Key And Bian

Key And Bian
Hidup Harus Terus Berjalan



Malam semakin larut, lelah sudah


mengerogoti raga.


Basma hanya mendorong boks pekakas


agar berada di pinggir ruangan, supaya dia bisa leluasa lewat. Saat melewati


kamar Key, ia berhenti sebentar,  menempelkan telinganya ke pintu. Tidak ada suara apa pun dari dalam.


Selama beberapa waktu dia masih berdiri, namun karena tidak terdengar suara


apa pun akhirnya dia berlalu menuju kamarnya. Dia juga sudah lelah sekali. Masuk


kemar mandi sebentar dan berganti pakaian, langsung merebahkan tubuhnya di


kasur. Matanya merewang langit-langit kamar.


Bian Nugara Sanjaya dan Adiguna


Sanjaya. Orang-orang yang bahkan dalam mimpi pun tidak akan pernah berharap ia


temui. Namun hari ini, ia bahkan memanggil ketua Adiguna Grup itu dengan


panggilan paman. Bersikap sombong kepada Bian Nugara yang  sudah mencuri perhatian wanita yang selama


ini ia sayangi. Key pasti sangat terkejut hari ini, sama halnya dengan dirinya.


Namun baginya, sebesar apa pun Bian tidak menjadi masalah baginya, jika dia harus


bertarung dan berjuang untuk mendapatkan Key. Jika key memintanya untuk


berusaha mendapatkannya maka dengan segenap upaya dan usaha akan ia lakukan,


sipapun lawan yang ada di hadapannya. Walaupun ia seorang CEO Grand Mall


sekalipun.


Aaaaa. Ia mengerutu sendiri, Bian


yang hanya bermodalkan usia dan wajahnya saja sudah jauh di atas rata-rata


baginya. Dan sekarang, bahkan semua status sosial dan uang ia punya. Cih,


ternyata memang ada ya manusia yang dilahirkan dengan keberuntungan semacam


itu. Basma meraba rambutnya sendiri, memainkan ujung-ujung rambutnya. Dia


bahkan tidak tahu, siapa orang tua kandungnya.


Malam semakin larut. Tidak banyak


suara malam terdengar. Hanya kesunyian yang menyiksa batin. Dari kamar key pun


tidak terdengar suara apa pun. Basma terbuai dalam kehangatan selimut dan terlelap.


Jatuh ke dalam mimpi yang samar. Yang bahkan tidak bisa ia ingat saat bangun


tidur di pagi harinya.


***


Basma perlahan membuka matanya,


menguap berulang-ulang. Udara dingin masih terasa, dan sepertinya belum ada


berkas cahaya masuk di antara jendela. Pertanda masih pagi. Rasanya masih sangat


malas, dia menarik selimutnya lagi, sampai menutupi kepalanya. Namun tiba-tiba


dia berdiri. Selimutnya jatuh begitu saja di lantai. Dia sudah


berdiri di depan pintu kamar Key. Menempelkan telinganya, berusaha


berkonsentrasi.


“ Sedang apa kamu?” Basma loncat,


wajahnya terbentur pintu. Key menyeringai. “ Ya ampun, kamu gak papa Bas?”


Basma mengaduh, mengelus kepalanya.


Lalu tangan Key menggantikan tangannya mengelus rambutnya, mengangkat rasa sakit


akibat terbentur pintu. “ Sakit Mba.” Rengeknya.


“ Hihi, maaf ya. Kamu juga ngapain?”


“ Aku kan khawatir Mba Key kenapa-kenapa. “


“ Mbak gak papa Bas. Sholat subuh dulu sana!”


Walaupun begitu, tidak sepenuhnya


Key berkata jujur. Masih ada gurat kesedihan yang coba Key sembunyikan di


senyuman paginya. Basma berjalan menuju kamar mandi. Menunaikan sholat subuh


yang agak terlambat.


Dia sudah muncul kembali dengan wajah yang jauh lebih segar.


“ Ini kan masih pagi Mba, nanti saja


bereskan semuanya, tidurlah lagi sebentar.” Karena ia tahu sepertinya Key


kurang tidur semalam.


“ Mba sudah gak ngantuk.”


“ Tuhkan, semua tidak baik-baik


saja kan?” Mata Basma awas mengamati perubahan wajah Key. Key mengibaskan


tangannya di depan wajah Basma. Adiknya pasti tahu, matanya juga pasti terlihat


sembab karena kurang tidur. Dia memilih berjalan ke ruang tengah, menyalakan


tv sambil masih berdiri. Hari ini hari Senin, namun dia tidak akan pergi berdagang somai pagi ini.


Dia mau istirahat, Basma juga sedang libur sekolah. “ Biar aku yang masak


sarapan.” Basma menarik tangan Key,  untuk duduk. Ia  mengecilkan volume tv yang dinyalakan Key tadi.


“ Mba Key dengarkan aku.” Basma


memandang wajah Key lekat. “ Mba adalah wanita terhebat yang ada di dunia ini.


