Key And Bian

Key And Bian
Fans Basma (Part 2)



Hari ini benar-benar berbeda dari biasanya,


tidak lama dari gerombolan siswi tadi datanglah lagi. Antrian para remaja ABG


di gerai somai key. Tidak jauh berbeda dari yang tadi, mereka meminta


foto-foto. Berteriak-teriak, meminta berjabat tangan dengan Basma. Kalau yang


ini Basma menolak. Boleh ambil fotoku, jangaan minta lebih dari itu kata Basma


tegas. Bukannya kecewa, mereka malah berteriak-teriak. Janji tidak akan


menyentuh, pura-pura menabrak atau memeluk. Walaupun ingin sekali. Sebelum


menjelang makan siang gerai somai key, seperti acara jumpa fans. Somainya


bahkan sudah habis sebelum jam makan siang.


Key duduk sambil makan soto.


“ Ya ampun, Basma jadi populer sekali. Fansnya banyak sekali.” Bibi Hanun duduk sambil menyeruput es dugan. “Somainya sudah habis?”


“ ia bi. Saya juga tidak mengira akan seperti ini.”


“ Ini seperti kejadian tempo hari


Key, yang katanya foto kamu ada di internetkan, yang ada acara nembak segala.


Kok bisa, memang fotonya Basma ada di internet juga?” menghabiskaan sisa es


dugannya. “ tapi kalau cewek-cewek ini gak ada yang mau makan soto.” Katanya


sebal.


“ Haha, bibi. Mereka memang datang


cuma mau ketemu Basma, beli somai juga cuma alasan biar bisa bicara dengannya.


Oh iya, basma memang jadi model foto bi, tapi cuma untuk butik online saja.”


Siang-siang begini makan soto dengan kuah yang pedas tetap enak sekali.


“ Model! Ah bibi tidak kaget, dia memang tampan dan punya aura serta pesona.” Bibi Hanun ikut tidak berhenti memuji. “ Bibi mau jadi fansnya Basma juga ah, nanti mau minta foto sama tanda


tangan.” Ya ampun Key cuma bisa geleng kepala saja.


“ Haha, bibi apaan sih.” Key


menghabiskan sotonya saat datang beberaapaa orang. Sepertinya sudah istirahaat


kantor.


“ Soto bi, dua. Key somai kamu


sudah habis ya?” Mereka duduk berjajar di dekat Key.


“ ia kak.” Kata key sambil tersenyum. “ besok ya kak.”


“ Siapa itu?” tunjuknya pada Basma yang masih di kerumunin. “ Artis ya?”


“ Haha, bukan kak. Gak tau itu, anak-anak abg kurang kerjaan.”  Soto


pesanan pelanggan  sudah datang. Mereka


makan sambil mengobrol.



Key membereskan daganngannya. Basma


memilih kabur bersembunyi ntah di mana. Menghilang dari gerai. Ada beberapa


anak yang datang dengan bergerombol lagi. Mereka menyapa Key dengan hormat.


“ Sudah habis ya kak, kak Basma mana ya?” Tanya mereka beramai-ramai.


“ Anak itu sudah pergi.”


Mereka terlihat sangat kecewa.


“ Ya udah, permisi ya kak. Salam untuk kak basma, kami selalu mendukungnya.”


“ Baiklah.” Sambil tersenyum sekenanya.


Sambil geleng-geleng kepala, ia


membereskan semua perlengkapan. Membersihkan sampah mangkok-mangkok plastik


wadah somai dan minuman. Membersihkan meja dan kursi.


“ Permiisi mba, Basmanya mana ya?”


Key mendongak. Mengeryit. Ya tuhan, jadi fansnya tidak hanya perempuan, tapi


laki-laki juga. Dia hanyaa sendirian, menenteng keranjang berisi buah.  “ Maaf mba, saya belum memperkenalkan diri ya.” Dia membungkuk dua kali. “ nama saya Rian, teman sekolah Basma. Salam kenal


mba, dan ini.” Dia menyerahkan keranjaang buah.


“ Apa ini?” ragu Key menerimanya.


“ Itu titipan dari mama, salam dan


juga permintaan maaf buat mba Key, karena belum bisa bertemu dan menyapa secara


langsung. Dan juga karena tanpa meminta izin mba, untuk menjadikan Basma model


di butik kami.”


Key mulai paham. Ia lalu tertawa. “ tidak perlu repot-repot seperti ini, dan juga tidak perlu terlalu formal bicara


padaku. Duduklah. Basma sedang bersembunyi dari fans-fans dia tadi, coba telfon


saja.” Key lalu meletakan keranjang buah diatas meja. “ Oh ya rian, mba gak


bisa nawarin somai ya, somainya sudah habis. Mba belikan minum saja ya.”


“ Gak usah repot-repot mba. Nanti aku bisa beli sendiri.”


“ Gak papa, sebentar ya.” Key sudah berjalan cepat meninggalkannya.


“ Aduh, mba key kalau dari dekat imut sekali ternyata.” Plak! Sebuah tangan memukul kepalanya keras. “ Aww,


sakit!” teriaknya.


