Key And Bian

Key And Bian
Obat



Bian memasuki minimarket. Wajahnya


yang tadi bersemangat berubah kecewa saat melihat yang duduk di belakang kasir  melayani pembeli seorang laki-laki. “Ke mana


anak itu?” Sambil membatin dia berjalan mendekat ke arah kasir.


“ Maaf, permisi Mas. Hari ini Key tidak bekerja?”


Hamzah memperhatikan penambilan Bian sebentar. “ Mas siapa ya?” Merasa aneh, kok ada yang menanyakan Key.


Kenapa juga aku musti menjelaskan


padanya, bergumam sendiri. “ Teman.” Jawabnya singkat.


“ Dia tadi kurang sehat, jadi saya suruh pulang ke rumah.”


“ Sakit apa?” tanyanya lagi.


“ Pusing-pusing  sama agak pucat, tapi dia bilang baik-baik saja, cuma butuh istirahat.”


“ Baiklah, makasih ya Mas.” Sopan Bian berterimakasih lalu pergi keluar. Dia berdiri sebentar di pinggir jalan,


menimbang apa yang akan dilakukannya sekarang. Ia mengeluarkan ponsel dan menelpon.


“ Pak Wahyu, bawa mobil jemput


di depan minimarket di sebrang gerbang.” Lalu ditutupnya telfon. “Sakit apa


sebenarnya Key. Aduh, kenapa juga kami belum bertukar no hp.” Dia menggerutu


sendiri. Sampai mobil menepi dan seseorang membuka kaca.


“ Mau ke mana Mas?”


Bian masuk di kursi belakang. “


Cari apotik dulu Pak?”


“ Kenapa? Mas Bian sakit?” khawatir


dari nada suaranya.


“ Tidak.”


“ Lalu siapa yang sakit.”


“ Sudah jalan saja cari apotik.”


Katanya kesal, selain kepada Anjas memang Pak Wahyu  banyak tahu bagaimana kepribadian Bian yang


sebenarnya. Selain sudah lama bekerja, Bian juga malas berpura-pura kepada


laki-laki yang sudah menghabiskan separuh hidupnya itu bersamanya.


“ Sudah sampai Mas, itu ada apotik.


Biar saya yang turun, Mas mau cari obat apa.” Pak Wahyu sudah mau membuka pintu


mobil.


“ Sudah biar saya saja.” Karena dia


sendiri binggung juga mau mencari obat apa.


Memasuki apotik ada dua orang yang


duduk sambil mengobrol, mereka berdiri saat Bian masuk. Yang satu terlihat


sangat merona melihat Bian. Bahkan seperti tersipu. Wajahnya jadi merah tanpa


alasan. “Cari obat apa Kak?” tanyanya ramah.


“ Pusing-pusing sama pucat.”


“ Biasanya minum obat apa.”


“ Tidak tahu.” Bian masih bisa


tersenyum manis, walaupun kesal. “Mba apoteker?” tanyanya, gadis itu mengangguk.


“ Obat yang dipakai perempuan yang wajahnya pucat sama pusing-pusing itu apa?”


apoteker itu malah terlihat bingung. Ya jelaslah, obat pusingkan  banyak, lha pucat juga sebabnya apa dulu.


“ Oh mungkin dia lagi datang bulan


Mas jadi wajahnya pucat.”


“ Ya udah, kasih semua merek obat


yang bisa buat pusing, pucat sama datang bulan.” Katanya akhirnya. Dua orang


wanita itu saling berpandangan bingung. Tapi akhirnya mengambil beberapa obat


di etalase. Obat-obatan yang bisa dibeli tanpa resep dokter tentunya.


“ Ini Kak.”


Bian membayar lalu beranjak pergi.


“ Ganteng-ganteng tapi aneh ya


Mba.” Wanita yang melayani Bian tadi menunjuk pelangganya yang baru saja berlalu.


“ Ia.” Yang satunya menimpali


kecewa.


Bian bisa mendengarnya, namun ia


cuek saja, tidak memperdulikan, kemudian ia berjalan menuju mobil.


“ Sudah Mas?”


