
Bian memasuki minimarket. Wajahnya
yang tadi bersemangat berubah kecewa saat melihat yang duduk di belakang kasir melayani pembeli seorang laki-laki. “Ke mana
anak itu?” Sambil membatin dia berjalan mendekat ke arah kasir.
“ Maaf, permisi Mas. Hari ini Key tidak bekerja?”
Hamzah memperhatikan penambilan Bian sebentar. “ Mas siapa ya?” Merasa aneh, kok ada yang menanyakan Key.
Kenapa juga aku musti menjelaskan
padanya, bergumam sendiri. “ Teman.” Jawabnya singkat.
“ Dia tadi kurang sehat, jadi saya suruh pulang ke rumah.”
“ Sakit apa?” tanyanya lagi.
“ Pusing-pusing sama agak pucat, tapi dia bilang baik-baik saja, cuma butuh istirahat.”
“ Baiklah, makasih ya Mas.” Sopan Bian berterimakasih lalu pergi keluar. Dia berdiri sebentar di pinggir jalan,
menimbang apa yang akan dilakukannya sekarang. Ia mengeluarkan ponsel dan menelpon.
“ Pak Wahyu, bawa mobil jemput
di depan minimarket di sebrang gerbang.” Lalu ditutupnya telfon. “Sakit apa
sebenarnya Key. Aduh, kenapa juga kami belum bertukar no hp.” Dia menggerutu
sendiri. Sampai mobil menepi dan seseorang membuka kaca.
“ Mau ke mana Mas?”
Bian masuk di kursi belakang. “
Cari apotik dulu Pak?”
“ Kenapa? Mas Bian sakit?” khawatir
dari nada suaranya.
“ Tidak.”
“ Lalu siapa yang sakit.”
“ Sudah jalan saja cari apotik.”
Katanya kesal, selain kepada Anjas memang Pak Wahyu banyak tahu bagaimana kepribadian Bian yang
sebenarnya. Selain sudah lama bekerja, Bian juga malas berpura-pura kepada
laki-laki yang sudah menghabiskan separuh hidupnya itu bersamanya.
“ Sudah sampai Mas, itu ada apotik.
Biar saya yang turun, Mas mau cari obat apa.” Pak Wahyu sudah mau membuka pintu
mobil.
“ Sudah biar saya saja.” Karena dia
sendiri binggung juga mau mencari obat apa.
Memasuki apotik ada dua orang yang
duduk sambil mengobrol, mereka berdiri saat Bian masuk. Yang satu terlihat
sangat merona melihat Bian. Bahkan seperti tersipu. Wajahnya jadi merah tanpa
alasan. “Cari obat apa Kak?” tanyanya ramah.
“ Pusing-pusing sama pucat.”
“ Biasanya minum obat apa.”
“ Tidak tahu.” Bian masih bisa
tersenyum manis, walaupun kesal. “Mba apoteker?” tanyanya, gadis itu mengangguk.
“ Obat yang dipakai perempuan yang wajahnya pucat sama pusing-pusing itu apa?”
apoteker itu malah terlihat bingung. Ya jelaslah, obat pusingkan banyak, lha pucat juga sebabnya apa dulu.
“ Oh mungkin dia lagi datang bulan
Mas jadi wajahnya pucat.”
“ Ya udah, kasih semua merek obat
yang bisa buat pusing, pucat sama datang bulan.” Katanya akhirnya. Dua orang
wanita itu saling berpandangan bingung. Tapi akhirnya mengambil beberapa obat
di etalase. Obat-obatan yang bisa dibeli tanpa resep dokter tentunya.
“ Ini Kak.”
Bian membayar lalu beranjak pergi.
“ Ganteng-ganteng tapi aneh ya
Mba.” Wanita yang melayani Bian tadi menunjuk pelangganya yang baru saja berlalu.
“ Ia.” Yang satunya menimpali
kecewa.
Bian bisa mendengarnya, namun ia
cuek saja, tidak memperdulikan, kemudian ia berjalan menuju mobil.
“ Sudah Mas?”
“ Ia, putar arah ke tempat jemput saya malam-malam kemarin.” Pak Wahyu
melajukan mobil sesuai perintah. Sampailah mereka di gang rumah Key. “Di sini
saja Pak, pergi ke mana terserah Pak Wahyu, nanti saya telfon.”
