marah.
Gilang berencana menyakiti Leena yang menurutnya sangat mengganggu. Namun, saat dirinya mendekati Leena dan akan menyerangnya, dengan mudah Leena dapat menghindari serangannya.
Terkejut, itulah yang diraskan Gilang saat melihat Leena yang dengan mudah menghindari serangannya.
"Aku kesal padamu!"
Gilang berteriak dan kembali berlari mendekati Leena untuk menyerangnya. Namun, lagi-lagi Leena dapat menghidarinya dengan mudah dan langsung membekuk tubuh Gilang dengan kencang.
Hal itu menbuat Gilang merasakan kesakitan. Ia memohon pada Leena untuk melepaskannya.
"Aku akan melepaskanmu tetapi dengan syarat," ucap Leena yang masih membekuk Gilang.
"Aaaaaw, apa syaratnya," tanya Gilang yang kesakitan.
"Kau tahu dengan bocah sekitar 4 tahun yang bernama Riza?" Tanya Leena.
Mendengar nama Riza membuat Gilang terkejut.
"Ke-ke-kenapa kau bisa tahu dengan anak itu?"
"Kau tidak perlu tahu, yang pasti apa kau mau menceritakannya padaku?" Tanya Leena yang semakin kencang membekuk Gilang.
Tidak ingin terus kesakitan, membuat Gilang dengan cepat mengatakan bahwa dirinya akan menceritakan bagaimana ia bisa membenci Riza adik sahabatnya itu.
Kemudian, Leena melepaskannya dan mereka berdua duduk di bangku taman.
"Aku tidak yakin, dan aku tidak begitu dekat dengan anak itu."
"Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi yang pasti aku sangat membenci bocah itu. Cerita tersebut berawal dari ibu Reza melahirkan seorang anak," jelas Gilang.
***
Di sebuah rumah terlihat keluarga sederhana yang terlihat sangat bahagia. Sang ibu yang duduk di kursi dan sang ayah yang memeluk perut sang istri yang sedang hamil besar. Tidak lupa juga si anak tunggal yang akan menjadi kakak sedang bermain dengan sahabatnya.
Itulah Reza, bocah dengan umur 10 tahun sedang bermain dengan sahabatnya yaitu Gilang.
"Mereka berdua terlihat seperti saudara kandung," ucap sang istri yang melihat Reza dan Gilang sedang bermain.
"Kalian berdua terlihat akur," ucap sang ayah mendekati Reza yang sedang bermain dengan Gilang.
Terlihat senyum bahagia dari kedua bocah tersebut. Terutama Gilang, dirinya sangat bahagia karena keharmonisan dan ke hangatan keluarga tersebut.
Keluarga mereka juga, tidak membedakan anaknya dengan orang lain. Contohnya adalah Gilang, sejak awal Gilang bermain dengan Reza, ibu dan ayah Reza telah nganggap Gilang anak sendiri. Hal itu membuat mereka sangat baik pada Gilang, sehingga Gilang sangat betah bermain dan tinggal di rumah sahabatnya tersebut.
Hari-hari berlalu tanpa melihat Gilang atau Reza bermain sendiri. Jika ada Gilang, pasti ada Reza. Begitupun sebaliknya, jika ada Reza pasti ada Gilang
Tetapi, semuanya berubah saat ibu Reza melahirkan.
Pada awalnya semua nampak biasa-biasa saja. Namun, seiring berjalannya waktu pandangan dan perhatian mereka selalu tertuju pada anak kecil yang baru lahir tersebut.
Perubahan demi perubah Gilang rasakan. Mulai dari ibu Reza yang tidak pernah membuat masakan lagi untuk keluarga dan dirinya, karena kondisi tubuhnya yang melemah akibat melahirkan. Dan terus menerus mengurus bayinya hingga perhatian pada Reza dan Gilang berkurang.
Sang ayah yang selalu mengkhawatirkan istrinya karena kondisi tubuhnya menjadi semakin jarang memperhatikan Reza dan Gilang.
Dan yang terakhir adalah Reza sahabat Gilang sendiri, padahal ibu dan ayahnya jarang memperhatikannya lagi, tetapi dirinya terlihat baik-baik saja. Justru dirinya malah suka mendekati adiknya dan selalu mengajaknya bercanda. Hal itu membuat Gilang semakin sakit hati dan dari situlah titik awal Gilang membenci adik sahabatnya.
Kebenciannya berlanjut saat ibu sahabatnya itu dinyatakan meninggal karena kondisi tubuhnya yang semakin melemah. Dan Gilang selalu menyalahkan Riza penyebab kematiannya.
Selang beberapa jam meninggalnya sang ibu, tiba-tiba tubuh ayah Reza menjadi aneh, pergerakan tubuhnya pun sangat sulit di kendalikan sehingga membuat orang sekitar kewalahan. Hal itu juga membuat orang di sekitar sangat syok dan ketakutan salah satunya adalah Gilang. Ia sangat syok hingga air mata mengalir di pipinya. Hingga beberapa jam kemudian sang ayah dinyatakan meninggal dunia.
Mendengar ayah sahabatnya dinyatakan meninggal, membuat Gilang syok ia sangat terpukul karena sedih melihat sahabatnya yang di tinggalkan kedua orangtuanya di saat belum bisa mandiri. Di sisi lain juga Gilang sedih karena dirinya telah menganggap mereka sebagai kedua orang tuanya sendiri
Selang beberapa menit kemudian, tubuh Reza dan tubuh Riza yang masih bayi pun terlihat aneh dan sulit di kendalikan. Namun beruntungnya mereka berdua masih bisa selamat.
Kebencian Gilang bertambah. Saat Reza dan adiknya dibawa oleh pamannya. Walaupun rumah paman Reza hanya beberapa meter dari rumah Gilang, Gilang tidak berani main ke rumah tersebut karena pamannya yang menakutkan. Ia tidak berani mengajak Reza untuk bermain sebelum Reza yang mengajaknya terlebih dahulu. Namun, karena sifat Reza yang cuek dan polos, ia sangat jarang mengajak Gilang bermain dan malah fokus bermain sendiri terkadang mengajak adiknya bermain.
Sehingga waktu bersama Reza semakin berkurang, dan lagi-lagi Gilang menyalahkan Riza karena hal tersebut dan Gilang juga menyalahkan Riza karena telah lahir ke dunia.
.
To Be Continued
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI