
Maaf, maafkan aku teman-temanku.
Bibi Salsa menatap bingkai foto di tangannya. Dia telusuri setiap
jengkal wajah-wajah ceria yang tersenyum di sana. Tiga orang sahabat yang
berjanji untuk hidup dengan bahagia di dunia masing-masing. Mengikat
persahabatan layaknya hubungan persaudaraan.
Semoga dengan cara ini, anak-anak yang kita cintai bisa menemukan
kebahagiaannya.
Sekali lagi Bibi Salsa, mencoba memegang janji Tuan Adiguna. Bahwa
lali-laki itu akan membiarkan Key menemukan jalan cintanya. Jika dia dan Bian
memang di takdirkan untuk hidup bersama. Melindungi Key dan juga Basma dari Nyonya Yuna dan semua kebenciannya.
Hanya dalam cinta dan kebahagiaan, tanpa kebencian atau dendam masa lalu.
Waktu yang akan menjawab semua. Karena jika dia melihat Key atau Basma terluka, Bibi Salsa berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan mengatakan semuanya, rahasia masa lalu pada kedua anak malang itu.
***
Key memarkir foodtrucknya. Terdengar dia bernyanyi, nyanyian riang gembira lagu zaman dulu. Dia kan gitu, masih muda tapi seleranya yang
masih generasi ibunya. Bibi Hanum menyapanya ramah. Sambil membereskan cucian
mangkok dan menatanya di rak. Tangannya sibuk mengelap mangkok dengan kain
kotak-kotak berwarna pink. Tidak menyisakan setetes air pun.
“ Key!” Kepalanya muncul tiba-tiba. “Akhir-akhir ini aku lihat kamu kelihatan seneng ya? Ia kan.
Hayoo.” Penasaran Bibi Hanum, dia ikut senang melihat senyum menghiasi
hari-hari Key. Gadis itu sudah sangat bekerja keras.
Malu-malu Key menyelipkan poni rambutnya
dan terus menyusun somai-somai sampai kukusan penuh. Menutupnya rapat. Memukulkan
lap ke atas tutup kukusan.
“ Bibi bisa aja. Kita kan memang harus selalu tersenyum ceria dan
bahagia Bi. Supaya tubuh mengeluarkan energy positif.” Sudah sok bijak
begitukan menggurui orangtua. Hehe. “ Bibi juga terlihat lebih segar dan cerah
pagi ini.” Ikut memuji supaya bibi tidak penasaran lagi.
Bola mata bibi berbinar-binar.
“Idih apa-apaan kamu, malah ngomongin bibi.” Meraba pipinya senang. “
Kenapa Key, kamu sudah punya pacar ya?”
Aduh anak bibi yang kecil mungil ini sudah punya pacar, seperti tidak
bisa membayangkan saja Bibi Hanum. Biasanya yang diceritakan Key perihal
keluarganya hanya Basma, dan Basma saja.
Adiknya adalah hidupnya begitu misi perjuangan hidup Key selama ini.
“ Ehmm. Ehmmm.” Suara batuk penuh wibawa terdengar dari balik punggung
Bibi Hanum. Wanita itu menoleh lalu berdiri agak menjauh. Seorang pria dengan
setelan jas rapi. Raut wajah menua namun
tidak kehilangan kegagahannya. Berdiri
sambil mengumbar senyum. Ditujukan untuk Key dan juga Bibi Hanun. “ Maaf,
permisi apa somainya sudah siap.”
“ Eh ia Tuan silahkan. Bibi ke sana dulu ya Key.” Bingung menunjuk
gerobak sotonya. Lalu segera berlalu menuju jualannya. Key bahkan belum
menjawab, bibi sudah menghilang.
Laki-laki yang muncul tiba-tiba mendekat di hadapan Key. Tepat di depan
foodtruck, tempat biasanya pembeli berdiri mengantri. Dia melihat menu yang ada
di depannya. Tapi belum memesan apa-apa.
“ Apa kabar Mbak Keysha?” Meletakan kertas menu, beralih melihat Key.
Eh, Key terperanjak. Jarang sekali orang yang tahu nama panjangnya. Biasanya
dia tidak akan merasa aneh jika ada orang asing yang memanggil nama key
padanya. Tapi ini Keysha.
“ Maaf Tuan, apa sebelumnya kita sudah pernah bertemu.”
“ Belum, ini pertama kalinya kita bertemu.”
Key mulai waspada, walaupun lelaki seumuran Ayahnya lebih ini tidak
terlihat mencurigakan. Dia hanya terlihat seperti bapak-bapak dengan penampilan berkelas. Senyumnya juga
ramah. Tapi panggilan Keysha. Key masih mencoba mengurai kenangan apa di
kepalanya, kalau-kalau dia menemukan sketsa wajah menyerupai laki-laki di
hadapannya, mungkin pertemuan di masa lalu saat orang tuanya masih ada.
Nihil.
