
Hari ini benar-benar berbeda dari biasanya,
tidak lama dari gerombolan siswi tadi datanglah lagi. Antrian para remaja ABG
di gerai somai key. Tidak jauh berbeda dari yang tadi, mereka meminta
foto-foto. Berteriak-teriak, meminta berjabat tangan dengan Basma. Kalau yang
ini Basma menolak. Boleh ambil fotoku, jangaan minta lebih dari itu kata Basma
tegas. Bukannya kecewa, mereka malah berteriak-teriak. Janji tidak akan
menyentuh, pura-pura menabrak atau memeluk. Walaupun ingin sekali. Sebelum
menjelang makan siang gerai somai key, seperti acara jumpa fans. Somainya
bahkan sudah habis sebelum jam makan siang.
Key duduk sambil makan soto.
“ Ya ampun, Basma jadi populer sekali. Fansnya banyak sekali.” Bibi Hanun duduk sambil menyeruput es dugan. “Somainya sudah habis?”
“ ia bi. Saya juga tidak mengira akan seperti ini.”
“ Ini seperti kejadian tempo hari
Key, yang katanya foto kamu ada di internetkan, yang ada acara nembak segala.
Kok bisa, memang fotonya Basma ada di internet juga?” menghabiskaan sisa es
dugannya. “ tapi kalau cewek-cewek ini gak ada yang mau makan soto.” Katanya
sebal.
“ Haha, bibi. Mereka memang datang
cuma mau ketemu Basma, beli somai juga cuma alasan biar bisa bicara dengannya.
Oh iya, basma memang jadi model foto bi, tapi cuma untuk butik online saja.”
Siang-siang begini makan soto dengan kuah yang pedas tetap enak sekali.
“ Model! Ah bibi tidak kaget, dia memang tampan dan punya aura serta pesona.” Bibi Hanun ikut tidak berhenti memuji. “ Bibi mau jadi fansnya Basma juga ah, nanti mau minta foto sama tanda
tangan.” Ya ampun Key cuma bisa geleng kepala saja.
“ Haha, bibi apaan sih.” Key
menghabiskan sotonya saat datang beberaapaa orang. Sepertinya sudah istirahaat
kantor.
“ Soto bi, dua. Key somai kamu
sudah habis ya?” Mereka duduk berjajar di dekat Key.
“ ia kak.” Kata key sambil tersenyum. “ besok ya kak.”
“ Siapa itu?” tunjuknya pada Basma yang masih di kerumunin. “ Artis ya?”
“ Haha, bukan kak. Gak tau itu, anak-anak abg kurang kerjaan.” Soto
pesanan pelanggan sudah datang. Mereka
makan sambil mengobrol.
Key membereskan daganngannya. Basma
memilih kabur bersembunyi ntah di mana. Menghilang dari gerai. Ada beberapa
anak yang datang dengan bergerombol lagi. Mereka menyapa Key dengan hormat.
“ Sudah habis ya kak, kak Basma mana ya?” Tanya mereka beramai-ramai.
“ Anak itu sudah pergi.”
Mereka terlihat sangat kecewa.
“ Ya udah, permisi ya kak. Salam untuk kak basma, kami selalu mendukungnya.”
“ Baiklah.” Sambil tersenyum sekenanya.
Sambil geleng-geleng kepala, ia
membereskan semua perlengkapan. Membersihkan sampah mangkok-mangkok plastik
wadah somai dan minuman. Membersihkan meja dan kursi.
“ Permiisi mba, Basmanya mana ya?”
Key mendongak. Mengeryit. Ya tuhan, jadi fansnya tidak hanya perempuan, tapi
laki-laki juga. Dia hanyaa sendirian, menenteng keranjang berisi buah. “ Maaf mba, saya belum memperkenalkan diri ya.” Dia membungkuk dua kali. “ nama saya Rian, teman sekolah Basma. Salam kenal
mba, dan ini.” Dia menyerahkan keranjaang buah.
“ Apa ini?” ragu Key menerimanya.
“ Itu titipan dari mama, salam dan
juga permintaan maaf buat mba Key, karena belum bisa bertemu dan menyapa secara
langsung. Dan juga karena tanpa meminta izin mba, untuk menjadikan Basma model
di butik kami.”
Key mulai paham. Ia lalu tertawa. “ tidak perlu repot-repot seperti ini, dan juga tidak perlu terlalu formal bicara
padaku. Duduklah. Basma sedang bersembunyi dari fans-fans dia tadi, coba telfon
saja.” Key lalu meletakan keranjang buah diatas meja. “ Oh ya rian, mba gak
bisa nawarin somai ya, somainya sudah habis. Mba belikan minum saja ya.”
“ Gak usah repot-repot mba. Nanti aku bisa beli sendiri.”
“ Gak papa, sebentar ya.” Key sudah berjalan cepat meninggalkannya.
“ Aduh, mba key kalau dari dekat imut sekali ternyata.” Plak! Sebuah tangan memukul kepalanya keras. “ Aww,
sakit!” teriaknya.
