Key And Bian

Key And Bian
Memilih Menjauh



Malam penuh kesedihan itu ditutup dengan sebuah pesan mengejutkan buat


Key. Saat ia sudah menarik selimut dia membuka pesan dari Kak Anjas. Kantuknya seketika menguap jauh.


“ Maaf Key aku mengatakan tentang Basma pada Bian.”


Kebenaran yang ditutupi pada akhirnya mencari jalannya sendiri, sebesar


apa pun usaha untuk menutupinya. Key menatap pesan itu dengan perasaan kacau. Matanya mulai memanas. Membayangkan


bagaimana reaksi Kak Bian setelah mengetahui itu.


Apa Kak Anjas baru mengatakannya sekarang ya.


“ Bagaimana reaksi Kak Bian?” itulah yang paling penting sekarang bagi


Key, bagaiman reaksi Bian setelah tahu Basma adalah adik satu ayah.


“ Berikan Bian waktu Key.”


Balasan Anjas. Sudah seperti yang ia duga. Menjawab dengan jelas bagaimana sikap Kak Bian.


“ Aku hanya mengatakan kalau Basma adalah anak wanita itu, Aku


benar-benar turut bersedih atas semua yang menimpa orangtuamu Key. Aku bahkan


tidak mempercayainya kalau Nyonya Yuna sampai melangkah sejauh itu. Aku tidak


punya keberanian untuk memberitahu Bian semuanya. Bagi Bian, ibunya adalah


segalanya. Bian benar-benar tidak tahu menahu kalau ibunya seperti itu.”


Dari mana Kak Anjas tahu.


Tangan Key gemetar memegang hp, bibirnya terbata mengeja pesan panjang


Anjas. Lalu menyusul jawaban dari pertanyaan yang tidak dilontarkan Key.


“ Maaf Key, aku mendengar semua yang dikatakan Ketua padamu tadi.”


Hp ditangan Key jatuh. Semua cerita pilu tentang kematian orangtuanya


dan Basma.  Yang diceritakan Tuan Adiguna


dengan isak dan permohonan maaf tadi. Key bahkan tidak menyadari keberadaan


Anjas di ruangan Tuan Adiguna. Kakinya limbung, pikirannya yang kacau. Matanya yang dipenuhi airmata tidak melihat apa pun selain itu.


“ Berikan dia waktu untuk menerima Basma Key. ”


Key tidak tahu harus membalas apa. Akhirnya dia hanya membaca pesan


Anjas tanpa memberinya balasan apa-apa. Lama Key tenggelam dengan ketakutannya


sendiri sampai dia jatuh dalam tidur. Belum membalas pesan Anjas. Laki-laki


itupun tidak mengirimkan pesan apa pun lagi.


Seperti itulah akhirnya, hari yang melelahkan bagi Key, Bian, Basma dan juga Anjas.


***


Pagi hari kembali menyapa. Sudah tiga hari semenjak hari itu. Hari yang berat bagi semua orang.


Bian melewatkan pesan selamat pagi, begitu pula sebaliknya. Tidak ada


pesan selamat pagi yang dikirimkan Key padanya. Biasanya mereka akan


dulu-duluan mengucapkan selamat pagi setelah waktu subuh.


Setelahnya melewatkan pesan-pesan berikutnya. Dan berikutnya lagi dan hari


berikutnya lagi. Hanya bisa memandang hp nanar, membaca ulang pesan-pesan yang


pernah terkirim.


Dalam penantian yang tidak tahu ujungnya di mana, hati Bian rasanya


tercabik, terlihat jelas di wajahnya.


Yang paling dibuat senewen tentu saja Anjas. Semenjak hari itu Bian


bahkan sulit sekali untuk menunjukan senyum, sekedar menarik bibir sebagai bahasa


sopan santun. Apalagi saat Anjas mengatakan kalau dia sudah memberitahu Key


kalau Bian sudah tahu bahwa Basma adalah adiknya. Bian meradang marah,


menunjukan kemarahannya dalam diam. Tidak mengubris perkataan Anjas.


Apa! Apa! Memang apa salahku. Telfon Key sana!


Anjas dibuat gila. Tidak mau memperpanjang urusan hanya bisa berteriak


dalam hati. Bian sudah seperti manekin hidup tanpa ekpresi. Dia masih bekerja


dan menyelesaikan tugasnya tapi seperti robot tanpa perasaan.


“ Bi, temuilah Ketua dan bicara padanya. Katakan kalau kau sudah tahu.”


