
Kala itu, disuatu malam di kediaman Adiguna.
Adiguna duduk beradapaan dengan
Yuna. Kepala pelayan, dan seorang pelayan wanita yang dekat dengan Yuna berdiri cemas di ujung
ruangan. Biasanya tidak pernah berakhir dengan baik, kalau kedua penghuni rumah
sudah duduk saling berhadapan begitu. Dengan tertunduk, namun engan Yuna tidak
mau menatap suaminya.
Rencana hidupnya sudah hancur, Bian sudah tahu semuanya. Sekarang
tinggal akhir cerita, begitulah akhirnya dia menyerah. Perceraian seperti ancaman
suaminya sudah terlihat di ujung matanya. Dia tak mau memohon lagi, untuk apa?
Toh anaknya sudah tahu semua. Laki-laki di hadapannya memang bukan suami yang
baik untuknya. Namun dia adalah ayah yang layak untuk dibanggakan putranya. Itu fakta yang benar walaupun ia kaburkan kebenaran itu di mata Bian. Pada akhirnya sang waktu menunjukannya pada Bian. Kasih sayang seorang ayah yang ia tutupi dengan airmata.
“ Yuna….”
Wanita itu mengangkat kepalanya, tatapan mata mereka bertemu. Agak
terkejut ketika melihat sorot mata Adiguna yang melunak. Jauh dari pandangan
yang biasanyaa dia dapatkan. Dulu, sorot mata itu yang ia lihat saat suaminya
bersama Jesika, atau saat dari kejauhaan melihat Bian. Anak yang ia sayangi
namun tidak bisa ia raih dalam dekapannya.
“ Apa kau mau memperbaiki semuanya, demi Bian dan hidup yang lebih baik.”
Apa maksudnya, bukankah kau mau menceraikanku.
“ Aku yang salah padamu, seharusnya aku bersikap baik padamu. Walaupun
Jesi adalah wanita yang aku cintai, seharusnya aku memperlakukanmu dengan lebih
baik. Kau ibu dari anakku.” Adiguna bangun dari duduk. Dua pelayan di sudut
ruangan tegang. Mereka melihat dengan jelas, namun pembicaraan keduanya samar
mampir di telinga. Mereka terperanjak kaget saat Adiguna duduk bersimpuh
di lantai di hadapan Yuna. Meraih tangan wanita itu. “ Maafkan aku Yuna.”
Adiguna mengakui semua kesalahannya tanpa sedikit pun memberi alasan.
Tubuh Yuna bergetar, airmatanya jatuh satu persatu, menganak sungai.
Hatinya sama sekali belum mempercayai, Kalau laki-laki yang sedang mengengam tangannya
ini adalah laki-laki yang sama. Semua kata-kata yang terucap tentang kepedihan
berumah tangga yang harus ia rasakan selama ini. Tentang kebencian melihat
suaminya hanya tersenyum saat mengandeng wanita lain.
“ Maukah kau memperbaiki semuanya denganku lagi.”
Yuna masih sesengukan.
“ Ayo kita menikah lagi, maukah kau menjadi ibu dari kedua anak-anakku.”
Yuna bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena tangisnya
semakin mengeras. Apa ini perasaan bahagia itu. Apa ini yang disebut merasa dicintai.
Hanya dengan digengam tangannya saja. Hanya dengan mendengar suara lembut dan
hangat, hanya dengan sorot mata menenangkan semua kebencian di hatinya untuk
Jesi seakan lumer. Saat Adiguna menyebut nama anaknya selain Bian bahkan tak ada rasa sesak lagi di dadanya.
“ Jadilah istriku yang sebenarnya dan ibu dari anak-anakku. Bian dan
Basma.”
Huaaa, tangis Yuna pecah.
Untuk pertama kalinya dia menangis sesengukan di dada suaminya.
***
Kembali ke hari ini.
Tidak ada yang terlihat mewah. Rumah Adiguna pun tidak dihias dengan
ornament-ornamen apa pun. Hanya sebuah acara sederhana yang dihadiri beberapa
orang saja. Keluarga Yuna, yang diwakili kakak laki-lakinya sebagai wali.
Penghulu. Keluarga Anjas. Serta dua saksi pernikahan. Acara akad nikah pun
berlangsung dengan cepat. Temaran malam sudah menyambut ketika orang-orang dari
kantor urusan agama itu meinggalkan tempat. Menyimpan kejadian ini sebagai
rahasia diantara mereka saja.
Semua menikmati makan malam dengan hangat. Para orangtua mengobrol,
Basma tertahan di samping Adiguna. Duduk dengan canggung diapit ayah dan ibu
tirinya. Yang sesekali tersenyum hangat padanya. Walaupun terlihat masih kikuk
namun senyum kebahagiaan jelas terpancar dari bibirnya.
Seperti itulah pesta kecil, menyambut keuarga barunya.
Di ruang depan.
