Key And Bian

Key And Bian
Epilog (Bulan Madu)



Judulnya memang bulan madu, tapi ini lebih bisa dibilang liburan


keluarga. Basma merengek ingin ikut. Sudah seperti bocah yang baru pertama kali


ditinggal kakak perempuannya pergi jauh. Adiguna yang tidak tega melihat


anaknya memohon akhirnya mengizinkan. Bian yang mendelik tajam.


“ Ayah mau aku pergi bulan madu sambil mengawasinya bermain.”


Akhirnya, Yuna dan Adiguna ikut serta sekalian. Anjas saja sampaai


tertawa terpingkal saat ayahnya menceritakan rencana bulan madu Bian, eh


liburan keluarga.


Mereka memilih tempat wisata pantai. Vila berderet di bibir pantai,


dengan sebuah tenda menjorok ke arah pantai. Bisa dipakai menikmati angin saat


siang hari begini , atau sekedar menyalakan api ungun saat malam ditemani semilir


angina sejuk.  Setiap vila satu dengan


yang lain diberi sekad pembatas pagar putih dan beberapa pot bunga tinggi.


Jaraknya cukup jauh untuk menjaga privasi setiap penyewanya.  Mereka mengambil sebuah Vila dengan ukuran


paling besar. Karena sekali lagi,ini liburan keluarga, bukan bulan madu.


Angin pantai menerbangkan kegelisahan. Menyejukan hati siapa pun yang


sedang menikmati.


“ Mbak Key, aku mau beli es cream ya.”Basma menunjuk deretan kios  makanan yang berjajar dengan bangunan


permanen agak jauh dari pantai, tempat mereka duduk.


“ Jangan jauh-jauh ya Bas.”


“ Key dia kan bukan anak kecil lagi.” Bian melingkarkan tangan


di pinggang istrinya, lalu menjatuhkan dagunya di bahu Key. “ Huss, huss sana


yang jauh!”


Dih, Sambil melangkah Basma bisa mendengar Key memarahi Kak Bian.


Rasakan batinnya.


Tapi belum juga melangkah jauh dia sudah mendengar suara gelak tawa key.


Saat dia menoleh, bisa dilihatnya Kak Bian menempelkan pipi mereka. Usel-usel.


Dasar pemilik bumi.


Orang jatuh cinta kadang suka klaim bumi milik berdua.


Basma berjalan menuju kios es cream. Berhenti sesaat memandang lautan


lepas.


Aaahhhh, dia menghembuskan nafas sambil mengepakan tangannya bebas.


Angin pantai yang menari-nari di sela-sela rambutnya menyiram kesejukan. Deru


ombak bercampur dengan teriakan orang-orang yang sedang menikmati waktu libur


mereka.


Melihat orang-orang bercengkrama dengan yang lain.


Basma membawa kantung plastik kecil berisi es cream. Dia menendang pasir


pantai sambil melihat anak-anak yang berkejaran membawa balon di tangan mereka.


Saat matanya melihat anak-anak itu, sudut pandangannya menangkap seraut wajah


yang ia kenali.


“ Kak Kirana!”


“ Eh Basma.” Gadis itu juga tampak sama terkejutnya. Tidak pernah


menyangka akan menjumpai seseorang yang ia kenali di tempat seperti ini.


Canggung, antara mau menyapa atau berlalu begitu saja. Mereka sudah beberapa


kali bertemu, pernah nonton konser bareng. Tapi kan itu ramai-ramai.


Basma kan cuek banget orangnya, apa aku senyum terus pergi aja ya.


Kirana lagi maju mundur berfikir, sementara Basma juga masih terdiam.


“ Sedang liburan?” Ucap mereka bersamaan akhirnya.


Sekarang keduanya sudah duduk di sebuah bangku kayu. Banyak tempat duduk


semacam itu di  sepanjang pantai. Di bawah


pepohonan yang rindang. Melindungi dari matahari.


“ Mau es cream?”


“ Boleh.” Kirana meraih es cream yang disodorkan Basma. “ Aku beli


rujak buah tadi, kamu mau?” Sambil membuka bungkusan es cream. “ Tapi makan es


creamnya dulu deh, nanti mencair.”


Hah! Ternyata Basma lumayan ramah.


Niat mau kabur akhirnya malah duduk berdua menikmati es cream.


Basma mengiyakan, lalu mereka pun menikmati es cream tanpa bicara. Mata


mereka berlarian melihat lalu lalang orang atau deburan ombak yang menggulung


anak-anak di bibir pantai. Bukannya takut mereka malah lari-lari mengejar.


Orangtua mereka yang berteriak-teriak.


“ Kak Kirana ke sini sama siapa? Sama Mas Haikal.” Setelah separuh es


cream tandas, barulah terdengar pembicaraan.


“ Nggak, aku ikut kakakku yang


lagi bulan madu.”


“ Haaa, bohong!” Basma tergelak, benar kan dia tidak seaneh itu mengikuti


Mbak Key dan Kak Bian  yang lagi bulan madu, ada orang yang


sama persis di depannya sekarang.


