
Seorang panitia datang menghampiri
gerai makanan. “ Bagian makanan akan ada breafing lima belas menit lagi.” Hanya
mengatakan itu, lalu ia pindah dari satu gerai ke gerai yang lainnya..
“ Pakai seragamnya Mba.” Basma
sudah memakai celemek putih bertuliskan Adiguna grup dan Grand Mall beserta
logo besar perusahaan mereka. Melingkarkan tanda pengenal di lehernya. Key pun
mengikuti apa yang dilakukan adiknya. Basma membantunya mengikatkan tali
di pinggang. Lagi-lagi dia menahan nafasnya. “ Hari ini Mba terlihat berbeda.”
“ Kenapa? Apa aku tambah cantik.”
Ucapnya girang. Sambil menyeryitkan dahi.
“ Tidak.” Key cemberut. “ Kamu
tetap cantik setiap hari.” Sekarang Key tertawa. Memukul bahu adiknya.
“ Gombal sama Mba sendiri.”
Seruan dari mikrofon di ujung ruangan
membuat semua orang bergerak ke arah suara. Seorang laki-laki muda bicara untuk
meminta staff makanan mendekatinya. Meminta untuk berdiri dengan rapi. Basma
menghalau tubuh seorang laki-laki yang hendak menempel pada tubuh Key. “ Mundur
saja Mba.” Key akhirnya memilih mundur dari kerumunan. Karena kalau ia tetap
berada di posisinya yang sekarang ia hanya akan tengelam di antara lautan
manusia.
“ Selamat sore semuanya. Saya Aji
Ardiansyah dari divisi humas Grand Mall, mohon perhatiannya.”
Kerumunan saling berbisik. Membuat
sekumpulan manusia dewasa diam, sepertinya tidak akan semudah itu wahai manusia
beriman.
“ Lho itukan Kak Aji” Key terlihat
sangat terkejut.
“ Siapa Mba? Mba kenal?” tanya
Basma sambil menundukan kepala berbisik.
“ Langganan somai Mba di Central Park.”
Dia kembali meminta semua orang
untuk diam. Kerumunan staff makanan satu persatu mulai mengunci mulut. Saat
satu tidak ada yang bicara, maka semua ikut diam. Akhirnya tenang.
“ Terimakasih atas kerja samanya.
Saya akan menjelaskan bagaimana tugas staff makanan di sini ya. Seperti yang
sudah di sampaikan dalam surat kerja sama, bahwa pemilik gerai makanan hanya
bertugas berada di gerai makanan, dan yang akan menyajikan kepada para tamu
adalah pelayan tersendiri. Jadi mohon kerja samanya untuk tidak meninggalkan
gerai dan berkeliling di sekitar ruangan. Para tamu akan mulai berdatangan
mungkin nanti sekitar pukul lima. Acara akan dimulai jam tuju malam. Setelah
acara utama, nanti tamu undangan akan dipersilahkan mencicipi makanan yang ada
di setiap gerai. Jadi sebelumnya hanya pelayan yang boleh masuk area makanan.
Baiklah, semua sudah jelaskan.”
Semua sudah paham, karena itu sudah
tertulis di surat perjanjian. Key melirik Basma, dia menyuruh Basma menundukan
kepala. “ Mba tidak tanda tangan surat perjanjian apa pun dengan Kak Anjas.”
“ Mungkin karena kalian berteman Mba.”
Suara Aji Ardiansyah kembali
terdengar. “ Ini bukan pertama kalinya kalian bekerja sama dengan Adiguna Grup,
jadi semua pasti sudah paham bagaimana kami sangat menghargai kerja profesional
dari semuanya. Jadi mohon kerja samanya. Sekian. Terimakasih. Semuanya bisa
kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.”
Dia turun dari podium, dan semua
orang yang ada di hadapan Key bubar dengan teratur. Menuju gerai makanan mereka
masing-masing. Key yang ingin menyapa namun pria langganannya itu sudah
menghilang ntah kemana. Akhirnya dia dan Basma berjalan menuju gerai somainya.
“ Mba jadi merasa minder Bas.”
“ Kenapa?”
“ Tadi kamu dengar sendirikan,
orang-orang ini profesional. Mereka sudah bekerja sama dengan Adiguna Grup
cukup lama. “
Basma mulai menghidupkan kompor,
menyalakan api dengan ukuran kecil.
“ Mba juga profesional. Sudah
beberapa tahun mendedikasikan hidup berjualan somai, kurang profesional apa
lagi coba.”
“ Haha, ada-ada aja kamu.”
Semua gerai sibuk dengan urusannya
masing-masing, hingga belum ada yang perlu untuk berbasa-basi saling bertegur
sapa. Setelah beberapa jam melakukan persiapan, semua gerai sudah terlihat siap
di posisinya.
“ Silahkan mengambil makan malam
di luar.” Terdengar suara mikrofon dengan keras lagi. Orang-orang yang sudah
selesai menyiapkan semua gerai mereka satu persatu keluar.
“ Mba mau makan?” Basma
membersihkan uap panas diatas tutup panci.
“ Mba belum lapar Bas.”
“ Tetep harus makan. Ayo. Nanti kita
tidak sempat buat makan.” Basma mendorong tubuh Key untuk berjalan di depannya.
Orang-orang sudah mengantri untuk mendapat jatah makan malam mereka. “Dua pak.”
Basma menunjuk dirinya dan juga Key. Lalu petugas itu menyerahkan dua kotak
nasi dan dua botol air mineral. Basma membawa dua kotak nasi, lalu menyerahkan
minumannya untuk Key. Dia menunjuk deretan kursi di belakang gedung, ada
beberapa orang yang sudah duduk di sana. Namun masih banyak kursi yang kosong.