“ Mas Bian mau ke mana?”
“ Ke tempat teman.”
“ Saya tunggu di sini nggak
apa-apa kan Mas? Daripada nanti Mas Bian nunggu.”
“ Tidak, tidak, Pak Wahyu pergi kemana terserah, asal jangan
di sini.” Bian bertingkah malah semakin membuat Pak Wahyu curiga dan penasaran. Dia menatap Bian
lama. “ Sudah sana.” Bian memastikan mobil itu melaju, setelahnya baru ia masuk
ke dalam gang.
“ Lurus, lalu belok kanan. Tapi,
bagaimana kalau orang tuanya ada di rumah.” Bian maju mundur melangkah. Dia
sudah masuk ke dalam gang, tapi keluar lagi. “ Aaaa.” Akhirnya ia berjalan
masuk lagi. Dia sudah belok ke kanan, ada
beberapa rumah di sana. Yang mana rumah yang dicarinya, untung saja dia melihat
foodtruck somai milik Key. Walaupun dia belum pernah melihat mobil itu secara
langsung, tapi seingatnya foto yang sempat viral kemarin itu sama persis dengan
ini. Diapun berjalan mendekat. Menarik nafas panjang di depan pintu.
Menenangkan diri, sebelum akhirnya mengetuk pintu walaupun akhirnya ia sesali
keputusannya. Ia akan beranjak pergi, saat pintu terbuka. Terlambat, gadis
penjaga kasir itu sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang terkejut.
“ Kak Bian!
“ Ah, apa kabar?” canggung. “
Kenapa tidak berangkat kerja.”
Key menyadari suasana canggung ini,
“ Masuk Kak.” Dia membuka pintu lebar. “ Ahh, Key cuma agak gak enak badan kak.
Jadi izin gak masuk hari ini.” Bian duduk di kursi, begitu pula Key. “ Apa tadi
ke toko kak.”
“ Hemm.” Bian mengedarkan
pandangannya ke dalam ruangan. Rumah yang sangat sederhana untuk ukuran
kehidupannya. Ada beberapa foto terpasang, foto keluarga mereka. “ Aku membawa
obat.” Dia tersadar, lalu menyerahkan
tas yang terlihat agak besar pada Key. Agak ragu Key meraihnya. Ukurannya terbilang kurang normal jika hanya obat isinya.
isinya, dia hanya terbengong-bengong. Ada banyak sekali botol obat, kapsul dan
ntah apalagi. Membayangkannya saja membuat dia semakin pusing. Key memang tidak
suka obat. Sampai sebesar ini, ia tidak bisa menelan obat-obatan. Kalaupun
terpaksa harus minum obat, obatnya harus berbentuk sirup kalau tidak
dihancurkan dulu pakai air baru diminum. Dan rasanya luar biasa pahit. “ Obat
semua Kak? Buat apa.”
“ Aaa, itu. Tadi temanmu di minimarket bilang kamu pusing-pusing sama pucat, aku minta semua jenis obat pusing
sama gejala pucat di apotik. Tidak tahu biasanya kamu minum yang mana.”
“ Ya ampun Kak. Tapi makasih
banyak.” Key tertawa geli sendiri. Menghitung-hitung berapa uang yang harus
dibayarkan untuk menebus semua obat itu. “ pasti habis banyak untuk menebus
obat-obat ini, dikembalikan boleh tidak ya Kak.”
“ Kenapa?”
“ Sayangkan uangnya Kak Bian. Aku
juga sebenarnya cuma pusing saja, istirahat tidur juga nanti sembuh kok. Jadi
tidak perlu minum obat.” Wajah Bian kecewa. “ Tapi terimakasih Kak, sudah mau
datang.” Key menyadari itu. Kini wajah Bian sedikit kembali tersenyum. “ Lain
kali bawa makanan aja ya Kak, dari pada obat, makanan enak jauh bisa membuat
badan sehat. Haha.
“ Apa artinya aku bisa datang lagi kemari.”
