Key And Bian

Key And Bian
Apa Mau Mu



Keesokan harinya selepas berjualan,


Key pergi ke pasar membeli bahan membuat kulit somai. Sesampainya di rumah,


Key meluruskan kakinya sebentar. Cuaca panas, menaikan sedikit suhu tubuh. Dia


mengambil segelas jus di kulkas. Sambil duduk dia meminumnya. Pikirannya


menerawang. Wajah  Bian kembali melintas.


“ Apa dia datang lagi ya nanti


malam. Huh, tidak tahu malu kalau sampai dia datang lagi. Tapi,” lama


pikirannya mengantung. “ Bagaimana kalau dia datang, apa aku buatkan bekal


lagi. Huh! Kenapa repot-repot membuatkan dia bekal segala, kemarin saja dia


tidak berterimakasih dan marah-marah tidak jelas. Ahh, kenapa aku malah bingung


sendiri.” Key menghabiskan minumannya sampai tegukan terakhir. Masih berfikir.


“Tapi bagaimana kalau nanti dia bertanya kenapa aku tidak membawa bekal. Eh,


kenapa juga aku musti menjawab pertanyaannya. Tapi kalau dia marah bagaimana.


Ah, melihat ekspresi wajahnya yang kesepian, aku jadi  bisa memaklumi tingkahnya yang menyebalkan.”


Tak lama setelah mengomel dan bicara sendiri,


akhirnya Key memutuskan melangkahkan kaki dan menuju dapur. Kali ini ia masak


semur bakso tahu. Udang dan buncis kecil ia masak dengan bumbu cabe. Ia menatap


lagi kotak bekalnya. “Sudah cukup belum ya? Apa dia akan suka?” Key


menggelengkan kepala. Mengusir pikirannya. “ Kenapa juga aku harus perduli.” Ia


lalu bergegas membereskaan hasil masakannya. Setelah itu ia menata ikan, udang,


dan ayam ke dalam boks, memasukannya ke dalam frezzer. Mencuci sayuran dengan


merendam dengan sedikit air garam terlebih dahulu, lalu membungkusnya dengan


plastik sebelum masuk ke dalam kulkas. Sayuran bisa tetap segar.  Dilihatnya jam. Sudah jam setengah empat. “ Ah, sudah mepet. Buat kulit somainya nanti malam saja, setelah pulang dari kerja.”


Lalu ia pun membawa tubuhnya ke kamar mandi dan bersiap pergi.


“ Hallo, belum pulang Bas?” Key


sudah bersiap hendak berangkat dan menyadari Basma belum pulang sekolah.


“ Belum Mba, mau ke tempat teman dulu.”


“ Baiklah, Mba udah masak, jangan


lupa makan malam.”


“ Oke, makasih ya Mba. Nanti Bas jemput pulang dari kerja.”


“ Oke, udah ya, Mba mau berangkat.”


“ Oke.”


Telpon terputus. Key memasukan ponselnya,


menenteng kotak makannanya dan berjalan keluar gang. Sambil melamun dan


pikirannya berlarian, Ia menyebrang jalan, kemudian menunggu angkot.


Malam ini ramai sekali. Key memberi


salam, mengucapkan terima kasih, menghitung belanjaan dan masih tetap setia


senyum di bibir mungil itu. Mengambil barang di gudang penyimpanan, menyusunnya


di rak-rak. Menganti label harga. Kembali lagi kekasir. Ah, ia melirik lantai di


dekat pintu masuk. Banyak noda bekas tanah. Walaupun kering tapi cukup


menggannggu. Akhirnya dia mengambil sapu untuk membersihkannya. Sambil menyapu ia


mengedarkan pandangaan keluar, pecel lele di halaman ramai. Ia sudah makan tadi.


Mang pandi sedang membakar ayam, asap tidak terlihat, namun aromanya menyeruak.


Dia meneruskan menyapunya. Tangannya berhenti mengerakan sapu, saat sapu itu


membentur kaki seseorang yang baru masuk.