Berharap ketua menjelaskan semuanya. " Kalau ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan semuanya pada Ayahmu.Biar hatimu tenang. Biar kau bisa menentukan sikap pada Basma." melihat Bian yang masih terdiam. " Aku tahu kau tersiksa selama beberapa hari ini karena tidak bisa menghubungi Key."


Anjas hanya memandang sedih saat dia menutup pintu. Mendengar helaan


nafas berat dari Bian yang menjatuhkan kepala ke atas meja.


Kenapa kau juga tidak menghubungiku Key.


Melihat pesan terakhir Key malam itu. Tidak ada lagi pesan setelahnya.


Apa sesayang itu kau padanya, hingga kau memilihnya dan membuang


hubungan kita begitu saja.


Prasangka itu bermunculan. Bagi Bian menjauhnya Key adalah arti kalau


gadis itu jauh lebih memilih Basma ketimbang dirinya. Tanpa perlu dia


menanyakan perasaan Key, Bian sudah menyimpulkan. Dia marah pada dirinya


sendiri yang tidak berani bertanya. Namun lebih marah lagi kalau mengingat


wajah Basma.


Sementara itu di tempat lain. Di hati yang sama-sama diliputi kekalutan.


Bagi Key tiga hari ini tanpa bertanya kabar adalah jarak yang diciptakan Kak Bian, waktu yang dibutuhkannya


menerima kenyataan.   Berharap dalam


penantian ini Kak Bian tahu semuanya dan pada akhirnya membuka sedikit ruang di


hatinya pada Basma.


Key menengadahkan tangan dan wajahnya ke langit. Berdoa panjang untuk


kedua orang yang ia sayangi.


Sambil memasak dia mengulang-ulang doa kepada Tuhan. Key sudah


merampungkan semua pekerjaan memasak saat Basma keluar dari kamar.Dia langsung


menuju tempat cuci piring. Membereskan semua pekakas yang habis dipakai key.


Key membiarkan saja tanpa ingin menyela atau bertanya. Cuci piring menjadi obat


bagi Basma dari pikirannya yang sama kalutnya seperti dirinya.


“ Apa Kak Bian juga sudah tahu Mbak?” Basma terdiam, tangannya masih


memegang spon sabun yang berbusa. Tidak membalikan badan untuk melihat reaksi


wajah Key karena pertanyaannya. Beberapa hari ini mereka tenggelam dalam


pikiran masing-masing. Namun Basma bisa melihat Key saban waktu melihat hp


dengan sedih. Jadi dia menyimpulkan kalau hubungan Key dan Kak Bian mulai


merenggang.


“ Kak Bian tahu dari Kak Anjas.”


Helaan nafas berat, Basma membilas gelas yang dipegangnya. Ingin


bertanya lagi, tapi sepertinya reaksi Kak Bian pasti sesuai dengan apa yang


dikatakan ibunya. Mungkin saja dia akan membencimu karena kau anak ibu, namun


mohonkanlah permintaan maaf ibu padanya.


Aku bahkan tidak berani melihatnya sekarang,  bagaimana aku minta maaf untuk ibu. Dia pasti


sangat membenciku.


" Mbak Key, bagaimana dengan Tuan Adiguna ayahku. Apa aku harus menemuinya sekarang."


Key menutup mulutnya terkejut. Karena hanya memikirkan Kak Bian dia melupakan perihal Tuan Adiguna. Saat ini ayah dan anak itu sudah sama-sama tahu ikatan di antara mereka.


" Apa hatimu sudah siap Bas untuk bertemu ayah kandungmu?"


" Nanti dulu Mbak." Ntah kenapa pikiran Basma pun jauh lebih tertuju pada Bian.


Begitulah pada akhirnya, semua orang berspekulai dengan pikiran mereka


sendiri.


Key yang memberikan waktu pada Bian, menjaga jarak diantara mereka


Basma pun demikian berusaha untuk berdiri tegak di kakinya. Beberapa


kali dia melihat layar hp bertuliskan nomor Kak Bian di sana.Tapi hanya sebatas


itu keberaniannya. Dia berjanji pada dirinya, kalau dia akan menemui ayahnya setelah dia bertemu dengan Kak Bian.


Tidak jauh berbeda, apa yang dirasakan Bian sekarang. Rindu yang teramat


sangat untuk bertemu key, mendengar suara key. Namun semua tertahan karena


anak wanita itu pasti sedang bersamanya.


Bersambung