“ Saya Sekretaris Haryo, Sekretaris Ketua Adiguna Grup.” Mendengar itu
Key hampir limbung di tempat duduknya. Untung ia berpegangan erat dengan
meja saji biasa ia meracik somai. “ Saya juga ayahnya Anjas.” Laki-laki itu
berusaha mencairkan ketegangan yang langsung muncul di wajah Key.
“ Kak Anjas ya.” Benar saja, mendengar nama itu sepertinya jadi mantra
yang membuat Key lega. “ Maaf Tuan.” Key bangun dan keluar dari foodtrucknya. Meraih tangan Haryo lalu cium tangan
seperti yang ia lakukan kalau bertemu dengan orangtua.
Haryo bahkan terkejut saat Key mencium tangan, dia berfikir tadi hanya
ingin berjabat tangan biasa.
“ Silahkan duduk Tuan ada yang bisa Key bantu?” Sama sekali tidak menaruh
kecurigaan barang setitik noda pun. Anjas pria baik, apalagi ayahnya. Begitulah
pikiran sederhana Key.
“ Panggil saja Paman Haryo.”
Key ragu, apa boleh dia selancang itu.
“ Ia Paman, apa kabar Kak Anjas?”
Apa-apaan aku, kenapa bertanya begitu, aku kan bertemu dengannya
semalam.
“ Alhamdulillah dia sehat dan baik.”
Ia saya tahu paman, maaf, saya hanya basa basi.
Key sedang menduga-duga kenapa ayah Anjas sampai ada di hadapannya
sekarang. Deg, kenapa dia sampai melupakan fakta yang paling penting. Posisi
laki-laki di hadapannya ini. Status
lainnya selain sebagai ayahnya Kak Anjas. Sekretaris Ketua Adiguna Group.
Orangtua kandung Kak Bian.
Apa dia mau membawaku bertemu ayah Kak Bian?
“ Saya mau pesan somainya Mbak Keysha.” Paman Haryo mengutarakan maksud
kedatangannya.
“ Ah, somai. Kenapa?”
Hah! Kenapa aku tanya begitu pada pelangganku. Terserahlah dia mau apa
dengan somai yang dia beli. Pasti ya dimakan jugalah. Memang somai mau buat
apa?
Benar-benar canggung.
“ Ada acara di kantor dan karyawan lain merekomendasikan somai Mbak
Keysha.”
“ Oh begitu. Kalau begitu saya bungkuskan ya Paman. Tunggu sebentar.”Bangun dari duduk. Berbalik
lagi “ Mau berapa porsi Paman somainya?”
“ Semua.”
“ Baiklah, Hah! Semua?”
Berdiri mematung. Key mulai curiga lagi.
“ Semua Paman? Yang Key bawa hari ini, semuanya?” Memastikan sekali lagi
pendengarannya.
“ Ia semua porsi yang mbak Keysha bawa hari ini.”
“ Saya tidak punya plastik ukuran besar, apa tidak apa-apa saya taruh
di plastik kecil-kecil.” Sudah duduk di dalam foodtruck, sambil menunjukan plastik
pembungkus di tangannya.
“ Mbak Keysha jangaan khawatir, saya sudah membawa wadah sendiri.”
Terperanjak kaget saat tidak tau muncul dari mana sudah ada dua orang wanita
yang berdiri di dekat foodtruck membawa wadah-wadah plastik ukuran besar. Ada juga
mangkuk besar dengan penutup mungkin akan dipakai sebagai tempat bumbu kuah
kacangnya.
“ Haha, paman sudah persiapan rupanya ya.” Kikuk meraih satu boks
plastik. “ Saya siapkan dulu ya paman.”
Dua orang wanita itu hanya tersenyum sopan.
“ Mereka bisa membantu Mbak Keysha. Kalau tidak keberatan saya mau bicara
sedikit dengan Mbak Keysha.”
Deg, yang dicemaskan sepertinya akan benar-benar terjadi. Kalau
laki-laki ini tidak datang untuk hanya sekedar membeli somainya. Itu semua
hanya alasan. Key mengikuti gerakan dua orang wanita yang sudah ada di dalam
foodtrucknya. Cekatan melakukan pekerjaannya bahkan tanpa mendapat instruksi apa pun.
“ Mbak Keysha.”
“ Ia Paman.”
“ Apa sekarang Mbak Keysha bisa meluangkan waktu sebentar, Ketua Adiguna
menggundang Mbak untuk minum teh.”
Apa! Minum teh.
Wajah Key langsung pucat. Bola matanya bergerak seiring otaknya berfikir.
Bertemu dengan Ketua Adiguna Group yang merupakan ayah Kak Bian. Dia takut. Semua keberanian yang ia bangun
menciut seketika. Dia belum siap.
“ Maaf Pamaan, saya sedang berjualan.” Mencari dalil pelarian.
“ Somai Mbak Keysha kan sudah habis semua saya borong.” Melihat dua
wanita yang sudah separuh jalan menyelesaikan tugasnya.
