
Setelah menghabiskan waktu dengan pikirannya sendiri di gelanggang olahraga, akhirnya Bian kembali kerumahnya. ia bahkan tidak berfikir untuk pergi kekantor hari ini.
Bian melemparkan handuk diatas
meja, mengambil sebotol air dikulkas, meraih ponselnya diatas meja, lalu
berjalan menuju ruang tamunya, menjatuhkan tubuh di sofa, lalu meneguk
minumannya. 30 panggilan tidak terjawab, dan pesan chat belum terbaca. Wajahnya
berubah malas saat sudah membuka hp. “ Memang apa yang aku harapkan.”
Dilemparkannya ponselnya ke atas kursi di sampingnya. Semua panggilan dan pesan
hanya dari Amanda. Gadis itu benar-benar kuatir dengan sikap Bian yang terkesan
kesal dan marah semalam. Walaupun Bian menjelaskan dengan bahasa yang baik,
bahwa dia hanya merasa lelah, namun Amanda menyadari ada kemarahan di wajah
tunangannya.
“ Kak apakah kamu pulang dengan selamat semalam.”
“ Bagaimana hari ini?”
“ kak Bian, kumohon, balaslah, dan katakan kamu baik-baik saja.”
Dan banyak lagi. Gadis itu
benar-benar pantang menyerah, sekalipun Bian tak pernah membuka pesan darinya.
Bian memejamkan matanya, sebenarnya
dia merasa lapar, namun dia benar-benar malas untuk memikirkan makan sekarang.
Hari ini dia bahkan tidak muncul di kantor, Anjaspun belum menghubunginya
setelah tadi pagi di gelanggang olahraga. Lagi-lagi wajah penjaga mini market
itu muncul lagi.
“ Apa? Kenapa memikirkanku? Apa
yang kau pikirkan tentangku CEO?” katanya sengit. Wajah polos dan manisnya berubah garang. “ kenapa? Apa
kamu pikir aku tidak akan berubah sikap setelah tahu kamu ternyata seorang CEO.
Dasar bodoh, bayar semua makan malammu selama ini, kalau kau punya uang kenapa
minta amakan gratisan hah!” Key melemparkan kotak makanannya yang berhamburan
ke wajah Bian.
Aaaaaa. Bian berteriak keras.
Terlonjak dari lamunan. “ Mas Bian kenapa?” pelayan Bian datang tergopoh-gopoh
dari luar, memandang tuannya yang masih memakai pakaian olah raga terjerembah
di lantai.
“ Tidak pak.” Merasa malu. “ Saya lapar pak.” Mengalihkan situasi.
“ Baik mas, saya siapkan makanan dulu, mas Bian sebaiknya mandi saja dulu.”
“ Ia pak.” Bian bangun dari lantai
dan menuju kamarnya. Dia mengelengkan kepalanya, mengusir bayangan Key dari
pikirannya.
Kamar mandi ini terletak dikamar
Bian. Berada di ruangan yang sama dengan lemari pakaiannya, masih menyatu
dengan kamar. Jadi ketika memasuki kamar, hanya akan bisa di temukan sebuah
kasur besar dan sebuah tv . Sebuah meja kerja dengan rak buku dan dokumen di
belakangnya. Walaupun di luar Bian memiliki ruang kerja, namun dia lebih senang
duduk di kamarnya ketika membaca laporan, atau berkas-berkas kantor yang ia
bawa pulang. Tidak ada lagi yang lain. Dan menempel pada didinding, ada sebuah
pintu yang warnanya sama dengan cat didnding, sengaja di samarkan, jika di
geser ke arah kanan maka akan terlihatlah sebuah ruangan besar yang dipakai
sebagai tempat menyimpan koleksi dan keperluan pribadinya. Deretan pakaian,
Koleksi jam tangannya, dasi, dan juga dompet mewah. Tidak terhitung nilainya.
Lalu di sudut semua koleksi mewah itu terdapat pintu lagi, saat terbuka, sebuah
kamar mandi yang seukuran kamar utama.
Bian melepaskan pakaiannya dan
berbaring di dalam bethtub, dia menghidupkan air. Air dingin segar mengalir
mengisi bak secara perlahan.
“ Apa yang kau inginkan dariku,
dengan menyamar menjadi laki-laki biasa. Ya, aku memang gadis polos dan lugu
yang bisa kau perdayai.” Key menyeringai marah. “ Dan pertunangan, ada apa
dengan semalam, kenapa kau bertunangan, jadi selama ini kau menganggapku apa.
Mainan untuk mengisi hari-hari kesepianmu. Ia.” Menatap penuh kebencian. Bian
merinding, wajah key yang biasanya ramah dan terlihat manis lenyap ntah kemana. Kini yang ada dihadapannya
bukanlah key yang selama ini dia kenal. “ Inilah aku yang sebenarnya. Kenapa?
Kau kecewa kalau ternyata aku bukan gadis polos dan juga manis. Kau kecewa, kau
kecewa. Aku juga sangat marah dan kecewa. Marah, marah, marah.”
Untuk ke dua kalinya Bian gelagapan.
Bayangan Key yang menghantuinya berubah menjadi wanita yang menyeramkan. Dia
bangun dari bethtub, meraih handu. Masih memakai handuk yang berbentuk piayama
dia keluar dari kamar, menuju ke dapur.
“ Sudah siap mas, silahkan”
“ Duduklah, temani aku makan.” Katanya pelan.
“ Baik.”
Mereka makan dalam diam. Pak wahyu
sudah terbiasa dengan ini, diapun menikmati makanannya. Sambil pikirannya
melayang ntah kemana. Begitu pula Bian. Yang terus mengelengkan kepalanya,
mengusir wajah galak key dari pikirannya. Bian memang cenderung pendiam untuk
beberapa situasi, terlebih jika suasana hatinya kurang baik. Setelah selesai
makan, pak wahyu membereskan meja, sementara Bian memilih duduk di sofa sambil
menyalakan tv. Berita pertunangannya belum berhenti di bahas tv. Beberapa kali
dia menganti chanel tetap sama saja. Dilemparkan remote saat tidak menemukan
acara bagus untuk dilihat. Dia memilih meraih ponselnya.
“ Satu jam lalu kau membuka pesanmu.” Dia menghapus chat dari Amanda tanpa membacanya. “ Apa yang harus kulakukan sekarang.” Wajahnya terlihat sedih, kesal dan bingung. “ apa aku
harus minta maaf, tapi aku benar-benar takut dengan reaksinya selanjutnya. “
sebenarnya yang Bian takutkan bukanlah kemarahan key, sejujurnya ia tidak
terlalu takut jika key marah, memandangngnya kesal atau berwajah galak seperti
bayangannya. Tapi, bagaimana jika sebaliknya yang terjadi.
Tiba-tiba bayangan gadis lain
melintas, seorang yang dulu sangat dekat dengan dirinya. Saat tahu dia ternyata
bukan orang biasa, gadis itu bukannya marah, malah memeluknya dengan bangga.
Dan akhirnya gadis itu tidak berbeda dengan wanita yang lainnya.
“ key seperti apa kamu akan bersikap padaku
sekarang”. Sejujurnya Bian merasa takut akan kenyataan dari jawaban
pertanyaannya barusan. Ia penasaran sekaligus takut.
Bersambung............