
Pulang berjualan somai.
Panas sekali batin Key. Saat ia memarkir foodtruck di halaman sambil
mengibaskan kerah bajunya. Rampung sudah jualan somai hari ini. Alhamdulillah
bisa pulang cepat, para pelanggan yang kangen dengan somainya dan tahu dia
sudah mulai berjualan kembali berdatangan. Key banyak sekali bersyukur para
pelanggan setianya tidak melupakan somainya.
Saat turun matanya melihat sepatu yang ada di depan pintu.
Lho Basma sudah pulang?
Adiknya dijemput Rian di Central Park tadi, Rian merengek minta ditemani
mencari hadiah ulang tahun mamanya. Walaupun terlihat uring-uringan karena
sebenarnya Basma mau membantu Key akhirnya Key yang turun tangan mendorong
Basma untuk pergi. Sambil tersenyum menenangkan kalau dia baik-baik saja.
Dia tidak mengunci pintu.
Key mendorong pintu yang berderik pelan, melihat separuh ruangan yang
bisa dijangkau dari pandangannya saat berdiri di depan pintu. Tidak
terlihat Basma di mana pun. Akhirnya dia masuk sambil mengucapkan salam dengan
suara pelan, berhenti sebelum menyelesaikan salam saat mendengar suara isak tertahan
Key langsung menuju kamar Basma, mendorong pintu dengan keras. Basma
yang sedang menelungkupkan wajah di bantal terkejut menoleh, dia tergagap
langsung berhenti menangis dan mengusap airmata yang masih tersisa.
“ Kenapa Bas?”
Mendekat, duduk di tempat tidur dengan kepanikan. Dia tidak sempat
menduga-duga kenapa, saat melihat lengan di atas siku Basma yang memar kebiruan.
“ Kenapa Bas?” Malah Key yang sudah mau menangis karena frustasi saat
yang ditanya malah sibuk menghapus airmata. Padahal sudah ketahuan menangis.
Key meraih tangan Basma menunjukan lengan yang memar. “ Apa perlu Mbak Key
bertanya sama Rian? Kamu pergi sama dia kan tadi.” Alternatif, mencari-cari hp
Basma dengan matanya. Menangkap tas yang dibawa Basma tadi.
Tangan Basma mencegah apa pun yang akan dilakukan Key.
“ Aku bertemu dengan ibunya Kak Bian Mbak.” Lirih menyesali
perbuatannya. “ Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku, saat melihat Ibu Kak
Bian tadi di mall.” Wanita cantik yang dilihatnya sedang berbelanja,
tertawa-tawa senang menikmati obrolan dengan teman di depannya. Rasanya saat
itu kemarahan Basma muncul mengingat isi surat ibunya.
Wanita yang sudah mendorong ibuku sampai pedarahan hebat masih hidup
dengan baik sampai hari ini. Itulah yang terlintas di kepala Basma saat itu.
Tubuh Basma gemetar menahan marah saat itu. Akhirnya dia mendekati
wanita itu dan mengatakan siapa dirinya.
“ Seharusnya aku tidak menyapanya tadi. Tapi aku marah Mbak melihatnya
tertawa-tawa seperti itu.”
Key cuma sanggup memeluk Basma. Saat adiknya menceritakan semua kejadian
di mall sambil terbata-bata. Memar di tangannya karena cengkraman tangan nyonya
Yuna. Ibu Kak Bian bahkan sempat menarik rambut dan mendorong Basma. Disertai
caci maki wanita itu pada ibunya.
Mendengar itu Key sudah tidak mampu lagi menahan kemarahannya.
***
“ Maaf Kak, lagi-lagi Key menyusahkan Kak Anjas.”
Key hanya mengatakan kalau dia mau ke rumah Tuan Adiguna, Anjas
mengatakan kalau dia mau bertemu ketua sebaiknya langsung ke perusahaan. Karena
jam seperti ini ketua pasti belum pulang. Tapi Key bersikeras tanpa penjelasan
untuk mengantar ke rumah.