“ Ia, putar arah ke tempat  jemput saya malam-malam kemarin.” Pak Wahyu


melajukan mobil sesuai perintah. Sampailah mereka di gang rumah Key. “Di sini


saja Pak, pergi ke mana terserah Pak Wahyu, nanti saya telfon.”


“ Mas Bian mau ke mana?”


“ Ke tempat teman.”


“ Saya tunggu di sini nggak


apa-apa kan Mas? Daripada nanti Mas Bian nunggu.”


“ Tidak, tidak,  Pak Wahyu pergi kemana terserah, asal jangan


di sini.” Bian bertingkah malah semakin membuat Pak  Wahyu curiga dan penasaran. Dia menatap Bian


lama. “ Sudah sana.” Bian memastikan mobil itu melaju, setelahnya baru ia masuk


ke dalam gang.


“ Lurus, lalu belok kanan. Tapi,


bagaimana kalau orang tuanya ada di rumah.” Bian maju mundur melangkah. Dia


sudah masuk ke dalam gang, tapi keluar lagi. “ Aaaa.” Akhirnya ia berjalan


masuk lagi. Dia sudah belok  ke kanan, ada


beberapa rumah di sana. Yang mana rumah yang dicarinya, untung saja dia melihat


foodtruck somai milik Key. Walaupun dia belum pernah melihat mobil itu secara


langsung, tapi seingatnya foto yang sempat viral kemarin itu sama persis dengan


ini. Diapun berjalan mendekat. Menarik nafas panjang di depan pintu.


Menenangkan diri, sebelum akhirnya mengetuk pintu walaupun akhirnya ia sesali


keputusannya. Ia akan beranjak pergi, saat pintu terbuka. Terlambat, gadis


penjaga kasir itu sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang terkejut.


“ Kak Bian!


“ Ah, apa kabar?” canggung. “


Kenapa tidak berangkat kerja.”


Key menyadari suasana canggung ini,


“ Masuk Kak.” Dia membuka pintu lebar. “ Ahh, Key cuma agak gak enak badan kak.


Jadi izin gak masuk hari ini.” Bian duduk di kursi, begitu pula Key. “ Apa tadi


ke toko kak.”


“ Hemm.” Bian mengedarkan


pandangannya ke dalam ruangan. Rumah yang sangat sederhana untuk ukuran


kehidupannya. Ada beberapa foto terpasang, foto keluarga mereka. “ Aku membawa


obat.”  Dia tersadar, lalu menyerahkan


tas yang terlihat agak besar pada Key.  Agak ragu Key meraihnya. Ukurannya terbilang kurang normal jika hanya obat isinya.


isinya, dia hanya terbengong-bengong. Ada banyak sekali botol obat, kapsul dan


ntah apalagi. Membayangkannya saja membuat dia semakin pusing. Key memang tidak


suka obat. Sampai sebesar ini, ia tidak bisa menelan obat-obatan. Kalaupun


terpaksa harus minum obat, obatnya harus berbentuk sirup kalau tidak


dihancurkan dulu pakai air baru diminum. Dan rasanya luar biasa pahit. “ Obat


semua Kak? Buat apa.”


“ Aaa, itu. Tadi temanmu di minimarket bilang kamu pusing-pusing sama pucat, aku minta semua jenis obat pusing


sama gejala pucat di apotik. Tidak tahu biasanya kamu minum yang mana.”


“ Ya ampun Kak. Tapi makasih


banyak.” Key tertawa geli sendiri. Menghitung-hitung berapa uang yang harus


dibayarkan untuk menebus semua obat itu. “ pasti habis banyak untuk menebus


obat-obat ini, dikembalikan boleh tidak ya Kak.”


“ Kenapa?”


“ Sayangkan uangnya Kak Bian. Aku


juga sebenarnya cuma pusing saja, istirahat tidur juga nanti sembuh kok. Jadi


tidak perlu minum obat.” Wajah Bian kecewa. “ Tapi terimakasih Kak, sudah mau


datang.” Key menyadari itu. Kini wajah Bian sedikit kembali tersenyum. “ Lain


kali bawa makanan aja ya Kak, dari pada obat, makanan enak jauh bisa membuat


badan sehat. Haha.


“ Apa artinya aku bisa datang lagi kemari.”


