Key And Bian

Key And Bian
Pesta (Part 3)



Seorang panitia datang menghampiri


gerai makanan. “ Bagian makanan akan ada breafing lima belas menit lagi.” Hanya


mengatakan itu, lalu ia pindah dari satu gerai ke gerai yang lainnya..


“ Pakai seragamnya Mba.” Basma


sudah memakai celemek putih bertuliskan Adiguna grup dan Grand Mall beserta


logo besar perusahaan mereka. Melingkarkan tanda pengenal di lehernya. Key pun


mengikuti apa yang dilakukan adiknya. Basma membantunya mengikatkan tali


di pinggang. Lagi-lagi dia menahan nafasnya. “ Hari ini Mba terlihat berbeda.”


“ Kenapa? Apa aku tambah cantik.”


Ucapnya girang. Sambil menyeryitkan dahi.


“ Tidak.” Key cemberut. “ Kamu


tetap cantik setiap hari.” Sekarang Key tertawa. Memukul bahu adiknya.


“ Gombal sama Mba sendiri.”


Seruan dari mikrofon di ujung ruangan


membuat semua orang bergerak ke arah suara. Seorang laki-laki muda bicara untuk


meminta staff makanan mendekatinya. Meminta untuk berdiri dengan rapi. Basma


menghalau tubuh seorang laki-laki yang hendak menempel pada tubuh Key. “ Mundur


saja Mba.” Key akhirnya memilih mundur dari kerumunan. Karena kalau ia tetap


berada di posisinya yang sekarang ia hanya akan tengelam di antara lautan


manusia.


“ Selamat sore semuanya. Saya Aji


Ardiansyah dari divisi humas Grand Mall, mohon perhatiannya.”


Kerumunan saling berbisik. Membuat


sekumpulan manusia dewasa diam, sepertinya tidak akan semudah itu wahai manusia


beriman.


“ Lho itukan Kak Aji” Key terlihat


sangat terkejut.


“ Siapa Mba? Mba kenal?” tanya


Basma sambil menundukan kepala berbisik.


“ Langganan somai Mba di Central Park.”


Dia kembali meminta semua orang


untuk diam. Kerumunan staff makanan satu persatu mulai mengunci mulut. Saat


satu tidak ada yang bicara, maka semua ikut diam. Akhirnya tenang.


“ Terimakasih atas kerja samanya.


Saya akan menjelaskan bagaimana tugas staff makanan di sini ya. Seperti yang


sudah di sampaikan dalam surat kerja sama, bahwa pemilik gerai makanan hanya


bertugas berada di gerai makanan, dan yang akan menyajikan kepada para tamu


adalah pelayan tersendiri. Jadi mohon kerja samanya untuk tidak meninggalkan


gerai dan berkeliling di sekitar ruangan. Para tamu akan mulai berdatangan


mungkin nanti sekitar pukul lima. Acara akan dimulai jam tuju malam. Setelah


acara utama, nanti tamu undangan akan dipersilahkan mencicipi makanan yang ada


di setiap gerai. Jadi sebelumnya hanya pelayan yang boleh masuk area makanan.


Baiklah, semua sudah jelaskan.”


Semua sudah paham, karena itu sudah


tertulis di surat perjanjian. Key melirik Basma, dia menyuruh Basma menundukan


kepala. “ Mba tidak tanda tangan surat perjanjian apa pun dengan Kak Anjas.”


“ Mungkin karena kalian berteman Mba.”


Suara Aji Ardiansyah kembali


terdengar. “ Ini bukan pertama kalinya kalian bekerja sama dengan Adiguna Grup,


jadi semua pasti sudah paham bagaimana kami sangat menghargai kerja profesional


dari semuanya. Jadi mohon kerja samanya. Sekian. Terimakasih. Semuanya bisa


kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.”


Dia turun dari podium, dan semua


orang yang ada di hadapan Key bubar dengan teratur. Menuju gerai makanan mereka


masing-masing. Key yang ingin menyapa namun pria langganannya itu sudah


menghilang ntah kemana. Akhirnya dia dan Basma berjalan menuju gerai somainya.


“ Mba jadi merasa minder Bas.”


“ Kenapa?”


“ Tadi kamu dengar sendirikan,


orang-orang ini profesional. Mereka sudah bekerja sama dengan Adiguna Grup


cukup lama. “


Basma mulai menghidupkan kompor,


menyalakan api dengan ukuran kecil.


“ Mba juga profesional. Sudah


beberapa tahun mendedikasikan hidup berjualan somai, kurang profesional apa


lagi coba.”


“ Haha, ada-ada aja kamu.”


Semua gerai sibuk dengan urusannya


masing-masing, hingga belum ada yang perlu untuk berbasa-basi saling bertegur


sapa. Setelah beberapa jam melakukan persiapan, semua gerai sudah terlihat siap


di posisinya.


“ Silahkan mengambil makan malam


di luar.” Terdengar suara mikrofon dengan keras lagi. Orang-orang yang sudah


selesai menyiapkan semua gerai mereka satu persatu keluar.


“ Mba mau makan?” Basma


membersihkan uap panas diatas tutup panci.


“ Mba belum lapar Bas.”


“ Tetep harus makan. Ayo. Nanti kita


tidak sempat buat makan.” Basma mendorong tubuh Key untuk berjalan di depannya.


Orang-orang sudah mengantri untuk mendapat jatah makan malam mereka. “Dua pak.”