Anjas bisa melihat tubuh Key yang gemetar.
“ Key kenapa?”
Key diam dan hanya menatap jendela. Sampai mereka berada di halaman
rumah Adiguna tidak ada sepatah kata pun terucap. Key sedang menahan marah dan
rasa geramnya. Bagaimana bisa, Nyonya Yuna melakukan hal diluar akal begitu
kepada Basma.
Seorang pelayan tergesa menghampiri, bertanya pada Anjas, laki-laki itu
mengangkat bahu dan menunjuk Key di sebelahnya.
“ Saya mau bertemu dengan Nyonya Yuna.”
Anjas langsung membelalak kaget. Kenapa ini? Kenapa tiba-tiba Key mau
bertemu dengan Nyonya Yuna. Anjas menarik tangan Key saat Yuna muncul dari
dalam. Wanita itu menyeryit penuh tanda tanya, kenapa sampai Key, wanita yang
disukai anaknya muncul di hadapannya tanpa pemberitahuan.
“ Kenapa kau ada di sini?”
“ Selamat sore Nyonya.” Anjas selangkah maju di depan Key, menyapa sopan.
Saat ia menoleh dan melihat wajah Key betapa kagetnya Anjas melihat ekpresi
wajah Key yang lain dari biasanya. Dingin menatap tajam pada Yuna.
Ada apa ini sebenarnya!
“ Key.”
“ Maaf Kak, bisa tinggalkan kami sebentar, saya mau bicara dengan Nyonya
Yuna.” Suara key masih terdengar ramah dengan senyum tipis yang dipaksakan saat
melihat Anjas.
hubungan kalian, sekarang kau bisa puas. Pergilah, aku tidak mau melihat
wajahmu.” Kata-kata pedas keluar dari mulut Yuna, menyayat harga diri Key. Tapi
gadis itu tidak bergeming. Setelah meyakinkan Anjas untuk pergi keluar dia
memilih berjalan masuk tanpa persetujuan Yuna.
“ Gadis kurang ajar! Siapa yang mengizinkanmu masuk.”
“ Saya ingin bicara Nyonya.”
Akhirnya Yuna duduk di sofa, Key menyusul duduk di hadapannya.
“ Baiklah, apa yang kau inginkan? Kau benar-benar tidak tahu malu ya karena Bian menyukaimu.” Percakapan tidak nyaman daan berusaha mengintimidasi lawan bicara.
“ Apa Nyonya pura-pura minta maaf di hadapan Kak Bian waktu itu?”
Pertanyan Key telak menghujam urat malu Yuna, dia lupa kalau dia pernah
berpura-pura baik pada gadis di depannya.
Sial!
“ Katakan apa yang kau inginkan dan segera keluar dari sini.” Mempertahankan harga diri, semakin terlihat ketus dari caranya bicara.
“ Saya datang kemari sekarang bukan karena kak Bian, tapi karena adik
saya.” Masih bicara dengan nada pelan. Tidak terlihat keraguan ketika bicara.
“ Adikmu, siapa yang perduli pada adikmu. Aku tidak mau tahu tentang adikmu.
Lagi pula hubunganmu dengan Bian belum benar-benar akan menuju kepernikahan
kenapa aku harus pusing tentang adikmu.”
Key menunjukan tatapan dingin itu lagi. Perasaan ibanya yang muncul pada
Yuna saat membaca surat May Sarah seketika lenyap.
Dia penyebab kematian orangtuamu Key. Begitu kelebatan kata-kata
memanasi hatinya. Jangan bersimpati padanya.
“ Apa Nyonya sudah tidak memiliki perasaan sama sekali?”
Yuna mulai terpancing, baginya kedatangan Key gadis di hadapannya tanpa
diundang saja sudah membuatnya kesal. Apalagi dibumbui tatapan menghina serta
kata-kata yang seenaknya yang keluar dari mulut gadis sepertinya.
