
Sementara di rumah Key. Key yang
masih membuat somai dengan Basma terlonjak, dikejutkan suara ponselnya. “ ya
ampun mba, keras sekali suara dering ponselmu.” Basma ikut terkejut.
“ Haha, biar kedengaran.” Key
bangun dari duduk, tangannya masih belepotan. Melongok layar ponselnya. Kak
Bian memanggil. Buru-buru ia mencuci tangan sekenanya. Tangannya masil menempel
sisa-sisa adonan dan juga air.
“ lap dulu tangan mu mba.” Basma melemparkan lap. Cepat key mengelap tangannya.
“ Hallo kak.” Diam beberapa saat.
Lalu wajahnya terkejut. “ Baiklah, key keluar. Tunggu sebentar ya kak!”
Ah, bagaimana ini. Bagaimana
penampilanku, ah badanku juga bau adonan somai. Mandi-mandi, tapi nanti kelamaan.
Key berlari ke kamar, balik lagi ke dapur, mencuci tangannya lebih bersih. Ia
berlari lagi ke kamar, keluar sudah berganti pakaian. “ Bas gimana penampian
mba”
“ Sini mba, ada sesuatu dipipimu.”
Key mendekati Basma dan memajukan wajahnya. Basma mengusap pipi key. “ Nah sudah
bersih, cantik kok.”
Wajah Key bersemu. “ Aku keluar sebentar ya.”
“ Ia.” Basma cekikikan saat Key sudah keluar dari pintu rumah.
Key berlari menyusuri gang, saat
sudah mau sampai di depan mulut gang ia berhenti. Menenangkan nafasnya, sambil
merapikan rambutnya. Ia bisa melihat mobil Bian terparkir di pinggir jalan.
Diapun berjalan cepat mendekat. Kaca jendela terbuka. Bian tidak mematikan
mesin mobilnya. “ Masuklah!” ah apa kak bian masih marah ya. Wajahnya masih
terlihat masam dan dingin seperti dulu. Key membuka pintu dan masuk ke dalam
mobil. Dia mencoba menerka-nerka bagaimana suasana hati laki-laki di
hadapannya. Tapi tetap, dia tidak berhasil menyimpulkan apa-apa. Bian masih
diam, sambil memegang setir mobil. Key akhirnya yang memulai bicara.
“ Maaf kak.” Key meremas tangannya.
Bian menoleh dan memperhatikannya. Dari kepala sampai tangannya. Senyum samar
dibibirnya. “ Key baru baca pesan kak Bian tadi, soalnya kebiasaan Key
jarang buka hp kalau pagi. Biasanya sibuk masak sama mempersiapkan dagangan.”
Ia memberikan alasan sama seperti yang ia ketik di pesannya tadi. Bian
mendekatkan wajahnya. Sambil tangannya menyentuh pipi Key.
“ Eh.” Refleks Key menepis tangan itu. Tapi malah ia yang terkejut dengan reaksi spontannya barusan. “ Maaf kak, Key hanya terkejut, tidak bermaksud.” Key menggengam tangan Bian dan
menempelkan tangan itu dipipinya.
Bian tersenyum sebentar, lalu
tertawa terbahak-bahak. Key jadi binggung sendiri. “ belum selesai ya buat
somainya?” Bian mengambil selembar tisyu, lalu membersihkan pipi key. “ kenapa
adonan somai sampai menempel di pipimu.”
“ Apa!” panik jadinya Key,
bercampur malu. Ia sudah berfikir macam-macam tadi. Diambilnya tisu beberapa lembar, lalu ia
melap sendiri wajahnya. Awas ya kamu Bas. Tadikan Basma sengaja menempelkan
adonan di pipinya. “ Sudah kak, berhenti tertawa.”
Bian masih tersenyum menahan tawa, sampai kepalanya tertunduk di setir
mobil. Ia memiringkan kepala masih sambil tersenyum. “ Apa aku boleh melakukan
lebih dari itu?”
“ Apa?” masih panik sendiri.
“ Haha, lebih dari menyentuh pipimu. Yang kau pikirkan tadi.”
Tangan Key memukul bahu Bian keras.
“ Berhentilah tertawa, itu memalukan sekali.” Key menutup wajahnya merasa
geram. Beberapa saat Bian masih berusaha menguasai diri. Sisa tawanya masih
terdengar.
“ Sudah makan?” tanyanya lagi.
