
Malam penuh kesedihan itu ditutup dengan sebuah pesan mengejutkan buat
Key. Saat ia sudah menarik selimut dia membuka pesan dari Kak Anjas. Kantuknya seketika menguap jauh.
“ Maaf Key aku mengatakan tentang Basma pada Bian.”
Kebenaran yang ditutupi pada akhirnya mencari jalannya sendiri, sebesar
apa pun usaha untuk menutupinya. Key menatap pesan itu dengan perasaan kacau. Matanya mulai memanas. Membayangkan
bagaimana reaksi Kak Bian setelah mengetahui itu.
Apa Kak Anjas baru mengatakannya sekarang ya.
“ Bagaimana reaksi Kak Bian?” itulah yang paling penting sekarang bagi
Key, bagaiman reaksi Bian setelah tahu Basma adalah adik satu ayah.
“ Berikan Bian waktu Key.”
Balasan Anjas. Sudah seperti yang ia duga. Menjawab dengan jelas bagaimana sikap Kak Bian.
“ Aku hanya mengatakan kalau Basma adalah anak wanita itu, Aku
benar-benar turut bersedih atas semua yang menimpa orangtuamu Key. Aku bahkan
tidak mempercayainya kalau Nyonya Yuna sampai melangkah sejauh itu. Aku tidak
punya keberanian untuk memberitahu Bian semuanya. Bagi Bian, ibunya adalah
segalanya. Bian benar-benar tidak tahu menahu kalau ibunya seperti itu.”
Dari mana Kak Anjas tahu.
Tangan Key gemetar memegang hp, bibirnya terbata mengeja pesan panjang
Anjas. Lalu menyusul jawaban dari pertanyaan yang tidak dilontarkan Key.
“ Maaf Key, aku mendengar semua yang dikatakan Ketua padamu tadi.”
Hp ditangan Key jatuh. Semua cerita pilu tentang kematian orangtuanya
dan Basma. Yang diceritakan Tuan Adiguna
dengan isak dan permohonan maaf tadi. Key bahkan tidak menyadari keberadaan
Anjas di ruangan Tuan Adiguna. Kakinya limbung, pikirannya yang kacau. Matanya yang dipenuhi airmata tidak melihat apa pun selain itu.
“ Berikan dia waktu untuk menerima Basma Key. ”
Key tidak tahu harus membalas apa. Akhirnya dia hanya membaca pesan
Anjas tanpa memberinya balasan apa-apa. Lama Key tenggelam dengan ketakutannya
sendiri sampai dia jatuh dalam tidur. Belum membalas pesan Anjas. Laki-laki
itupun tidak mengirimkan pesan apa pun lagi.
Seperti itulah akhirnya, hari yang melelahkan bagi Key, Bian, Basma dan juga Anjas.
***
Pagi hari kembali menyapa. Sudah tiga hari semenjak hari itu. Hari yang berat bagi semua orang.
Bian melewatkan pesan selamat pagi, begitu pula sebaliknya. Tidak ada
pesan selamat pagi yang dikirimkan Key padanya. Biasanya mereka akan
dulu-duluan mengucapkan selamat pagi setelah waktu subuh.
Setelahnya melewatkan pesan-pesan berikutnya. Dan berikutnya lagi dan hari
berikutnya lagi. Hanya bisa memandang hp nanar, membaca ulang pesan-pesan yang
pernah terkirim.
Dalam penantian yang tidak tahu ujungnya di mana, hati Bian rasanya
tercabik, terlihat jelas di wajahnya.
Yang paling dibuat senewen tentu saja Anjas. Semenjak hari itu Bian
bahkan sulit sekali untuk menunjukan senyum, sekedar menarik bibir sebagai bahasa
sopan santun. Apalagi saat Anjas mengatakan kalau dia sudah memberitahu Key
kalau Bian sudah tahu bahwa Basma adalah adiknya. Bian meradang marah,
menunjukan kemarahannya dalam diam. Tidak mengubris perkataan Anjas.
Apa! Apa! Memang apa salahku. Telfon Key sana!
Anjas dibuat gila. Tidak mau memperpanjang urusan hanya bisa berteriak
dalam hati. Bian sudah seperti manekin hidup tanpa ekpresi. Dia masih bekerja
dan menyelesaikan tugasnya tapi seperti robot tanpa perasaan.
“ Bi, temuilah Ketua dan bicara padanya. Katakan kalau kau sudah tahu.”