“ Maaf Kak.” Key mendongak. Senyumnya hilang seketika.


“ Mana selamat datang untukku ?”


katanya dengan nada satir, dan masih dengan wajah yang dingin. Key, yang


sebenarnya menunggunya dari tadi tiba-tiba merasa kesal. Dia diam saja, tidak


mengucapkan salam seperti yang di minta Bian. Key meneruskan menyapu, mendorong


tanah ke luar. Lalu dia masuk kembali ke dalam toko. Bian sudah berdiri di


depan kasir. Tangannya kosong. Key melewatinya tanpa bicara, ia masuk ke gudang


meletakan sapu.


“ Ada apa dengannya. Wajahnya semakin menakutkan.” Key bergumam, sambil berjalan cepat keluar dari gudang. Dia masih melihat Bian, terdiam di depan kasir. Tangannya benar-benar tidak


memegang apa pun. Ragu Key menuju ke kasir. Sekarang mereka berhadapan. Bian


menatap tajam tanpa berkedip. Matanya yang selalu merasa kesepian itu menusuk jantung


pertahanan Key. Membuat gadis itu luluh dengan sendirinya.


“ Kenapa?” akhirnya ia yang


bertanya dulu. Setelah mendengar key bicara Bian berbalik pergi. Menuju rak


makanan.   “ Apa dia benar-benar menungguku menyapanya”.  Sambil


geleng-geleng kepala. “  Kekanakan”


Bian sudah ada di depan kasir. Membawa benda keramat yang selalu dibelinya. Key mengscan minuman dan keripik.


Ia menepikan mi instan seperti kemarin. Mengambil uang yang diletakan Bian


di atas meja.  Memasukan, air, keripik dan


juga kotak makan yang ia raih dari bawah meja. Memasukan semuanya beserta struk


dan uang kembalian ke dalam kantong plastik.


“ Selamat menikmati Kak.”


Bian bicara melalui sorot matanya.


Bahwa ia ingin bertanya banyak hal. Namun bibirnya terkunci. Ia meraih kantong


plastik dan berlalu menuju tempat duduk yang biasanya ia pakai.


“ Apa-apaan dia itu. Mulutnya tidak


bisa mengucapkan terimakasih apa. Tidak apa-apa Key, kamu memberikan makanan


itu daripada mubazir, dosa, buang-buang makanan. Kamu harus bekerja keras untuk


mendapatkan uang guna membeli bahan makanan .” Key menatap sebal. “ Selamat


datang.” Pelanggan masuk dan perhatiannya sudah teralihkan.


Cukup lama Bian menatap kotak


makanan yang sudah dibukannya sedari tadi. Ia masih memegang sendok. “Kenapa


aku ini?” dia bertanya pada dirinya sendiri. “Apa aku kekanakan sekali, kenapa


aku datang lagi kemari. Bahkan sekali lagi aku menerima makanan darinya.” Dia


menoleh, melihat Key yang sedang melayani pembeli. “Apa yang membuat dia


spesial, sampai aku ingin melihatnya setiap hari.” Bian benar-benar tidak tahu


kenapa dia bisa seperti ini. Ia menyuapkan makanan ke mulut. “Enak.” Dan


akhirnya nasi dan semua  lauknya tak


bersisa. Ia menatap kotak bekal kosong itu. Berfikir keras. Ia punya banyak


uang untuk membeli makanan yang jauh lebih enak dari yang ada di kotak bekal


ini. Tapi kenapa? Kenapa?


Dia menoleh ke arah kasir. Gadis


itu tidak di sana.  Mengedarkan pandangan


menyapu ruangan, tidak ada pelanggan. Dia bangun dari tempat duduk dan berjalan


menuju pintu. Memutar tanda close menghadap keluar. Bian  berjalan menuju pintu gudang, berdiri sambil


melihat tulisan yang terpasang,  staff


seperti dugaannya. Menghitung kardus minuman ringan. Terdengar suara hitungan


dari mulutnya, lalu ia mencoret kertas yang di pegangnya. Bian berjalan


mendekat.