Key yang masih kesal hanya
cemberut. Bian lalu menyenggol pipi key, tempat di mana tadi noda somai
menempel. Key mau tidak mau tersenyum juga.
“ Kak Bian mau makan di rumah, mau
makan nasi kare jepang.” Masakan itu cukup cepat dibuat pikirnya, walaupun yang
ia makan sarapan tadi sudah habis.
“ Apa adikmu ada dirumah?” wajah
sombong itu melintas dipikiran Bian. seseorang yang secara terbuka menunjukan ketidak sukaannya.
“ Ialah kak, sebenarnya koki yang
membuat somai itu Basma, Key hanya bantuin aja nyetak-nyetak sama kasih toping.
Kalau urusan adonan bahan itu Basma yang buat.” Bian memandang tidak percaya.
Bocah kelas satu smu sombong itu. Yang menyuruhnya pergi dari kehidupan key. “benar kak.” Key menyangkat dua jarinya. “ sebenarnya makan malam yang sering
kakak makan juga kadang-kadang Bas yang masak, masakan dia jauh lebih enak
dariku.”
Ahhh, tambah kesal saja Bian
mendengarnya. “ menyebalkan sekali mendengarnya.” Katanya kemudian. Bian
merapikan rambut Key ke belakang telinga. “ memikirkannya dia bersamamu
sepanjang waktu saja membuatku marah.”
“ Apa sih kak, Basmakan adiku.”
“ Tetap saja diakan laki-laki.”
Bian menyahut. Ada aroma cemburu di wajahnya. Mulutnya manyun. Key mengengam
tangan Bian erat.
“ Basma adalah adik kecilku kak, ku
mohon, sayangi dia seperti kau menyanyangiku.” Key bicara pelan, dengan nada
serius, sambil mengengam tangan Bian. Bian melepaskan tangan key, lalu ia ganti
yang memegang erat tangan key kuat. Ingin mengatakan pada key, bahwa kau
miliku. Aku ingin memilikimu sendirian. Aku cemburu, walaupun dia adalah
adikmu. Jadi bisakah bersikap hati-hati jika menyebut nama adikmu, karena aku
benar-benar cemburu.
“ Baiklah.” Tapi itu yang terucap dibibirnya. “ aku benar-benar lapar, temani aku makan, tapi tidak dirumahmu.”
Key ingin bertanya kenapa, apa karena ada Basma. “ aku ingin makan bakso.” Kata
Bian lagi, sebelum Key membuka mulutnya.
“ Baiklah. Kita makan bakso.”
Bian mengambil topi di laci mobil,
lalu melaju. Menuju warung bakso. Key menyebutkan sebuah nama warung bakso
langganannya. Akhirnya Bian setuju untuk makan di sana. Hanya sebuah ruko
berlantai dua. Tapi tempat ini cukup ramai.
“ Kita di atas aja kak, biar gak
terlalu ramai. Kak Bian duluan ya, biar Key yang pesan.” Memang hanya ada dua
pelanggan dilantai atas, Bian memilih duduk lesehan di pojokan. Ada setiap
sekad diantara meja. Memberi privasi bagi pelanggannya. Dia menunggu sampai Key
juga naik ke atas.
“ Key!” dia melambaikan tangannya,
lalu key mendekat. “ Duduklah.” Setelah Key duduk, Bian menarik tangan Key
untuk duduk lebih dekat dengannya. Key mengeser duduknya sampai tubuh mereka
menempel. “ Kau sering makan disini?” Bian melepaskan topinya.
“ Cukup sering kak, Basma suka
makan bakso.” Lagi-lagi nama itu yang diingat. Bian mendengus, namun tidak di
sadari oleh key. Lalu ia menyeluarkan ponselnya.
“ Aku belum punya fotomu.” Bian
sudah merangkul bahu key. Mendekatkan wajah mereka. “ Satu, dua tiga.” Ah,
bagaimana dia bisa terlihat begitu imut. Masih memandangi foto mereka berdua. “
Aku kirimkan padamu nanti ya.”
“ Ehm, baiklah.” Ragu Key mencoba
memberi jarak antara mereka. Karena posisi Bian begitu dekat. Ia cukup lega,
karena Bian tidak merespon saat ia mencoba mengeser tubuhnya. “ ehm, boleh aku
bertanya kak?”
“ Kenapa?” Bian lagi-lagi
menyelipkan rambut Key ke belakang telinga. Lalu dengan jarinya menusuk-nusuk
pipi Key lembut. Key berusaha untuk tidak merasa aneh dengan situasi ini.