“ Key, hari ini kamu terlihat cantik sekali.” Anjas menyerahkan sepiring
makanan berisi aneka cake ke tangan Key. “ Aku pikir Bian akan merengek pada
ketua untuk minta menikahimu hari ini.” Duduk disamping Bian yang masih
menempel seperti kertas tertempel lem pada Key. Sambil tertawa cengegesan.
Tidak perduli sorot mata Bian yang menganggapnya hanya penggangu tidak tahu
diri.
“ Kak, bisa tidak si kau melihat situasi. Sudah sana!” Mendorong Anjas
menjauh.
Aku mau berduaan dengan Key, pergi sana!
“ Apa? Ini kan sofa masih lebar.”
Lagi-lagi tanpa dosa menjadi orang ketiga.
“ Kak Anjas kenapa tidak mengajak Amanda.” Key langsung menoleh pada
Bian yang mengeser duduk mendengarnya menyebut Amanda.
“ Apa? Aku tidak ada rasa apa pun saat kau menyebut namanya. Kau tahukan
aku memang tidak pernah menyukainya. Jadi jangan merasa terbebani kalau kau mau
menyebut nama wanita itu.”
“ Hei, Amanda, namanya Amanda!” menyikut lengan Bian. Yang di protes
tidak perduli sama sekali. Bodo amat begitu arti seringai Bian. “ Ini kan acara
pribadi Key, aku bisa ada di sini juga karena orangtuaku.” Menunjuk obrolan
para orangtua di ruangan sebelah. “ Apa kita Tarik Basma ke sini saja ya, haha,
lihat dia harus meladeni para orangtua yang penasaran itu.”
Bian menahan tangan Anjas, tersenyum dengan jahat. “ Biarkan saja dia
Kak, dia kan harus mengakrabkan diri dengan ayah dan ibu.”
Dasar! Aku yakin senyummu itu tidak berfikir begitu. Kau sedang
mengerjai adikmu kan!
“ Key, aku mau itu.” Menunjuk stroberi di atas cake sambil membuka mulut.
“ Dih apaan si, manja amat ambil sendiri.” Anjas yang sewot.
“ Bodo amat! Minggir sana kamu Kak, menganggu saja.”
Bian tertawa senang saat Key menyuapkan stoberi itu ke mulutnya.
Menjulurkan lidah seperti bocah yang sudah menang permainan adu lari dari temannya
yang hanya melihat dengan terengah-engah sambil menahan kesal.
Anjas tertawa.
Aku senang Bi, melihatmu yang sekarang. Semoga kedepan walaupun di
hadapan orang lain, kau bisa menunjukan senyum tulus dan perasaan bahagiamu.
Anjas jadi merindukan Amanda saat melihat kedua orang di depannya suap-suapan cake
sambil tertawa. Sudah berasa menjadi pemilik dunia. Dia Cuma dianggap pembatas
Aku kangen Amanda!
***
“ Ayah mau bicara apa? Kenapa serius sekali.”
Adiguna memanggil Key secara khusus ke dalam ruang kerjanya. Lem yang
melekat di tubuh Bian menyebabkan laki-laki itu sama sekali tidak membiarkan
Key beranjak dari dekatnya. Dia pun tidak mau, kalau apa yang mau dibicarakan
ayahnya sampai membuat hati Key tidak nyaman.
“ Bian, apa bisa ayah bicara berdua dengan Mbak Key sebentar.”
“ Tidak mau.” Cepat menjawab. “ Memang apa yang mau ayah bicarakan
sampai aku tidak boleh mendengar, jangan menutupi apa pun dariku Yah, atau aku
bisa salah paham dan membenci ayah lagi.”
“ Kak Bian.” Bian mendesah saat tangan Key menyentuh tangannya.
Lagi-lagi dia menunjukan kelemahannya di hadapan Key.
“ Baiklah, kamu bisa berada di sini,tapi ayah minta dengarkan dulu
sampai selesai baru kau bisa menyela nanti.”
Cih, mentang-mentang aku paling malas mendengarnya beralasan dia sudah
mewanti-wantiku duluan.
Bian duduk lagi di samping Key. Melingkarkan tangan di pinggang gadis
itu sambil menduga-duga apa yang ingin dikatakan ayahnya pada Key.
Apa tentang Basma?
“ Mbak Key? Maaf sebelumnya.”
“ Kenapa Paman?” Jadi Key yang merasa tidak nyaman, kenapa kalimat
pembukanya lagi-lagi harus permintaan maaf. Bukannya dia sudah meluruskan
semuanya waktu itu, apalagi yang perlu dimaafkan. Semuanya sudah saling
memaafkan dan mengiklaskan salah dan kealpaan yang pernah terjadi di masa lalu.
“ Apa Basma sudah menyampaikan tentang kepindahaannya ke rumah ini.”
Eh, akhirnya sampai pada pembicaraan ini juga. Beberapa kali Key
menyiapkan hatinya untuk menghadapi situasi semacam ini. Dia tahu, ini akan
sulit sekali. Dan dia belum berhasil meyakinkan kesiapan hatinya. Padahal dia
memang harus merelakan Basma.