“ Ternyata yang ini cuma tinggal setengah.  Ah, sudah selesai. Hitung uang


lalu pulang.” Katanya lagi dengan riang. Lalu dia berdiri dan membalikan


badan.  Betapa terkejutnya ia, tubuhnya


terhuyung ke belakang. Kertas catatan persediaan barang terjatuh. Bian sudah


berdiri menghadapanya sekarang. Wajahnya masih tanpa ekspresi yang bisa dibaca.


“ Kak Bian sudah selesai makan? Maaf kak, pelanggan dilarang masuk.” Kata-katanya terbata, terlihat bahwa ia


ketakutan.


Bian maju selangkah. Tanpa bicara


pun sudah mengintimidasi. Key mundur dua langkah. Dia mengangkat tangannya,


menunjukan bahwa ia akan melawan. Dadanya berdebar, rasa  takut langsung memenuhi seluruh tubuh.  Ah, kenapa ia bisa begitu saja percaya pada


laki-laki ini. Bian terus melangkahkan kaki. Key juga mundur. Sampai tubuhnya


membentur tumpukan kardus sampo dan deterjen. Ia gemetaran. Tidak bisa bergerak


lagi.


“ Kak Bian mau apa?” suaranya bergetar.


Bian maju selangkah,  Ia mengunakan tangannya untuk bertopang.


Sehingga ada ruang yang membuat mereka tidak bersentuhan.  Key hanya setinggi bahu Bian. Bian menunduk, mendekatkan wajahnya.


“Aaaaaaa.” Key menjerit keras karena kaget.  Namun berhenti saat ia merasa


Bian tidak melakukan apa pun. Sekarang ia bisa mendengar detak jantung


laki-laki tinggi yang ada di hadapannya.  Caranya menarik nafas, seperti menahan amarah. Kenapa? Apa dia marah padaku. Key menduga-duga. Rasa takutnya sedikit berangsur menghilang.


“  Kenapa kau bersikap baik padaku?.”


“Key tidak ada alasan apa-apa Kak.”  Menjawab dengan cepat. Kenapa dia


wangi sekali,  saat ia bernafas ia bisa mencium aroma tubuh Bian.  Hidungnya


menempel di dada Bian.  Apa-apaan aku ini, ini bukan adegan romantis Key. Ia mengutuki diri dalam hati. Bagaimana ia masih bisa berfikir tentang wangi tubuh disituasi semacam ini.


“ Katakan apa yang kau inginkan dariku?” nada suaranya bertanya namun dengan intonasi marah.


“ Key tidak mau apa-apa dari kak Bian.” Memang aku harus mengharapkan apa darinya, batin Key. Sekarang


sepertinya jantungnya berdetak bukan karena merasa takut. Namun semakin ia


menarik nafas, wangi tubuh Bian yang terhirup.


“ Tidak ada yang mendekatiku tanpa menginginkan apa pun.  Katakan apa yang


kau harapkan” Nada suaranya masih menyimpan amarah dan kebencian.


Key semakin merasa sesak. Dia benar-benar tidak merasakan takut lagi. Namun wangi  tubuh Bian menghimpitnya. Ditambah mendengar detak jantungnya membuat kakinya lemas, dan detak jantungnya yang juga perpacu. Ntah sekarang karena alasan apa.


“ Bisakah kita rubah posisi Kak. Key susah bernafas.”


Tiba-tiba Bian mundur. Ia memalingkan wajahnya karena merasa malu. Ada sedikit senyum samar di bibirnya,


yang langsung lenyap saat ia menoleh ke arah Key. Key terlihat sedang mengatur


nafasnya pelan-pelan. Dia bergeser dua langkah. Mengambil jarak aman dari


radius wangi tubuh Bian.