Walaupun setiap kali mereka bersentuhan, dadanya masih berdebar kencang.
Sekarang tangan Bian beralih ke hidung Key. Kenapa gadis ini imut sekali sih,
dadaku hampir meledak di buatnya. Begitu isi pikiran Bian.
Key ikut menyentuh pipi Bian,
laki-laki itu terkejut. “ ah maaf kak.” Kenapa sih reaksinya berlebihan
membuatku serba salah. Key membatin, sementara Bian terpingkal menahan tawa. “
berhenti tertawa kak. Aku ingin menayakan hal serius tadi.”
“ Baiklah, baiklah.” Sambil memakai
tangan kanannya sebagai bantalan kepala, dia tiduran dimeja. Bian terus tersenyum. “
apa yang mau kau tanyakan.”
“ Apa kak Bian sudah bicara dengan
Amanda?” Key berusaha menemukan perubahan reaksi di wajah Bian. Sia-sia. Garis
wajah itu hanya datar, memang terlihat malas untuk membicarakannya. Namun key
tidak menemukan jawaban apakah masalahnya dengan Amanda sudah selesai.
Bian mengangkat kepalanya. “ sudah.” Hanya itu jawabannya saat key menunggu penjelasan lain, sepertinya Bian tak mau lagi bicara apa-apa. Seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.
“ Terimakasih mas.” Key mengeser
mangkok milik Bian agar berada di hadapannya. Dan juga segelas jus ke samping
mangkok.
“ Sama-sama, silahkan menikmati.” Pelayan itu pergi.
“ Lalu bagaimana dengan Amanda?”
“ Bagaimana apanya?” Bian mengambil
sendok dan mengaduk-aduk kuah baksonya. Mengambil kuahnya, mencoba rasanya. “
hemm, enak juga.” Katanya. Syukurlah kata Key dalam hati. Eh, bukan, bukan
pertanyaannya tadi belum dijawab.
“ Bagaimana reaksi Amanda kak? Dia tidak mungkin diam sajakan.”
Bian hanya menjawab hemm, sambil
pura-pura berfikir. Lalu menikmati lagi baksonya. “ Kau mau aku menjelaskan
apa? Reaksinya? Atau apa yang dia katakan tentangmu.”
“ Apa! Kak Bian bilang kalau aku yang...” tidak dilanjutkan, key sendiri bingung tidak tahu kata apa yang pas ia
pilih untuk mewakilkan dirinya. Mewakili posisinya saat ini.
“ Yang apa? Makanlah!”
“ kak.....”
“ Dia bisa menerima semuanya dengan
baik. Tidak perlu ada yang kau kuatirkan key, sedari awal dia juga tahu, bahwa
pertunangan kami hanyalaah sebuah ikatan bisnis. Jadi jangan terlalu terbebani
dengan semuanya. Secara resmi pertunangan akan dibatalkan bulan depan.”
“ Bulan depan kak?”
Bian meletakan sendoknya. Meraih
tangan key. “ percayalah padaku, percayalah pada perasaanku padamu. Apa kau
sudah lupa itu.”
Ah, key jadi merasa bersalah
lagikan. Dia menganguk, menguatkan hati. Dia sendiri yang menerima tangan Bian
waktu itu. Tentu, dia akan percaya pada laki-laki yang mengengam tangaannya
saat ini. Percaya pada perasaannya.
“ Makanlah...”
“ Baik. Selamat makan.”
Sampai juga mobil di tepi jalan dekat
gang masuk rumah key. “ Terimakasih sudah menemaniku.” Bian menyentuh kepala key lembut.
“ Sama-sama kak.” Key keluar dari
dalam mobil. Membungkuk di kaca. “ Terimakasih untuk baksonya juga.” Key
mengangkat bungkusan plastik, bakso untuk Basma. “ kak Bian kekantor lagi.”
Bian menganguk. “ Aku akan
menemuimu di mini market nanti. Pulang dan istirahatlah.”
“ Baik. Sampai jumpa kak.”
Key masih berdiri di tepi jalan,
sampai mobil Bian menghilang tersalip dengan mobil-mobil yang lainnya. Kemudian
ia berjalan pulang kerumah. Ah, apasih tadi. Wajahnya kembali bersemu merah
mengingat beberapa momen yang tadi terjadi. Lalu pada satu nama, maaf Amanda.
Lirih ia menyebut nama itu, lalu terus melangkah membawa plastik berisi bakso
untuk Basma.
BERSAMBUNG...............