Huaaaaa, jadi ini alasannya. Kenapa kalian orang-orang kaya menakutkan
begini si.
Akhirnya Key duduk di dalam mobil. Di kursi depan bersebelahan dengan
Sekretaris Haryo.
“ Paman, saya takut.” Percuma pura-pura. Key mengatakan sejujurnya,
supaya Paman Haryo berbelas kasih melepaskannya.
“ Kenapa harus takut?” Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata. Menyalip
beberapa kali mobil di depannya yang bergerak dengan lambat. Matahari masih
lembut sinarnya.
“ Tuan Adiguna tidak akan melemparkan uang ke wajah saya kan?” Serius
bertanya. Korban sinetron jaman ibunya
masih ada dulu.
Haryo tertawa mendengar perkataan Key.
“ Undangan ini dari seorang Ayah kepada wanita yang dicintai dan
berharga untuk putranya.”
Hah! Kenapa aku malah semakin takut ya.
Key mengingat-ingat apa pernah Bian menceritakan sosok ayahnya yang
hangat. Tidak, dia tidak menyukai ayahnya. Yang Kak Bian sanjung dan puji hanyalah
ibunya. Wanita luar biasa baik yang sudah bertahan dalam rumah tangga tanpa
dicintai. Seperti itu yang ia ingat. Key bahkan berharap kalau yang harus ia
temui lebih baik ibu Kak Bian.
“ Paman, saya dan Kak Bian pasti sudah menimbulkan masalah ya.
Pertunangaan Kak Bian, semuanya pasti kacau karena saya.”
“ Mbak Keysha adalah wanita yang berharga untuk Adiguna Group.”
Paman ini ngomong apa si.
Kecemasan tidak begitu saja menghilang dari hati Key. Dia ingin sekali
menghubungi Bian dan mengatakan kalau ayahnya mengundangnya sekarang. Tapi,dia
tidak mau menjadi masalah baru. Walaupun laki-laki di hadapannya ini sangat
ramah, tapi statusnya sendiri mungkinlah yang paling akan menjadi masalah. Dia
yakin kalau Tuan Adiguna sudah mencari tahu informasi tentangnya.
Bahkan dia tahu nama asliku.
Key menatap jendela kaca. Berharap bisa berdiri dengan kepala tegak di
hadapan ayah orang yang ia cintai. Walaupun dia tahu, semua itu tidak akan
berjalan mudah dan sesuai apa yang ia inginkan.
Melemparkan uang ke wajahku.
Menyiram air ke bajuku.
Mengebrak meja dan berteriak, kau tidak pantas untuk anakku.
Aduh Key, kamu itu nonton sinetron apa si.
Paman Haryo memasuki area parkir sebuah restoran. Seperti itu yang dilihat Key dari logo besar
nama restoran serta gambar makanan di sampingnya.
Seseorang sudah menunggunya di dalam.
***
Wajah itu, yang ia lihat di pesta perayaan ulang tahun Grand Mall. Gurat
ketampanan yang termakan usia. Menyambutnya dengan tersenyum ramah. Senyum yang
ia lihat juga beberapa kali saat melihat berita ekonomi di TV.
“ Terimakasih sudah mau meluangkan waktu.”
Hah! Kenapa ini, kenapa Tuan Adiguna bersikap hangat begini. Bukannya seharusnya dia berteriak, memakiku
sinis atau melemparkan uang ke wajahku. (Pengen banget di lempar duit ya kamu
Key. Wkwk)
Key tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya tersenyum kaku. Pelayan
masuk dan menghidangkan secangkir teh untuknya dan juga Adiguna. Saat Key
berusaha mencuri-curi lihat, pandangan mereka bertemu.
“ Tu, tuan ada apa?” Key samar melihat bola mata sendu itu sedikit
berkaca. Walaupun dia tidak meyakini penglihatannya. “ Maaf, saya pasti sudah
membuat Kak Bian dan Anda kesusahan.” Menunjukan penyesalan. Hubungannya dengan
Kak Bian pasti berbuntut pada perusahaan.
Adiguna ingin mengenggam tangan Key, memohon pengampunan dan belas kasih
gadis kecil setangguh karang di hadapannya. Ingin memohon-mohon ampun.
Mengucapkan ribuan terimakasih. Memeluknya dan mengatakan semua kenyataan pedih
yang selama ini terjadi di balik punggung kecil itu. Tentang asal usul Basma,
tentang kematian orangtuanya. Semua hal,tentang dosa-dosanya dan Yuna di masa
lalu.
“ Terimakasih Nak, sudah menjadi bagian yang paling berharga dalam hidup
anak-anak saya.” Hanya itu yang terucap lirih, diiringi tarikan nafas sesak di
dadanya.
Key sedang berusaha mencerna situasi.
Ada apa ini?
Key luput menangkap perkataan Adiguna dengan jelas. Key hanya berfikir
apa artinya Tuan Adiguna merestui hubungannya dengan Kak Bian.
Bersambung
Gak ada adegan Key di lempar uang ya thor ^_^