Basma menunjuk dirinya dan juga Key. Lalu petugas itu menyerahkan dua kotak


nasi dan dua botol air mineral. Basma membawa dua kotak nasi, lalu menyerahkan


minumannya untuk Key. Dia menunjuk deretan kursi di belakang gedung, ada


beberapa orang yang sudah duduk di sana. Namun masih banyak kursi yang kosong.


Akhirnya mereka berjalan ke sana.


“ Selamat makan.” Kata mereka


Seorang wanita yang duduk di


sebelah mereka memandang tertarik.


“ Kalian pacaran ya.” Katanya


tersenyum renyah. Sok kenal dan sok dekat. Basma diam malas menanggapi, lalu


memilih memakan nasinya.


“ Haha, kami kakak dan adik.”


Terkejut. Biasa aja kali, batin


Basma. Ntahlah, ia selalu merasa tidak senang jika ada orang yang mengalihkan


perhatian Key jika dia ada di dekatnya.


“ Benarkah! Siapa yang kakak dan


siapa yang adik?” makin tambak sok kenal, sok dekat dan sok penasaran.


Tapi Key memang orang yang juga


mudah akrab dengan orang lain, jadi seperti bertemu partner saja kalau sudah


berhadapan dengan orang jenis ini.


“ Menurut Mba siapa yang adik dan


siapa yang kakak.” Dia bertampang imut.


Wanita itu berfikir keras. Lalu dia


menunjuk Basma dan Key bergantian. “ Laki-laki yang Kakak,  dan adik perempuan. Benarkan.”


“ Benar sekali.” Basma membalas


cepat. “ Cepat selesaikan makanmu.” Dia menarik kotak nasi milik Key agar lebih


dekat dengan Key. Key tahu kalau adiknya sedang ada dalam mood yang buruk. Ia


lalu diam dan tidak meralat jawaban wanita yang ada di hadapannya. Ntahlah,


terkadang Key juga mengenali perubahan sikap Basma jika dia sibuk dengan hal


lain sementara adiknya itu sedang ada di dekatnya. Cemburu mungkin disebutnya.


“ Galak bener Mas.” Mbak sok akrab berusaha tetap akrab.


“ Tidak kok Mba. Dia ini laki-laki paling manis sedunia.”


Apaan si Key. Melotot mata Basma.


“ Mba gerai makanan apa?” tanya Key


lebih pelan supaya Basma tidak terusik, sambil mengunyah nasi tentunya.


“ Bakso.”


“ Bakso.” Heran. Wajah key seperti


anak kecil yang supraise.  “Memang bakso


makanan tradisional ya mba.”


“ Gak tau juga. Tapi bakso kami langganan CEO Grand Mall.”


“ Hah, benarkah. “ lebih antusias


dari sebelumnya. “ Mba sudah pernah ketemu sama CEO.” Tanyanya lagi penuh


penasaran.


“ Belum.


Key kecewa. Basma nyengir.


“ Bagaimana tante bisa bilang kalau CEO Grand Mall langganan bakso Tante, Tante saja belum pernah bertemu.”


Wanita itu mendelik saat Basma


bicara. Key yakin bukan pada maksud perkataannya, namun pada panggilan tante


yang ia pilih untuk memanggil wanita itu secara sopan. Tapi di sebut tante oleh


laki-laki  seumur Basma tentu saja membuatnya gusar.


“ Mas, memang aku ini menikah


dengan om kamu apa?


“ Haha, maaf Mba. Basma sebenarnya


adik saya, dia ini masih kelas satu SMU.”


Wanita itu mendelik tidak percaya.


Ia bahkan berdiri dari duduknya dan berada di depan Basma sekarang.


Memperhatikan setiap detail garis wajahnya.


“ Apa?” Basma kesal diperhatikan


seperti itu.


“ Benar, bagaimana aku tidak


melihat garis muda itu. Wajahmu benar-benar masih sangat muda.”


“ Pertanyaan tadi belum dijawab,


bagaimana Tante tahu kalau CEO Grand Mall langganan bakso Tante, sedangkan


pernah bertemu saja tidak.” Basma mengulangi pertanyaannya yang tadi. Dia


melirik Key, yang sekarang fokus ke makanannya.


“ Sekretarisnya.”


“ Kak Anjas.” Key dan Basma


bersamaan.


“ Kalian kenal dengan Mas Anjas? Ia


dia yang sering membelikan untuk CEO.”


“ Tidak terlalu kenal, kami cuma


pernah saling menyapa saja. Sudah ya Mba, kita sudah selesai nih. Ayo Bas.”


Key menarik tangan Basma, dia


sebenarnya belum selesai, namun akhirnya meremas kotak nasinya dan bangun.


“ Kenapa mba?” saat mereka sudah


meninggalkan kursi belakang gedung.


“ Tidak.”


“ Kenapa?”


“ Mba hanya merasa tidak enak saja,


kita mendapat pekerjaan ini hanya karena aku mengenal Kak Anjas. Tidak mau


menyebarkan gosip tentang Kak Anjas, nanti nama baiknya bisa rusak karena


menunjuk kita tidak secara profesional.” Mereka sudah masuk kebdalam gedung


lagi. “ Para tamu sudah ada yang datang ya. ayo kembali ke tempat kita. Lihat, apa mereka selebriti?”


“ Mana kutahu.” Balas Basma malas.


Dia memang kurang suka dengan dunia itu. Walaupun dia tertarik menjadi model


foto untuk butik online milik orang tua temannya, namun untuk dunia gemerlap


itu dia hanya mencibir. Memandang tak suka. Saat anak-anak seumurannya, punya


grup idola atau artis kesukaan, dia lebih sering tengelam dengan adonan somai,


atau lebih suka membaca buku.


Bersambung....