Untukku, aku tidak akan pernah perduli, mau Mba pedagang somai, Mba yang


seorang kasir minimarket, bagiku itu adalah bagian dari kerja keras Mba Key


selama ini. Karena itulah Mba Key menjadi seorang yang istimewa bagiku. Aku


tidak tahu apa yang dipikirkan Kak Bian selama ini, kenapa dia menyembunyikan


identitas bahwa dia seorang pewaris kerajaan Adiguna. Tapi, yang Mba harus


minimarket, sebagai seorang pedagang somai Central Park. Dan dia menerima itu


semua, dia mengulurkan tangannya menyambut persahabaatan yang Mba berikan,


karena aku yakin, sama sepertiku yang menganggap Mba Key adalah wanita terhebat


di dunia. Dia juga berfikir bahwa Mba adalah wanita yang istimewa.”


Dasar bodoh, kenapa aku mengatakan ini. seharusnya aku berjingkrak senang kalau Key dan Bian putus hubungan kan. Tapi demi apa, saat melihat Key terpuruk, aku merasa jauh lebih baik kalau hubungan mereka bisa kembali normal.


Wajah Key berubah, sendu yang


mengantung tiba-tiba menguap begitu saja. Dia tersenyum sekarang. Menggenggam


tangan Basma. Dada Basma serasa berloncatan, namun ia menahannya kuat-kuat. “


Terimakasih Bas karena telah bangga pada Mbak yang hanya seperti ini.”


“ Jangan bicara begitu,”


Key merengkuh Basma, adik kecilnya


itu ingin sekali lari, namun ia tak berdaya. Key memeluknya erat, seperti


sebelum-sebelumnya, seperti yang sering ia lakukan kepada Basma sepanjang


hidupnya. Jantung Basma sepertinya ingin meledak.


“ Sudah Mba, aku mau masak sarapan.”


Key melepaskan pelukannya, dia


mencubit pipi Basma. “ Mba sayang sama kamu.”


“ Apaan si.” Basma mendengus. “ Memang aku anak kecil apa.”


“ Bas akan selalu jadi adik kecil Mba, sampai kapanpun. Hehe.”


Basma segera berlalu dengan membawa


wajah sedih menuju dapur.


Hari ini ia mau masak capcai dan


sambal udang. Dia mengeluarkan sayuran dari dalam kulkas. Mengambil udang di


dalam frezzer, lalu meletakannya di mangkok yang lebih besar. Meletakan air


agar udahnya melunak. Ia memotong wortel, buncis, kentang, brokoli, jamur


kancing, daun bawang, dan beberapa paprika. Lalu menghaluskan bawang merah,


bawang putih sampai benar-benar halus. Mengambil beberapa butir telur puyuh di


dalam kuklas. Lalu ia mulai menumis semua bumbu dalam sedikit minyak. Memasukan


sedikit lada bubuk, dan memasukan sayuran satu persatu, dimulai dari yang


paling keras dulu. Setelah itu beberapa telur puyuh masuk. Dia tutup. Dan


dibiarkan masak. Segera beralih ke menu selanjutnya, balado udang. Dibukanya


tutup wadah, udangnya sudah melunak. Dibuangnya beberapa bongkahan es yang


masih ada. Dia menghaluskan cabe, bawang merah dan bawang putih, mengiris


bawang bombai dan daun bawang. Menumis semua bumbu dengan sedikit minyak, lalu


memasukan bawang bombai dan udang secara bergantian. Basma memang tidak


mengoreng terlebih dahulu udangnya. Setelah itu ia masukan lada bubuk, gula


putih, garam dan daun bawang. Mengaduknya sebentar, lalu menutupnya. Membiarkan


api mengubahnya menjadi udang balado yang lezat.


“ Hemm, aromanya sepertinya lezat.”


Key muncul tiba-tiba dibelakang Basma.


“ Bisa tidak, tidak perlu membuat


orang kaget.” Basma yang terperanjak kaget mengomel.


“ Haha, maaf.”


“ Duduklah, sebentar lagi selesai.”


Key menurut, duduk di meja makan.


Dia membawa ponselnya. Sambil menunggu masakan selesai dia membuka ponselnya.


Memeriksa riwayat chatnya. Tidak ada pesan.


Kak Bian membuka pesannya kemarin terakhir, berarti hari ini dia belum membuka


pesannya. Hemm, apa aku perlu bertanya terlebih dahulu. Tidak, tidak, untuk


apa, bukankah seharusnya dia yang menjelaskan pristiwa semalam. Tapi untuk apa


juga, toh sebenarnya aku juga tidak dirugikan apa-apa. Aku tidak mengalami


kerugian secara finansial, hanya hatiku saja yang merasa terluka. Tapi,


bukankah seharusnya dia menjelaskan, kenapa menyenbunyikan identitasnya yang


sebenarnya. Kenapa, tapikan itu juga kehidupan pribadinya. Aku juga tidak


menceritakan siapa diriku sebenarnya, aku membiarkannya berfikir bahwa aku


masih memiliki orang tua. Ah, tetap saja, paling tidak dia harus


menghubungikukan.


“ Melamun lagi.” Basma mengacak-acak rambut key.


“ Apa si Bas. Aku ini Mba kamu.”


“ Biarin. Yuk makan.”


Key tidak jadi protes saat makanan


sudah terhidang di meja, Basma menyodorkan mangkok untuknya mengambil nasi. Key


mengambil semangkok nasi untuk basma lalu untuk dirinya sendiri. Mereka menikmati


sarapan, sambil bercerita tentang Aryamanda, idola pria yang di gandrungi key dan ibu.


Mereka sama-sama tidak mau menyebut nama Bian.


Bersambung........


Basma I love you. hehe @LaSheira