“ Tentu saja, kak Bian bisa datang


kapan saja.  Tapi sebenarnya aku juga


jarang ada di rumah Kak. Haha, pagi jualan somai, malamnya jaga minimarket.”


Canggung kembali.


“ Baiklah, sepertinya sudah malam,


dan kamu juga perlu istirahat kita bertemu lagi. Ehh.” Agak ragu Bian


menyerahkan ponselnya. “ Berikan nomermu.”


Ragu Key meraih ponsel milik Bian.


Ah, dia bahkan belum mahir mengunakannya. Tadi waktu coba di gerai ponsel


diapun diajari. “ Kakak saja yang simpan, Key nggak bisa masukin no pakai


ponsel beginian.”


Wajah Bian mengeryit tidak percaya. Jadi


benar yang dikatakan Anjas, bahwa gadis yang sempat viral fotonya di internet


ini bahkan tidak punya sosial media, smartphone juga tidak bisa pakai. Key


mendiktekan angka-angka yang panjang. Bian menuliskan dengan cepat. “ Aku


telfon ya?” ia mendengarkan sebentar, ada bunyi keras yang terdengar dari ruang


tengah.


“ Ia kak, sudah, nanti Key simpan


nomer Kak Bian.”


“ Baiklah, aku pulang ya.” Berdiri


pamit. Key pun ikut berdiri mengikuti langkahnya. “ Istirahatlah, tidak perlu


mengantar.”


“ Key antar sampai gang.” Katanya


kemudian.  Bian tidak bisa menolak, saat


Key sudah berjalan di sampingnya. Akhirnya merekapun berjalan berdampingan.


Semuanya diam, tengelam dalam pikiran masing-masing. Angin malam ini tidak


terlalu dingin, menemani mereka dalam belaian lembut. Sampai ke depan gang. Padahal jujur Bian ingin berjalan lebih lama lagi. “ Oh ya, kak bian


sudah makan belum?”


 “ Belum,” katanya cemberut.


“ Ya ampun, maaf ya Kak, Key sampai


lupa nawarinnya tadi. Atau mau balik lagi, makan di rumah.”


“ Haha, tidah usah Key. Bercanda


kok, tadi sebelum kemari, sudah makan. Ya udah, kamu jalan pulang duluan sana.”


“ Kakak mau naik angkot apa jalan


kaki?”


“ Jalan aja, nggak jauh ini. Sudah


sana, aku akan melihatmu sampai belokan.”


“ Baiklah, hati-hati di jalan ya


Kak. Sampai jumpa.”


Key berbalik dan melangkah, baru


beberapa langkah dia menengok. Bian masih berdiri ditempatnya tadi. Refleks Key


melambaikan tangan, Bian pun membalas. Lalu sampailah dia di belokan, untuk


terakhir kalinya dia menengok, berharap Bian masih ada di sana. Dan ternyata


benar, dia masih ada di sana. Tidak tahu kenapa dadanya menjadi berdetak


kencang, dan senyum merekah di bibir. Dia lalu berlari kerumahnya.


 


“ Pak wahyu kemana saja? Kenapa


lama?” Cukup lama Bian berdiri di pinggir jalan, menunggu di jemput sopirnya


tadi.


“ Maaf Mas, saya ketiduran.” Tadikan


sudah dibilang mau ditunngu, malah diusir kan.


“ Ya sudah, cari makan dulu. Saya


lapar.” Bian masuk kedalam mobil.


“ Ia Mas, mau makan apa?”


“ Bakso.”


“ Aduh Nas, kenapa bakso terus. “


“  Sudah cepat. Aku lapar.” Tidak perduli protes pak Wahyu tentang selera


makannya.


“ Ia Mas.”


Mobil melaju, keliling ke beberapa


tempat, mencari bakso, kedai nongkrong anak-anak muda akhirnya yang dituju.


Bian makan bakso dengan lahap. Sementara Pak Wahyu juga pura-pura menikmati


makannannya, padahal dia sebenarnya tidak terlalu suka bakso.


“ Besok saya masakin makan malam


saja ya Mas, jangan terlalu sering makan bakso.”


“ Ia, ia. ” Terus mengunyah


baksonya.


Bersambung.....


Bakso memang enak, tapi jangan


setiap hari ya ^_^