Berharap ketua menjelaskan semuanya. " Kalau ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan semuanya pada Ayahmu.Biar hatimu tenang. Biar kau bisa menentukan sikap pada Basma." melihat Bian yang masih terdiam. " Aku tahu kau tersiksa selama beberapa hari ini karena tidak bisa menghubungi Key."
Anjas hanya memandang sedih saat dia menutup pintu. Mendengar helaan
nafas berat dari Bian yang menjatuhkan kepala ke atas meja.
Kenapa kau juga tidak menghubungiku Key.
Melihat pesan terakhir Key malam itu. Tidak ada lagi pesan setelahnya.
Apa sesayang itu kau padanya, hingga kau memilihnya dan membuang
hubungan kita begitu saja.
Prasangka itu bermunculan. Bagi Bian menjauhnya Key adalah arti kalau
gadis itu jauh lebih memilih Basma ketimbang dirinya. Tanpa perlu dia
menanyakan perasaan Key, Bian sudah menyimpulkan. Dia marah pada dirinya
sendiri yang tidak berani bertanya. Namun lebih marah lagi kalau mengingat
wajah Basma.
Sementara itu di tempat lain. Di hati yang sama-sama diliputi kekalutan.
Bagi Key tiga hari ini tanpa bertanya kabar adalah jarak yang diciptakan Kak Bian, waktu yang dibutuhkannya
menerima kenyataan. Berharap dalam
penantian ini Kak Bian tahu semuanya dan pada akhirnya membuka sedikit ruang di
hatinya pada Basma.
Key menengadahkan tangan dan wajahnya ke langit. Berdoa panjang untuk
kedua orang yang ia sayangi.
Sambil memasak dia mengulang-ulang doa kepada Tuhan. Key sudah
merampungkan semua pekerjaan memasak saat Basma keluar dari kamar.Dia langsung
menuju tempat cuci piring. Membereskan semua pekakas yang habis dipakai key.
Key membiarkan saja tanpa ingin menyela atau bertanya. Cuci piring menjadi obat
bagi Basma dari pikirannya yang sama kalutnya seperti dirinya.
“ Apa Kak Bian juga sudah tahu Mbak?” Basma terdiam, tangannya masih
memegang spon sabun yang berbusa. Tidak membalikan badan untuk melihat reaksi
wajah Key karena pertanyaannya. Beberapa hari ini mereka tenggelam dalam
pikiran masing-masing. Namun Basma bisa melihat Key saban waktu melihat hp
dengan sedih. Jadi dia menyimpulkan kalau hubungan Key dan Kak Bian mulai
merenggang.
“ Kak Bian tahu dari Kak Anjas.”
Helaan nafas berat, Basma membilas gelas yang dipegangnya. Ingin
bertanya lagi, tapi sepertinya reaksi Kak Bian pasti sesuai dengan apa yang
dikatakan ibunya. Mungkin saja dia akan membencimu karena kau anak ibu, namun
mohonkanlah permintaan maaf ibu padanya.
Aku bahkan tidak berani melihatnya sekarang, bagaimana aku minta maaf untuk ibu. Dia pasti
sangat membenciku.
" Mbak Key, bagaimana dengan Tuan Adiguna ayahku. Apa aku harus menemuinya sekarang."
Key menutup mulutnya terkejut. Karena hanya memikirkan Kak Bian dia melupakan perihal Tuan Adiguna. Saat ini ayah dan anak itu sudah sama-sama tahu ikatan di antara mereka.
" Apa hatimu sudah siap Bas untuk bertemu ayah kandungmu?"
" Nanti dulu Mbak." Ntah kenapa pikiran Basma pun jauh lebih tertuju pada Bian.
Begitulah pada akhirnya, semua orang berspekulai dengan pikiran mereka
sendiri.
Key yang memberikan waktu pada Bian, menjaga jarak diantara mereka
Basma pun demikian berusaha untuk berdiri tegak di kakinya. Beberapa
kali dia melihat layar hp bertuliskan nomor Kak Bian di sana.Tapi hanya sebatas
itu keberaniannya. Dia berjanji pada dirinya, kalau dia akan menemui ayahnya setelah dia bertemu dengan Kak Bian.
Tidak jauh berbeda, apa yang dirasakan Bian sekarang. Rindu yang teramat
sangat untuk bertemu key, mendengar suara key. Namun semua tertahan karena
anak wanita itu pasti sedang bersamanya.
Bersambung