“ Bicara apa kau barusan?” Basma
sudah berdiri di belakang Rian dengan memakai topi di kepalanya. “ Mba key
imut, jangan berfikir macam-amacam, kau bukan tipenya sama sekali.” Duduk
sambil menelungkupkan kepalanya malas.
“ Sakit tau bas.” Rian mengelus
kepalanya. “ Kan aku gak mikir apa-apa, cuma bilang mba key imut. Ah, cape ya.
memiringkan wajahnya sambil memandang Rian.
“ Aku jadi malas mau foto lagi.”
“ Aaa, jangan begitu donk Bas.”
Merengek. Memegang lengan baju Basma. “ mamaku bisa-bisa tidak memberiku uang
jajan selama satu bulan kalau kamu gak mau foto lagi.”
“ Bodo amat. Lepaskan tanganmu.”
Basma menepis lengannya, tapi Rian semakin kencang memegang. “ seharian ini aku
mau membantu mba key jualan somaai, malah melayani orang-orang aneh yang bahkan
tidak berhenti datang.”
Foto-foto basma di posting di
fansite, memang bukan fansite resmi, tapi jumlah anggotanya sudah mencapai
ribuan. Jadi tentunya siapa yang hari itu melihat dan pas sekali sekolah sedang
libur jadi pasti keluyuran sampai ke Central Park. Basma harus melayani lebih
banyak sekali fansnya tadi. Foto-foto, menjawab pertanyaaan. Dia menolak tanda
tangan dan jabat tangan.
“ Bas...” merengek.
“ Masa bodoh.” Basma menunduk tidak
mengubris. Mengacuhkan Rian yang bicara ntah kemana. Mencoba merengek dan
memelas.
“ Maaf menunggu, silahkan.” Key
meletakan segelas es dawet di depan Rian dan segelas lagi di hadapan Basma, dan
satu lagi untuknya. Dia menyentuh kepala Basma. “ Sudah muncul ya.” Basma
mendongak. Rian mengeryit, melihat ekspresi wajah Basma yang terlihat lembut
dan manja.
“ ini untukku mba? Terimakasih ya.” Menyeruput es dawetnya.
“ Bas tolong, yang tadi.” Basma menoleh, mendelik, menyuruh Rian berhenti merengek
“ Kenapa?” Key bertanya.
“ Begini mba...”
“ Diam. Gak ada apa-apa mba.” Rian mengunci mulutnya. Walaupun wajaahnya masih panik.
“ Kenapa Rian?” Key malah bertanya
lagi. Basma merengut. Key menunjuk kening Basma dengan telunjuknya. “ kau yang
diam.” Laki-laki itu terdiam. Lagi-lagi Rian mengeryit. Ternyata ini kelemahan
Basma batinnya.
“ Katanya Basma gak mau foto buat
butiknya mama lagi mba, gara-gara hari ini.” Key menoleh ke arah Basma. Adiknya
berwajah malas sambil menghabiskan es dawetnya.
“ Cape ya Bas?” tanya Key.
“ Aku belum pernah bertemu dengan
mereka secara langsung. Orang-orang yang mengatakan kalau aku idola mereka dan
mereka adalah fans. Aku belum siap mba, untuk meladeni hal-hal bodoh seperti
tadi.” Basma diam. “ selama ini teman-temas sekolah juga biasa saja, gak ada
yang sampai seperti tadi, itu kenapa Bas masih merasa nyaman.”
“ Apaan, kamu gak tau aja Bas, di
sekolah mereka juga tiap hari gosipin kamu, tuker-tukeran foto.” Rian
berapi-api. “ berapa anak yang merengek padaku minta di sampaikan salam, tapi
karena aku tahu kamu bakal marah ya aku cuekin mereka.”
Basma mendelik. “ Tuhkan, tambah
malas aku foto.” Rian kembali panik.
“ Bas please, aku traktir wok pan
yang kamu taksir kemarin.” Merengek lagi. Basma mengangkat kepalanya mendengar
tawaran itu.
“ Deal.” Basma mengulurkan tangan.
“ Aaa, kau menjebakku.” Menangis darah rasanya.
“ Kalau tidak mau ya sudah.” Menarik tangannya lagi.
“ Baik, baik, kau menang.” Rian
mengulurkan tangannya. Wajahnya masam.
Key hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
“ Mba mau pulang dulu ya.” Key
bangun dari duduk. Basma memaksa mau mengantar, namun key lebih bersikeras
menolak. Dia sudah biasa melakukan sendiri. “ pergilah, mba gak papa. Sampaikan
salam dan terimakasihku untuk mamamu Rian.”
“ Ia mba, nanti saya sampaikan. Trimakasih esnya.”
Lalu merekapun berpencar, key
kembali menuju rumah untuk istirahat sebelum nanti pergi bekerja malam. Baginya
semua tidak ada yang melelahkan, bahkan sekarang ia menunggu waktu malam tiba.
Ya, malam yang biasanya melelahkan menjadi penuh warna baginya.
BERSAMBUNG..........