Akhirnya mereka berjalan ke sana.
“ Selamat makan.” Kata mereka
Seorang wanita yang duduk di
sebelah mereka memandang tertarik.
“ Kalian pacaran ya.” Katanya
tersenyum renyah. Sok kenal dan sok dekat. Basma diam malas menanggapi, lalu
memilih memakan nasinya.
“ Haha, kami kakak dan adik.”
Terkejut. Biasa aja kali, batin
Basma. Ntahlah, ia selalu merasa tidak senang jika ada orang yang mengalihkan
perhatian Key jika dia ada di dekatnya.
“ Benarkah! Siapa yang kakak dan
siapa yang adik?” makin tambak sok kenal, sok dekat dan sok penasaran.
Tapi Key memang orang yang juga
mudah akrab dengan orang lain, jadi seperti bertemu partner saja kalau sudah
berhadapan dengan orang jenis ini.
“ Menurut Mba siapa yang adik dan
siapa yang kakak.” Dia bertampang imut.
Wanita itu berfikir keras. Lalu dia
menunjuk Basma dan Key bergantian. “ Laki-laki yang Kakak, dan adik perempuan. Benarkan.”
“ Benar sekali.” Basma membalas
cepat. “ Cepat selesaikan makanmu.” Dia menarik kotak nasi milik Key agar lebih
dekat dengan Key. Key tahu kalau adiknya sedang ada dalam mood yang buruk. Ia
lalu diam dan tidak meralat jawaban wanita yang ada di hadapannya. Ntahlah,
terkadang Key juga mengenali perubahan sikap Basma jika dia sibuk dengan hal
lain sementara adiknya itu sedang ada di dekatnya. Cemburu mungkin disebutnya.
“ Galak bener Mas.” Mbak sok akrab berusaha tetap akrab.
“ Tidak kok Mba. Dia ini laki-laki paling manis sedunia.”
Apaan si Key. Melotot mata Basma.
“ Mba gerai makanan apa?” tanya Key
lebih pelan supaya Basma tidak terusik, sambil mengunyah nasi tentunya.
“ Bakso.”
“ Bakso.” Heran. Wajah key seperti
anak kecil yang supraise. “Memang bakso
makanan tradisional ya mba.”
“ Gak tau juga. Tapi bakso kami langganan CEO Grand Mall.”
“ Hah, benarkah. “ lebih antusias
dari sebelumnya. “ Mba sudah pernah ketemu sama CEO.” Tanyanya lagi penuh
penasaran.
“ Belum.
Key kecewa. Basma nyengir.
“ Bagaimana tante bisa bilang kalau CEO Grand Mall langganan bakso Tante, Tante saja belum pernah bertemu.”
Wanita itu mendelik saat Basma
bicara. Key yakin bukan pada maksud perkataannya, namun pada panggilan tante
yang ia pilih untuk memanggil wanita itu secara sopan. Tapi di sebut tante oleh
laki-laki seumur Basma tentu saja membuatnya gusar.
“ Mas, memang aku ini menikah
dengan om kamu apa?
“ Haha, maaf Mba. Basma sebenarnya
adik saya, dia ini masih kelas satu SMU.”
Wanita itu mendelik tidak percaya.
Ia bahkan berdiri dari duduknya dan berada di depan Basma sekarang.
Memperhatikan setiap detail garis wajahnya.
“ Apa?” Basma kesal diperhatikan
seperti itu.
“ Benar, bagaimana aku tidak
melihat garis muda itu. Wajahmu benar-benar masih sangat muda.”
“ Pertanyaan tadi belum dijawab,
bagaimana Tante tahu kalau CEO Grand Mall langganan bakso Tante, sedangkan
pernah bertemu saja tidak.” Basma mengulangi pertanyaannya yang tadi. Dia
melirik Key, yang sekarang fokus ke makanannya.
“ Sekretarisnya.”
“ Kak Anjas.” Key dan Basma
bersamaan.
“ Kalian kenal dengan Mas Anjas? Ia
dia yang sering membelikan untuk CEO.”
“ Tidak terlalu kenal, kami cuma
pernah saling menyapa saja. Sudah ya Mba, kita sudah selesai nih. Ayo Bas.”
Key menarik tangan Basma, dia
sebenarnya belum selesai, namun akhirnya meremas kotak nasinya dan bangun.
“ Kenapa mba?” saat mereka sudah
meninggalkan kursi belakang gedung.
“ Tidak.”
“ Kenapa?”
“ Mba hanya merasa tidak enak saja,
kita mendapat pekerjaan ini hanya karena aku mengenal Kak Anjas. Tidak mau
menyebarkan gosip tentang Kak Anjas, nanti nama baiknya bisa rusak karena
menunjuk kita tidak secara profesional.” Mereka sudah masuk kebdalam gedung
lagi. “ Para tamu sudah ada yang datang ya. ayo kembali ke tempat kita. Lihat, apa mereka selebriti?”
“ Mana kutahu.” Balas Basma malas.
Dia memang kurang suka dengan dunia itu. Walaupun dia tertarik menjadi model
foto untuk butik online milik orang tua temannya, namun untuk dunia gemerlap
itu dia hanya mencibir. Memandang tak suka. Saat anak-anak seumurannya, punya
grup idola atau artis kesukaan, dia lebih sering tengelam dengan adonan somai,
atau lebih suka membaca buku.
Bersambung....