“ Eh kenapa kok bohong.” Mengeryit. Reaksi Basma benar-benar diluar dugaan Kirana. Imej cool dan dingin Basma seperti langsung menguap begitu saja.


“ Soalnya aku juga ikut kakakku yang sedang berbulan madu.” Memasukan suapan terakhir es cream ke mulut.


Sekarang giliran Kirana yang tidak percaya.


“ Aku merengek pada ayah supaya dizinkan ikut, akhirnya ayah dan ibuku


juga ikut. Jadinya liburan deh bukan bulan madu.”


Kirana menoleh,memperhatikan dengan jelas raut wajah Basma. Seperti


menemukan sesuatu yang asing. Istilah merengek keluar dari mulut anak secuek


Basma pikirnya.


Ternyata dia imut juga ya. Imejnya selama ini yang aku tahu dia cool dan


agak jutek.


“ Aaaa kalau saja ada Rian pasti tambah seru. Aku jadi punya teman.” Mengeluarkan hp, seperti mau menelfon Rian saat ini juga. Satu-satunya teman yang sudah tahu rahasianya.


“ Benar, kalau ada Arania pasti seru.”


“ Soalnya mereka semua pada bermesraan aja!” Lagi-lagi mengucapkan kalimat


yang sama membuat keduanya tertawa.


 Kirana menunjuk tenda dikejauhan.“ Lihat, itu ibu dan ayahku, Itu ibu mertua dan ayah mertua kakakku. Dan


itu yang lagi peluk-peluk manja kayak istrinya mau diambil orang, itu abang iparku.


Hihi, tapi mereka benar-benar mengemaskan,”


Basma memperhatikan yang ditunjuk Kirana, benar, seperti ada bunga-bunga berbentuk hati keluar dari tenda itu.


“ Gimana kalau Rian dan Kak Aran kita panggil kemari. Nanti kita bisa


main berempat, biarin aja mereka yang lagi dimabuk asmara.” Mendadak ide luar biasa itu muncul.


“ Apa?”


Hah! Kamu ngomong apa si Bas.Ini kan di luar kota, beda provinsi dan parahnya beda pulau juga, memang


nggak mahal apa.


Kirana lagi-lagi hanya melihat apa yang dilakukan Basma. Dia benar-benar


menelfon seseorang. Tapi Kirana belum seratus persen percaya kalau benar-benar


menelfon orang untuk membelikan tiket Rian dan Aran.


“ Paman, bisa tolong belikan tiket untuk teman-temanku.” Diam sebentar.


“ Ia, aku kirim nanti nama dan alamatnya ya.” Menoleh pada kirana. “ Sudah


beres.”


“ Haha,kamu bercanda kan?”


Memang kamu pikir kita lagi mau janjian di pasar!


“ Nggak, aku serius. Besok Rian dan Kak Aran menyusul, kita main sampai


puas di sini.”


Hah serius! Ah, dia kan memang punya pekerjaan sebagai model ya uang


jajannya pasti banyak.


Tidak mau ambil pusing, Kirana membuka bungkusan rujak buah. Lalu mulai


menikmatinya. Basma juga mengikuti tanpa  ditawari. Mengunyah menguyah sambil melihat laut.


Ya Tuhan ternyata dia imut juga ya.


Basma menyodorkan hp di depan wajah Kirana.


“ Apa?”


“ Simpan nomor Kak Kirana.”


“ Kenapa?”


“ Ayo kita berteman.”


“ Ahhh, baiklah.” Meraih hp Basma. Memasukan no hpnya. “ Ayo follow


social media kamu juga ya.”


Tangan Basma berhenti, lalu dia menoleh pada Kirana.


“ Tapi Kak Kirana jangan kaget ya kalau liat social mediaku?”


“ Kenapa? Haha, ia si. Disini Basma beda sama yang lagi ada di depanku." Membandingkan foto-foto yang ada di hp dengan aslinya. " Basma yang imejnya cool dan dingin ternyata bisa merengek imut


minta ikut bulan madu kakak perempuannya. Haha, tuh kan, kamu menunjukan senyum


yang asing lagi. Yang selama ini nggak pernah aku lihat.”


“ Ah, aku hanya menunjukannya pada orang-orang yang aku sukai.” Kirana


belum mencerna seutuhnya kata-kata Basma. Ketika sebuah panggilan namanya


terdengar.


“ Ki, mana rujaknya kok lama banget.” Seorang gadis mungil berkerudung


biru muncul, di sampingnya laki-laki berkulit putih dengan celana pendek


mengekor.


“ Kamu malah kencan ya.” Tuding si laki-laki.


“ Apa si Bang, kencan apaan. Maaf Kak, ini.” Kirana menyodorkan satu plastik


rujak buah. “ Kenalin ini temennya Rian Kak, adek teman sekolahku lho Arania.


Yang pernah ketemu sama Kak Aya waktu nonton.”


“ Ah ia, apa kabar?”


“ Baik Kak.”