“ Key hanya ingin berteman Kak. Mengenai makan malam yang Key buatkan, Kak Bian tidak perlu berfikir aneh-aneh. Siapa yang akan tega, melihat orang yang beberapa hari berturut-turut makan mi


instan. Cuma itu saja, tidak ada maksud apa-apa. Sungguh.”


“ Kau kasihan padaku?”


“ Tidak!” bicara cepat. Tentu saja ia, menjawab dalam hati.  Tapi tentu,


tidak ada orang yang suka dikasihani dalam urusan tertentu. “ Tentu saja tidak


Kak. Key tulus ingin berteman.”


“ Apa kau suka padaku?”


“ Tidak.” Namun buru-buru ia menutup mulutnya. “ Maksud Key bukan begitu Kak. Key  hanya ingin berteman.”  Aduh bagaimana aku harus menjelaskan. Tidak


suka dalam arti jatuh cinta begitu lho maksudnya Kak. Tapi tidak terlontar


kata-kata itu.


“ Tentu saja, mana mungkin kamu


menyukaiku, kamu sudah punya pacarkan!” Ketus, sambil memalingkan wajah.


“ Aku tidak punya pacar!” Key


berteriak. Saking kerasnya membuat Bian kaget.


“ Lalu siapa laki-laki yang kamu


gandeng malam-malam waktu pulang itu hah!”  ikut berteriak, kata-katanya kembali bernada benci dan marah.


Sedikit-sedikit, Key bisa menduga perasaan Bian melalui nada suaranya ketika bicara.


Wajah Key berubah, ia tersenyum.


“Ah, itu, waktu pertama kali Kak Bian datang ya, itu Basma, dia adik Key.”


“ Bohong!” masih bernada marah.


“ Tidak. Kenapa juga Key harus


bohong. Memang  banyak yang sering salah


paham kalau belum mengenal kami. Basma badanya tinggi, jadi memang tidak


terlalu pantas jadi adiku.  Tapi,


memangnya kenapa? Kak Bian ini memang aneh, jadi marah gara-gara ini.”


“ Aku, marah, kenapa juga  harus marah. Gara-gara kamu dijemput


laki-laki dan pulang bergandengan tangan. Apa kamu sudah gila?” Bian malah


terlihat semakin bersikap aneh saja. Key, sampai geleng kepala tidak tahu harus


bicara apa lagi. “ Sudahlah, aku mau pulang.”


“ Baiklah, selamat jalan.” Refleks


membalas seperti pada pelanggan. “ Ada apa dengannya? Ah, apa tidak ada


pelanggan, tumben.” Baru sadar ada yang aneh, dari tadi tidak ada yang masuk ke


minimarket.


Bian sendiri keluar dari gudang


degan perasaan yang campur aduk.  Rasa


kesal, marah namun juga merasakan kelegaan. Ia berjalan ke pintu, memutar tanda


open menghadap ke depan. Saat keluar ia berpapasan dengan seseorang laki-laki


muda. Mereka saling berpandangan sesaat. Bian berhenti, mencoba mengingat


sesuatu. Wajah laki-laki yang barusan masuk toko sepertinya tidak asing. Namun


tidak juga ada yang nyangkut diingatan saat ia berusaha berfikir. Akhirnya ia


memilih menyebrang jalan. Berdiri tidak jauh dari  gerbang Grand land. Tempat, biasanya ia


mengamati kepulangan Key.


Keluar juga akhirnya. Pemuda yang


berpapasan dengannya tadi membantu menutup pintu dan memasang rantai dan


gembok. “ Aku ingat sekarang, di mana aku pernah melihatnya.” Bian tertawa


sendirian.  Ia terus saja tertawa


mengutuki hal bodoh yang sudah ia lakukan.  “ Jadi aku sudah pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnnya. Bebek


bakar pedas. Haha.” Dia masih berdiri di tempatnya sampai dua orang itu naik


angkot.


Bersambung.......


Jadi pengen makan bebek bakar lagi @Bian