“ Keluar! Aku tidak perlu pura-pura menyukai karena tidak ada Bian disini. Hentikan omong kosngmu.”
Key tidak terlihat mau mundur mengalah. Tubuh kecil itu duduk dengan percaya diri, sekalipun dia dihina oleh ibu dari laki-laki yang ia sukai. Saat ini dia datang demi adiknya.
“ Nyonya sudah membuat tangan adik saya memar, menarik rambut dan
mendorong adik saya. Mencaci makinya di depan umum karena sesuatu yang bahkan
dia tidak tahu apa itu.”
Deg. Yuna yang sudah bertriak garang jatuh terduduk di sofa. Memegang dadanya.
Pristiwa tadi yang terjadi di mall. Saat seorang anak laki-laki mendatanginya
mengaku sebagai anak Jesika. Bocah kecil itu yang tiba-tiba menyulut amarahnya saat
mengatakan, kenapa Nyonya mendorong ibu saya. Setelah membuat seorang wanita
kehilangan nyawa Anda bisa tertawa-tawa dan hidup dengan baik.
Ia yang spontan langsung mengamuk tidak tahu tempatnya tadi, seperti
mencakar Jesika, melampiaskan pada anaknya.
“ Bagaimana bisa kau.”
“ Mungkin ibu Basma bersalah kepada Anda nyonya, tapi Basma bukan tempat
yang pantas untuk menjadi tempat pelampiasan kemarahan Anda.”
“ Tentu saja dia bersalah! Dia anak Jesika! Dia harus membayar atas apa
yang ibunya lakukan padaku.” Memaki laki seperti yang ia lakukan tadi pada anak Jesika.
Key masih naik turun mengotrol emosinya.
“ Kalau begitu, bagaimana dengan orangtuaku. Ayah dan ibuku.”
“ Kenapa dengan orangtuamu.”
Key tergelak sinis. “ Kenapa? Apa nyonya cuma ingat kesalahan orang lain
pada Nyonya, tapi melupakan kesalahan Nyonya. Ayah dan ibuku kecelakaan mobil karena orang-orang suruhan
nyonya. Sekarang apa aku bisa juga menyalahkan Nyonya, tidak apa aku pun bisa
menyalahkan Kak Bian, karena kak Bian anak Anda. Pembunuh.”
Key langsung gemetar sendiri ketika melontarkan kata
terakhirnya.Sungguh, dia benar-benar tidak ada niatan mengatakannya. Tapi
seluruh akalnya serasa limbung saat mendengar pembelaan Yuna.
Key bangun dari duduk. Yuna reflek ikut berdiri. Pikiran wanita itu
menjadi kacau saat tahu siapa wanita yang ada di hadapannya ini. Korban
terbesar dari kekacauan yang dibuat orang-orang suruhannya.
“ Setidaknya merasa sedikit saja bersalah Nyonya, pada orangtuaku.
Karena Anda saya kehilangan mereka.”
“ Bukan aku…” Yuna terbata.
“ Bukan Nyonya, tapi orang-orang suruhan Nyonya!” Key berteriak sampai
suaranya rasanya sampai terdengar keluar. “ Seharusnya Nyonya minta maaf pada
saya bukannya membuat alasan.” Suara keras Key naik turun. Ada airmata yang
sudah menganak di sudut matanya.
“ Key!”
Bian berdiri mematung, hanya mendengar teriakan Key sebelum melihat
wanita yang ia rindukan sedang terlihat bertengkar dengan ibunya.
Key menoleh kaget saat namanya dipanggil. Terkejut mendapati Bian,
lebih-lebih saat Nyonya Yuna limbung jatuh bersandar di sofa.
“ Ibu!” Bian berlari mendapati ibunya melewati key. Mata mereka
bersitatap, tapi dia memilih bersama ibunya dan membiarkan Key melangkah
meninggalkan ruangan.
Bersambung....