“ Tentu saja, kak Bian bisa datang
kapan saja. Tapi sebenarnya aku juga
jarang ada di rumah Kak. Haha, pagi jualan somai, malamnya jaga minimarket.”
Canggung kembali.
“ Baiklah, sepertinya sudah malam,
dan kamu juga perlu istirahat kita bertemu lagi. Ehh.” Agak ragu Bian
menyerahkan ponselnya. “ Berikan nomermu.”
Ragu Key meraih ponsel milik Bian.
Ah, dia bahkan belum mahir mengunakannya. Tadi waktu coba di gerai ponsel
diapun diajari. “ Kakak saja yang simpan, Key nggak bisa masukin no pakai
ponsel beginian.”
Wajah Bian mengeryit tidak percaya. Jadi
benar yang dikatakan Anjas, bahwa gadis yang sempat viral fotonya di internet
ini bahkan tidak punya sosial media, smartphone juga tidak bisa pakai. Key
mendiktekan angka-angka yang panjang. Bian menuliskan dengan cepat. “ Aku
telfon ya?” ia mendengarkan sebentar, ada bunyi keras yang terdengar dari ruang
tengah.
“ Ia kak, sudah, nanti Key simpan
nomer Kak Bian.”
“ Baiklah, aku pulang ya.” Berdiri
pamit. Key pun ikut berdiri mengikuti langkahnya. “ Istirahatlah, tidak perlu
mengantar.”
“ Key antar sampai gang.” Katanya
kemudian. Bian tidak bisa menolak, saat
Key sudah berjalan di sampingnya. Akhirnya merekapun berjalan berdampingan.
Semuanya diam, tengelam dalam pikiran masing-masing. Angin malam ini tidak
terlalu dingin, menemani mereka dalam belaian lembut. Sampai ke depan gang. Padahal jujur Bian ingin berjalan lebih lama lagi. “ Oh ya, kak bian
sudah makan belum?”
“ Belum,” katanya cemberut.
“ Ya ampun, maaf ya Kak, Key sampai
lupa nawarinnya tadi. Atau mau balik lagi, makan di rumah.”
“ Haha, tidah usah Key. Bercanda
kok, tadi sebelum kemari, sudah makan. Ya udah, kamu jalan pulang duluan sana.”
“ Kakak mau naik angkot apa jalan
kaki?”
“ Jalan aja, nggak jauh ini. Sudah
sana, aku akan melihatmu sampai belokan.”
“ Baiklah, hati-hati di jalan ya
Kak. Sampai jumpa.”
Key berbalik dan melangkah, baru
beberapa langkah dia menengok. Bian masih berdiri ditempatnya tadi. Refleks Key
melambaikan tangan, Bian pun membalas. Lalu sampailah dia di belokan, untuk
terakhir kalinya dia menengok, berharap Bian masih ada di sana. Dan ternyata
benar, dia masih ada di sana. Tidak tahu kenapa dadanya menjadi berdetak
kencang, dan senyum merekah di bibir. Dia lalu berlari kerumahnya.
“ Pak wahyu kemana saja? Kenapa
lama?” Cukup lama Bian berdiri di pinggir jalan, menunggu di jemput sopirnya
tadi.
“ Maaf Mas, saya ketiduran.” Tadikan
sudah dibilang mau ditunngu, malah diusir kan.
“ Ya sudah, cari makan dulu. Saya
lapar.” Bian masuk kedalam mobil.
“ Ia Mas, mau makan apa?”
“ Bakso.”
“ Aduh Nas, kenapa bakso terus. “
“ Sudah cepat. Aku lapar.” Tidak perduli protes pak Wahyu tentang selera
makannya.
“ Ia Mas.”
Mobil melaju, keliling ke beberapa
tempat, mencari bakso, kedai nongkrong anak-anak muda akhirnya yang dituju.
Bian makan bakso dengan lahap. Sementara Pak Wahyu juga pura-pura menikmati
makannannya, padahal dia sebenarnya tidak terlalu suka bakso.
“ Besok saya masakin makan malam
saja ya Mas, jangan terlalu sering makan bakso.”
“ Ia, ia. ” Terus mengunyah
baksonya.
Bersambung.....
Bakso memang enak, tapi jangan
setiap hari ya ^_^