“ Kak! Siapa yang kamu panggil Kak, Nak.” Laki-laki bercelana pendek


yang dipanggil Kirana Abang merentangkan tangan di depan istrinya. “ Panggil


dia Bu Aya, dan aku suaminya Bu Aya.” Teman Kiraana berarti bocah SMU kan batin laki-laki itu. Trauma, istrinya pernah dapat surat cinta dari bocah SMU.


Basma binggung.


“Sudah Bas, iain aja.” Berbisik di telinga Basma. “ Dia abang iparku,


bucin istrinya level fandom bucin sama idolnya.”


Kamu ngomong apa si Kak Kirana.


Basma yang binggung, mangut-mangut aja.


“ Ia suaminya Bu aya, salam kenal Bu Aya. Saya Basma temannya Kak


Kirana.”


Wanita yang dipanggil Kak Aya itu cuma geleng kepala melihat kelakuan


suaminya.


“ Sudah Ren, ayo makan rujak aja.”


“ Kakak, ayo balapan. Yang kalah sampai vila, dapat pijitan


sepuasnya  nanti malam.” Lari duluan


meninggalkan gadis berkerudung itu. Yang sepertinya terlihat malu.


“ Kak Aya ke sana dulu ya Ki, ayo Basma.”


“ Ia Bu Aya.” Mode patuh memanggil.


“ Kak Kirana, kayaknya abang iparmu tadi salah deh, masak yang kalah


yang dapat hadiah.”


“ Haha, sudah Bas, jangan dipikirkan. Memang gitu cintanya abang iparku


sama Kak Aya.”


Mereka masih melihat suami istri kejar-kejaran sambil tertawa. Yang laki-laki berhenti tertawa saat Bu Aya pura-pura jatuh. Akhirnya laki-laki itu balik kembali, menggendong Bu Aya.


Hah, jadi kelakuan Kak Bian sama Mbak Key itu masih terhitung normal ya.


***


Langit malam yang cerah,bintang-bintang berlomba satu sama lain menunjukan kelip cahayanya. Api ungun menyala. Api berpijar meliuk saat tertiup angin laut. Udara sejuk menuju dingin tidak membuat mereka berniat meninggalkan malam dan masuk ke vila. Kobaran api menghangatkan tubuh.


" Lihat kelakuanmu Kak, kenapa menyusul kami?"


Amanda di samping Anjas tertawa malu pada Key. Dia yang minta Kak Anjas datang karena kebetulan melakukan pemotretan di pulau ini. Tahu kalau ini juga tempat bulan madu Key.


" Kenapa si Bi, makin ramai kan makin seru. Ia kan Key."


Mereka mengobrol tentang banyak hal.


Bian merentangkan jaketnya, membungkus tubuh Key supaya hangat. Menempelkan pipi mereka satu sama lain. membisikan cinta yang hanya bisa di dengar keduanya.


lagi-lagi merasa jadi pemilik bumi.


" Manda, kemarilah." Amanda mendekat, Anjas meraih tangannya. "dingin kan." memasukan tangan Amanda ke saku jaketnya.  Tangan Amanda bergerak-gerak, membentur sesuatu yang keras. Matanya mengerjap kaget ketika mengeluarkanya dari saku jaket Anjas. '' Bukalah, mau aku pakaikan."


" Kak Anjas."


" Kau suka?"


Amanda menganguk-angukan kepalasenang, sambil memandang cincin di jari manisnya. Dia mendekatkan bibir ke telinga Anjas. " Nanti kalau sudah menikah, kita bulan madu berdua di sini. Hehe." Anjas mencium kepala Amanda yang menempel di dadanya.


Sementara di sudut lain, empat bocah sedang mengobrol dengan seru, sambil menikmati makanan yang dipanggang beberapa pelayan yang ikut di ajak berlibur. Mereka menulis rencana esok mau melakukan apa, makan di mana. Pokoknya seru-seruan berempat.


Di sudut yang lain sambil mengawasi anak-anaknya, Ibu dan Ayah itu saling menatap dengan hangat.


" Terimakasih Mas, sudah memberiku kesempatan kedua." Tangan mereka saling bersentuhan. Sekarang mereka melakukannya bukan hanya untuk dilihat orang lain.Namun karena mereka berdua hidup bersama untuk mendapatkan kebahagiaan. " Nanti, mau kan Mas antar ke kampung Jesi, aku ingin mengunjungi makan ibunya Basma."


kebahagiaan itu terlihat nyata di wajah Adiguna, karena Yunalah yang memintanya sendiri.


" Tentu saja, ayo pergi bertiga dengan Basma juga."


Tangan mereka terkait erat. Memandang anak-anak mereka yang sedang berbahagia. Yang satu sedang memeluk hangat istrinya. Yang satunya sedang tergelak penuh tawa sambil menikmati camilan bersama teman-temannya. Semoga hal baik ini akan berjalan seterusnya.


Bintang dilangit berkelip-kelip menjadi saksi kebahagian.


 


Key And Bian


_Tamat_