Key And Bian

Key And Bian
Frezze Parfume (Part 2)



Saat semalam pulang  dari minimarket Key mendapati Basma sudah


terlelap, sambil memegangi ponsel dekat kepalanya di kamarnya. Kebiasaan buruk,


jangan ada yang mencontoh ya. Letakan hpmu jauh dari mu saat tidur.


Pagi ini Key bangun tidur dengan


segar, setelah sholat subuh dia sudah melihat Basma di dapur. Sedang memasak


sarapan. Sepertinya dia sudah cukup istirahat. Aromanya masakannya memenuhi


ruangan.


“ Selamat pagi Bas!”


Basma menolehkan kepala. “ Pagi


mba!” key duduk di kursi meja makan, mengambil minum. “ Semalam kak Bian


mengantarmu?”


“ Ia.” Bersemu merah wajahnya. Idih


orang sedang jatuh cinta itu terkadang berlebihan. “ oh ya Bas, bagaimana


tawaran buat membantu Tantri buat ujian nasional nanti. Mau ya?” Key teringat


permintaan mamanya Tantri tadi pagi, diapun harus memberi jawaban hari ini.


“ Gak mau.” Jawab Basma cepat.


Wajah Key langsung berubah muram. Dia sebenarnya tidak masalah kalau Basma


menolak, hanya merasa tidak enak saat menyampaikan kepada ibunya Tantri.


“ Kenapa? Memang kamu sudah lupa dengan pelajaran anak smp.”


“ Bukan itu mba.” Sambil masih mengaduk-aduk masakan. “ Tantri sudah menyatakan perasaannya sama aku beberapa minggu lalu.” Wajah Key shok. Apa! “ Itu alasannya Tantri aja supaya bisa


deket-deket, bukannya mau belajar. Biasa aja donk mba mukanya.” Basma melihat


ekspresi terkejut Key yang berlebihan.


“ Maksudnya bilang suka gitu?” masih gak percaya. “ Nembak kamu Bas? Trus kamu jawab apa?”


“ Aku sentil aja jidatnya. Anak kemarin sore sudah mau pacaran.” Basma berjalan membawa mangkok sayur dan lauk ke meja. Kembali lagi ke dapur untuk mengambil dua mangkok lagi. Sementara key


mengambil dua piring di rak.


“ Ya ampun, anak zaman sekarang ya.


Berani-berani. Apa dia gak malu kalau ketemu kamu Bas?” Sambil makan suapan pertama.


“ Mana ada dia malu mba, masih


nempel-nempel ia. Makanya dia minta ibunya buat minta aku ngajarin dia. Itukan


alasannya dia aja.” Menikmati makanan yang ia masak sendiri. “ mba bilang aja


aku sibuk.”


Hemm, walaupun merasa tidak enak,


namun mau bagaimana lagi. Key juga tidak bisa memaksa Basma.


“ ini.” Basma mengambil kartu nama


dari saku celananya, dan menyerahkannya pada key. Key membaca dengan jelas.


Lalu dia mendongakan kepala. “ semalam ada orang yang datang dari perusahaan


itu, menawariku untuk jadi model iklan parfume mereka.” Wajah Key menunjukan


kalau ia terguncang untuk kedua kalinya..


“ Semalam, dirumah ini?” kuatir berlebihan, dia masih mengangap adiknya itu bocah sepertinya.


“ Ia mba, aku terima  di teras, masih banyak tetangga yang lihat


juga. Reaksimu hanya untuk itu mba, yang lainnya tidak bereaksi.”


“ Apa? Frezze parfume itu merk parfume terkenal ya?” melihat kartu nama lagi.


“ ishh..” malas Basma menangapi. Lalu ia meneruskan makan.


“ Aaa, kamukan tahu aku gak pernah


beli parfume mahal Bas. Tapi tunggu, kamu ditawari apa tadi, buat jadi model


iklan. Tunggu, artinya itu apa? Nanti kamu ada di majalah, tv, sama katalog


produk mereaka?”


“ Tapi Bas, inikan berbeda dari kamu yang jadi model butik online.” Bagi key dunia itu, dunia gemerlap yang ia


saksikan dalam perayaan ulang tahun Grand Mall bukanlah masa depan yang ia desain


untuk Basma. Mimpinya tidak menjadikan Basma terkenal atau populer di seluruh


negri, namun pria sukses yang memiliki kehidupan normal layaknya orang-orang


yang bekerja di perusaan besar.


“ Aku juga tidak tertarik mba.”


Basma serius mengatakannya. Ia menghentikan makannya. “ frezze parfume itu


salah satu anak perusahaan Adiguna Grup mba.”


“ Apa!” tidak percaya, wajahnya


kembali terguncang untuk ketiga kalinya. “ memang mereka punya cabang usaha di


bidang apa saja?”


“ Tidak usah di tanya mba, tanganmu


tidak akan cukup menghitung. Bekerjasama dengan perusahaan sebesar itu tentu


tidak bisa main-mainkan, mungkin saja sekolahku juga akan terganggu nanti. Aku


juga tidak benar-benar tertarik dengan dunia ini.” Tiba-tiba Key meraih tangan


Basma. Basma terkejut namun berhasil menguasai diri.


“ Dunia semacam itu tidak pernah


ada dalam pikiran mba, tapi jawab dengan jujur, apa kamu juga berfikir seperti


yang mba pikirkan.” Perlahan Basma melepaskan tangan key. Pura-pura mengambil


sendok dan makan lagi. “ jawablah secara jujur.”


“ Bas tidak tertarik mba. Sungguh, kalau bukan Rian yang minta juga, aku pasti menolak jadi model di butik


online.”


Ntah kenapa Key bernafas lega.


“ Aku temani jualan somai ya mba,


sekalian mau janjian sama Rian nanti siang.” Key menganguk-anguk. Sudah lama


Basma tidak ikut jualan di Central Park. “ Tapi apa kamu tidak berfikir mba,


kok pristiwa semalam seperti di drama gitu ya. Ada orang asing tiba-tiba


menawarkan jadi model produk terkenal.”


Key ikut tertawa. Hidupnyapun


seakan sedang jadi tokoh utama sebuah melodrama. Apalagi saat ini, mungkin dia


sedang memainkan genre romantis yang manis. Keduanya terkejut saat suara ponsel


meraung-raung.


“ Kecilkan volume deringmu mba, buat orang serangan jantung.”


“ Haha..” Key berlari cepat mengambil ponselnya. “ hallo.” Sambil bicara ia menjatuhkan diri dikasur. “


Baru saja selesai makan, kak Bian sudah sarapan.” Diam.” Hemm, ia, nanti sudah


mulai dagang di Central Park. Hari ini Basma juga mau ikut, lagi liburankan


dia.” Diam. “Tidak kak, dia janjian sama temannya. Ia, ia, aku akan hati-hati.


Tidak melirik laki-laki lain. Ia, ia. Sampai jumpa. Daaa.” Key melemparkan


ponselnya. “ apa-apaan sih, mengelikan. Dia benar-benar posesif. Ah, tapi


kenapa kalau dia bersikap manja malah semakin manis. Haha.” Key tertawa geli


sendiri sambil berguling di selimut. Di raihnya ponselnya lagi. Foto layar depan


bukan lagi fotonya dengan Basma. Sudah berganti fotonya dengan Bian saat makan


bakso kemarin. Saat seseorang sedang di mabuk asmara, rasanya memang berbunga.


Wajah Key bersemu dan merona, membuatnya terlihat lebih cantik. Jauh lebih


cantik dari sebelumnya.


BERSAMBUNG................