“ Bicara apa kau barusan?” Basma


sudah berdiri di belakang Rian dengan memakai topi di kepalanya. “ Mba key


imut, jangan berfikir macam-amacam, kau bukan tipenya sama sekali.” Duduk


sambil menelungkupkan kepalanya malas.


“ Sakit tau bas.” Rian mengelus


kepalanya. “ Kan aku gak mikir apa-apa, cuma bilang mba key imut. Ah, cape ya.


memiringkan wajahnya sambil memandang Rian.


“ Aku jadi malas mau foto lagi.”


“ Aaa, jangan begitu donk Bas.”


Merengek. Memegang lengan baju Basma. “ mamaku bisa-bisa tidak memberiku uang


jajan selama satu bulan kalau kamu gak mau foto lagi.”


“ Bodo amat. Lepaskan tanganmu.”


Basma menepis lengannya, tapi Rian semakin kencang memegang. “ seharian ini aku


mau membantu mba key jualan somaai, malah melayani orang-orang aneh yang bahkan


tidak berhenti datang.”


Foto-foto basma di posting di


fansite, memang bukan fansite resmi, tapi jumlah anggotanya sudah mencapai


ribuan. Jadi tentunya siapa yang hari itu melihat dan pas sekali sekolah sedang


libur jadi pasti keluyuran sampai ke Central Park. Basma harus melayani lebih


banyak sekali fansnya tadi. Foto-foto, menjawab pertanyaaan. Dia menolak tanda


tangan dan jabat tangan.


“ Bas...” merengek.


“ Masa bodoh.” Basma menunduk tidak


mengubris. Mengacuhkan Rian yang bicara ntah kemana. Mencoba merengek dan


memelas.


“ Maaf menunggu, silahkan.” Key


meletakan segelas es dawet di depan Rian dan segelas lagi di hadapan Basma, dan


satu lagi untuknya. Dia menyentuh kepala Basma. “ Sudah muncul ya.” Basma


mendongak. Rian mengeryit, melihat ekspresi wajah Basma yang terlihat lembut


dan manja.


“ ini untukku mba? Terimakasih ya.” Menyeruput es dawetnya.


“ Bas tolong, yang tadi.” Basma menoleh, mendelik, menyuruh Rian berhenti merengek


“ Kenapa?” Key bertanya.


“ Begini mba...”


“ Diam. Gak ada apa-apa mba.” Rian mengunci mulutnya. Walaupun wajaahnya masih panik.


“ Kenapa Rian?” Key malah bertanya


lagi. Basma merengut. Key menunjuk kening Basma dengan telunjuknya. “ kau yang


diam.” Laki-laki itu terdiam. Lagi-lagi Rian mengeryit. Ternyata ini kelemahan


Basma batinnya.


“ Katanya Basma gak mau foto buat


butiknya mama lagi mba, gara-gara hari ini.” Key menoleh ke arah Basma. Adiknya


berwajah malas sambil menghabiskan es dawetnya.


“ Cape ya Bas?” tanya Key.


“ Aku belum pernah bertemu dengan


mereka secara langsung. Orang-orang yang mengatakan kalau aku idola mereka dan


mereka adalah fans. Aku belum siap mba, untuk meladeni hal-hal bodoh seperti


tadi.” Basma diam. “ selama ini teman-temas sekolah juga biasa saja, gak ada


yang sampai seperti tadi, itu kenapa Bas masih merasa nyaman.”


“ Apaan, kamu gak tau aja Bas, di


sekolah mereka juga tiap hari gosipin kamu, tuker-tukeran foto.” Rian


berapi-api. “ berapa anak yang merengek padaku minta di sampaikan salam, tapi


karena aku tahu kamu bakal marah ya aku cuekin mereka.”


Basma mendelik. “ Tuhkan, tambah


malas aku foto.” Rian kembali panik.


“ Bas please, aku traktir wok pan


yang kamu taksir kemarin.” Merengek lagi. Basma mengangkat kepalanya mendengar


tawaran itu.


“ Deal.” Basma mengulurkan tangan.


“ Aaa, kau menjebakku.” Menangis darah rasanya.


“ Kalau tidak mau ya sudah.” Menarik tangannya lagi.


“ Baik, baik, kau menang.” Rian


mengulurkan tangannya.  Wajahnya masam.


Key hanya tersenyum melihat tingkah mereka.


“ Mba mau pulang dulu ya.” Key


bangun dari duduk. Basma memaksa mau mengantar, namun key lebih bersikeras


menolak. Dia sudah biasa melakukan sendiri. “ pergilah, mba gak papa. Sampaikan


salam dan terimakasihku untuk mamamu Rian.”


“ Ia mba, nanti saya sampaikan. Trimakasih esnya.”


Lalu merekapun berpencar, key


kembali menuju rumah untuk istirahat sebelum nanti pergi bekerja malam. Baginya


semua tidak ada yang melelahkan, bahkan sekarang ia menunggu waktu malam tiba.


Ya, malam yang biasanya melelahkan menjadi penuh warna baginya.


BERSAMBUNG..........