“ Ayah!”
“ Tidak apa-apa Kak, cepat atau lambat kita memang harus membicarakan
ini. Bagaimanapun Basma harus kembali kepada keluarganya.”
“ Mbak Key juga keluarganya Basma.” Adiguna berujar pelan. “Sampai
kapanpun saya atau Adiguna Group tidak akan pernah bisa membalas kebaikan yang
sudah keluarga Mbak Keysha lakukan untuk Basma."
Key terlihat meremas tangan di pangkuannya. Bian melihatnya, lalu dia
mengangkat tubuhnya yang sedari tadi bersandar di sofa. Meraih tangan Key,
mengengamnya. Menunjukan dia akan baik-baik saja.
“ Aku akan menikahi Key sebelum Basma kembali pada Adiguna Group.”
Melihat ayahnya, lalu beralih pada Key yang langsung terkesiap kaget. “ Ayo
menikah Key, kau tidak akan sendirian karena ada aku.”
Key melirik Adiguna, yang tersenyum menang sambil menaikan jempol tangan
kanannya.
Hah! Apa paman sengaja melakukan ini untuk memprovokasi Kak Bian.
“ Ayah tidak keberatan kan?” Adiguna langsung menurunkan tangannya dan
memasang mode serius.
“ Ehm, kalau itu sudah menjadi keputusan kalian berdua tentu saja ayah
akan mendukung. Mbak Key juga tidak keberatan kan.”
Key mengganguk malu-malu.
“ Tapi sepertinya saya harus
minta maaf lagi.”
Bian melirik ayahnya. Mau apalagi pikirnya.
“ Setelah melepas Basma, mbak Key dapat anak saya yang satu lagi. Dan
sepertinya yang ini akan jauh merepotkan dibanding Basma.” Tertawa tidak
dibuat-buat. Ayah yang satu ini sedang bicara sejujurnya.
“ Ayah!”
“ Haha,” Wajah kembali ke mode serius. “ Jagalah Mbak Keysha dengan baik
Bian, cintai dia dengan baik. Sayangi dia dengan setulus hatimu. Seperti halnya
Mbak Keysha sudah melakukan banyak hal untuk Basma, saya sebagai ayah akan
melakukan yang terbaik untuk mendukung kalian. Ayo hidup sebagai keluarga yang
bahagia kedepannya. Saya akan selalu berdoa untuk Mbak Keysha.”
" Ia Ayah, Key adalah hadiah terindah dari Tuhan untukku." Mengusap Kepala Key Pelan. Sudah merona merah wajah malu Key. Bisa-bisanya mengatakan hal begituan di depan paman batinnya. " Aku akan mencintainya dan menjaganya."
Rasanya ruangan itu dipenuhi dengan kebahagiaan.
“ Paman…”
“ Ayah.”
Key dan Bian bicara bersamaan.
“ Kenapa Mbak Keysha duluan?” Melihat ke arah Key.
“ Tidak aku duluan.” Bian tidak mengalah. Meraih tangan Key dengan kedua
tangannya. Menciumnya dibawah tatapan ayahnya. “ Apa ayah bisa menyiapkan
pernikahan kami dalam waktu seminggu.”
“ Kak Bian!”
“ Ayo menikah denganku Key.” Membisikan sesuatu di telinga Key. Sementara Adiguna
terlihat penasaran apa yang dibisikan anaknya di telinga Key. “ Apa ayah bisa
menyiapkannya dalam waktu seminggu.”
“ Ayah bisa menyiapkannya dalam tiga hari.”
“ Ayah mau membuaat paman dan Kak Anjas pingsan.”
“ Ah benar, kalau begitu seminggu. Mbak Keysha tidak keberatankan
menunggu selama seminggu.”
“ Mau kubuat pesta perayaan seperti ulangtahun Grand Mall?” Melihat Key.
“ Tidak, ayah bisa menyiapkan yang lebih megah dari itu.” Adiguna berseru semangat.
Tunggu! Kalian ini lagi ngomongin apa si!
Key lupa kalau caranya hidup berbeda dengan cara Bian daan Adiguna
menjalani kehidupannya. Akhirnya obrolan mereka masih panjang tentang membahas
rencana pernikahan seperti apa yang Key inginkan.
Seminggu itu bukan waktu yang lama paman!
Key ingin berteriak begitu, ketika lagi-lagi Adiguna meminta Key
bersabar karena harus menyiapkan pesta pernikahan yang membutuhkan waktu
seminggu.
Begitulah takdir kehidupan ini berjalan, dalam rencana Tuhan yang indah.
Bersambung...
" Ayo hidup berdua denganku Key.Berikan Basma pada ayah,biar dia yang mengurusnya. Tidak,paman yang akan mengurusnya, ayahku tidak bisa apa-apa tanpa paman." Begitu yang dibisikan Bian di telinga Key.
Padahal Bian tanpa Kak Anjas juga gak bisa apa-apa ^_^